Monthly Archives: May 2012

Pelajaran Singkat Menulis Kreatif

Disusun oleh: Sidik Nugroho*)

Disampaikan dalam diklat penulisan yang diadakan SMPI Hidayatul Mubtaidin, Wajak, Malang, 19-05-12

Dalam tulisan yang saya buat ini, saya akan menyampaikan beberapa hal tentang menulis yang saya rasa paling perlu untuk diperhatikan. Di dalam tulisan ini terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan:

1. Memahami motivasi menulis

2. Menulis untuk media cetak

3. Menulis buku untuk penerbit

4. Menulis buku indie atau self-publish

5. Membaca ulang sebuah karya tulis

6. Lampiran: surat pengantar, proposal penerbitan buku, dan buku-buku yang disarankan

***

1. Memahami Motivasi Menulis

Motivasi tiap pengarang berbeda-beda. Seorang pengarang bernama Toni Morrison yang memenangkan hadiah Nobel lewat beberapa karyanya — yang terkenal salah satunya berjudul Beloved — menyatakan bahwa novelnya memuat tujuan politik. Dalam biografi ringkas yang ditulis oleh Kathryn VanSpanckeren, Toni menyatakan, “Aku tidak tertarik memanjakan diriku dalam sebuah kegiatan berimajinasi yang bersifat pribadi… ya, karya ini pasti politis.”

Pemenang Nobel yang lain, bernama Gao Xingjian, dalam pidatonya ketika menerima hadiah Nobel menyatakan sesuatu yang bertolak belakang: “… sastra itu hanya dapat menjadi suara individu, dan selalu seperti itu.”

Persoalan visi (bisa juga dibaca: motivasi) dalam menulis memuat banyak perbedaan. Ada yang menggunakan sastra sebagai salah satu alat bagi tujuan perubahan sosial. Ada juga yang menulis suatu karya sastra karena suka menulis, sebuah seni menuangkan gagasan untuk mematangkan dan mendewasakan diri, atau sebutlah tindakan seorang penulis yang menjunjung tinggi atau memuliakan estetika bahasa.

Seorang penulis yang berniat agar karya-karyanya laku dijual harus memiliki strategi mengurangi penolakan. Sebab, penulis mana pun tak suka mengalami hal ini, walau pada kenyataannya hampir semua penulis pernah mengalami penolakan. Inilah sebuah hal yang sering meresahkan penulis muda. Salah satu cara mengurangi penolakan adalah membuat proposal sebelum naskah sebuah buku diajukan (nanti akan kita pelajari lebih lanjut di bagian ke-3). Atau, kalau bosan ditolak dan masih ingin tetap menulis, silahkan banting stir merambah bidang penulisan lain yang lebih mendatangkan keuntungan.

Mari berpikir realistis. Tak jarang, banyak orang meninggalkan dunia penulisan gara-gara tak memiliki motivasi yang jelas dan terencana, lalu putus asa. Bila menulis direncanakan seseorang sebagai sarana meraih penghasilan, maka seseorang perlu menilik berbagai kemungkinan dan mengikuti trend yang membuat tulisannya laku dijual. Bila seseorang menulis hanya untuk kesenangan dan aktualisasi diri, tak perlulah mencoba-coba menjual tulisannya.

2. Menulis untuk Media Cetak

Sejarah film mencatat Lumiere bersaudara dari Prancis sebagai dua orang penting. Mereka tercatat sebagai penampil film pertama. Film pertama mereka saya yakin sama sekali tak menarik bagi kita saat ini. Mau tahu? Rekaman kereta api yang sedang berjalan. Nah, arah jalan kereta api itu mendekati kamera.

Namun, tahukah Anda apa yang terjadi pada 32 penonton pertama mereka ketika menyaksikannya? Mereka lari tunggang-langgang dari gedung pertunjukan ketika kereta yang tertampil di film itu “mendekati” mereka! Bagi mereka, film kereta Lumiere saat itu benar-benar heboh.

Lumiere bersaudara kemudian meraup kekayaan. Penonton mereka setelah film kereta api pertama mereka rata-rata tak kurang dari seribu orang. Namun, sebelum mereka sesukses itu, mereka pernah ditolak koran ketika hendak promosi film kereta api pertama mereka. Koran menolak membantu publikasi pemutaran film mereka.

Ternyata, yang pernah ditolak koran bukan hanya para penulis. Sebagai penulis yang karyanya puluhan kali ditolak, saya geli sekaligus merenung ketika menjumpai kenyataan ini. Para penulis, pencipta lagu, pelukis, penemu, siapa saja dengan profesi apa saja, rasanya pernah mengalami apa yang Lumiere alami. Kita ditolak. Orang tak yakin dengan apa yang kita yakini sebagai sesuatu yang luar biasa.

Nah, untuk mengurangi penolakan menulis di media cetak, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

a. Kenali tema yang sedang ramai diperbincangkan

Hal ini berlaku untuk esai atau opini. Media massa mengedepankan aktualitas. Tulisan akan susah dimuat bila temanya tidak sesuai dengan apa yang ramai diperbincangkan. Tulisan kita tak mungkin dimuat bila mengangkat pembahasan tentang mendidik anak dengan gembira padahal sehari-hari orang menyaksikan, membaca, dan mendengar berita tentang sebuah kecelakaan pesawat.

Cara lain yang berkaitan adalah mengingat momen-momen tertentu. Contoh, tanggal 20 Mei adalah hari Kebangkitan Nasional. Coba bolak-balik lagi buku Sejarah, temukan perspektif yang unik, angkat kiprah seorang tokoh yang mungkin “dilupakan” berkaitan dengan momen itu, lalu buatlah sebuah tulisan. Kirimkan tulisan itu satu atau dua minggu sebelum 20 Mei. Tulisan yang demikian akan berpeluang besar untuk dimuat.

b. Perhatikan panjang tulisan

Panjang tulisan penting diperhatikan karena berkaitan dengan ruang yang ada di dalam media cetak. Tulisan jangan kepanjangan atau kependekan. Resensi yang sering saya buat rata-rata panjangnya 2 halaman kuarto, 1 spasi, huruf Times New Roman ukuran 12. Atau, bila diukur dengan jumlah kata, resensi itu sekitar 4000-5000 karakter. Beberapa esai atau artikel lain ada yang panjangnya lebih, sampai sekitar 7500 karakter. Cerpen di koran, sepengamatan saya, panjangnya sekitar 10.000 karakter.

c. Baca ulang naskah yang ditulis

William Faulkner, seorang pemenang Nobel Sastra, pernah menyatakan, “Penulis-penulis muda terlalu dungu mengikuti teori. Ajarlah dirimu sendiri melalui kesalahan-kesalahan yang pernah kaulakukan — orang belajar dari kesalahan. Seniman yang baik tidak boleh berharap pada siapa pun yang mungkin dapat memberi nasihat padanya.”

Tidak sedikit penulis yang begitu selesai menulis, langsung mengirim tulisannya ke redaktur atau penerbit. Semangatnya menggebu-gebu, ide dan inspirasi di kepala tidak pernah kering. Tangannya terus menulis segala sesuatu yang memantik gagasan untuk dituangkan dalam kata-kata. Puisi, cerpen, artikel, semua ditulis! Namun, di balik semua itu, salah tulis bertaburan di mana-mana. Inilah yang sering menjadi alasan penolakan tulisan.

Dalam bidang apa pun, kita perlu meninjau ulang apa yang sudah kita kerjakan. Begitu banyak hal yang bisa dikoreksi dan diperbaiki ulang, dan hasilnya mungkin akan (jauh) lebih baik daripada dikerjakan sekali jadi. Dan, mungkin kita tidak sadar, bahwa kebiasaan ini pada akhirnya juga akan membuat kita belajar lebih banyak — yakni belajar menemukan kekurangan diri sendiri.

d. Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan

Sebuah tulisan yang dikirim ke sebuah koran atau majalah perlu diawali dengan surat pengantar (ada di lampiran, bagian 6). Di dalam surat pengantar itu, gambarkan sekilas isi naskah yang ditulis.

Menulis untuk koran atau majalah kadang juga menjengkelkan. Menjengkelkan, karena ada koran atau majalah yang tidak membayar honor tulisan kepada penulis. Saya pernah mengalami kejadian ini beberapa kali. Oleh karena itu, setiap penulis juga perlu membuat pilihan. Koran atau majalah biasanya mem-blacklist penulis yang berlaku curang. Sudah saatnya penulis juga berani mem-blacklist media cetak yang semena-mena.

Selain itu, sebuah koran memiliki visi tertentu atau kecenderungan tertentu. Ini perlu juga dipahami oleh penulis. Ada sebuah koran yang pro pemerintah sehingga opini yang ditulis di koran itu mayoritas mendukung kebijakan pemerintah. Ada juga sebuah koran yang sampai sekarang tidak mau memuat resensi novel, kumpulan cerpen, atau buku-buku sastrawi lainnya.

Terakhir, sebuah tulisan yang dikirim ke sebuah koran atau majalah semestinya tidak dikirim ke koran atau majalah lain dalam waktu dekat atau malah bersamaan. Sebuah tulisan baru boleh dikirim ke koran atau majalah lain bila “tampaknya” tidak akan dimuat. Mengapa saya tulis “tampaknya”? Karena, di Indonesia masih sangat sedikit koran dan majalah yang memberitahu seorang penulis bila tulisannya akan dimuat. Karena itulah setiap penulis sebaiknya memiliki catatan atau arsip atas setiap karya yang dikirimkannya dan kemudian menetapkan sendiri waktu tunggu pemuatan karyanya. Dalam hal ini, waktu tunggu pemuatan tulisan berbeda-beda. Untuk opini, esai, atau artikel yang sifatnya aktual biasanya hanya dua minggu. Untuk resensi bisa satu sampai dua bulan. Untuk cerpen bisa sampai tiga bulan.

3. Menulis Buku untuk Penerbit

Menulis buku untuk diterbitkan penerbit tidak selalu mudah. Hal itu akan mudah bila seorang penulis memahami apa yang diminati pasar saat ini. Masalah utama yang seringkali muncul dan menjadi ketegangan antara penulis dan editor adalah soal pemasaran buku: seorang penulis sudah menganggap karyanya sangat bagus, tapi bagi seorang editor karya tersebut tidak laku bila dijual.

Sama seperti pengiriman naskah ke koran atau majalah, pengiriman naskah ke penerbit juga perlu disertai surat pengantar. Saat mengajukan naskah ke penerbit, seorang penulis tidak harus sudah siap dengan naskahnya secara keseluruhan. Penulisan naskah buku bisa disiasati dengan menggunakan proposal, dilampiri beberapa contoh bab awal sebuah buku. Pembuatan proposal bertujuan untuk memberikan gambaran kepada editor tentang buku yang tengah digarap. (Bentuk proposal bisa dilihat dalam lampiran di bagian ke-6 yang saya sertakan.)

Namun, jangan sampai sebuah proposal malah membuat seorang penulis menjadi malas merampungkan karyanya, kemudian mengobral proposal ke sana-sini. Tujuan proposal harus dipahami dengan jelas sebagai langkah awal penulisan sebuah buku. Dan, penulisan buku yang proposalnya telah disetujui harus digarap dengan sungguh-sungguh. Ada editor yang sempat bercerita kepada saya kalau beberapa penulis menggarap proposalnya sangat baik, tapi begitu naskah utuhnya sampai di meja redaksi, keadaannya memprihatinkan.

Penulis yang menerbitkan buku di penerbit kebanyakan mendapat royati yang dibayar enam bulan sekali. Besarnya royalti pada umumnya adalah 10 persen harga jual per buku, dikali dengan jumlah buku yang terjual selama enam bulan itu. Namun, memilih penerbit juga tidak boleh sembarangan. Saat ini, penerbitan makin banyak. Tidak sedikit penerbit yang berlaku curang kepada penulis dengan tidak membayarkan royaltinya atau membuat laporan penjualan buku yang merugikan penulis.

Pemasaran buku lewat penerbit memang lebih banyak mendatangkan kemudahan daripada menerbitkan pemasaran buku secara indie. Penerbit, bekerjasama dengan distributor buku, bekerja mengemas dan memasarkan buku setelah naskah seorang penulis dinyatakan layak terbit oleh seorang editor. Seorang penulis bisa bernapas lega mengakhiri tugasnya. Kemudian, mungkin dengan royalti yang diterimanya, ia menggarap proyek menulis selanjutnya.

4. Menerbitkan Buku Indie atau Self Publish

“Saya tidak melawan arus, atau tidak ikut arus, tapi saya sedang menciptakan arus,” kata Kirana Kejora dengan lantang pada acara bedah buku di Kedai Sinau, Malang. Ia mengisahkan hal-hal apa saja yang membuatnya bertekad membangun dunia penulisan dengan memasarkan buku-buku secara indie.

Beberapa tahun lalu, di Surabaya, ia memiliki kenalan grup-grup band indie dan model. Suatu ketika, kalau tidak salah tahun 2004, Kirana menulis sebuah buku yang berisi kumpulan puisi dan novelet. Di antara sekian banyak temannya yang musisi dan model, tidak ada yang melahirkan karya tulis seperti yang ia lakukan. Namun, teman-teman inilah yang berjasa baginya. Mereka banyak yang mendukung buku karya Kirana, memberi ide untuk mengemas buku itu dengan menarik, lalu mengadakan launching buku itu di sebuah acara musik yang menampilkan band-band indie.

Tak dinyana, buku itu disambut dengan cukup baik. Kirana kemudian memberanikan diri untuk memasarkan buku-buku itu ke toko-toko buku. Di toko buku Gramedia, Uranus, dan beberapa toko buku lainnya di Surabaya, Kirana berjuang agar buku-bukunya terdistribusi lebih luas.

Singkat cerita, segala upayanya tidak sia-sia. Sejauh ini Kirana telah menulis tujuh novel (kalau tidak salah) yang semuanya dicetak dan dipasarkan secara indie. Ia membandingkan pengalamannya dengan pengalaman para penulis lain, dan menyimpulkan bahwa pendapatan seorang penulis buku indie lebih besar daripada yang menerima royalti dari penerbit: “Sebuah buku bisa dijual dengan harga empat kali ongkos cetak buku tersebut,” katanya.

Misalnya, sebuah buku dicetak dengan biaya Rp15.000. Buku tersebut bisa dijual dengan harga Rp60.000. Jadi, seorang penulis buku indie bisa mendapat keuntungan sebanyak tiga kali lipat harga bukunya bila ia sama sekali tak menggunakan jasa distributor.

Namun, kendala penerbitan secara indie tidak kecil. Pertama, seorang penulis harus memiliki modal cukup banyak untuk mencetak bukunya sendiri. Harga cetak sebuah buku bisa menjadi murah bilamana buku tersebut dicetak paling sedikit 500 buah. Seseorang bercerita bahwa ia baru saja menerbitkan buku yang dicetaknya sebanyak 100 buah. Harga cetak per buku sampai menembus angka Rp26.000, sementara bila ia mau mencetak sebanyak 500 buah, harganya hanya sekitar Rp15.000. Jadi, mencetak 100 buku itu mengeluarkan dana Rp2.600.000 sementara bila mencetak 500 buah akan memerlukan dana Rp7.500.000.

Nah, dari hal itu lahirlah kendala kedua: bila seorang penulis sudah memiliki dana yang cukup untuk mencetak buku di atas 500 buah, apa yang harus dilakukannya agar buku tersebut laku terjual? Tidak lucu rasanya kalau buku-buku tersebut pada akhirnya harus dibiarkan menumpuk atau dibagi-bagikan gratis.

Nah, saya belajar dari kegigihan Kirana mengatasi kendala-kendala itu, terutama kendala kedua. “Seorang penulis indie harus percaya diri, bahkan kadang harus narsis,” katanya. Bila tidak demikian, memang sulit meyakinkan orang lain bahwa kita menulis sesuatu yang penting. Sebagai seorang ibu yang membesarkan kedua anaknya sendirian, tak ayal Kirana pada akhirnya terus memutar otak untuk membuat karya-karyanya bisa diterima seluas-luasnya. Penulis indie memang harus kuat menjalin jaringan dengan banyak pihak, pintar mengemas bukunya, pandai memanfaatkan berbagai peluang dan momentum untuk menyosialisasikan karya-karyanya.

Jalur indie yang ditempuh Kirana Kejora bukanlah melulu jalur yang ditempuh orang-orang kalah yang butuh pengakuan. Karya-karya indie tidak bisa dianggap sebelah mata. Mungkin sebuah karya indie dulunya memang ditolak oleh seorang editor atau penerbit. Namun, bukankah editor juga manusia? Bukankah editor sebuah koran besar pun suatu ketika luput, menayangkan sebuah cerpen yang diduga keras plagiat dan sebelumnya pernah dimuat di koran kecil lain?

5. Membaca Ulang Sebuah Karya Tulis

Dalam sebuah bagian buku Keep Your Hand Moving, Anwar Holid, penulis buku ini hendak mengajak pembaca untuk terus menulis. Walaupun tulisan itu semrawut dan tak jelas fokusnya, Anwar hendak menegaskan bahwa yang penting: tulislah!

Setelah menulis, Anwar mengajak pembaca untuk menelusuri kembali apa-apa saja yang telah ditulisnya. Anwar juga mengajak pembaca untuk mengembangkan dan mendayagunakan kemampuannya mengolah naskah menjadi sebuah tulisan yang baik dan bisa dinikmati.

Tulisan yang baik dan bisa dinikmati adalah tulisan yang oleh penulisnya sendiri digarap dengan penuh kesungguhan. Sebagai seorang editor yang telah lama berpengalaman menangani berbagai naskah, Anwar sering lelah melihat naskah-naskah yang tidak serius digarap oleh penulisnya. Masih banyak penulis yang bergantung pada editor untuk meneliti naskah. Penulis yang memprihatinkan, yang membaca naskahnya sendiri tak sempat, atau mungkin malah tak berminat.

Padahal, seorang penulis bertanggung-jawab dalam menghasilkan naskah yang siap baca. Seorang penulis harus jadi orang pertama yang menikmati tulisannya. Anwar mengajak sidang pembaca untuk bukan hanya menulis, tapi mengedit dan memoles tulisan agar tampil lebih indah, bahkan berbobot. Bila kesalahan-kesalahan kecil seperti penggunaan tanda baca atau penyusunan kalimat masih banyak dilakukan di sana-sini, maka seorang penulis sebenarnya masih belum memberikan kemampuan terbaiknya.

Saya mengamati, hal yang cukup memprihatinkan di kalangan penulis pemula adalah penguasaan tata bahasa. Banyak penulis yang tidak tahu membedakan kata depan dan awalan, menggunakan tanda baca, membuat kalimat langsung, dan lain sebagainya. Kita akan melihat sedikit tentang hal ini.

a. Penggunaan kata depan dan awalan

Penulisan “di rumah” tak jarang menjadi salah tulis menjadi “dirumah”. Penulisan “diabaikan” juga salah tulis, menjadi “di abaikan”.

Masih banyak contoh kasus lainnya. Pada intinya, awalan selalu digabung. Kata depan digunakan terpisah, seringkali digunakan sebelum kata tempat, contoh: “di sana”, “di situ”, “di mana”, dsb.

Ada juga kata yang perlu lebih teliti sebab bisa ditulis secara dipisah dan digabung, contoh: “disalib” dan “di salib”; atau “dibalik” dan “di balik”. Nah, penggunaan keempat kata itu jangan sampai salah. Contoh penggunaan yang benar:

Saat digoreng, telur dadar itu dibalik supaya bagian sebelahnya matang.

Ada hal-hal yang masih mengganjal di balik semua peristiwa kematian itu.

b. Penggunaan tanda baca (koma)

Salah satu tanda baca yang sering salah tulis adalah koma. Perhatikan dua kalimat berikut:

1. “Penjahat itu sudah dipenjara Ibu Ani,” kata Rina.

2. “Penjahat itu sudah dipenjara, Ibu Ani,” kata Rina.

Di kalimat ke-1, kita dapat mengartikan bahwa Rina sedang menyatakan bahwa Ibu Ani memenjarakan seorang penjahat. Di kalimat ke-2, kita dapat mengartikan bahwa Rina tengah berkata kepada Ibu Ani bahwa seorang penjahat telah dipenjara. Nah, akan lain lagi artinya kalau kalimat itu ditulis demikian oleh orang yang tidak tahu membedakan kata depan dan awalan:

“Penjahat itu sudah di penjara Ibu Ani,” kata Rina.

Di kalimat itu, bisa diartikan Ibu Ani memiliki penjara untuk para penjahat.

c. Membuat kalimat langsung

Kalimat langsung digunakan dalam dialog. Kesalahan yang paling sering saya temui adalah percakapan dua orang atau lebih yang ada di paragraf yang sama. Saat terjadi pergantian orang bicara, berganti pula paragraf di dalam teks.

Penggunaan tanda baca kutip, koma, dan titik juga seringkali salah. Perhatikan contoh kesalahan kecil di bawah ini:

Ibu berkata, “Saya tidak akan ke pasar hari ini”.

Kalimat di atas salah, yang benar:

Ibu berkata, “Saya tidak akan ke pasar hari ini.”

Bisa juga kalimat itu diubah menjadi demikian: “Saya tidak akan ke pasar hari ini,” kata Ibu.

d. Beberapa tambahan seputar editorial

Beberapa penerbit dan kalangan memiliki penggunaan bahasa yang berbeda. Ini kadang cukup membingungkan karena sampai sekarang masih belum ada kesepakatan yang sama di dalam beberapa hal ini. Saya berikan beberapa contoh:

Kata “mencaritahu” dianggap lebih benar daripada “mencari tahu”.
Kata “mempengaruhi”, “memperhatikan”, atau “mempunyai” seringkali ditulis “memengaruhi”, “memerhatikan”, dan “memunyai”.
Kata “terima kasih” oleh banyak kalangan kini ditulis “terimakasih”.
Kata “orang tua” kini dibedakan dengan “orangtua”. Yang pertama menunjukkan usia yang telah lanjut, yang kedua menunjukkan ayah dan ibu.
Dan masih banyak yang lainnya.

Saran saya dalam hal ini adalah banyak membaca karya yang ditulis dengan baik. Saat membaca, hal-hal demikian hendaknya diperhatikan dengan sebaik-baiknya. Sebagai pengguna bahasa (tulis-menulis), paling tidak itulah yang dilakukan demi menghindari salah tulis.

***

Demikian hal-hal tentang menulis saya sampaikan. Pada akhirnya, semua kembali lagi pada motivasi. Bila Anda memiliki motivasi yang besar, niscaya akan mendisiplinkan diri Anda sendiri untuk menulis. Upaya pendisiplinan awalnya memang berat, namun lama-kelamaan akan menjadi sesuatu yang mengasyikkan.

“No life ever grows great until it is focused, dedicated, and disciplined,” kata Harry Emerson. Mulailah menulis sekarang juga, satu halaman sehari juga tidak apa-apa. Mulailah membuat cerita, opini, atau sekadar curhat. Salam kreatif.

***

Sidoarjo-Malang, Mei 2012

*) Sidik Nugroho, beberapa tulisannya (cerpen, puisi, esai, artikel, dan resensi buku) pernah dimuat di Jawa Pos, Suara Pembaruan, Berita Pagi, Malang Post, Kompas, GFresh!, Aneka Yess!, Sahabat Pena, Sinar Harapan, Koran Tempo, Psikologi Plus, Bhinneka, dan Bahana. Ia juga menjadi penulis di Renungan Malam dan Renungan Blessing pada tahun 2003 hingga 2010. Bukunya yang telah terbit adalah sebuah kumpulan cerpen remaja yang ditulisnya bersama Arie Saptaji berjudul Never be Alone (2005), sebuah novel fantasi berjudul Kisah-kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat (2011), dan 366 Reflections of Life (2012).

Memperhatikan yang Kecil agar Menjadi Hebat

Resensi Buku ini dimuat di Rubrik Perada Koran Jakarta, Kamis, 3 Mei 2012.

“Cinta bisa berbicara meskipun mulut tertutup.” (halaman 44).

Apa manfaat sebutir kacang tanah? Sekilas tampak tiada berarti. Namun, ternyata, hanya dari kulitnya, kacang dapat diracik menjadi plastik, cat, minyak, dan aneka produk lain. Sebelumnya, George Washington Carver harus meneliti anasir pembentuk kacang itu di laboratorium. Ia menemukan ratusan elemen alami dalam benih dan kulit kacang. Tokoh ini menjadi pelopor revolusi agraria di Amerika dengan penemuannya tersebut (halaman 139).

Begitulah salah satu kisah reflektif yang termaktub dalam buku ini. Sidik Nugroho menyampaikan satu fakta unik. Sesuatu yang sekilas dipandang sebelah mata bisa menjadi luar biasa. Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo tersebut mengutip wejangan gitaris favoritnya, Eric Johnson, “The smallest thing makes the hugest difference.” Terjemahan bebasnya, “Kesederhanaan menyimpan potensi menakjubkan.”

Buku 366 Reflections of Life memuat pengalaman pribadi penulis. Saat itu, Sidik akan memberi kado ulang tahun ke-57 untuk ayahnya. Ia mencari buku rohani di sebuah toko buku. Setelah menemukan yang dirasa sesuai, Sidik membeli kertas kado. Tapi, dia justru memilih pembungkus yang paling murah, tanpa memperhatikan motifnya.

Sesampai di rumah, dia baru menyadari bahwa kertas kado tersebut bergambar para tokoh Meteor Garden seperti Dao Ming Tse. Untung, dia masih menyimpan beberapa kertas kado lain di kamar yang dulu ia beli untuk wanita idaman yang ingin direbut hatinya. Saat itu, Sidik begitu teliti memilih motif dan warnanya agar pas.

Bagi seseorang yang telah membesarkan dengan keringat dan kerja keras, Sidik merasa lupa mempersembahkan yang terbaik. Ini memang terlihat sepele, hanya masalah kertas kado. Namun, lewat kisah di atas, Sidik Nugroho mengingatkan diri sendiri bahwa momen penting-ulang tahun seorang bapak-sepantasnya disikapi dengan lebih cermat. Sebagai bentuk apresiasi kepadanya (halaman 198).

Sebagai seorang pendidik, Sidik banyak berinteraksi dengan para murid di kelas. Keseharian pembelajaran itu menjadi sumber inspirasinya. Ia bersepakat dengan pendapat seorang teman, “Menjadi guru anak-anak kecil membuat tidak stres karena melihat kepolosan dan kelucuan apa adanya, tidak dibuat-buat.” Tan Malaka pernah mengucapkan bahwa mendidik anak usia dini adalah pekerjaan paling mulia.

Suatu hari, saat mengajar, Sidik berjanji memberi beberapa bungkus cokelat untuk para murid yang menghargai temannya yang bernyanyi di depan. Inisiatif ini dipilih karena mereka kerap gaduh setiap ada teman yang maju. Hasilnya, kelas yang biasanya seperti pasar tumpah mendadak sunyi. Akhirnya, semua siswa makan cokelat bersama-sama (halaman 111).

Dalam pandangannya, ancaman, sanksi, atau hukuman tidak efektif untuk menanamkan perilaku baik pada diri anak. Para guru dan orang tua menghukum karena lelah menghadapi “keliaran” anak. Padahal, bila mereka mau sedikit kreatif, metode pemberian hadiah dan pujian justru lebih ampuh. Ini senada dengan ungkapan, “Nilai suatu pemberian harus dilihat maksudnya, bukan harga atau kemewahannya.”

Buku ini juga mengungkap pentingnya keluasan suatu visi. Analoginya menarik sekali. Jangan saklek menjawab pertanyaan karena harus dapat menjelaskan lebih menarik.

Sidik mengutip pendapat P Korter, “Visi adalah gambaran realitas akan masa depan yang logis dan menarik.” Tingkat kelogisan dan keunikan sebuah visi berbanding lurus dengan keterlibatan banyak orang dalam mewujudkannya (halaman 175). Seseorang yang piawai menjelaskan hal-hal menarik dalam suatu perjalanan, misalnya, dari Yogyakarta-Jakarta, dia berpotensi menjadi pemandu wisata jempolan.

Buku setebal 384 halaman ini memang lebih bernuansa rohani. Pembaca perlu meluangkan waktu sejenak di tengah rutinitas hidup, misalnya, pagi hari, setelah jeda makan siang, ataupun malam hari menjelang tidur. Dalam kata pengantar, Sidik Nugroho mengakui mayoritas renungan ini lahir justru ketika dia tak berencana untuk menulis. Ia sekadar ingin berbagi hasil pengamatan, pendengaran, pembacaan, tontonan, dan perasaan.

Ditulis oleh Nugroho Angkasa, guru bahasa Inggris di PKBM Angon (sekolah alam), tinggal di Yogyakarta

Judul: 366 Reflections of Life, Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati
Penulis: Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita G.
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Cetakan: 1/Februari 2012
Tebal: x 384 halaman
ISBN: 979-978-074-893-0