Monthly Archives: February 2012

Buku “366 Reflections of Life” di Gramedia Expo

Akhirnya, setelah menunggu sejak akhir tahun 2011 lalu, berita gembira ini datang juga: buku saya, 366 Reflections of Life (Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati) sudah beredar di toko buku!

Sabtu malam, tanggal 18 Februari 2012, saya mendapati ada 100 buku saya di Gramedia Expo Surabaya berdasarkan pencarian di komputer toko itu. Semoga di kota-kota lain — selain Surabaya — buku tersebut juga sudah beredar. Bagi yang berminat, silahkan langsung ke toko buku untuk membelinya atau menuju ke link berikut: beli buku ini online.

Seorang teman bertanya tentang isi buku saya ini, 366 Reflections of Life (Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati). Saya menjawab bahwa isinya campur-baur. Intinya, lewat buku ini saya mengajak pembaca berefleksi dengan berbagai kisah dan kejadian dalam kehidupan ini.

Saya mengangkat kisah dan renungan dari: pertemuan terakhir kedua proklamator, sebuah cerpen Leo Tolstoy, seorang wanita yang dikecewakan oleh kekasihnya, bayi yang diserahkan kepada orang lain begitu dilahirkan, TKW yang meninggal seorang diri di negeri asing, pengalaman Lumiere bersaudara waktu menampilkan film pertama dalam sejarah dunia, kebakaran di rumah tetangga adik saya di Kalbar, kebiasaan John Petrucci berlatih gitar, dan berbagai tulisan lainnya dengan tema yang variatif.

Hampir semua kisah dalam buku ini disajikan dalam 1 halaman buku. Jadi, tiap halaman buku memiliki kisah tersendiri yang reflektif dan inspiratif.

Keterangan mengenai buku ini di sampul belakang:

366 tulisan di buku ini hendak mengajak Anda melihat dan merenungkan berbagai sisi kehidupan yang dinamis dan terus bergejolak. Ada tulisan yang mengajak Anda untuk terus bertahan di masa sukar. Ada yang berupaya memetik hikmah dari sebuah film atau buku. Ada juga ajakan untuk memetik pelajaran berharga dari kisah seorang tokoh, atau orang biasa yang sering kita jumpai dalam keseharian. Ada tulisan yang diangkat dari peristiwa-peristiwa bersejarah, ada juga yang diangkat dari hal-hal kecil dalam keseharian.

366 tulisan pendek yang ada di buku ini bersifat reflektif dan inspiratif, menawarkan kesegaran untuk kesesakan, penderitaan, dan kesusahan dalam hidup kita yang tak pernah hilang dan datang silih berganti. Lewat buku ini, semoga Anda mendapatkan pencerahan dan kedamaian untuk terus melanjutkan hidup dengan pengharapan.

Detail buku:

Penulis: Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita G.
Desain: Vidya Prawitasari
Harga: Rp. 54.000,00
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (Kompas-Gramedia)

Advertisements

Polisi-polisi Moral yang Mengerikan

“Homines sumus, non dei.” (Kita manusia yang lemah, bukan dewa.)
~ Pepatah Latin

Sebelum mengajar, saya seringkali menyempatkan diri untuk sarapan, atau paling tidak minum kopi di sebuah warung kopi (warkop) dekat sekolah saya. Di warkop itu ada sebuah televisi berukuran 21 inci yang selalu menyala, demikian pula setiap pagi. Pagi-pagi sebelum pukul tujuh, tayangan gosip pun sudah menghiasi layar kaca.

Berita tentang artis atau selebritas selalu menarik perhatian publik. Ketika Syahrini tidak tahu dari mana asal mobil Esemka, banyak yang menghujat dan memaki-makinya. Ketika Adesagi Kierana, desainer yang diduga keras seorang gay tewas bersama seseorang, di situs-situs berita banyak komentar yang melaknatinya atas nama Tuhan dan agama. Dulu, ketika Roy Marten ketahuan menggunakan narkoba, gedung pengadilan yang menggelar sidangnya menjadi ramai sekali. Seorang selebritas ternama ketahuan menggunakan barang haram, itu pas sekali jadi berita utama!

Seperti infotainment, kini, makin banyak orang yang sangat suka menyaksikan dan meributkan hal-hal yang memalukan, yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan kehidupan pribadinya. Penghakiman, hujatan, dan makian diteriakkan. Orang-orang tampak sibuk memunguti dosa, masalah, dan kebobrokan orang lain.

Keadaan ini mengingatkan saya pada kisah yang pernah ditulis Philip Yancey, seorang penulis terkenal. Ketika masih kecil ia mengenal seorang pria yang mengesankan. Pria itu sering dipanggil Big Harold. Ia suka mengawasi anak-anak yang riang gembira bermain komidi putar. Ia juga meluangkan waktu bermain catur bersama mereka. Namun, di balik sikap ramahnya, Big Harold suka menghakimi orang lain.

Ia juga membenci orang kulit hitam — sama sekali tidak bisa toleran pada mereka. Ia mengkritik dengan tajam segala sesuatu yang amoral dalam pandangannya lewat surat-surat yang ditulisnya. Ia berhasil menjadi seorang pendeta di sebuah gereja kecil di Afrika. Namun, di balik surat dan khotbah-khotbahnya yang menyuarakan moralitas, Big Harold ternyata menyimpan misteri lain.

Ia melakukan phone-sex, juga berlangganan majalah porno. Ia bahkan menggunting beberapa bagian majalah porno itu, dan mengirimkan guntingan itu kepada beberapa wanita, sambil menuliskan: “Ini yang akan kulakukan padamu.” Moralitas yang begitu kuat ia suarakan dalam khotbah dan surat-suratnya ternyata tak pernah mengubah kondisi hatinya sendiri yang bobrok.

Moralitas seperti ini adalah legalisme. Orang yang terjebak dalam legalisme tahu hukum, tahu yang baik dan buruk, mungkin selalu tampak adil dan bijaksana, namun menjadi pribadi yang kaku dan gagal untuk mengupayakan kehidupan yang seimbang. Sebaliknya, ada orang yang mengakui ketidakberdayaan dan ketidaksempurnaannya, tidak selalu tampak baik, namun selalu berusaha menjaga integritas dengan cara mengoreksi diri.

Dosa yang terungkap, dibeberkan di tengah masyarakat, efeknya akan luar biasa. Sidang digelar, pengadilan ramai. Namun, dosa yang tak ketahuan, tersembunyi jauh dalam relung hati, siapa yang tahu seberapa besar efeknya? Jangankan efeknya, yang punya dosa kadang juga tidak sadar bahwa itu juga namanya dosa. Pengadilan seperti apakah yang akan membuktikannya sebagai dosa?

Iri hati, ketamakan, kesombongan, pikiran najis, kebencian dan sederet dosa lain, siapakah yang menjadi hakim atasnya? Tidak ada pengadilan atau negara di muka bumi ini yang mengatur hukuman bagi sebuah iri hati atau kebencian. Seseorang dapat terjebak menjadi polisi-polisi moral yang mengerikan ketika lupa pada kekurangan diri sendiri. Bahkan, polisi yang bertindak atas nama hukum pun kadang lelah menghadapi kejahatan.

“Menjadi polisi berarti percaya pada hukum… menghormati persamaan manusia… dan menghargai setiap individu. Setiap hari kau bertugas. Kau perlu integritas dan keberanian, (juga) kejujuran, kasih sayang, sopan santun, ketekunan dan kesabaran. Kalian sekarang siap bergabung, berperang dengan kejahatan,” demikian retorika itu berkumandang dengan agung dalam film Serpico yang dibintangi Al Pacino — diangkat dari kisah nyata.

Serpico polisi yang idealis, suka memberantas kejahatan. Ia bahkan diangkat menjadi detektif. Namun, ketika sudah menjadi detektif ia justru menyaksikan betapa kejahatan sudah mengurat-akar dan mustahil diberantas. Polisi kongkalikong dengan penjahat. Mereka disuap agar kejahatan dibiarkan hingga kian merajalela. Sebuah adegan yang begitu kuat menempelak rasa keadilan adalah saat Serpico berhasil menangkap gembong mafia bernama Rudy Corsaro:

Setelah Rudy berhasil ditangkap, ia malah santai duduk-duduk bersama beberapa polisi lain di kantor polisi. Serpico yang amarahnya sudah tak terkendali, awalnya hanya bersiul-siul. Namun, berangnya terlampiaskan begitu tak terduga. Dia jatuhkan Rudy ke lantai, dia pelorotkan celananya, dia robek bajunya, dan dia lemparkan Rudy ke sel kecil yang ada di kantor itu!

Kejahatan — juga dosa, masalah, dan persoalan hidup — tak pernah berhenti terjadi. Kejahatan selalu ada di sekitar kita dan kadang sengaja dipelihara karena serasa mustahil diberantas. Saat seseorang hendak membasminya, orang itu pun merasa terlalu kecil untuk menegakkan kebaikan. Ketika kejahatan tak bisa ditumpas, jadi, bagaimana?

Segala sesuatu akhirnya berpulang pada hati nurani masing-masing. Semoga, tidak makin sedikit orang yang menghakimi kebencian dan kedengkian yang tumbuh di dalam dirinya sendiri, lalu bertanya seperti sebuah lagu yang pernah dinyanyikan God Bless*):

Oh, adakah kasih
Di dalam dada kita yang tersisa?

***

*) Dari lagu berjudul “Rindu Damai”.

Ketika Cinta Harus Kehilangan

Mungkin tidak banyak orang yang mengenal siapa itu Mary Austin. Wanita ini pernah menjalin hubungan asmara dengan seorang penyanyi ternama. Ia adalah Freddie Mercury, vokalis band legendaris Queen. Mary Austin, seorang karyawati di sebuah butik di London, menjalin hubungan asmara dengan Freddie selama tujuh tahun.

Namun, perjalanan cinta mereka kandas di tengah jalan, entah apa sebabnya. “Cinta kami berakhir dengan air mata, tapi ikatan yang mendalam tumbuh dari itu, dan itu sesuatu yang tidak bisa diambil dari kami berdua,” kata Freddie Mercury. Di kemudian hari, ia menciptakan Love of My Life yang tak lekang oleh perubahan zaman — sebuah lagu tentang cinta yang hilang.

Banyak orang yang meributkan soal kehidupan pribadi Freddie Mercury, terutama soal perilakunya yang urakan. Namun, tak sedikit juga yang tidak ambil pusing dengan perilaku sang penyanyi ini — mereka menggemari karya-karyanya dengan sepenuh hati. Dan, terkait dengan Mary Austin, berita baiknya adalah mereka berdua tetap menjadi teman baik. Hingga Freddie meninggal pada 24 November 1991, hubungan baik keduanya tak terpisahkan. Mary bahkan menjadi pewaris beberapa kekayaan yang dimiliki Freddie.

Begitu banyak orang yang lebih memilih melupakan mantan kekasihnya ketika hubungan mereka kandas di tengah jalan. Tak sedikit yang menyimpan trauma dan dendam sekian lama. Ketika cinta harus kehilangan, dan tak bisa dipertahankan, hal itu memang menuntut kedewasaan seseorang untuk tetap kuat dan terus melanjutkan hidupnya.

“Aku mencintaimu tanpa mengetahui bagaimana, mengapa, bahkan dari mana.”
~ Dari film Patch Adams ~

Membaurnya Derita dan Bahagia

Dalam Bukan Pasar Malam, novelnya yang cukup tersohor, diterbitkan pertama kali pada tahun 1951, Pramoedya Ananta Toer mengisahkan seorang anak revolusi yang mengunjungi ayahnya yang sakit keras akibat TBC. Ayahnya, seorang guru, setia berbakti pada negara sebagai pendidik yang menolak jabatan menjadi pengawas sekolah. Ia juga seorang aktivis partai yang dermawan, walau juga punya satu sifat buruk: suka berjudi.

Yang mengesankan adalah suatu malam ketika si anak bisa menjaga ayahnya hingga tidak tidur. Pramoedya menulis “… betapa bahagia rasanya tidak tidur untuk kepentingan seorang ayah — ayahnya sendiri — yang sedang tergeletak sakit. Dan terasalah olehku betapa gampangnya orang yang hidup dalam kesengsaraan itu kadang-kadang — dengan diam-diam — menikmati kebahagiaan.”

Terlepas dari muatan kritiknya terhadap kondisi politik Indonesia di masa itu, juga terhadap para jendral dan pembesar yang sarat dusta dan permainan kotor, novel yang amat disukai oleh Romo Mangun ini berupaya memaknai pertautan kasih bapak-anak yang dirasakan dan terjalin dalam penderitaan.

Pernahkah Anda berada di samping orang yang dekat dengan Anda, dan menunggu ajalnya tiba? Jikalau Anda dapat menghayatinya sungguh-sungguh, di saat-saat itulah kebahagiaan dan penderitaan berbaur; hakikat hidup yang sementara ini tersingkapkan; dan niat dan tekad untuk menjalani hidup agar lebih bermakna dibulatkan. ***

“Berbagi kesenangan melipatduakan kesenangan, berbagi kesedihan membuat kesedihan menjadi setengahnya.”
~ Peribahasa Swedia ~