Secuil Pandangan Pribadi tentang Rokok

“Ketika penderitaan saya yang besar dilegakan, otak saya yang lelah dipulihkan, dan tenang, bisa tidur nyenyak sehabis merokok, saya bersyukur kepada Tuhan, dan memuliakan nama-Nya.”
~ Charles H. Spurgeon

Pendeta merokok? Sebagian kalangan Nasrani mungkin akan mencak-mencak membaca kutipan di atas itu. Apalagi, Spurgeon amat termasyhur di zamannya. Orang menjulukinya “raja pengkhotbah dari Inggris”. Tak hanya Spurgeon. C.S. Lewis, penulis terkenal itu terkenal suka merokok dan menghisap pipa bertembakau. J.R.R. Tolkien, sahabatnya, juga penulis legendaris, setali tiga uang.

Saya dulunya sangat membenci rokok. Apalagi pada saat SMA, saat saya bergabung dengan sebuah gereja yang benar-benar “mengharamkan” rokok. Ayat andalannya, tentu, 1 Korintus 3:16 — tubuh kita adalah bait Allah, dan kita harus menjaganya sebaik mungkin.

Pandangan saya tentang rokok mulai berubah saat saya melaksanakan KKN, 20 April-20 Juni 2004 di desa Gadingkulon bersama 18 teman saya. Kebetulan, 18 teman saya sepakat, menjadikan saya Kordes (Koordinator Desa) dalam pelaksanaan program-program KKN kami. Karena hal ini, mau tak mau saya jadi sering bertemu dengan para aparat desa, membahas program KKN. Saya juga sering berinteraksi dengan warga desa yang mayoritas adalah petani jeruk.

Tiap mampir ke rumah warga, rokok dan kopi dihidangkan. Ada pertemuan membahas program, rokok dan kopi juga dihidangkan. Kumpul-kumpul dan nongkrong dengan para pemuda desa, rokok dan kopi selalu ada. Kebersamaan saya dengan orang-orang desa ini membuat saya pun akhirnya mencoba merokok.

Saya menikmati saat-saat itu. Di desa yang berada pada ketinggian sekitar 700-800 meter di atas permukaan laut itu, saya suka merokok sambil menikmati pemandangan lampu-lampu kota Malang yang terbentang begitu indah pada malam hari. Hampir tiap malam kami membakar jagung, membuat api unggun, ngopi, dan merokok. Pokoknya gembira.

Beberapa tahun setelah KKN, kebiasaan merokok saya masih ada. Sekarang, saya termasuk orang yang kadang merokok, kadang tidak. Saya tidak pernah merasa kecanduan. Saya pernah menghabiskan lima batang rokok sehari, namun pernah juga tidak merokok sama sekali dalam dua bulan.

***

Seorang dokter yang juga penulis buku, Clifford R. Anderson, menyatakan bahwa jika kita hidup hingga berusia 70 tahun, maka makanan yang kita konsumsi beratnya sekitar 1400 kali berat badan kita. Kenyataan ini membuat kita sepantasnya merenung: makanan apa saja yang sudah kumakan hingga kini?

Bila makanan seberat 1400 kali berat badan kita itu ditukar dengan uang, jumlahnya tentu akan sangat besar — apalagi bila makanan itu berasal dari restoran-restoran kelas dunia. Tapi, justru mungkin selama ini kita jarang pernah berpikir bahwa makanan — apalagi yang mahal — juga dapat menjadi masalah.

Kembali pada rokok. Sebagian kalangan (saya rasa bukan hanya orang Nasrani) menganggap mengonsumsi rokok adalah dosa — hampir disejajarkan dengan narkoba dan minuman keras. Tapi, ingatlah bahwa kita hendaknya menjaga tubuh bukan hanya dengan menjauhi rokok, narkoba, dan minuman keras. Lemak yang berlebihan, jeroan, juga konsumsi berlebihan terhadap makanan-makanan instan juga sama berbahayanya. Karena itu, ketika suatu hari mendengar seorang pendeta berkata bahwa seorang perokok tidak lebih berdosa daripada seorang penggila jeroan, saya yakin pendeta itu benar.

Dari perbincangan dan kebersamaan saya dengan beberapa petani di desa waktu saya KKN dulu, saya pun menawarkan fakta ini: para petani laki-laki bisa dikatakan semuanya merokok. Namun, mengapa usia mereka panjang dan tubuh mereka sehat? Inilah yang mungkin perlu digarisbawahi: mereka melakukan aktivitas fisik yang tidak dilakukan para perokok di perkotaan. Mereka bekerja keras, bercocok tanam — melakukan banyak aktivitas pertanian yang notabene juga menyehatkan badan. Sementara, di perkotaan, kebanyakan orang merokok sambil nongkrong, ngopi, bekerja di depan komputer, melihat televisi, dan lain-lain — yang pada intinya bukan merupakan aktivitas fisik yang menyehatkan badan.

Apa yang saya sampaikan soal kebiasaan merokok di desa dan di kota bukanlah hasil penelitian. Seperti judulnya, tulisan ini adalah pandangan pribadi saya. Siapa pun dapat mempertarungkan hasil penelitian yang pro dan kontra soal bahaya rokok.

Mohamad Sobary baru-baru ini menulis “Ideologi di Balik Rokokku”. Tulisan yang cukup provokatif itu hendak menawarkan gagasan penting, bahwa gerakan, wacana, ataupun kebijakan pemerintah yang bersifat anti rokok (terutama rokok kretek) diboncengi berbagai kepentingan. “Gerakan itu alur rasionya demi kesehatan lingkungan. Tapi tak tahukah mereka, bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?” tulisnya. Di akhir tulisannya, ia menyuguhkan hasil penelitian tentang manfaat positif kretek bagi kesehatan.

***

Rokok. Barang kecil itu menantang kedewasaan kita berpikir dan memperlakukan orang lain. Seperti saya di masa lalu, tidak sedikit orang yang membatasi diri mengenal orang lain lebih jauh hanya karena melihat orang lain itu merokok. Merokok menjadi sekat yang membatasi hubungan antar manusia.

Sekarang, bandingkanlah dengan asap kendaraan bermotor kita hirup setiap hari. Kendaraan bermotor yang kita miliki atau tumpangi pun terbiasa “menghembuskan” asapnya setiap hari untuk — secara tidak sadar — dihirup orang lain. Mungkin, kita tidak menyadari bahwa asap itu juga sama berbahayanya dengan asap rokok. Sementara, dari hari ke hari kendaraan kian tumpah-ruah di jalan. Polusi udara dan kemacetan menjadi biang stres.

Jadi, bila Anda sampai sekarang masih membenci orang lain hanya gara-gara dia merokok, dan Anda sekarang selalu bepergian dengan kendaraan bermotor, akan lebih adil bila Anda bersedia jalan kaki, naik becak, atau bersepeda ke mana-mana. (*)

Sidoarjo, 18 April 2012

Advertisements

About sidiknugroho

Guru SD, penulis lepas. Suka film, buku, alam terbuka, dan gitar. Tinggal di Pontianak

Posted on April 18, 2012, in Artikel, Catatan, Refleksi. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. klw menurut sy merokok itu tergantung sm pengaruh lingkungan klw lingkungan kita steril asap rokok pasti kita bz berhenti merokok ex sy sendiri skrg da 3 thn berhenti merokok, pdhl dlu wktu muda bgn tdr lgsg cr rokok sehari hbs 2-3 pak. Tp skrg jgnkn merokok bau asapnya aja kepala pusing jd sy menyarankan STOP merokok krna tdk ada manfaatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: