Monthly Archives: March 2012

Mengisahi Kisah, Dikisahi Kisah*)

Oleh: Fahrul Khakim**)

Sejarah melekat erat di berbagai elemen kehidupan. Disadari atau tidak, semua orang butuh sejarah dan sangat erat hubungannya dengan sejarah. Sejarah bukan sekadar periodisasi, tapi juga berkisah melalui sumber-sumber dan bukti nyata. Bahkan, proporsi isi atau kisah dalam sejarah lebih detail dan kompleks. Dalam ilmu Sejarah, dikenal 3 unsur utama yang membentuk sejarah, yaitu: tempat, waktu dan manusia.

Nah, kalau begitu apa bedanya sejarah dengan sebuah kisah? Karena dalam suatu kisah pasti terdapat setting (latar), alur, dan tokoh — hal-hal tersebut juga merupakan unsur-unsur penting dalam suatu cerita. Kehidupan manusia adalah kisah yang terpusat pada pikiran dan perbuatannya. Tak diragukan lagi, nasib dunia ada di tangan manusia.

Sebuah kisah kadang disepelekan, padahal memiliki makna yang berlapis-lapis, tergantung lewat perspektif mana manusia itu sendiri memandangnya. Bukankah mayoritas isi kitab suci adalah kisah? Kisah antara hal baik dan jahat, kisah yang patut diteladani serta diresapi oleh tiap insan di dunia; tak sekadar dibaca, namun mendalami pesan yang disampaikan dalam kisah tersebut. Kebiasaan membaca yang baik menurut banyak penelitian dapat meningkatkan kecerdasan otak. Bukan anggapan yang salah jika membaca kitab suci pun bisa meningkatkan kecerdasan umat beragama.

Mengapa manusia butuh membaca kisah? Kisah adalah sesuatu yang sangat sederhana namun memiliki dampak yang besar bagi jiwa manusia karena begitu mudah menyentuh hati manusia. Di antara genre yang lainnya, genre kisah atau cerita merupakan genre yang paling digemari. Membaca kisah tak perlu menuntut otak manusia untuk berpikir keras, namun sangat mudah meresap dalam hati dan perasaan manusia.

Kisah tak ubahnya napas yang dihembuskan manusia setiap hari. Selalu ada, dan tak pernah ada habisnya. Perlu disyukuri bahwa kisah adalah karunia Tuhan yang terus berkembang melintasi zaman ke zaman. Namun pada intinya sebuah kisah kadang memiliki pola dan pesan yang sama. Ada-ada saja sisi kreatif manusia yang meracik kisah tersebut dengan tampilan atau pemaknaan yang sedikit berbeda. Pada hakikatnya, otak manusia juga terbatas. Terkadang, kisah dalam sejarah terkesan tidak relevan dengan kenyataan masa kini. Terkadang, ada pula efek hiperbola dan fantasi dalam cerita sejarah. Namun hal tersebut membuktikan, bahwa sejak zaman kuno dan di belahan dunia manapun, manusia membutuhkan kisah. Karena, pada dasarnya, kisah pasti — dan akan selalu begitu — ada di dalam diri manusia. Jati diri manusia dibentuk oleh proses pergulatan kisah yang panjang.

Terdapat pihak yang menerima bahwa kisah-kisah itu ada merupakan hikmah dari Tuhan yang maha kuasa. Namun, juga sangat konyol bahwa tak sedikit orang yang langsung merasa jijik mendengar atau membaca suatu kisah. Mereka beranggapan sebuah kisah hanya untuk hiburan semata (stensilan), bahkan terkadang hanya dianggap sebagai hasil karya orang-orang pemalas yang suka melamun, bukan agen pembaharu masyarakat, tidak memberi kontribusi yang berarti. Pernahkah seseorang itu berpikir bahwa sebuah kisah selalu dijadikan senjata politik yang sangat ampuh untuk mengendalikan negara? Tengoklah rezim-rezim yang telah lalu. Begitu banyak kejanggalan yang mengerikan, namun dengan memesonanya para petinggi politik berhasil menyusun sebuah drama untuk menutupi segala ketimpangan tersebut. Para politisi merupakan pengarang yang cerdas, padahal mereka adalah orang yang menjunjung tinggi materialitas.

Hal tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Tengoklah berita yang beredar di berbagai media massa. Satu kisah pengadilan terkadang tak pernah usai dibahas malah disusul cerita menghebohkan lainnya seperti penemuan berbagai gunung piramida di Indonesia. Manusia realistis dan liberal pun tanpa mereka sadari telah menjadi budak-budak kisah. Manusia sebaiknya memandang dari perspektif serta berpikir dekonstruktif dalam mengkaji suatu kisah.

Sejak kecil manusia telah dibimbing melalui kisah-kisah teladan seperti kisah nabi, pahlawan, bahkan negeri dongeng pengantar mimpi. Mereka kerap menyerap kisah-kisah tersebut dalam sanubari mereka untuk mencari kebenaran dan keburukan. Normal dan wajar, di masa kecil, manusia mendengar kisah-kisah tentang leluhur mereka. Hal tersebut dilakukan oleh orang tua mereka agar mereka bisa memperoleh pesan hidup dan pengetahuan. Kemudian mereka akan menjadikannya pedoman hidup. Begitulah secara terus-menerus, berakumulasi, hingga mereka dewasa. Mereka akan membawa kisah itu dan disadari atau tidak, kisah tersebut juga akan mempengaruhi kehidupan manusia di masa depan. Lalu, kala mereka menginjak masa senja, kisah tersebut akan kembali dikisahkan pada penerusnya mereka. Penerus mereka akan mengkisahkannya pada keturunan mereka. Begitu seterusnya, siklus tersebut alamiah.

Sebuah kisah selayaknya bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Tidak sekadar dipandang sebelah mata. Bahasa adalah kekuatan sebuah kisah, tak mungkin di abad serba cyber seperti ini manusia menggunakan bahasa yang biasa. Oleh karena itu, manusia memeras otaknya untuk merangkai kalimat-kalimat menjadi literasi yang indah. Namun hal tersebut kadang juga disalahartikan oleh manusia lain, menganggap bahasa yang indah hanya sekadar laratan hati manusia yang kurang kerjaan. Sebuah kisah adalah berkah yang ajaib — wahyu Tuhan yang mulia. Tanpa sebuah kisah, tulisan ini tak akan sampai di depan mata Anda. Tanpa kisah hari ini, entah ada di mana kita nanti.

*) Catatan ini terinspirasi dari salah satu kisah dalam buku 366 Refelctions of Life karya Sidik Nugroho

**) Fahrul Khakim: Mahasiswa sejarah Universitas Negeri Malang, anggota Forum Lingkar Pena (FLP)

Advertisements

Gigih Melakoni Kehidupan

Resensi atas buku 366 Reflections of Life, dimuat di Jawa Pos, Minggu, 11 Maret 2012. Versi yang mirip dimuat juga di Seputar indonesia, Minggu, 25 Maret 2012.

Ditulis T. Nugroho Angkasa*)

Judul: 366 Reflections of Life, Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati
Penulis: Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita G
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Cetakan: 1/Februari 2012
Tebal: x + 384 halaman
ISBN: 979-978-074-893-4
Harga: Rp54.000

Judul di atas terinspirasi oleh kegigihan Sansan (Ketabahan dan Kesabaran Ibu, halaman 374). Semula anaknya terlahir normal, tapi kemudian terserang virus ganas.

Si buah hati tercinta mendadak menjadi tuli. Kendati demikian, Sansan tidak menyerah. Ia justru memboyong Gwen, nama anaknya, ke Australia. Sansan terpaksa berjauhan dengan suami dan menjadi ibu tunggal. Ia bertekad melanjutkan studi ke jenjang S2.

Sansan memilih jurusan Special Education. Sebuah fakultas yang mendalami masalah pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Sansan sangat disiplin dalam membagi waktu. Yakni antara berangkat kuliah, menggarap tugas makalah dari dosen, merampungkan pekerjaan rumah tangga, mengurus serta melatih Gwen.

Berbekal seluruh pengalamannya tersebut, ia menulis sebuah buku berjudul, “I Can (not) Hear.” Sansan berbagi ilmu pada khalayak ramai. Terutama ihwal bagaimana metode memfasilitasi proses belajar anak berkebutuhan khusus. Generasi masa depan dapat memperoleh kesempatan pendidikan yang setara.

Dari kisah nyata di atas, Sidik Nugroho mau mengatakan satu hal. Seyogianya, pengorbanan, usaha, ucapan syukur, dan kepasrahan musti dilakoni secara seimbang. Sebab, selama ini manusia cenderung pasif tatkala ditimpa kemalangan. Pun enggan bekerja keras dengan dalih (sok) moralis, “…semuanya sudah ada yang mengatur.” Padahal ini sekedar pembenaran untuk menutupi rasa malas.

Buku ini juga mengajak sidang pembaca menggeser sudut pandang (paradigm shift). Alkisah, seorang remaja merasa hidupnya sia-sia. Barangkali ia baru ditolak wanita idamannya ataupun (di)putus cinta. Di tengah keputusasaan tersebut, ia mendatangi seorang guru spiritual.

Sang guru menyimak keluh-kesah anak didiknya. Setelah si pemuda puas ber-curhat (curahan hati) ria, kini giliran guru yang berbicara, “Nak, tolong ambilkan sesendok garam, campurkan ke dalam segelas air, dan minumlah…” Si anak manut (menurut) saja. “Bagaimana rasanya?” tanya sang guru. “Piuuuh! Asin sekali!” jawab si murid sembari menyemburkan air tersebut.

Kemudian, sang guru mengajak si murid ke tepi telaga yang luas. Airnya begitu jernih dan segar. Guru itu kembali meminta murid melarutkan sesendok garam ke dalam telaga dan mengaduknya dengan sebilah bambu. “Sekarang rasakan bagaimana rasa air telaga tersebut!” perintah sang guru. “Air ini segar guru. Tak terasa asin sama sekali,” ujar si murid dengan mata berbinar.

Lewat kisah “Hati bak Telaga” (halaman 232) ini, Sidik Nugroho merayu sidang pembaca agar memiliki hati seluas telaga. Kenapa? Karena kalau kita memiliki hati sempit, niscaya setiap persoalan kecil akan membuat stres dan depresi.

Ketegaran warga Porong dapat menjadi teladan nyata. Walau sejak Mei 2006 hingga kini belum mendapat ganti rugi, toh mereka tetap bertahan (survive) dan kreatif. Bahkan bencana – raibnya 10.000 rumah, belasan pabrik, serta puluhan sekolah dari SD-SMA akibat lumpur Lapindo – diubah menjadi objek wisata. Turis dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan mancanegara berduyun-duyun datang menonton “kawah” raksasa tersebut (halaman 281).

Sama halnya dengan masyarakat di lereng Merapi. Mereka menjadikan puing-puing rumah (almarhum) Mbah Maridjan di dusun Kinahrejo sebagai petilasan dan tempat ziarah. Tentu inisiatif rakyat di akar rumput (grassroot) tersebut tak boleh melenakan para pejabat yang pernah berjanji untuk memberi ganti rugi, membayar seluruh ternak warga yang mati, membangun hunian sementara (huntara), dan menyiapkan hunian tetap.

Buku ini juga memuat kisah romantis. Setiap subuh Mbah Khatijah menyuguhkan secangkir teh hangat. Pasangan hidupnya bernama Mbah Setyowikromo. Beliau bekerja sebagai penjual arang.

Mereka berdua tinggal di dusun Suko, berjarak 40 km dari kota Yogyakarta. Pemasukannya berkisar Rp2.000-Rp5.000/hari. Profesi ini telah ditekuni sejak zaman Belanda. Uniknya, tatkala berjualan arang di Kota Gudeg, Mbah Setyowikromo tak pernah mau jajan. Bahkan ia hanya makan sekali – itu pun selalu hasil masakan Mbah Khatijah sendiri – yakni pada petang hari.

Sang istri berjualan daun jati di pasar tradisional. Dengan menjalani kehidupan sederhana semacam ini, mereka bisa menabung di dalam celengan bambu. Sehingga kalau ada tetangga menggelar hajatan, mereka bisa memberi amplop berisi Rp20.000-Rp25.000. “Kami tidak tega menyantap makanan kenduren dengan lauk ayam ingkung goreng utuh jika belum membayarnya,“ jelas Mbah Khatijah (halaman 161).

Lewat kisah nyata tersebut, penulis buku ini mengajak sidang pembaca bercermin diri. Ternyata, martabat seseorang tak hanya ditentukan oleh kekayaan dan ketenaran. Namun lebih pada setiap tetes keringat untuk mencecap kebahagiaan hidup.

Bukankah saat ini banyak pejabat dan anggota dewan yang mencari uang dengan cara tak lazim (baca: korupsi). Padahal, kerja keras, kejujuran, dan pengorbanan merupakan rumusan universal untuk meraih keberhasilan. Tak ada jalan pintas, apalagi dengan menghisap uang rakyat.

Proses Panjang

Sidik Nugroho menulis buku “366 Reflections of Life, Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati” ini dalam waktu relatif panjang. Yakni dari 2003-2011 (8 tahun). Isinya terdiri atas 366 refleksi kehidupan.

Ibarat menu pengobat rasa lapar, satu hari cukup 1 renungan. Sehingga bisa dikonsumsi selama setahun penuh. Sumbernya beragam sekali. Antara lain dari buku bacaan, film bioskop, interaksi di kelas, sampai pada perjumpaan dengan orang gila di warung kopi.

Ada sebuah inspirasi apik dari biografi On Writing karya Stephen King. Ketika kecil, ia sudah bisa mengarang cerita sendiri. Isinya tentang Mr. Rabbit Trick. Tokoh utama ini menjadi pemimpin 4 binatang ajaib. Setiap hari mereka berkeliling guna memberi pertolongan kepada anak-anak kecil.

Stephen lantas menyerahkan manuskrip itu kepada ibunya. Sang ibu merasa terkesan sekali dan memberi pujian penyemangat. Bahkan ia membayar 25 sen untuk setiap cerita yang dibuat King.

Tentu saja, hal ini memompa motivasi Stephen untuk terus menulis. Dalam waktu singkat, ia berhasil membuat 4 cerita dengan tokoh utama yang sama. “Empat cerita. Masing-masing 25 sen. Itulah upahku yang pertama dalam bisnis ini,” demikian tulis Stephen King dalam memoarnya (halaman 107).

Sejatinya sang ibu bukan sekedar mengajarkan anaknya menjadi mata duitan. Menurut Sidik, itu merupakan keberuntungan Stephen kecil. Kenapa? Karena ibunya menghargai kreatifitas dan jerih payahnya sejak usia dini.

Penulis buku ini piawai mengklasifikasikan materi seturut peristiwa penting. Misalnya, beberapa tulisan yang bernuansa pendidikan, ia tempatkan pada bulan Mei. Kenapa? Karena untuk memaknai hari Pendidikan Nasional. Sedangkan materi yang bernuansa cinta, tentu saja di bulan Februari. Tema ihwal nasionalisme ada di bulan Agustus.

Pada tahun 1929, Soekarno ditahan oleh Belanda. Karena pidato-pidato Bung Karno dinilai berbahaya. Tatkala ketua PNI (Partai Nasional Indonesia) itu berdiri di atas mimbar, ia bisa membius para pendengar sekaligus mengobarkan semangat perlawanan untuk meraih kemerdekaan.

Tak heran presiden R1 pertama itu dijuluki Singa Podium. Pun selama mendekam di dalam penjara Bung Karno tetap berjuang. Medianya ialah kertas dan pena. Ia menulis pledoi selama satu setengah bulan. Hebatnya, alas kertas tempatnya menulis ialah pispot. Ya, tempat pembuangan air seni dan tinja. Kelak buah pena dari balik jeruji itu dibukukan dengan judul Indonesia Menggugat (halaman 235).

Sebagai seorang guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, Sidik Nugroho memiliki banyak pengalaman berinteraksi dengan anak-anak. Ia berbagi juga 1 kisah unik. Pasca mengajar, penulis sering mengadakan kuis tanya-jawab. Mulai dari tebak lagu dengan merujuk pada nada-nada yang dimainkannya dengan gitar, tebak gambar yang dilukis seorang siswa di papan tulis, sampai sesi cerdas-cermat seputar materi yang telah disampaikan.

Tapi tak ubahnya orang dewasa, anak-anak juga tak siap menerima kekalahan. Bahkan ada yang sampai menangis jika kelompoknya tak menjadi pemenang. Solusinya ialah dengan menulis, “Siap Menang, Siap Kalah!” di papan tulis. Jadi setiap akhir kuis, sang guru menunjuk ke depan kelas. Serentak semua murid berteriak lantang – baik yang kalah maupun yang menang – membaca kesepakatan awal tersebut.

Satu kelemahan buku ini ialah ketiadaan daftar isi. Sehingga sidang pembaca agak kesulitan mencari judul refleksi tertentu. Kendati demikian, karya tulis ini dapat menjadi oasis di padang gersang rutinitas. Sepakat dengan pendapat Sidik Nugroho, “Salah satu alasan untuk membuat semangat hidup tetap terjaga ialah kenangan akan suatu momen yang indah.” Selamat membaca!

*) T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru Bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam) dan Ekstrakurikuler English Club di SMP Kanisius, Sleman, Yogyakarta

Guru, Sertifikasi, dan Kompetensi Mengajarnya

Sidik Nugroho*)

Guru biasa memberitahukan
Guru baik menjelaskan
Guru ulung memeragakan
Guru hebat mengilhami

~ William Arthur Ward

Sertifikasi guru yang diadakan mulai tahun 2006, hingga kini masih menorehkan beberapa catatan yang perlu dicermati. Kecurangan demi kecurangan yang terjadi tiap tahun mengindikasikan bahwa guru — yang notabene adalah pendidik dan pengajar — di tanah air ini perlu mengedepankan kejujuran dalam proses yang ditempuhnya untuk memperoleh predikat sebagai guru bersertifikat.

Pada tahun 2006 sampai 2010, saat proses sertifikasi menggunakan portofolio, guru mencari sertifikat dan penghargaan — dari hasil seminar, workshop, pelatihan, dan lain-lain — dengan segala cara, karena semakin banyak sertifikat dan penghargaan yang dikumpulkannya, poin portofolio-nya akan semakin tinggi. Pada 2011 dan 2012 kebijakan diubah, ada tiga jalur sertifikasi: Penilaian Portofolio (PF), Pemberian Sertifikat Pendidik secara Langsung (PSPL), dan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG).

Dari tiga jalur itu, kuota dari jalur PF hanya disediakan 1% dari total kuota guru yang akan disertifikasi; kuota dari jalur PSPL diperuntukkan bagi guru yang sudah S2 dan S3, atau memiliki golongan sekurang-kurangnya IVB bagi guru PNS; dan kuota dari jalur PLPG disediakan terbanyak. Jalur PLPG bisa diketahui memiliki kuota terbanyak dengan melihat di situs http://www.sergur.pusbangprodik.org. Di tautan “Daftar urutan calon peserta sertifikasi guru tahun 2012” yang di dalamnya memuat Daftar Calon Peserta Sertifikasi Guru 2012, dapat dilihat, mayoritas guru mengikuti sertifikasi lewat jalur PLPG.

Nah, lewat jalur PLPG inilah kecurangan-kecurangan kembali terjadi. Padahal, pada tahun 2012 ini, kuota sertifikasi guru sudah dibuat secara online — transparan bagi publik. Bagaimana atau apa saja kecurangan-kecurangan itu?

Di banyak situs berita disebutkan adanya guru yang memalsukan jumlah jam mengajar. Dalam hal ini, syarat sertifikasi jelas: seorang guru harus mengajar 24 jam seminggu. Karena tidak mengajar sebanyak itu, datanya dipalsu. Ada juga guru yang merekayasa tahun (lama) mengajar agar masuk kuota. Lagi-lagi data persyaratan sertifikasi dipalsu. Dan, pemalsuan atau rekayasa ini tentunya juga melibatkan kepala sekolah.

Inilah potret pendidik dan pengajar yang menyedihkan di negeri ini. Guru, yang dulu identik dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa sekarang ingin dibayar mahal tanpa jasa. Pengabdian guru tergerus arus budaya konsumtif dan instan di masyarakat. Pahlawan tanpa tanda jasa, dulunya adalah judul asli himne guru yang diciptakan Sartono. Istilah itu juga dimuat di baris terakhir himne guru: “Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.”

Namun, kata-kata “tanpa tanda jasa” diganti dengan “pembangun insan cendekia”. Di harian Kompas, 24 November 2008, disebutkan bahwa perubahan tersebut diadakan sebagai hasil negosiasi antara Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional, PGRI, dan pencipta lagu itu, Sartono.

Sartono, yang dulu sehari-harinya menjadi guru musik di sebuah SMP swasta pernah bercerita kepada saya bahwa lagu “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” yang diciptakannya terilhami oleh seorang guru bernama Suroyo, atau kerap dipanggil Pak Royo, teman baik Sartono. Dalam ceritanya, Pak Royo suatu ketika mengalami kesusahan ekonomi akibat sebuah musibah yang menimpa keluarganya. Hartanya ludes. Pak Royo pernah kehabisan akal, sampai menjadi seorang pengamen sembari mengajar gara-gara kejadian itu. Perjuangannya mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup kemudian dituangkan Sartono dalam lirik lagu “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” atau himne guru.

Istilah “tanpa tanda jasa” yang diganti “pembangun insan cendekia” berkaitan dengan kesejahteraan guru yang kian baik — jasanya kian dihargai. Namun, pertanyaannya, apakah guru-guru yang membangun insan cendekia di negeri ini — yang memalsu data demi sertifikasi itu — sudah lupa dengan pengabdian? Sartono yang lain, bernama lengkap Sartono Kartodirdjo, seorang sejarawan dan guru yang pernah mengajar anak TK hingga menguji desertasi doktoral mahasiswanya, pernah menyatakan bahwa beberapa ilmuwan yang ada di Indonesia lahir karena bagi mereka, “… hidup ini tidak ditentukan oleh nasi.” Ia menceritakan beberapa orang yang hampir abai terhadap uang, mempelajari ilmu dengan ketekunan yang amat tinggi, hingga ilmu itu bagai menjadi sebuah jalan lain untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Seperti itulah bentuk pengabdian guru semestinya.

Sertifikasi guru sebenarnya hal yang baik, membuat kesejahteraan guru lebih diperhatikan. Namun, kesejahteraan perlu diraih dengan cara-cara yang halal dan sesuai aturan. Dan, kesejahteraan itu pun pada akhirnya menjadi batu uji bagi kompetensi seorang guru: sudahkah ia menjadi guru yang profesional? Sudahkah kompetensi mengajarnya seimbang dengan tunjangan sertifikasi yang diterimanya? Apakah tunjangan itu pada akhirnya hanya membuat guru lupa akan pentingnya sebuah pengabdian?

Hal inilah yang perlu dicermati secara sungguh-sungguh oleh pemerintah. Tidak sedikit laporan yang menyebutkan bahwa kinerja guru yang disertifikasi tidak mengalami peningkatan. Perlu ada pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan. Jangan sampai malah yang terjadi demikian: seorang guru yang lolos sertifikasi dengan cara tidak jujur, kemudian mendidik murid-muridnya dengan kompetensi mengajar yang tak mengalami kemajuan. Bila demikian adanya, betapa ironis bila guru menuntut anak didiknya berlaku jujur saat ulangan atau ujian.

Pada akhirnya, pertanyaan inilah yang perlu direnungkan: akan jadi apa generasi muda bangsa ini kalau guru-gurunya meneladankan sikap yang tak terpuji? (*)

*) Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan penulis buku 366 Reflections of Life (Bhuana Ilmu Populer, 2012)