Polisi-polisi Moral yang Mengerikan

“Homines sumus, non dei.” (Kita manusia yang lemah, bukan dewa.)
~ Pepatah Latin

Sebelum mengajar, saya seringkali menyempatkan diri untuk sarapan, atau paling tidak minum kopi di sebuah warung kopi (warkop) dekat sekolah saya. Di warkop itu ada sebuah televisi berukuran 21 inci yang selalu menyala, demikian pula setiap pagi. Pagi-pagi sebelum pukul tujuh, tayangan gosip pun sudah menghiasi layar kaca.

Berita tentang artis atau selebritas selalu menarik perhatian publik. Ketika Syahrini tidak tahu dari mana asal mobil Esemka, banyak yang menghujat dan memaki-makinya. Ketika Adesagi Kierana, desainer yang diduga keras seorang gay tewas bersama seseorang, di situs-situs berita banyak komentar yang melaknatinya atas nama Tuhan dan agama. Dulu, ketika Roy Marten ketahuan menggunakan narkoba, gedung pengadilan yang menggelar sidangnya menjadi ramai sekali. Seorang selebritas ternama ketahuan menggunakan barang haram, itu pas sekali jadi berita utama!

Seperti infotainment, kini, makin banyak orang yang sangat suka menyaksikan dan meributkan hal-hal yang memalukan, yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan kehidupan pribadinya. Penghakiman, hujatan, dan makian diteriakkan. Orang-orang tampak sibuk memunguti dosa, masalah, dan kebobrokan orang lain.

Keadaan ini mengingatkan saya pada kisah yang pernah ditulis Philip Yancey, seorang penulis terkenal. Ketika masih kecil ia mengenal seorang pria yang mengesankan. Pria itu sering dipanggil Big Harold. Ia suka mengawasi anak-anak yang riang gembira bermain komidi putar. Ia juga meluangkan waktu bermain catur bersama mereka. Namun, di balik sikap ramahnya, Big Harold suka menghakimi orang lain.

Ia juga membenci orang kulit hitam — sama sekali tidak bisa toleran pada mereka. Ia mengkritik dengan tajam segala sesuatu yang amoral dalam pandangannya lewat surat-surat yang ditulisnya. Ia berhasil menjadi seorang pendeta di sebuah gereja kecil di Afrika. Namun, di balik surat dan khotbah-khotbahnya yang menyuarakan moralitas, Big Harold ternyata menyimpan misteri lain.

Ia melakukan phone-sex, juga berlangganan majalah porno. Ia bahkan menggunting beberapa bagian majalah porno itu, dan mengirimkan guntingan itu kepada beberapa wanita, sambil menuliskan: “Ini yang akan kulakukan padamu.” Moralitas yang begitu kuat ia suarakan dalam khotbah dan surat-suratnya ternyata tak pernah mengubah kondisi hatinya sendiri yang bobrok.

Moralitas seperti ini adalah legalisme. Orang yang terjebak dalam legalisme tahu hukum, tahu yang baik dan buruk, mungkin selalu tampak adil dan bijaksana, namun menjadi pribadi yang kaku dan gagal untuk mengupayakan kehidupan yang seimbang. Sebaliknya, ada orang yang mengakui ketidakberdayaan dan ketidaksempurnaannya, tidak selalu tampak baik, namun selalu berusaha menjaga integritas dengan cara mengoreksi diri.

Dosa yang terungkap, dibeberkan di tengah masyarakat, efeknya akan luar biasa. Sidang digelar, pengadilan ramai. Namun, dosa yang tak ketahuan, tersembunyi jauh dalam relung hati, siapa yang tahu seberapa besar efeknya? Jangankan efeknya, yang punya dosa kadang juga tidak sadar bahwa itu juga namanya dosa. Pengadilan seperti apakah yang akan membuktikannya sebagai dosa?

Iri hati, ketamakan, kesombongan, pikiran najis, kebencian dan sederet dosa lain, siapakah yang menjadi hakim atasnya? Tidak ada pengadilan atau negara di muka bumi ini yang mengatur hukuman bagi sebuah iri hati atau kebencian. Seseorang dapat terjebak menjadi polisi-polisi moral yang mengerikan ketika lupa pada kekurangan diri sendiri. Bahkan, polisi yang bertindak atas nama hukum pun kadang lelah menghadapi kejahatan.

“Menjadi polisi berarti percaya pada hukum… menghormati persamaan manusia… dan menghargai setiap individu. Setiap hari kau bertugas. Kau perlu integritas dan keberanian, (juga) kejujuran, kasih sayang, sopan santun, ketekunan dan kesabaran. Kalian sekarang siap bergabung, berperang dengan kejahatan,” demikian retorika itu berkumandang dengan agung dalam film Serpico yang dibintangi Al Pacino — diangkat dari kisah nyata.

Serpico polisi yang idealis, suka memberantas kejahatan. Ia bahkan diangkat menjadi detektif. Namun, ketika sudah menjadi detektif ia justru menyaksikan betapa kejahatan sudah mengurat-akar dan mustahil diberantas. Polisi kongkalikong dengan penjahat. Mereka disuap agar kejahatan dibiarkan hingga kian merajalela. Sebuah adegan yang begitu kuat menempelak rasa keadilan adalah saat Serpico berhasil menangkap gembong mafia bernama Rudy Corsaro:

Setelah Rudy berhasil ditangkap, ia malah santai duduk-duduk bersama beberapa polisi lain di kantor polisi. Serpico yang amarahnya sudah tak terkendali, awalnya hanya bersiul-siul. Namun, berangnya terlampiaskan begitu tak terduga. Dia jatuhkan Rudy ke lantai, dia pelorotkan celananya, dia robek bajunya, dan dia lemparkan Rudy ke sel kecil yang ada di kantor itu!

Kejahatan — juga dosa, masalah, dan persoalan hidup — tak pernah berhenti terjadi. Kejahatan selalu ada di sekitar kita dan kadang sengaja dipelihara karena serasa mustahil diberantas. Saat seseorang hendak membasminya, orang itu pun merasa terlalu kecil untuk menegakkan kebaikan. Ketika kejahatan tak bisa ditumpas, jadi, bagaimana?

Segala sesuatu akhirnya berpulang pada hati nurani masing-masing. Semoga, tidak makin sedikit orang yang menghakimi kebencian dan kedengkian yang tumbuh di dalam dirinya sendiri, lalu bertanya seperti sebuah lagu yang pernah dinyanyikan God Bless*):

Oh, adakah kasih
Di dalam dada kita yang tersisa?

***

*) Dari lagu berjudul “Rindu Damai”.

Advertisements

Posted on February 13, 2012, in Artikel, Film, Refleksi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: