Monthly Archives: April 2012

Dari Jendela Karya

Beralaskan hijau, aksara mengetuk sebingkai bening.
“Perkenankan saya untuk masuk.”

Ia masih menunggu, menghitung kecambah tumbuh.

Bingkai diam, tak hendak bergerak.
“Apa kau lupa sandi?”

Aksara bingung,
mengapa pohon tak patahkan reranting sebagai kode.
“Apakah sandi itu berupa kata?”

Seketika kaca menggeser dedaun,
aksara menepis tiap rimbun, gugur.
“Ijinkan saya mengajak tanda baca?”

Tak terduga, derit semakin derak.
Tak ada udara yang berdesir, masuk.

Layaknya pagar, mengitar. Tiada silah.
“Setidaknya, sediakah kau menjaga embun?”

Aksara hanya menanti, percikan.

13.13 — 04.03.2012

(Pak Guru, hari ini kita belajar apa?)

Terinspirasi dari tulisan berjudul Mulailah (hal.212 -26 Juli-366 Reflections of Life karya Sidik Nugroho): “Inspirasi tidak hanya datang dari perenungan, tetapi juga tindakan.”

Advertisements

Secuil Pandangan Pribadi tentang Rokok

“Ketika penderitaan saya yang besar dilegakan, otak saya yang lelah dipulihkan, dan tenang, bisa tidur nyenyak sehabis merokok, saya bersyukur kepada Tuhan, dan memuliakan nama-Nya.”
~ Charles H. Spurgeon

Pendeta merokok? Sebagian kalangan Nasrani mungkin akan mencak-mencak membaca kutipan di atas itu. Apalagi, Spurgeon amat termasyhur di zamannya. Orang menjulukinya “raja pengkhotbah dari Inggris”. Tak hanya Spurgeon. C.S. Lewis, penulis terkenal itu terkenal suka merokok dan menghisap pipa bertembakau. J.R.R. Tolkien, sahabatnya, juga penulis legendaris, setali tiga uang.

Saya dulunya sangat membenci rokok. Apalagi pada saat SMA, saat saya bergabung dengan sebuah gereja yang benar-benar “mengharamkan” rokok. Ayat andalannya, tentu, 1 Korintus 3:16 — tubuh kita adalah bait Allah, dan kita harus menjaganya sebaik mungkin.

Pandangan saya tentang rokok mulai berubah saat saya melaksanakan KKN, 20 April-20 Juni 2004 di desa Gadingkulon bersama 18 teman saya. Kebetulan, 18 teman saya sepakat, menjadikan saya Kordes (Koordinator Desa) dalam pelaksanaan program-program KKN kami. Karena hal ini, mau tak mau saya jadi sering bertemu dengan para aparat desa, membahas program KKN. Saya juga sering berinteraksi dengan warga desa yang mayoritas adalah petani jeruk.

Tiap mampir ke rumah warga, rokok dan kopi dihidangkan. Ada pertemuan membahas program, rokok dan kopi juga dihidangkan. Kumpul-kumpul dan nongkrong dengan para pemuda desa, rokok dan kopi selalu ada. Kebersamaan saya dengan orang-orang desa ini membuat saya pun akhirnya mencoba merokok.

Saya menikmati saat-saat itu. Di desa yang berada pada ketinggian sekitar 700-800 meter di atas permukaan laut itu, saya suka merokok sambil menikmati pemandangan lampu-lampu kota Malang yang terbentang begitu indah pada malam hari. Hampir tiap malam kami membakar jagung, membuat api unggun, ngopi, dan merokok. Pokoknya gembira.

Beberapa tahun setelah KKN, kebiasaan merokok saya masih ada. Sekarang, saya termasuk orang yang kadang merokok, kadang tidak. Saya tidak pernah merasa kecanduan. Saya pernah menghabiskan lima batang rokok sehari, namun pernah juga tidak merokok sama sekali dalam dua bulan.

***

Seorang dokter yang juga penulis buku, Clifford R. Anderson, menyatakan bahwa jika kita hidup hingga berusia 70 tahun, maka makanan yang kita konsumsi beratnya sekitar 1400 kali berat badan kita. Kenyataan ini membuat kita sepantasnya merenung: makanan apa saja yang sudah kumakan hingga kini?

Bila makanan seberat 1400 kali berat badan kita itu ditukar dengan uang, jumlahnya tentu akan sangat besar — apalagi bila makanan itu berasal dari restoran-restoran kelas dunia. Tapi, justru mungkin selama ini kita jarang pernah berpikir bahwa makanan — apalagi yang mahal — juga dapat menjadi masalah.

Kembali pada rokok. Sebagian kalangan (saya rasa bukan hanya orang Nasrani) menganggap mengonsumsi rokok adalah dosa — hampir disejajarkan dengan narkoba dan minuman keras. Tapi, ingatlah bahwa kita hendaknya menjaga tubuh bukan hanya dengan menjauhi rokok, narkoba, dan minuman keras. Lemak yang berlebihan, jeroan, juga konsumsi berlebihan terhadap makanan-makanan instan juga sama berbahayanya. Karena itu, ketika suatu hari mendengar seorang pendeta berkata bahwa seorang perokok tidak lebih berdosa daripada seorang penggila jeroan, saya yakin pendeta itu benar.

Dari perbincangan dan kebersamaan saya dengan beberapa petani di desa waktu saya KKN dulu, saya pun menawarkan fakta ini: para petani laki-laki bisa dikatakan semuanya merokok. Namun, mengapa usia mereka panjang dan tubuh mereka sehat? Inilah yang mungkin perlu digarisbawahi: mereka melakukan aktivitas fisik yang tidak dilakukan para perokok di perkotaan. Mereka bekerja keras, bercocok tanam — melakukan banyak aktivitas pertanian yang notabene juga menyehatkan badan. Sementara, di perkotaan, kebanyakan orang merokok sambil nongkrong, ngopi, bekerja di depan komputer, melihat televisi, dan lain-lain — yang pada intinya bukan merupakan aktivitas fisik yang menyehatkan badan.

Apa yang saya sampaikan soal kebiasaan merokok di desa dan di kota bukanlah hasil penelitian. Seperti judulnya, tulisan ini adalah pandangan pribadi saya. Siapa pun dapat mempertarungkan hasil penelitian yang pro dan kontra soal bahaya rokok.

Mohamad Sobary baru-baru ini menulis “Ideologi di Balik Rokokku”. Tulisan yang cukup provokatif itu hendak menawarkan gagasan penting, bahwa gerakan, wacana, ataupun kebijakan pemerintah yang bersifat anti rokok (terutama rokok kretek) diboncengi berbagai kepentingan. “Gerakan itu alur rasionya demi kesehatan lingkungan. Tapi tak tahukah mereka, bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?” tulisnya. Di akhir tulisannya, ia menyuguhkan hasil penelitian tentang manfaat positif kretek bagi kesehatan.

***

Rokok. Barang kecil itu menantang kedewasaan kita berpikir dan memperlakukan orang lain. Seperti saya di masa lalu, tidak sedikit orang yang membatasi diri mengenal orang lain lebih jauh hanya karena melihat orang lain itu merokok. Merokok menjadi sekat yang membatasi hubungan antar manusia.

Sekarang, bandingkanlah dengan asap kendaraan bermotor kita hirup setiap hari. Kendaraan bermotor yang kita miliki atau tumpangi pun terbiasa “menghembuskan” asapnya setiap hari untuk — secara tidak sadar — dihirup orang lain. Mungkin, kita tidak menyadari bahwa asap itu juga sama berbahayanya dengan asap rokok. Sementara, dari hari ke hari kendaraan kian tumpah-ruah di jalan. Polusi udara dan kemacetan menjadi biang stres.

Jadi, bila Anda sampai sekarang masih membenci orang lain hanya gara-gara dia merokok, dan Anda sekarang selalu bepergian dengan kendaraan bermotor, akan lebih adil bila Anda bersedia jalan kaki, naik becak, atau bersepeda ke mana-mana. (*)

Sidoarjo, 18 April 2012

Merayakan Hidup dengan Gembira

Oleh: M. Iqbal Dawami*)

Judul: 366 Reflections of Life
Penulis: Sidik Nugroho
Penerbit: BIP
Cetakan: I, 2012
Tebal: x + 384 hlm.

BUKU ini adalah hasil serangkaian interaksi penulis (Sidik Nugroho) dengan pelbagai sisi kehidupan yang ada di sekitarnya. Dia tidak saja menyuguhkan peristiwa, tetapi juga mampu merefleksikannya. Ada getaran-getaran syukur dan ikhlas tatkala membacanya. Setiap kali ia menuliskan cuplikan peristiwa selalu saja diakhiri dengan refleksi, yang berarti bahwa kita diajak merenung perihal anugerah hidup dan Maha Rahman dan Rahim-Nya Tuhan. Cuplikan peristiwa yang diangkat bisa dari pengalaman si penulis, buku-buku yang dibacanya, maupun film-film yang ditontonnya. Ia bisa menceritakan seorang tokoh, peristiwa bersejarah, atau pun hal-hal sederhana dalam keseharian.

Misalnya, saat ia dan keluarganya tengah berbahagia, lantaran telah lahir seorang putri dari kakaknya. Ia pun memberi kabar gembira kepada beberapa temannya. Dan salah satu temannya berujar,”…Seluruh dunia turut merayakannya.” ketika memandangi keponakannya, ia teringat kata-kata Mahatma Gandhi: saya datang ke dunia dengan menangis dan semua orang tertawa; biarlah saya pergi dari dunia dengan tertawa dan orang lain menangis.

Sidik mengatakan bahwa semua manusia dewasa pernah menjadi bayi, dan kini mereka berjuang untuk mempertahankan hidup. Daya hidup diuji. Jika daya hidup besar, maka manusia akan tegar ketika badai datang. Contoh lainnya saat ia merefleksikan bahwa hidup ini sangat berharga, yaitu pada saat rumah tetangga kakaknya dilanda kebakaran. Kebakaran itu hampir mengenai rumah kakaknya. Ia dan kakaknya dengan sigap mengeluarkan barang-barang berharga untuk diselamatkan sebagai langkah antisipatif. Dari peristiwa itu ia merenung bahwa ketika dekat dengan bahaya yang mengancam hidup kita akan menyadari bahwa hidup ini sangat berharga.

Dalam tulisan “Keluasan Suatu Visi” ia mengajak kita untuk memiliki visi yang jelas. Hal itu ia dapatkan dari pengalamannya bolak-balik Malang-Sidoarjo. Dan dalam tulisan lainnya “Orang Gila di Warkop” ia bertutur tentang orang gila yang sedang ngopi bersamanya di warung kopi (warkop) dekat alun-alun Sidoarjo. Awalnya, ia tidak sadar kalau yang di sampingnya adalah orang gila, tapi bau pesing dan tingkahnya yang aneh, barulah ia ngeh bahwa ternyata yang berada di sampingnya adalah majnun alias gila. Sesampai di kos ia berpikir bagaimana nasib orang gila tersebut yang sedang kedinginan dan kelaparan saat turun hujan. Apakah kemudian orang gila itu diajak ke kosnya? Anda akan temukan jawabannya dalam buku ini.

Sedang dari contoh film, misalnya dari film The Shawshank Redemption, ia mendapatkan pelajaran berharga dari anugerah Tuhan. Kesalahan masa lalu tidak harus membuat hidup menjadi berantakan di masa kini. Dari film Hannibal Rising mengajarkannya untuk tidak memiliki dua jiwa, lantaran menyimpan dendam masa lalu terhadap seseorang. Buku ini menunjukkan bahwa apa pun gerak kehidupan bisa dijadikan bahan renungan. Renungan itu menggerakkan kita untuk mensyukuri anugerah hidup ini, dan peristiwa-peristiwa yang kita alami terdahulu disadari atau tidak memberikan efeknya pada masa kini.

Buku ini sesungguhnya tidak hanya sekadar refleksi tetapi juga sebentuk kontemplasi yang bisa memberikan pencerahan bagi pembacanya. Kombinasi antara (mantan) pendakwah, guru, dan penulis, menjadikan ia piawai mengolah bahan-bahan peristiwa menjadi nutrisi yang bergizi bagi batin yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga meneduhkan.

Buku ini enak dibaca sembari menyesap secangkir teh dan sepiring gogodoh.

*) M. Iqbal Dawami, esais, tinggal di Pati.

Leo Tolstoy vs Sidik Nugroho

Oleh: Fikrul Akbar Alamsyah*)

Rasa-rasanya, beberapa orang tertentu akan mengerutkan kening jika membaca judul di atas. Penggemar dunia tulis-menulis ataupun penggemar kegiatan membaca akan mempertanyakan apa kaitan antara Tolstoy dan Bung Sidik, apa alasan yang tepat untuk “mengadu” antara kedua orang tersebut. Pertanyaan-pertanyaan lain pun bisa muncul di tiap benak orang yang menyempatkan untuk membaca atau sekadar sekilas melihat judul tulisan ini.

Sebelumnya akan saya coba untuk menunjukkan beberapa alasan yang menunjukkan mengapa saya “mengadu” antara kedua penulis di atas. Berikut saya sampaikan poin demi poin:

Saya memiliki hasil karya dari kedua penulis tersebut, sehingga rasa-rasanya ingin saya bandingkan dari kacamata pembaca awam. Jika Tolstoy memiliki karya berjudul “Kalender Kata-Kata Bijak”, maka Bung Sidik memiliki karya berjudul “366 Reflections of Life”.

Selain karena saya memiliki karya kedua orang tersebut, kebetulan genre dari buku yang saya miliki di antara dua penulis tersebut sama, yaitu berada pada ranah nonfiksi/pengembangan diri/psikologi/inspirasi, atau jika benar-benar dicari kata yang pasti adalah pada ranah refleksi diri.

Alasan ketiga adalah: kedua penulis tersebut, keduanya mendasarkan atas hitungan hari dalam satu tahun untuk memberikan refleksi diri, yang mana pada tiap harinya diberikan sebuah tema.

Keempat, sedikit mengada-ada akan tetapi cukup signifikan juga jika dijadikan alasan: ketebalan dua buku ini hampir sama tapi tidak benar-benar sama — yang pertama 376 dan yang kedua 384. Mungkin persamaan ini juga berdasarkan atas hitungan hari dalam satu tahun sehingga muncullah jumlah pada kisaran yang saling mendekati.

Selain itu sebenarnya ada beberapa alasan lain mengapa saya “mengadu” dua buah buku ini, tetapi tidak begitu penting dirasa sehingga cukup empat hal di atas yang cukup signifikan untuk ditampilkan.

Rasanya dapat saya mulai komparasi dari kedua buku karya dua penulis di atas, dan akan saya sampaikan secara mengalir, bukan poin demi poin.

Pada karya Tolstoy, setiap hari disampaikan sebuah tema akan hal tertentu — begitu juga pada karya Bung Sidik. Akan tetapi, perbedaannya adalah: jika Tolstoy memberikan beberapa kata-kata bijak, maka Bung Sidik hanya memberikan satu buah kata-kata bijak saja. Meski begitu, pada karya Tolstoy tidak terdapat “pengantar” untuk menjelaskan/memperkuat kata-kata bijak yang disampaikan untuk hari itu. Berbeda dengan Bung Sidik, pada tiap tema untuk kata-kata bijak yang akan disampaikan terdapat semacam pengantar atas kata-kata bijak yang ia sampaikan untuk tiap harinya sehingga seakan-akan dijelaskan “Ashbabun Nuzul” atas disampaikannya kata-kata bijak untuk hari itu.

Pada karya Tolstoy kita dapat menerjemahkan secara bebas apa yang sedang kita baca pada hari itu sehingga di satu sisi dapat menghasilkan penafsiran yang begitu luas atas pemaknaan yang telah dibaca. Hal ini bagi saya dapat memberi hal baik dan buruk terhadap refleksi diri. Baik karena akan membebaskan pikiran dalam rangka pemaknaan, buruk karena apa yang ingin disampaikan Tolstoy rawan terbelokkan atas pemaknaan pembaca yang bisa saja luas ataupun sempit.

Saat membaca Pendahuluan dari Tolstoy maka ia menyampaikan bahwa kutipan kata-kata bijak yang ia cantumkan dapat berasal dari berbagai sumber sekaligus berasal dari penafsiran Tolstoy sendiri atas berbagai kutipan yang sumbernya beragam pula. Pada karya bung Sidik, ia tampaknya juga memperoleh sumber dari berbagai kutipan orang-orang penting, akan tetapi yang spesial dari Kata Pengantar yang bung Sidik sampaikan yaitu adanya semacam — kalau boleh dibilang — SOP (Standar Operating Procedure) untuk membaca karyanya, yaitu: kapan dan bagaimana sebaiknya bukunya dibaca.

Pada karya Tolstoy, sejauh saya membaca, rata-rata ia mendasarkan temanya pada kemanusiaan, ketuhanan yang universal, kejujuran, dan kesederhanaan. Ada sebuah kutipan dari Tolstoy yang cukup sederhana tapi bermakna yaitu: “Satu-satunya makna kehidupan adalah mengabdi pada kemanusiaan.” Makna dari kata-kata bijak yang ia sampaikan cukup dalam dan seperti yang saya sampaikan di atas untuk pemaknaan dapat sangat luas.

Sedangkan pada buku Bung Sidik, juga dicantumkan kutipan kata-kata bijak yang bermakna dalam, akan tetapi “pengantar” yang disampaikan cukup sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari bahkan mungkin tidak jauh berbeda dengan pengalaman sehari-hari dari masyarakat umum Indonesia. Sebelum kegiatan banding-membandingkan antara dua buah karya ini semakin jauh, ada baiknya saya cukupkan sampai sekian saja. Ada kekhawatiran: semakin dalam kegiatan banding-membandingkan ini saya lakukan, semakin berpeluang saya terjebak dalam mana yang lebih baik dan mana yang lebih kurang baik. Yang pasti, dua karya ini layak dikonsumsi untuk memperluas refleksi diri terhadap fenomena pengalaman manusia yang niscaya tidak dapat kita jalani semua.

Malang, Minggu 8 April 2012

*) Dosen di Universitas Brawijaya dan aktivis di Forum Penulis Kota Malang

Umur Panjang: Sehat Badani, Sehat Jiwani, dan Sehat Sosial

Judul Buku: Rahasia Awet Muda dan Panjang Umur
Penulis: Haryo Bagus Handoko
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Tebal Buku: 650 halaman
Cetakan Pertama, Desember 2011

“The only way to keep your health is to eat what you don’t want, drink what you don’t like, and do what you’d rather not.”
~ Mark Twain

Kata-kata yang diucapkan Mark Twain di atas sangat tepat menggambarkan kondisi masyarakat modern. Masyarakat, yang di masa kini kian konsumtif — karena tergerus arus modernisasi di perkotaan — umumnya lebih menyukai makanan fast food, minuman bersoda atau mengandung banyak gula, serta jarang melakukan aktivitas yang membuat dirinya lebih bugar. Manusia-manusia perkotaan, disadari atau tidak, kerap melupakan kesehatan: hal penting yang sangat menunjang kehidupan ini.

Kian lama usia manusia kian pendek. Bila kita mempelajari sejarah nenek moyang kita di beberapa kitab suci, orang-orang pada zaman dahulu ada yang hidup sampai ratusan — bahkan ada yang hidup hampir seribu tahun. Sekarang, seseorang yang dapat mencapai umur 100 tahun saja fantastis. Banyak faktor yang membuat hidup manusia menjadi semakin pendek: pola makan, gaya hidup, semangat hidup, dan beberapa faktor lainnya.

Salah satu komunitas manusia yang memiliki umur panjang adalah orang-orang Hunza. Di abad 20-an, mereka memiliki usia rata-rata 120-140 tahun. Orang-orang Hunza hidup di dekat pegunungan Himalaya. Mereka dapat berumur panjang karena mengonsumsi makanan yang diolah dari bahan-bahan yang masih segar. Mereka menolak makan makanan yang berlemak; lebih menyukai sayur, buah, air putih, dan kacang-kacangan.

Selain pola makan yang demikian, mereka juga giat bekerja dan mudah berempati pada sesama. Air yang mereka minum juga belum terpolusi oleh bermacam-macam zat. Alam di mana mereka hidup membentuk kehidupan mereka untuk rajin bekerja dan beraktivitas. Orang-orang Hunza yang umurnya mendekati 100 tahun masih giat bekerja di ladang, masih kuat bermain sepakbola atau voli. Pada tahun 1949, ketika sebagian dari mereka pindah ke Pakistan, mereka yang pindah itu pun bernasib sama seperti warga kota yang lainnya — berusia pendek — karena mereka mulai mengikuti cara dan pola hidup perkotaan.

Diawali dengan kisah orang-orang Hunza di dekat Himalaya itu, Haryo kemudian mengajak pembaca memperhatikan hal-hal yang perlu dilakukan agar dapat berumur panjang. Sudah barang tentu, Haryo tak mengajak para pembaca untuk melawan kodrat: kembali ke zaman dahulu, ketika manusia bisa hidup 900-an tahun.

Hal yang ditegaskan oleh Haryo dalam buku ini adalah — sesuai judulnya — cara-cara yang perlu ditempuh untuk berumur panjang dan awet muda. Secara garis besar, umur panjang bisa diraih dengan cara memperhatikan kesehatan. Dan, menariknya, lewat buku ini Haryo mengungkapkan bahwa kesehatan tak melulu berkaitan dengan fisik (badani) saja, namun sehat jiwani dan sosial.

Pola makan dan olahraga mendominasi bahasan Haryo dalam soal menjaga kesehatan fisik. Ia menyebutkan apa saja makanan dan kegiatan olahraga yang perlu diperhatikan oleh sidang pembaca bila ingin memiliki umur panjang.

Meditasi, latihan pernapasan, mendengarkan jenis musik tertentu, atau mandi dengan cara berendam, juga dibahas oleh Haryo. Hal-hal itu, selain berhubungan dengan fisik, tentu sangat berkaitan dengan kesehatan jiwa atau pikiran. Beberapa cara meditasi yang tradisional, misalnya, yang sejak dulu dikembangkan oleh beberapa kebudayaan dan negara, dibahas oleh Haryo untuk menambah wacana dan pemahaman pembaca akan pentingnya meditasi.

Haryo memberikan bahasan lain yang penting dalam hal umur panjang, yakni kesehatan sosial. Sikap yang ikhlas, mau mengampuni, toleran, juga positif, sangat penting bagi panjang-pendeknya umur manusia. Hal inilah yang saya anggap menjadi sumbangan khusus buku ini, yang masih belum ditemui dalam buku-buku kesehatan lain yang umumnya membahas kesehatan badani saja.

Sumber yang digunakan Haryo dalam buku ini sangat variatif. Haryo merujuk Qur’an, Bibel, dan beberapa kitab suci agama lain. Daftar pustaka (berupa buku, majalah, dan jurnal) yang digunakannya dalam buku ini pun sangat beragam. Sudah sepantasnya sidang pembaca menyambut baik buku (yang diterbitkan dalam 3 seri) tentang kesehatan ini. Dengan cakupan bahasan yang luas, tak berlebihan jika dikatakan, buku ini adalah rujukan yang penting tentang hidup sehat. Selamat membaca. (*)

Sidik Nugroho
Guru SD Pembangunan Jaya 2 dan penulis buku 366 Reflections of Life

 

Jiwa Muda, Pengembaraan, dan Pengampunan

Bayangkanlah sebuah petualangan, sendirian. Bayangkanlah alam yang luas, daerah bersalju, padang gurun, jalanan yang tak berujung. Bayangkanlah hewan-hewan liar, burung-burung di angkasa, sungai-sungai yang berair jernih. Siapa pun yang (pernah) menyukai alam, petualangan, dan segala keindahannya, akan bergairah menyaksikan tempat-tempat eksotis yang menjadi latar dalam film ini. Musik country yang dimainkan dan dinyanyikan Eddie Vedder nyaris di sepanjang film membuat suasana alam dan pedesaan makin hidup.

Namun, film ini, Into the Wild, tak hanya memotret berbagai keindahan alam. Film yang diangkat dari buku nonfiksi karya Jon Krakauer ini mengisahkan pergulatan batin seorang pemuda, Christopher McCandless (Emile Hirsch), setelah ia lulus kuliah. Chris, pemuda ini, adalah seorang yang keranjingan membaca. Ia hidup “bersama” Leo Tolstoy, Jack London, Henry David Thoreau, dan lainnya. Ia tak suka dengan pesta pora dan kekayaan. Di sebuah adegan yang apik, di sebuah restoran, dengan tegas ia menolak kemauan orang tuanya membelikan sebuah mobil baru.

Setelah kuliah, uang tabungan yang ia miliki hanya diambilnya beberapa dolar. Bagian yang lebih besar, 24.000 dolar, ia sumbangkan untuk anak yatim piatu. Dengan beberapa dolar yang dimilikinya, ia pun mengambil sebuah keputusan radikal: mengembara hingga ke Alaska. Keputusan ini tak diberitahukannya kepada siapa pun, bahkan kepada adik perempuannya, Carine (Jena Malone), yang sangat dekat dengannya.

Film yang menggunakan alur maju-mundur ini diawali dengan catatan Chris yang ia tujukan kepada Wayne Westerberg (Vince Vaughn), seorang pria yang ia temui di South Dakota, salah satu tempat yang ia singgahi cukup lama. Saat bersamanya, Wayne mengajari Chris cara memanen gandum. Catatan itu ditulis Chris ketika baru saja tiba di Fairbanks, Alaska, tujuan akhir pengembaraannya. Kemudian, di Alaska, Chris menemukan sebuah mobil yang terdampar di tengah hutan. Ia menamai mobil itu Magic Bus.

Sean Penn, sebagai penulis skenario dan sutradara, sangat rapi dan lihai menjalin potongan-potongan kisah hidup Chris dalam film ini. Ia membagi pengembaraan Chris dalam empat bagian: My Own Birth, Adolescence, Manhood, dan The Getting of Wisdom. Di masing-masing bagian ada flashback yang menggambarkan kehidupan Chris sebelum ia memutuskan hidup mengembara, meninggalkan keluarganya.

Orangtua Chris kaya. Ayahnya, Walt (William Hurt), berprestasi secara membanggakan dalam pekerjaannya. Mereka berdua mencapai kesuksesan finansial. Namun, mereka tak bahagia, sering cekcok, dan hampir bercerai. Bahkan, suatu ketika Chris mendapati kenyataan bahwa ibunya, Billie (Marcia Gay Harden), adalah istri muda ayahnya. Istri pertama masih belum diceraikan. Tentang hal ini, Carine, adik Chris, menyatakan, “This fact, redefined me and Chris as bastard children.”

Keberadaan Carine di dalam film ini menjadi penting karena narasi-narasinya yang disampaikan lewat voice over. Lewat narasi-narasinya, menjadi jelas sebab-musabab yang membuat Chris memilih alam liar sebagai dunianya. Namun, satu hal yang mengganggu adalah beberapa narasinya terkesan berlebihan, terlalu retoris.

Bagian lain yang terkesan berlebihan adalah sebuah adegan saat Chris menggunakan kayak (perahu kecil) mengarungi arus deras sebuah sungai di dekat perbatasan Mexico. Chris, saat itu, menyebut dirinya tidak banyak berpengalaman dengan arung jeram ketika ditanyai seorang petugas yang mengurus izin arung jeram. Ia tidak diizinkan. Ia pun nekat, melakukannya tanpa izin. Kemudian, inilah yang ditampilkan di film: di sungai yang arusnya begitu deras, penuh batu, pemuda yang tak berpengalaman ini melakukan arung jeram tanpa helm pengaman. Benarkah kejadiannya seperti ini? Saya ragu. Bisa saja, ini dramatisasi yang berlebihan.

Terlepas dari dua hal yang berlebihan di atas, film ini berupaya mengajak penonton menyusuri berbagai kemelut batin yang mendera jiwa seorang anak muda. Chris, dengan pemikiran-pemikirannya, hendak mengajak setiap orang yang ditemuinya dalam pengembaraannya merenungi: uang bukanlah hal yang utama bagi kehidupan, karir bukanlah segalanya, keindahan alam menjadi daya tarik yang lebih hebat dibandingkan hubungan antar manusia yang penuh dinamika. Selama mengembara, Chris menggunakan nama baru: Alexander Supertramp.

Bila di dalam film Out of Africa atau The Color Purple keindahan alam dijadikan sebagai latar yang memaniskan cerita, film ini hendak menampilkan hal yang lain: alam itu sendiri penuh dengan cerita, tak sekadar latar. Ya, alam, kebebasan, dan kebergantungan hidup pada alam menjadi napas utama film ini.

Nah, sampai berapa lama Chris bertahan hidup dengan alam — tanpa keluarga, sahabat, dan orang yang bisa diajak berbagi? Sampai berapa lama ia dapat menyembunyikan dirinya dari pencarian dan kesedihan kedua orangtua dan adiknya? Sampai berapa lama dendam terhadap orangtua dan ketidaksetujuannya pada hal-hal yang tak sejalan dengan idealismenya ia pertahankan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk dalam diri saya ketika menyaksikan film ini.

Hingga suatu ketika Chris bertemu dengan Ron Franz (Hal Holbrook), seorang pria tua perajin kulit. Lebih dari semua orang yang ditemui Chris, saya menyukai Ron. Persahabatan yang terjalin di antara kedua pria yang pantas menjadi kakek dan cucu ini sangat mendalam. Chris bertemu dengan Ron setelah ia melalui perjalanan panjang: melewati South Dakota, sungai Colorado, Grand Canyon, Mexico, dan Salvation Mountain. Dari Ron, Chris belajar mengukir sebuah sabuk kulit, dan ia pun mengukirkan perjalanan panjangnya.


Adegan yang menarik adalah saat Chris “memaksa” Ron untuk mendaki sebuah bukit kecil. Dari atas bukit itu bisa disaksikan laut Salton dan pemandangan yang indah. Ron terengah-engah ketika sampai di sana. Di atas bukit itu, terjalinlah percakapan yang indah tentang pengampunan. Di sana, Ron berkata, “When you forgive, you love. And when you love, God’s light shines on you.”

Chris melanjutkan perjalanannya, ke Alaska, menuju alam liar. Chris, atau Alexander Supertramp ini, terus berjuang menembus tantangan. Kenangan tentang keluarga dan para sahabat, juga kebahagiaan yang didapatkan dari kebersamaan dengan orang lain, mulai melintas di benak Chris sang pengembara. Ia pun ingin menjadikan catatan perjalanannya sebagai buku. Saat Chris menulis catatannya di dalam Magic Bus, kehidupan Chris pun menjadi cermin bagi jiwa muda yang selalu mendambakan kedamaian. (*)

Sidoarjo, 1 April 2012

Optimisme dan Semangat Pantang Menyerah

Judul buku : 366 Reflections of Life – Kisah-Kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati
Penulis : Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia)
Ukuran : 15 x 23 cm
Tebal : 384 halaman
Tahun terbit : Februari 2012

“Kita hidup dengan apa yang kita peroleh, tetapi kita memperoleh kehidupan dengan apa yang kita beri.”
~ Winston Churchill

Buku setebal 384 halaman dengan perwajahan sampul nan indah ini menyuguhkan sejumlah kisah inspiratif yang menyentuh hati. Kisah-kisah nan apik yang disajikan dalam buku ini menuturkan beragam peristiwa menarik dari berbagai belahan dunia, mulai dari kisah kehidupan si penulis sendiri, kehidupan tokoh-tokoh inspiratif ternama dunia, hingga kisah-kisah kehidupan nyata sehari-hari di sekitar kita. Kisah-kisah tersebut tanpa kita sadari, sebenarnya memiliki berbagai nilai pelajaran moral dan hikmah yang bisa kita ambil dan dapat dijadikan sebuah bahan perenungan. Buku ini pun mengajarkan kita agar kita mengenal lebih dekat diri kita sendiri.

Sidik Nugroho melalui kisah-kisah inspiratif yang dikemukakannya dalam buku ini, berusaha menyadarkan kita bahwa sebagian besar dari kita tak jarang merasa sebagai orang yang paling tidak beruntung di dunia ini apabila sedang dalam keadaan susah atau kurang beruntung, sehingga membuat kita mudah berputus asa dan miskin rasa syukur. Sebaliknya saat kita dalam keadaan bahagia dan sedang beruntung, kita pun demikian mudahnya lupa untuk bersyukur. Padahal kalau kita mau merenung sejenak setelah membaca kisah-kisah kehidupan orang lain yang banyak dikisahkan dalam buku ini, sesungguhnya masih lebih banyak orang lain yang jauh kurang beruntung daripada kita, sehingga kita tidak seharusnya miskin rasa syukur baik di saat kita sedang berada di bawah ataupun saat kita sedang berada di atas.

“Dalam situasi yang menyesakkan, harapan adalah suatu kekuatan,” kata G.K. Chesterton. Manusia dengan segala suka-dukanya senantiasa mewarnai berbagai kisah sejarah perjalanan panjang umat manusia. Manusia dalam sejarahnya selalu membuat kesalahan yang sama berulang-ulang. Manusia sering tidak memetik hikmah dari kisah-kisah perjalanan masa lampau. Padahal dari kisah-kisah perjalanan masa lampau, kita dapat belajar dari kesalahan-kesalahan bangsa lain di masa lampau. Tak hanya itu, kita pun seharusnya mau belajar dari kegagalan dan keberhasilan bangsa lain menilik dari kisah perjalanan bangsa mereka.

Keberhasilan suatu bangsa atau seseorang adalah sebuah proses panjang dari manusia itu sendiri. Proses adalah belajar dari banyak kegagalan kita di masa lalu sehingga dari kegagalan, kita akan bisa memperbaiki dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Kesuksesan seseorang bisa bermanfaat dan menginspirasi orang lain dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Sebagai manusia dan bangsa yang berbudaya seharusnya kita senantiasa pantang menyerah dalam menjalani suka duka kehidupan, karena sukses tidaknya kita sebagai manusia adalah tergantung dari seberapa keras daya upaya dan kerja keras kita untuk mau selalu berusaha mencapai segala apa yang kita cita-citakan dalam kehidupan dan dalam kehidupan bersosial kemanusiaan.

Kehidupan memang tak selalu seindah seperti yang diharapkan dan diimpikan oleh setiap orang. Liku-liku kehidupan tak jarang membuat seseorang seringkali bersedih, marah, frustasi dan tak jarang mudah berputus asa. Buku ini mencoba mengetuk hati para pembaca untuk merenung sejenak, betapa kehidupan itu sendiri sebenarnya telah banyak mengajarkan kita berbagai hal agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik, bijaksana, lebih mengasihi sesama, rendah hati, tidak mudah berputus asa dan senantiasa bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat dan karuniaNya yang seringkali tidak kita sadari.

Dalam buku ini Sidik Nugroho Wrekso Wikromo mencoba menggugah kesadaran kita, bahwa kebahagiaan dan kedamaian itu sejatinya terletak di hati dan pikiran kita sendiri, dan bagaimana untuk memperoleh kebahagiaan dan kedamaian itu sendiri adalah suatu hal yang perlu kita temukan dengan mengenal diri kita lebih dekat, dengan senantiasa ingat dan bersyukur kepada Tuhan yang tak putus-putusnya memberikan berbagai kenikmatan, karunia dan hidayah bagi kita semua. Kita pun tak boleh lupa untuk senantiasa membagi kasih kebaikan dan kebahagiaan terhadap sesama.

Sidik Nugroho cukup kreatif dalam menyisipkan beberapa pesan moral dan kebaikan dalam kisah inspiratif yang mampu menggugah para pembaca untuk merenung sejenak akan hakikat dan makna kehidupan ini. Proses pembelajaran tentang makna dan hikmah kehidupan itu sendiri sebenarnya berlangsung sepanjang hayat kita, dan dari setiap kisah kehidupan yang ditulis dalam buku ini, sudah seharusnya kita pandai-pandai memetik hikmah pembelajaran yang bisa kita terapkan dalam kehidupan.

Hidup sejatinya adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh proses pembelajaran. Beragam kisah inspiratif yang Anda temukan dalam buku ini ditulis dengan bahasa yang indah, santun, serta mudah untuk dipahami. Sejumlah kata-kata mutiara serta bait puisi juga tampak menghiasi buku ini, membuatnya sedikit berbeda dengan buku sejenis yang ada di pasaran, yang juga merupakan keunggulan dari buku ini.

Oleh: Haryo Bagus Handoko, penulis dan aktivis di Forum Penulis Kota Malang (FPKM)