Monthly Archives: January 2012

Masa Kecil, Masa Sekolah, dan Imajinasi Penulisan (2)

Kepala Sekolah, Uskup Agung, dan Kerohanian yang Terguncang

Roald Dahl adalah pencerita yang berani. Setidaknya, buku ini mewakili pernyataan saya itu. Hal ini dibuktikan dengan keberaniannya mengisahkan seorang kepala sekolahnya yang kejam, tapi kemudian menjadi seorang uskup agung. Ketika membaca bagian ini, saya terhenyak dan merenung cukup lama.

Kepala sekolah Roald Dahl yang memimpin di sekolah-asrama di Repton, suatu ketika menjadi uskup di Chester. Tak lama kemudian ia diangkat menjadi uskup di London. Kemudian, ia menjadi uskup yang tertinggi di Inggris, di Canterbury. “Wah, wah, wah! (Dia) ini pria yang biasa memukuli anak-anak asuhannya dengan kejam!” tulis Roald Dahl.

Di bab yang sama, dengan sangat pribadi Roald Dahl menulis:

“Saat itu… aku duduk… mendengarkannya berkhotbah tentang Gembala Tuhan, dan tentang Kasih dan Pengampunan dan sebagainya, lalu benak mudaku menjadi amat bingung. Aku tahu persis semalam pengkhotbah itu tidak menunjukkan Pengampunan maupun Kasih saat mencambuk anak laki-laki yang melanggar peraturan.

“Apakah… hamba-hamba Tuhan ini, bilang A dalam ceramahnya tapi dalam kenyataannya melakukan B?”

Begitu membekas ingatan Roald Dahl akan guru, senior, dan kepala sekolah yang berlaku kejam kepadanya, sehingga pada akhirnya dia menulis dengan amat jujur: “Kupikir ini semua yang membuatku mulai memiliki keraguan tentang agama dan bahkan tentang Tuhan. Jika orang ini, aku kerap berkata kepada diri sendiri, adalah salah seorang pengkhotbah pilihan Tuhan di bumi, maka ada yang benar-benar salah dengan urusan ini.”

Pola Pendidikan dan Pengajaran yang Kaku — Roald Dahl dan Saya

Anak kecil membutuhkan kebebasan — selain bimbingan dan pengarahan. Saya tak banyak mengingat pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan pada waktu bersekolah. Saya, sama seperti Roald Dahl, lebih mudah menyimpan kenangan yang unik — entah itu dimarahi, atau justru menerima pujian.

Saya ingat pernah ditampar oleh seorang guru hanya karena iseng-iseng menyebut dia “pencuri”. Padahal, pada waktu itu cukup banyak siswa selain saya yang juga mengucapkannya sambil tertawa-tawa, ketika sang guru terpesona dengan tas koper baru milik seorang teman. Ia baru saja mengambil dan melihat bagian dalam tas itu. Ya, kami semua hanya bercanda. Namun, saya dengan teman saya, namanya Yohanes, karena ketahuan menyebut dia “pencuri” (sekali lagi saya tegaskan: dengan bercanda), ditampar! Kami tidak diijinkan mengikuti pelajaran guru itu selama beberapa kali pertemuan.

Guru favorit saya waktu SD adalah Pak Ferdinandus. Dia pandai membaca not balok, pandai main banyak alat musik, hapal gerakan beberapa senam, pintar berhitung, dan sangat komunikatif. Dia adalah guru paling murah senyum yang pernah saya kenal. Suatu ketika, imajinasi saya dan teman-teman dilambungkannya sedemikian rupa ketika ia berkata, “Ciptakan sesuatu, buatlah hal yang unik. Suatu saat, di antara kalian mungkin ada yang akan menciptakan sepakbola di udara.”

“Sepakbola di udara”  — tiga kata itu tak pernah saya lupakan seumur hidup.

Ada juga seorang suster yang sangat kejam. Suatu ketika, suster itu — saya lupa siapa namanya dan mata pelajaran apa yang diajarkannya — mengumpulkan semua buku tulis kami yang sudah disampul kertas cokelat dan masih belum ditulisi satu huruf pun. Ya, waktu itu semester baru. Dengan tulisan tangannya yang indah dan rapi ia menulisi nama kami satu per satu di sampul depan. Ia berpesan kepada kami agar sampul depan buku itu tidak ditulisi atau dihiasi apa pun.

Saya mengabaikan pesan itu, tergoda menambahkan sedikit hiasan pada kata-kata yang ditulisnya. Betis saya dihantam rotan beberapa kali karenanya. Saya masih ingat, seorang teman baik saya, namanya Joni, melakukan sesuatu yang lebih fatal. Ia menghiasi tulisan suster itu dengan bingkai bergelombang menggunakan penggaris yang bergelombang. Suster itu marah bukan main. Rotan itu tidak menghantam betis Joni, tapi ditusukkan ke daun telinga Joni — tapi tidak di dekat lubang telinga — dan didorong kuat-kuat oleh suster itu sampai kepala Joni miring-miring. “Joniii… Joniii! Telingamu itu di mana?” katanya dengan begitu mengerikan.

Ketika menjadi guru, kadang saya heran dengan guru yang mudah marah hanya karena perbuatan iseng para muridnya yang sebenarnya tak membahayakan. Guru-guru seperti ini selalu ada — kaku, tak kenal kompromi, dan selalu menjaga jarak dengan anak didik. Guru-guru seperti inilah yang kerap dikisahkan Roald Dahl dalam cerita-ceritanya di buku ini.

Saya pernah menjadi anak kecil. Dan, saya rasa hampir semua anak kecil suka iseng — dalam batas-batas tertentu. Memelorotkan celana teman yang sedang pipis, atau menyembunyikan sepeda teman waktu pulang sekolah, adalah dua contoh keisengan saya waktu kecil. Tidak pernah ada perkelahian karenanya. Yah, saya heran, hanya karena keisengan-keisengan kecil serupa itu, ada guru yang marah-marah sampai berkeringat.

Kenangan Masa Kecil dan Imajinasi Penulisan Roald Dahl

Roald Dahl, lewat buku ini, serta-merta mengingatkan saya pada Stephen King. On Writing, buku memoar Stephen yang tersohor, juga berisi banyak kisah yang melatarbelakangi Stephen menulis cerita-ceritanya.

Sejauh ini saya sudah membaca dua karya Roald Dahl yang lain, yaitu Matilda dan Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib. Kali ini saya tengah membaca Danny Si Juara Dunia. Di buku Matilda, sosok kepala sekolah yang kejam begitu jelas digambarkan Roald Dahl. Namun, kekejaman itu diolahnya menjadi sesuatu yang lucu. Misalnya, bayangkan saja hal ini: seorang kepala sekolah memutar-mutarkan badan anak-anak SD seperti kincir angin dan melemparkannya beberapa meter.

Di sinilah saya menilai bahwa Roald Dahl dengan kreatif menjadikan keangkeran dan trauma yang menghantui dirinya sebagai bahan cerita yang lucu. Namun, tak semuanya berangkat dari hal yang angker dan kejam. Saat bersekolah di Repton, Roald Dahl bercerita bahwa kadangkala ia mendapatkan kiriman cokelat dengan berbagai bentuk dan rasa dari pabrik cokelat raksasa Cadbury. Itulah kenangan yang manis.

Berbeda dengan anak lainnya, ia sangat tergila-gila pada cokelat dan membayangkan Mr. Cadbury berbicara kepadanya. Ia juga membayangkan dirinya melakukan berbagai eksperimen untuk membuat cokelat yang lezat bersama Mr. Cadbury. Kenangan akan cokelat lezat dan imajinasi di masa kecil itu terus hidup. Setelah 35 tahun berlalu, Roald Dahl menulis sebuah cerita yang memikat dan disukai banyak orang, Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib. (*)

Sidoarjo, 10-11 Januari 2012

Advertisements

Masa Kecil, Masa Sekolah, dan Imajinasi Penulisan (1)

My candle burns at both ends
It will not last the night
But ah my foes and oh my friends
It gives a lovely light

Puisi di atas adalah motto hidup seorang penulis cerita anak. Ia adalah Roald Dahl. Bila diterjemahkan, kurang lebih menjadi demikian:

Aku bagai lilin yang terbakar di kedua ujungnya
Cahayanya tidak akan bertahan lama
Tapi ah kawan dan oh teman
Betapa indah cahayanya nan menawan

Puisi ini saya temukan di halaman terakhir buku Boy: Kisah Masa Kecil yang ditulis Roald Dahl, sehalaman dengan biodata penulisnya. Buku ini sangat menarik bagi saya. Roald Dahl bercerita tanpa beban di sepanjang buku ini. Ia mengisahkan kenakalan-kenakalan di masa kecilnya, guru dan sekolah-sekolah yang pernah ia singgahi, dan satu hal penting ini: beberapa kejadian pada masa kecilnya yang menjadi ide bagi penulisan buku-buku cerita yang ditulisnya ketika dewasa.

Demi memudahkan pembacaan, saya membuat beberapa subjudul. Di masing-masing subjudul yang saya tulis di bawah ini, saya menceritakan secara sekilas bagian-bagian yang bagi saya amat menarik. Selain itu, ada juga subjudul yang memuat sedikit ulasan dan refleksi saya tentang subjudul tersebut. Ada juga subjudul tertentu yang saya kaitkan dengan pengalaman pribadi saya waktu kecil.

Tikus dalam Stoples

Roald Dahl dan keempat kawannya menemukan tikus mati di balik sebuah papan yang nyaris lepas di belakang kelasnya. Bukannya mengubur, dalam pikiran Roald kecil muncul sebuah niat nakal. Inilah kenakalan pertama yang dikisahkan Roald Dahl. Dengan keempat kawannya ia menyembunyikan tikus mati di dalam sebuah stoples yang berisi permen-permen. Stoples itu ada di sebuah warung milik Mrs. Pratchett yang suka berlaku sinis kepada anak-anak.

Kejadian ini membuat kepala sekolah, Mr. Coombes, berang bukan kepalang. Ia memukuli pantat kelima anak itu dengan kejam. Pantat mereka semua kemudian memar dan mengerikan. Karena kejadian ini, ibu Roald kecil yang saat itu membesarkannya seorang diri memutuskan untuk memindahsekolahkan Roald. Ibunya menganggap bahwa guru atau kepala sekolah yang suka memukuli anak didiknya sampai sedemikian kelewatan berarti sebenarnya tidak bisa mendidik anak-anak didiknya.

Pipa Tembakau dan Kotoran Kambing

Kakak tiri Roald Dahl memiliki tunangan yang suka menghisap pipa. Ia seorang dokter muda yang gagah. Saat berlibur ke Norwegia, tunangannya itu juga turut serta. Pipa yang selalu dihisapnya suatu ketika tertinggal di bebatuan. Tak jauh dari pipa, ada kotoran kambing yang sudah mengering.

Tembakau yang masih ada di dalam pipa dikeluarkan, kotoran kambing itu ia masukkan, lalu ia tutupi lagi dengan tembakau yang tadi dikeluarkan. Dokter itu kembali mengambil pipanya dan menghisapnya. Dokter malang itu menjerit sekuat tenaga begitu merasa ada yang tidak beres dalam pipanya. Inilah kenakalan lain Roald Dahl yang gila-gilaan, mirip beberapa kenakalan yang ditulisnya dalam buku-bukunya yang lain.

Corkers, Guru yang Eksentrik

Hampir semua guru, kepala sekolah, dan senior di sekolah-asrama yang pernah disinggahi Roald Dahl ditampilkan sebagai sosok yang angker. Mereka semua tampaknya menjadi musuh anak-anak kecil yang ceria, imajinatif, dan penuh rasa ingin tahu. Sekolah dan asrama, dalam cerita-cerita di buku ini menjadi tempat yang selalu ditakuti — penuh peraturan, hukuman, dan kedisplinan yang harus diperhatikan setiap saat.

Satu-satunya guru yang dikisahkan dengan berbeda adalah Corkers. Ia adalah seorang guru Matematika yang eksentrik. Ia pernah mengajak murid melihat teka-teki silang untuk mengganti sebuah materi yang membosankan dan membawa ular ke dalam kelas untuk melatih nyali anak-anak. Pelajaran Corkers seringkali penuh dengan gangguan yang diciptakannya sendiri. Entah bercanda, entah mengidap kelainan jiwa, Corkers dikisahkan begitu aneh.

Suatu hari ia membawa kertas tisu yang tipis, dan menanyakan ke anak-anak berapa tebal kertas tisu itu jika dilipat sebanyak 50 kali. Semua anak berlomba-lomba menjawab, dan tidak ada satu pun jawaban yang benar. Jawabannya ternyata adalah jarak antara matahari dengan bumi. Corkers menjelaskan jawaban itu kepada anak-anak di papan tulis, dan mereka semua — anehnya, atau lucunya, atau gilanya — terkagum-kagum kepadanya.

Corkers mengajar mereka tidak lama. Hari terakhir Corkers mengajar masih diingat oleh Roald Dahl. Saat itu Corkers tengah mengajar dan ia mencium bau kentut yang busuk sekali. Seisi kelas heboh, anak-anak jumpalitan membuka pintu dan jendela agar udara segar masuk. Dan setelah kejadian kentut itu, Corkers tak muncul lagi. (Bersambung)

Sidoarjo, 10-1-2012

Yang Diharapkan Ketika Kembali

Hampir tiap akhir pekan saya pulang ke Malang sejak empat tahun lalu. Saya bekerja di Sidoarjo, sementara kedua orang tua saya tinggal di Malang. Ada saat-saat yang selalu saya tunggu setiap akhir pekan ketika kembali bertemu dengan keluarga. Saat-saat ketika saya dan orang tua saling bercerita di meja makan tentang kehidupan kami masing-masing.

Juga, saat-saat ketika seorang keponakan saya yang masih balita dulu selalu menyambut saya ketika mendengar bunyi pagar rumah dibuka. Dia akan berlari keluar, menyerukan nama saya, lalu minta digendong. Dia senang kalau saya ajak melihati kambing, domba, dan beberapa ikan di kolam yang ada di dekat sawah di sekitar perumahan kami.

“Setiap orang yang baru tiba dari bepergian jauh selalu mengharapkan seseorang menunggunya di stasiun atau bandara. Setiap orang ingin menceritakan kisahnya dan membagi kepedihan hati atau sukacitanya dengan keluarganya, yang menunggunya untuk pulang,” kata seorang yang bijaksana.

Hal itu memang benar. Itulah yang membuktikan bahwa manusia tak dapat hidup sendiri. Manusia mengharapkan adanya orang lain ketika ia kembali dari suatu tempat. Ketika kita menutup diri untuk diterima orang lain, sesungguhnya tindakan ini akan mengecilkan arti diri kita yang sesungguhnya. Jurang yang dalam berupa prinsip atau tujuan hidup memang dapat menjadi pemisah sebuah relasi. Namun, kita tetap dapat dikasihi, meskipun kadang orang yang mengasihi kita tak selalu sejalan dan sepikiran dengan kita. ***

 “Untuk mendapatkan kesenangan sepenuhnya, Anda harus memiliki seseorang untuk berbagi dengannya.”
~ Mark Twain

Enggan Membaca Tulisan Sendiri

Saya pernah didatangi beberapa penulis yang mengaku baru saja menyelesaikan cerpen atau karya tulis lainnya. Mereka minta tolong agar semua hal yang bagi saya adalah suatu kesalahan penulisan, diperbaiki. Saya bertanya apakah mereka sendiri sudah membaca ulang karya mereka, mereka jawab tidak. Saya anggap, inilah kesalahan yang fatal di kalangan penulis pemula.

William Faulkner, seorang pemenang Nobel Sastra, pernah menyatakan, “Penulis-penulis muda terlalu dungu mengikuti teori. Ajarlah dirimu sendiri melalui kesalahan-kesalahan yang pernah kaulakukan — orang belajar dari kesalahan. Seniman yang baik tidak boleh berharap pada siapa pun yang mungkin dapat memberi nasihat padanya.”

Tidak sedikit penulis yang begitu selesai menulis, langsung mengirim tulisannya ke redaktur atau penerbit. Semangatnya menggebu-gebu, ide dan inspirasi di kepala tidak pernah kering. Tangannya terus menulis segala sesuatu yang memantik gagasan untuk dituangkan dalam kata-kata. Puisi, cerpen, artikel, semua ditulis! Namun, di balik semua itu, salah tulis bertaburan di mana-mana. Inilah yang kerap menjadi alasan penolakan tulisan.

Dalam bidang apa pun, kita perlu meninjau ulang apa yang sudah kita kerjakan. Begitu banyak hal yang bisa dikoreksi dan diperbaiki ulang, dan hasilnya mungkin akan (jauh) lebih baik daripada dikerjakan sekali jadi. Dan, mungkin kita tidak sadar, bahwa kebiasaan ini pada akhirnya juga akan membuat kita belajar lebih banyak — yakni belajar menemukan kekurangan diri sendiri.

Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya.
~ Alexander Pope

3 Persoalan Hidup, 3 Kedamaian Jiwa, 3 Lagu Dream Theater

“Hati Anda belum hidup kalau belum pernah mengalami rasa sakit. Rasa sakit karena cinta akan membuka hati, bahkan bila hati itu sekeras batu.”

~ Hazrat Inayat Khan

Pada akhir tahun lalu, saya sering merenung seorang diri. Di tengah-tengah keluarga yang berkumpul dan berlibur di rumah orang tua saya di Malang, atau di beberapa tempat lain, saya selalu meluangkan waktu untuk merenungkan beberapa hal. Hal-hal yang saya renungkan tak melulu tentang diri saya sendiri, walau tulisan ini secara garis besar mengangkat hal-hal yang saya alami.

Hal pertama yang saya renungkan adalah kegagalan. Saya termasuk orang yang sering gagal. Dalam dunia penulisan, misalnya, naskah saya cukup banyak yang ditolak oleh redaktur koran atau editor penerbit. Sejak tahun 2002 saya menekuni dunia penulisan, namun masih sedikit pencapaian yang saya raih. Ada pula kegagalan lain yang sifatnya lebih pribadi, namun cukup mengusik pikiran saya setiap kali mengingatnya. Kadangkala saya bertanya-tanya: apakah sebagian manusia memang ditentukan untuk mengalami kegagalan lebih banyak dan lebih kompleks?

Pada saat-saat inilah saya sering mendengarkan lagu “Another Day”. Sebuah penggalan liriknya yang selalu mendamaikan jiwa saya adalah: “You won’t find it here, look another way. You won’t find it here, so try another day.

Dan, di bagian lain, dengan amat puitis dituliskan bahwa mimpi-mimpi kita yang diambil oleh orang lain mungkin disembunyikan di balik bintang. Kita berharap bintang yang menyembunyikan mimpi kita itu jatuh, mimpi menjadi kenyataan. Namun hal itu tidak kunjung tiba. Pada saat itu, lebih baik tetap membiarkannya sebagai misteri dan berserah pada rahasia ilahi:

They took pictures of our dreams
Ran to hide behind the stars
And said maybe when it’s right for you, they’ll fall
But if they don’t come down
Resist the need to pull them in
And throw them away
Better to save the mystery
Than surrender to the secret

***

Hal kedua yang kadang mengganggu saya adalah beberapa orang yang meninggalkan saya tanpa sebab yang pasti, tanpa penjelasan yang memadai. Di antara mereka ada seorang yang sangat baik, tiap hari selalu berbagi kabar, dan suka bercanda. Saya mengenal dia saat sakit dan hendak dioperasi. Dari dia mengalami sakit hingga dioperasi, lalu sembuh, dan kemudian sehat kembali, kami selalu berbagi kabar.

Ada juga seorang lain yang selalu menyebut saya sebagai kakaknya, suka dunia penulisan juga. Beberapa karyanya sempat saya beri masukan. Dia begitu gembira ketika cerpennya dimuat juga di sebuah majalah yang dulu pernah memuat cerpen saya. Karena 10 tahun lebih muda daripada saya, dia cukup sering menanyakan hal-hal yang baginya perlu pertimbangan masak-masak.

Dua orang ini, hingga kini menghilang tanpa jejak. Saya sempat berbeda pendapat dengan keduanya dan meminta maaf untuk perbedaan itu, namun keduanya tidak membuka komunikasi lagi kepada saya. Kadangkala, saya ingin bisa berdiskusi, bercanda, dan mendengar apa yang mereka alami dan hadapi. Namun, hubungan itu kini hanya menjadi kenangan yang susah diharapkan untuk bisa terjalin lagi.

Ketika memikirkan mereka, saya pun teringat lagu “Beneath the Surface”. Akan tiba masanya ketika saya tidak akan berharap lagi bisa menjadi seseorang yang berarti buat mereka, begitu juga sebaliknya. Bukan karena kebencian, bukan karena dendam. Namun, karena alasan-alasan yang kadang susah dibahasakan.

Until one day I stopped caring,
and began to forget why I longed to be so close.
And I disappeared into the darkness,
and the darkness turned to pain,
and never went away,
until all that remained was buried
deep beneath the surface.

Lewat permintaan maaf, saya selalu berharap mereka bisa mengampuni saya. Namun, kadangkala saya juga bertanya-tanya: apakah mereka yang justru merasa jauh lebih bersalah daripada saya sehingga akhirnya lebih memilih untuk melupakan saya? Entahlah.

Tidak sedikit orang yang menyatakan bahwa waktu akan menjawab semua pertanyaan dan misteri yang menggelayuti sebuah hubungan. Namun, ketika waktu tak kunjung bicara… biarlah semuanya terkubur saja, sehingga saya tak harus terus berharap pada kekuatan waktu.

***

Hal ketiga adalah meyakini bahwa kehidupan yang saya jalani saat ini berharga.

Tak jarang saya merasa kehidupan saya sudah sangat baik saat ini. Saya bersyukur untuk hal ini. Saya mempunyai pekerjaan yang baik sebagai seorang guru — dan saya memang suka mengajar, juga suka bersama anak-anak. Saya memiliki hobi menonton film, menulis, bermain musik, minum kopi — yang semuanya membuat saya bahagia.

Namun, pernah juga saya merasakan bahwa kehidupan yang saya jalani ini statis, kurang bergairah. Saya bosan bekerja dari pagi sampai sore; lalu pada malam hari menonton film, menulis, atau bermain gitar. Saya ingin keluar dari apa yang telah menjadi dunia saya. Namun, saya tak tahu harus melakukan apa atau menciptakan dunia apa lagi. Pada saat-saat seperti inilah saya sering merenungkan bahwa apa yang sudah saya miliki adalah sesuatu yang berharga. Saya merenungkannya bersama lagu “The Answer Lies Within”.

Di beberapa gereja, dulu lagu “You Raise Me Up” dijadikan seperti lagu rohani, dinyanyikan pula saat ibadah. Menurut saya, lagu “The Answer Lies Within” bisa juga dijadikan lagu rohani. Kata demi kata yang ada di dalamnya dengan sangat baik memotret kegelisahan manusia yang perlu kesadaran untuk menata dirinya agar menjadi lebih maknawi. Simaklah penggalan liriknya berikut:

Look around, where do you belong
Don’t be afraid, you’re not the only one

Life is short, so learn from your mistakes
And stand behind, the choices that you made
Face each day with both eyes open wide
And try to give, don’t keep it all inside

Pilihan dalam kehidupan — pekerjaan, hobi, minat, dan sederet hal lain — bisa diambil kapan saja bila kita mau, dan tentunya akan mengubah kehidupan yang selama ini dijalani. Namun, hal itu pada akhirnya menerbitkan pertanyaan dalam diri saya: bila saya mengambil keputusan dengan memilih kehidupan yang lain dari apa yang telah saya jalani saat ini, apakah itu merupakan suatu bentuk pelarian dari kebosanan?

***

Bagi beberapa orang orang, grup band Dream Theater adalah grup band yang sulit. Lagu-lagu mereka dimainkan dengan nada dan irama yang penuh perubahan, durasinya panjang-panjang, atau tidak easy listening alias musik kelas berat. Saya nyatakan, tidak demikian — atau setidaknya bagi anda yang kurang suka grup band rock: tidak semua lagu mereka demikian.

Contohnya, tiga lagu ini. Saya merasa, apabila ketiganya didengar tidak sambil lalu, ada manfaat baik yang bisa didapatkan ketika merenungkan kata-kata dalam lagu-lagu ini. (*)

Sidoarjo, 2 Januari 2012

Ulang Tahun Keponakan dan Wanita Pembungkus Kado

1 Januari 2012. Keponakan saya, Gracia Arinda Sarsanto, hari ini berulang tahun. Usianya 3 tahun. Ia masih sangat cadel. Ia tidak bisa menyebut “permen”, tetapi “demen”. Bila menyanyi lagu “Cicak di Dinding”, ia tidak bisa menyebut “merayap”, tapi “dedayap”. Saya berjanji membelikannya sebuah hadiah ulang tahun. Namun, hingga menjelang malam, hadiah itu tak kunjung saya beli. Sejak tadi sore, Malang diguyur hujan deras.

Hujan tak kunjung reda. Malam telah tiba. Bersama seorang teman baik saya, Junaedi Ridwan, akhirnya saya memutuskan pergi ke Gajahmada Plaza, membeli beberapa kaset vcd anak-anak untuk Gracia. Hujan turun sangat deras, sepanjang perjalanan bersepeda motor kami mengenakan jas hujan. Di toko kaset itu tidak tersedia kertas kado. Setelah bertanya kepada penjual di toko kaset, saya menemukan toko yang menjual kertas kado.

Kertas kado itu ada di sebuah toko aksesoris. Penjaga toko itu adalah seorang wanita muda. Ia berkulit terang, mengenakan kaos putih. Penampilannya begitu sederhana. Di toko itu saya melihat sebuah kertas kado berwarna biru dan bergambar ikan. Saya bertanya kepadanya bisakah saya minta tolong agar kaset-kaset vcd yang saya beli ini dibungkuskan karena tak lama lagi perayaan kecil ulang tahun Gracia akan dimulai.

“Bisa,” katanya. “Ongkosnya dua ribu.”

Saat dia membungkus kado itu, saya dan Junaedi melihat-lihat barang-barang yang dijual di toko aksesoris itu. Tidak ada satu pun barang yang menarik minat kami: sepatu anak-anak, kaos kaki kecil, kalung, cincin, gelang, dan lain-lain.

Saya mendekati wanita itu. Saya amati gerak-geriknya yang sangat teliti membungkus kado. Ia melipat kertas kado itu dengan lurus di beberapa bagian, lalu memotong bekas lipatan itu menggunakan cutter dengan rapi. Ia mempersilakan saya duduk, namun saya lebih suka melihatnya membungkus kado. Saat kado itu hampir selesai dibungkus, ia bertanya kepada saya, “Ini untuk anaknya ya, Mas?”

“Bukan, ini untuk keponakan saya. Usianya tiga tahun,” kata saya.

Tiga kaset vcd itu selesai dibungkus. Sangat rapi. Dia berkata, “Mau enggak kalau kado ini saya tambahi dengan hiasan pita kecil?”

“Wah, tidak usah, Mbak. Jangan repot-repot,” kata saya.

“Tidak apa-apa kok, Mas.”

Ia pun membuat pita kecil dari sisa kertas kado itu. Saat ia membuatnya, saya iseng-iseng bertanya, “Mbak tinggal di mana?”

“Di daerah Juanda, Mas.”

Saya tidak tahu di mana itu Juanda. Junaedi berkata kepada saya kalau Juanda itu tidak terlalu jauh dari Pasar Besar kota Malang, dekat apotek Boldy. Kami bertiga kemudian bercakap-cakap tentang beberapa hal remeh: tokonya buka dan tutup jam berapa, sudah berapa lama ia bekerja di toko itu, dan lain-lain.

Percakapan kami yang berlangsung tak lebih dari lima menit itu, tanpa saya sadari melahirkan pertanyaan ini kepada wanita itu: “Mbak sendiri sudah punya anak?”

“Anak saya sudah meninggal, Mas. Enam bulan lalu.”

Saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Wanita itu menyelesaikan pita yang dibuatnya untuk ditempelkan di kado itu. Kado itu pun selesai dibungkus. Saya dan Junaedi meninggalkan wanita itu, wajahnya yang tampak murung. Saya dan Junaedi mampir ke sebuah warung kopi untuk berteduh, menunggu acara ulang tahun Gracia yang akan diadakan di sebuah warung steak setengah jam kemudian.

Keluarga saya merayakan acara ulang tahun Gracia dengan penuh sukacita. Saat kami tengah merayakan ulang tahun, seorang teman baik saya yang lain, Yohanes Purwonegoro, menelepon saya. Ia bercerita kalau ia tak bisa pulang karena kehujanan sepulang dari gereja yang ada di dekat rumah saya. Sekarang Yohanes sudah bisa naik sepeda, dulu ia selalu berjalan kaki ke mana-mana.

Malam ini rumah orang tua saya ramai. Junaedi dan Yohanes turut menginap di rumah ini. Orang-orang di rumah ini bercanda dengan riang. Gracia tengah bermain dan senang dengan kado-kado yang diterimanya malam ini. Saya kembali mengenang wanita itu. Mungkinkah ia tengah memikirkan anaknya di alam baka ketika jari-jemarinya yang telaten itu membungkus kado untuk Gracia?

Hujan sudah reda. Suara kodok bersahut-sahutan dengan nyaring. Satu per satu penghuni rumah ini terlelap. (*)

Malang, 1 Januari 2012