Umur Panjang: Sehat Badani, Sehat Jiwani, dan Sehat Sosial

Judul Buku: Rahasia Awet Muda dan Panjang Umur
Penulis: Haryo Bagus Handoko
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Tebal Buku: 650 halaman
Cetakan Pertama, Desember 2011

“The only way to keep your health is to eat what you don’t want, drink what you don’t like, and do what you’d rather not.”
~ Mark Twain

Kata-kata yang diucapkan Mark Twain di atas sangat tepat menggambarkan kondisi masyarakat modern. Masyarakat, yang di masa kini kian konsumtif — karena tergerus arus modernisasi di perkotaan — umumnya lebih menyukai makanan fast food, minuman bersoda atau mengandung banyak gula, serta jarang melakukan aktivitas yang membuat dirinya lebih bugar. Manusia-manusia perkotaan, disadari atau tidak, kerap melupakan kesehatan: hal penting yang sangat menunjang kehidupan ini.

Kian lama usia manusia kian pendek. Bila kita mempelajari sejarah nenek moyang kita di beberapa kitab suci, orang-orang pada zaman dahulu ada yang hidup sampai ratusan — bahkan ada yang hidup hampir seribu tahun. Sekarang, seseorang yang dapat mencapai umur 100 tahun saja fantastis. Banyak faktor yang membuat hidup manusia menjadi semakin pendek: pola makan, gaya hidup, semangat hidup, dan beberapa faktor lainnya.

Salah satu komunitas manusia yang memiliki umur panjang adalah orang-orang Hunza. Di abad 20-an, mereka memiliki usia rata-rata 120-140 tahun. Orang-orang Hunza hidup di dekat pegunungan Himalaya. Mereka dapat berumur panjang karena mengonsumsi makanan yang diolah dari bahan-bahan yang masih segar. Mereka menolak makan makanan yang berlemak; lebih menyukai sayur, buah, air putih, dan kacang-kacangan.

Selain pola makan yang demikian, mereka juga giat bekerja dan mudah berempati pada sesama. Air yang mereka minum juga belum terpolusi oleh bermacam-macam zat. Alam di mana mereka hidup membentuk kehidupan mereka untuk rajin bekerja dan beraktivitas. Orang-orang Hunza yang umurnya mendekati 100 tahun masih giat bekerja di ladang, masih kuat bermain sepakbola atau voli. Pada tahun 1949, ketika sebagian dari mereka pindah ke Pakistan, mereka yang pindah itu pun bernasib sama seperti warga kota yang lainnya — berusia pendek — karena mereka mulai mengikuti cara dan pola hidup perkotaan.

Diawali dengan kisah orang-orang Hunza di dekat Himalaya itu, Haryo kemudian mengajak pembaca memperhatikan hal-hal yang perlu dilakukan agar dapat berumur panjang. Sudah barang tentu, Haryo tak mengajak para pembaca untuk melawan kodrat: kembali ke zaman dahulu, ketika manusia bisa hidup 900-an tahun.

Hal yang ditegaskan oleh Haryo dalam buku ini adalah — sesuai judulnya — cara-cara yang perlu ditempuh untuk berumur panjang dan awet muda. Secara garis besar, umur panjang bisa diraih dengan cara memperhatikan kesehatan. Dan, menariknya, lewat buku ini Haryo mengungkapkan bahwa kesehatan tak melulu berkaitan dengan fisik (badani) saja, namun sehat jiwani dan sosial.

Pola makan dan olahraga mendominasi bahasan Haryo dalam soal menjaga kesehatan fisik. Ia menyebutkan apa saja makanan dan kegiatan olahraga yang perlu diperhatikan oleh sidang pembaca bila ingin memiliki umur panjang.

Meditasi, latihan pernapasan, mendengarkan jenis musik tertentu, atau mandi dengan cara berendam, juga dibahas oleh Haryo. Hal-hal itu, selain berhubungan dengan fisik, tentu sangat berkaitan dengan kesehatan jiwa atau pikiran. Beberapa cara meditasi yang tradisional, misalnya, yang sejak dulu dikembangkan oleh beberapa kebudayaan dan negara, dibahas oleh Haryo untuk menambah wacana dan pemahaman pembaca akan pentingnya meditasi.

Haryo memberikan bahasan lain yang penting dalam hal umur panjang, yakni kesehatan sosial. Sikap yang ikhlas, mau mengampuni, toleran, juga positif, sangat penting bagi panjang-pendeknya umur manusia. Hal inilah yang saya anggap menjadi sumbangan khusus buku ini, yang masih belum ditemui dalam buku-buku kesehatan lain yang umumnya membahas kesehatan badani saja.

Sumber yang digunakan Haryo dalam buku ini sangat variatif. Haryo merujuk Qur’an, Bibel, dan beberapa kitab suci agama lain. Daftar pustaka (berupa buku, majalah, dan jurnal) yang digunakannya dalam buku ini pun sangat beragam. Sudah sepantasnya sidang pembaca menyambut baik buku (yang diterbitkan dalam 3 seri) tentang kesehatan ini. Dengan cakupan bahasan yang luas, tak berlebihan jika dikatakan, buku ini adalah rujukan yang penting tentang hidup sehat. Selamat membaca. (*)

Sidik Nugroho
Guru SD Pembangunan Jaya 2 dan penulis buku 366 Reflections of Life

 

Advertisements

About sidiknugroho

Guru SD, penulis lepas. Suka film, buku, alam terbuka, dan gitar. Tinggal di Pontianak

Posted on April 3, 2012, in Artikel, Perbukuan, Resensi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: