Mengisahi Kisah, Dikisahi Kisah*)

Oleh: Fahrul Khakim**)

Sejarah melekat erat di berbagai elemen kehidupan. Disadari atau tidak, semua orang butuh sejarah dan sangat erat hubungannya dengan sejarah. Sejarah bukan sekadar periodisasi, tapi juga berkisah melalui sumber-sumber dan bukti nyata. Bahkan, proporsi isi atau kisah dalam sejarah lebih detail dan kompleks. Dalam ilmu Sejarah, dikenal 3 unsur utama yang membentuk sejarah, yaitu: tempat, waktu dan manusia.

Nah, kalau begitu apa bedanya sejarah dengan sebuah kisah? Karena dalam suatu kisah pasti terdapat setting (latar), alur, dan tokoh — hal-hal tersebut juga merupakan unsur-unsur penting dalam suatu cerita. Kehidupan manusia adalah kisah yang terpusat pada pikiran dan perbuatannya. Tak diragukan lagi, nasib dunia ada di tangan manusia.

Sebuah kisah kadang disepelekan, padahal memiliki makna yang berlapis-lapis, tergantung lewat perspektif mana manusia itu sendiri memandangnya. Bukankah mayoritas isi kitab suci adalah kisah? Kisah antara hal baik dan jahat, kisah yang patut diteladani serta diresapi oleh tiap insan di dunia; tak sekadar dibaca, namun mendalami pesan yang disampaikan dalam kisah tersebut. Kebiasaan membaca yang baik menurut banyak penelitian dapat meningkatkan kecerdasan otak. Bukan anggapan yang salah jika membaca kitab suci pun bisa meningkatkan kecerdasan umat beragama.

Mengapa manusia butuh membaca kisah? Kisah adalah sesuatu yang sangat sederhana namun memiliki dampak yang besar bagi jiwa manusia karena begitu mudah menyentuh hati manusia. Di antara genre yang lainnya, genre kisah atau cerita merupakan genre yang paling digemari. Membaca kisah tak perlu menuntut otak manusia untuk berpikir keras, namun sangat mudah meresap dalam hati dan perasaan manusia.

Kisah tak ubahnya napas yang dihembuskan manusia setiap hari. Selalu ada, dan tak pernah ada habisnya. Perlu disyukuri bahwa kisah adalah karunia Tuhan yang terus berkembang melintasi zaman ke zaman. Namun pada intinya sebuah kisah kadang memiliki pola dan pesan yang sama. Ada-ada saja sisi kreatif manusia yang meracik kisah tersebut dengan tampilan atau pemaknaan yang sedikit berbeda. Pada hakikatnya, otak manusia juga terbatas. Terkadang, kisah dalam sejarah terkesan tidak relevan dengan kenyataan masa kini. Terkadang, ada pula efek hiperbola dan fantasi dalam cerita sejarah. Namun hal tersebut membuktikan, bahwa sejak zaman kuno dan di belahan dunia manapun, manusia membutuhkan kisah. Karena, pada dasarnya, kisah pasti — dan akan selalu begitu — ada di dalam diri manusia. Jati diri manusia dibentuk oleh proses pergulatan kisah yang panjang.

Terdapat pihak yang menerima bahwa kisah-kisah itu ada merupakan hikmah dari Tuhan yang maha kuasa. Namun, juga sangat konyol bahwa tak sedikit orang yang langsung merasa jijik mendengar atau membaca suatu kisah. Mereka beranggapan sebuah kisah hanya untuk hiburan semata (stensilan), bahkan terkadang hanya dianggap sebagai hasil karya orang-orang pemalas yang suka melamun, bukan agen pembaharu masyarakat, tidak memberi kontribusi yang berarti. Pernahkah seseorang itu berpikir bahwa sebuah kisah selalu dijadikan senjata politik yang sangat ampuh untuk mengendalikan negara? Tengoklah rezim-rezim yang telah lalu. Begitu banyak kejanggalan yang mengerikan, namun dengan memesonanya para petinggi politik berhasil menyusun sebuah drama untuk menutupi segala ketimpangan tersebut. Para politisi merupakan pengarang yang cerdas, padahal mereka adalah orang yang menjunjung tinggi materialitas.

Hal tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Tengoklah berita yang beredar di berbagai media massa. Satu kisah pengadilan terkadang tak pernah usai dibahas malah disusul cerita menghebohkan lainnya seperti penemuan berbagai gunung piramida di Indonesia. Manusia realistis dan liberal pun tanpa mereka sadari telah menjadi budak-budak kisah. Manusia sebaiknya memandang dari perspektif serta berpikir dekonstruktif dalam mengkaji suatu kisah.

Sejak kecil manusia telah dibimbing melalui kisah-kisah teladan seperti kisah nabi, pahlawan, bahkan negeri dongeng pengantar mimpi. Mereka kerap menyerap kisah-kisah tersebut dalam sanubari mereka untuk mencari kebenaran dan keburukan. Normal dan wajar, di masa kecil, manusia mendengar kisah-kisah tentang leluhur mereka. Hal tersebut dilakukan oleh orang tua mereka agar mereka bisa memperoleh pesan hidup dan pengetahuan. Kemudian mereka akan menjadikannya pedoman hidup. Begitulah secara terus-menerus, berakumulasi, hingga mereka dewasa. Mereka akan membawa kisah itu dan disadari atau tidak, kisah tersebut juga akan mempengaruhi kehidupan manusia di masa depan. Lalu, kala mereka menginjak masa senja, kisah tersebut akan kembali dikisahkan pada penerusnya mereka. Penerus mereka akan mengkisahkannya pada keturunan mereka. Begitu seterusnya, siklus tersebut alamiah.

Sebuah kisah selayaknya bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Tidak sekadar dipandang sebelah mata. Bahasa adalah kekuatan sebuah kisah, tak mungkin di abad serba cyber seperti ini manusia menggunakan bahasa yang biasa. Oleh karena itu, manusia memeras otaknya untuk merangkai kalimat-kalimat menjadi literasi yang indah. Namun hal tersebut kadang juga disalahartikan oleh manusia lain, menganggap bahasa yang indah hanya sekadar laratan hati manusia yang kurang kerjaan. Sebuah kisah adalah berkah yang ajaib — wahyu Tuhan yang mulia. Tanpa sebuah kisah, tulisan ini tak akan sampai di depan mata Anda. Tanpa kisah hari ini, entah ada di mana kita nanti.

*) Catatan ini terinspirasi dari salah satu kisah dalam buku 366 Refelctions of Life karya Sidik Nugroho

**) Fahrul Khakim: Mahasiswa sejarah Universitas Negeri Malang, anggota Forum Lingkar Pena (FLP)

Advertisements

About sidiknugroho

Guru SD, penulis lepas. Suka film, buku, alam terbuka, dan gitar. Tinggal di Pontianak

Posted on March 12, 2012, in Artikel, Perbukuan, Refleksi. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Mas, ada beberapa yang masih perlu diedit tuh ejaannya. Ueman tenan e =D
    Edit dung. Biar lebih SIP =D

  2. sip, puput. suwun masukannya. sudah kusunting. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: