Monthly Archives: August 2012

Pekerjaan, Pelayanan, dan Pengabdian kepada Allah

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
~ Lukas 1:38 ~

Hingga kini saya masih terkesan dengan khotbah yang disampaikan Pendeta Yehezkiel Wilan, gembala sidang GBI El Shaddai Kota Baru, Pontianak, pada hari Minggu, 12 Agustus 2012 lalu. “Satu hal yang sering meresahkan saya adalah julukan hamba Tuhan. Kita semua hamba Tuhan, bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja,” demikian kurang lebih ia menegaskan tentang jati diri umat Tuhan.

Hanya karena seseorang berstatus hamba Tuhan, tanpa disadari orang-orang menetapkan suatu standar moral yang lebih tinggi kepadanya. Di mata sebagian orang, ia menjadi “lebih tinggi”. Dan, kita pun tidak akan pernah maukah pergi ke gereja yang hamba Tuhan atau gembala sidangnya merampok, membunuh, atau berzinah. Tapi, selama ini mungkin kita terlalu mempersoalkan rekan bisnis yang suka mencuri atau berzinah, misalnya.

Padahal, tiap orang percaya adalah hamba Tuhan. Dan, pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang kudus, yang darinya Tuhan mempercayakan berkat untuk dibagikan kepada keluarga dan sesama. Pekerjaan yang kudus bukan pelayanan gerejawi semata. Inilah yang kadang dilupakan oleh banyak orang Kristen.

Mendengar khotbah itu, saya serta-merta teringat pada sebuah buku. Di dalam bab terakhir buku legendaris A.W. Tozer yang berjudul Mengejar Allah, banyak sekali nilai penting tentang kehidupan yang berkenan kepada Allah. Bab yang berjudul Sakramen Kehidupan ini mungkin telah menjadi sebuah bab acuan bagi banyak pengkhotbah dan pemikir Kristen dewasa ini dalam menjabarkan integrasi yang terjalin antara kehidupan duniawi dengan kehidupan rohani. Di dalam bab ini dengan jelas Tozer memberi penekanan-penekanan penting bahwa segala pekerjaan dan aktivitas yang (tampak) duniawi bukan berarti tidak rohani.

Segala pekerjaan dan aktivitas manusia dapat menjadi sedemikian rohani karena ia melakukannya sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pemberi Hidup. Dan, hakikat hidup manusia adalah bekerja. “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan,” tulis Paulus. Lalu, Paulus menulis lagi: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Dan lagi, di kitab Pengkhotbah tertulis demikian, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”

Lewat pekerjaannya, Tuhan memberkati kehidupan seseorang. Yang perlu diingat, berkat bukan semata-mata soal materi, namun damai sejahtera dan sukacita yang ada di dalam hati manusia. Hal yang sering disalahpahami oleh beberapa kalangan adalah pada saat Tuhan memberkati hidup seseorang, Ia berarti memberikan banyak harta kepada orang itu. Hal ini tidak selalu benar. Memang, banyak ayat firman Tuhan yang memuat janji-janji Tuhan tentang kelimpahan hidup yang bisa dijadikan acuan bahwa berkat Tuhan dapat diartikan sebagai kelimpahan materi. Tapi ingat, Alkitab juga pernah bercerita tentang Yesus yang mengajarkan kepada seorang muda yang kaya untuk menjual seluruh harta miliknya.

Begitulah, karena pengajaran tentang hidup sukses nan berkelimpahan sudah sedemikian sering disampaikan, beberapa kalangan menganggap hidup yang susah atau menderita sebagai kutukan, dan sukses adalah tolok ukur hidup yang dikenan Allah. Padahal tidak demikian. Kesuksesan pun — kalau dipikirkan lagi — tolok ukurnya begitu bervariasi, walau lebih banyak orang yang mengaitkan sukses dengan harta, kemapanan finansial, dan status sosial yang terpandang.

Alkitab menunjukkan banyak sekali kisah tentang orang yang sama sekali tidak sukses di mata manusia namun hidup mereka penuh dengan kemuliaan Allah. Yeremia di Perjanjian Lama hidup penuh penderitaan hingga akhir hayatnya. Di Perjanjian Baru, Paulus, Petrus, dan banyak rasul lainnya hidup dengan keadaan yang amat sederhana, bisa dibilang melarat, bahkan akhirnya menderita sebagai martir.

Dari sinilah mungkin kita memikirkan kembali: apakah tujuan tertinggi dari pekerjaan atau pelayanan kita?

Tozer menulis dengan sangat baik tentang hal ini: “Bukan apa yang dilakukan seorang manusia yang menentukan apakah pekerjaannya kudus atau sekuler, melainkan mengapa ia melakukannya. Motif adalah segala-galanya. Biarlah seorang manusia menguduskan Tuhan Allah dalam hatinya dan setelah itu ia bisa melakukan perbuatan yang tidak biasa.”

Jadi, sebuah pekerjaan yang kudus, pada akhirnya bukan seberapa tampak rohaninya pekerjaan itu, atau seberapa banyak menghasilkan uangnya pekerjaan itu. Pekerjaan yang kudus berbicara tentang hati yang gembira saat bekerja — juga integritas, damai sejahtera, dedikasi, dan totalitas hidup seseorang di dalamnya.

Berapa pun uang yang Anda hasilkan, Anda bisa menikmati hidup. Anda rajin bekerja, tapi tidak lupa bersyukur. Anda hidup penuh visi, target, dan rencana — tapi tidak melupakan firman Tuhan yang menjaga hati dan menguji niat Anda dalam seluruh hal yang Anda rancang dan kerjakan. Apa pun pekerjaan itu, biarlah melaluinya Anda bisa mempersembahkan pengabdian yang terbaik kepada Allah. (*)

Sidik Nugroho

Pontianak, Agustus 2012

 

Advertisements

Perjalanan ke Singkawang, Sambas, dan Sekadau

Oleh: Sidik Nugroho

Saya pindah tanggal 27 Juni 2012 lalu dari Sidoarjo ke Pontianak. Suasana berganti, kehidupan berubah. Dulu, pada tahun 2007-2012 hampir tiap seminggu sekali saya mengendarai sepeda motor dari Sidoarjo ke Malang. Kadangkala saya naik bis karena jalan di Porong sering macet. Pengalaman bersepeda motor bukan hanya saat bekerja di Sidoarjo. Beberapa kali saya bersepeda motor ke beberapa kota di Jawa Timur: Blitar, Ngantang, Mojokerto, dan Kertosono.

Pada liburan Lebaran tahun ini, saya berkesempatan untuk bersepeda motor ke Singkawang, kota yang saya tinggali selama belasan tahun, sejak TK hingga SMP. Dalam perjalanan dari Pontianak ke Singkawang pada hari Selasa, 21 Agustus 2012, saya sempat singgah ke pantai Pasir Panjang. Dulu pengelolanya hanya satu. Sekarang, kalau tidak salah sudah dipecah dan dikelola oleh empat orang yang berbeda. Pantai ini, seperti namanya, memang panjang. Setelah dikelola oleh lebih dari satu orang, pantai ini cukup banyak berubah. Dulu cuma ada losmen, kolam renang, dan warung-warung di sepanjang pantai. Sekarang pantai ini sudah digarap lebih baik. Ada taman-taman lebih banyak, permainan seperti Banana Boat, dan lain-lain.

Saya tidak lama singgah di pantai ini, sekitar setengah jam, karena ingin segera mengunjungi teman-teman saya waktu SMP. Menjelang sore, saya sampai di Singkawang. Saya dan beberapa teman bersilaturahmi ke kawan-kawan kami. Malamnya, kami nongkrong dengan gembira di Pasar Hongkong. Kami nongkrong tidak sampai tengah malam. Beberapa orang tampak lelah dan sudah mengantuk.

***

Keesokan harinya, pagi-pagi, saya berkeliling kota Singkawang sendirian. Saya melihat-lihat beberapa tempat yang sering saya kunjungi waktu kecil dulu: SD, gereja, Taman Burung, dan beberapa tempat lain. Pagi itu saya hendak berkunjung ke rumah seorang kawan, tapi dia sedang tidak ada di rumah. Saya pun menancap gas ke Pemangkat. Perjalanan dari Singkawang membutuhkan waktu kurang dari satu jam; jarak Singkawang-Pemangkat sekitar 30 km. Dalam perjalanan itu saya sempat memfoto sebuah klenteng yang bagus. Klenteng itu ada di Sebangkau, di ujung sungai yang melintas di tengah jalan. Kemudian, saya menuju ke warung di pantai di tepi jalan yang pemandangannya lumayan bagus.

Di Pemangkat ada Tanjung Batu, tempat wisata di tepi pantai. Tempat wisata ini tidak banyak perubahan sejak saya kunjungi belasan tahun silam, tahun 1996. Di pintu gerbang masuk seorang wanita duduk, pengunjung yang masuk ke dalam tempat wisata dimintanya membayar uang Rp3000 tapi karcis masuknya tidak ada. Saya masuk ke dalam. Sayang sekali, tempat wisata ini kurang diperhatikan dengan baik.

Saya meninggalkan Tanjung Batu, nongkrong di sebuah warung di tepi pantai. Di sana saya bertemu dengan dua orang bersaudara yang sedang menunggu saudara mereka dari Pontianak. Mereka berdua berasal dari Sekura, kota kecil di bagian utara Kalimantan Barat. Dari Sekura, perbatasan Indonesia-Malaysia cukup dekat, 2-3 jam sampai.

Mereka berdua memberi saran kepada saya agar melanjutkan perjalanan ke Sambas. “Sekarang lagi ramai-ramainya, Mas. Mampirlah ke sana. Kalau ke sana jangan lupa wudhu dari air kolam yang ada di dekat kraton,” kata salah satu dari mereka. Air kolam yang ada di kraton itu dipercaya memiliki khasiat tertentu oleh banyak orang. Mereka juga bercerita bahwa sultan yang ada di Sambas masih memiliki hubungan darah dengan raja-raja di kerajaan Kutai dan sultan-sultan di Brunei Darussalam.

Saya pun berangkat ke Sambas sekitar jam 1 siang. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam; jarak Pemangkat-Sambas sekitar 45 km. Di sana saya langsung menuju kraton. Siang itu banyak sekali orang yang datang. Mereka umumnya datang dari Singkawang, Pontianak, dan kota-kota lainnya di Kalbar.

Hal yang disayangkan di sini adalah sampah yang berserakan di luar pagar kraton. Tempat sampah masih kurang banyak disediakan di luar kraton. Selain itu, orang-orang yang berjualan juga menyebar di mana-mana — bahkan sampai ada yang berjualan di dekat kraton, di dalam pagar. Di depan kraton ada sampan-sampan yang disediakan untuk pengunjung kraton yang mau berkeliling di sungai depan kraton. Saya berada di kraton ini sekitar satu jam. Beberapa bangunan kraton yang memajang benda-benda pusaka dan warisan leluhur dipadati pengunjung. Tidak banyak informasi seputar sejarah kraton ini yang saya gali karena terlalu banyak orang yang berkunjung di sana. Saya sempat mampir ke salah satu makam sultan Sambas, yakni Sultan Mohammad Tsafioedin II.

 Saya pulang dari Sambas sekitar jam 3 sore. Saya sampai di Singkawang sekitar pukul 16.30. Saya pun berpikir, ini waktu yang pas untuk menunggu sunset di pantai Pasir Panjang. Namun sayang, sunset kali ini kurang sempurna. Hingga terbenam, matahari berada di balik awan terus.

Namun, menyaksikan pendar jingga di langit berteman segelas kopi sambil menunggu angkasa beranjak gelap, adalah hal yang menyenangkan.

Saat malam tiba, saya pun kembali ke Singkawang. Malam ini, bersama teman-teman SMP, saya bersilaturahmi lagi ke beberapa kawan lama. Sekitar jam 11 malam kami bernyanyi-nyanyi dengan gembira di sebuah ruang karaoke hotel Dangau, sampai hampir jam 1 malam. Setelah berkaraoke, kami masih melanjutkan pertemuan di warung kopi sampai jam 2 malam.

***

Tanggal 23 Agustus 2012, pagi hari, saya kembali ke Pontianak. Malamnya saya berangkat lagi ke Sekadau. Kali ini saya tidak bersepeda motor, tapi menggunakan jasa taksi yang dimiliki kedua saudara saya.

Selama di Sekadau, saya ke sebuah tempat yang bernama Batu Tinggi atau Batu Muncul pada tanggal 24 Agustus 2012. Batu itu muncul di permukaan air sungai, terbentang hampir di sepanjang kedua tepi sungai yang lebarnya sekitar 60 hingga 70 meter. Batu ini hanya muncul saat kemarau tiba. “Hampir setiap tahun di sini ada korban, Mas,” kata salah seorang yang berkunjung di situ kepada saya. Menurut cerita beberapa orang, tempat ini dulu dianggap keramat. Ada beberapa orang yang pernah hanyut di sini.

Kemudian, pada tanggal 25 Agustus 2012 saya memancing ikan bersama adik saya dan teman-temannya di daerah Berona, di sungai Sekadau. Hampir tiga jam memancing, kami tidak mendapatkan satu ikan pun. Ada satu ikan yang hampir didapatkan, tapi lepas saat ditarik.

Karena merasa belum puas, keesokan harinya kami memancing lagi di sungai Kapuas. Kali ini kami menggunakan perahu motor untuk memancing. Saya sangat terhibur dengan pemandangan yang ada di sepanjang sungai Kapuas yang kami lewati. Sungai ini sangat lebar — ada yang lebarnya mencapai 700 meter. Kami memancing ikan di beberapa tempat di tepi sungai yang berbatu-batu. Sayang, kali ini pun kami belum beruntung. Selama hampir 5 jam memancing, kami hanya mendapatkan satu ikan kecil, namanya ikan juara. Tapi, bagaimana pun juga, pengalaman menyusuri sungai dengan perahu motor adalah hal yang menyenangkan.

Tanggal 26 Agustus 2012, malam hari, saya pun kembali ke Pontianak. Liburan sudah berakhir. Saya sungguh bersyukur dapat mengunjungi semua tempat yang saya sebut di atas, terutama pengalaman saya menyusuri sungai Kapuas dengan perahu motor sambil memancing, karena hal itu yang belum pernah saya alami sebelumnya.

Saya sampai di Pontianak pukul 03.00 dinihari tanggal 27 Agustus 2012. Saat mengajar pada pagi hari, saya masih agak mengantuk. (*)

Singkawang-Sekadau-Pontianak, 24-27 Agustus 2012

Foto-foto lebih lengkap ada di sini (Facebook saya): Foto-foto Perjalanan

Juan Gordillo dan Bruce Wayne

Juan Manuel Sanchez Gordillo adalah walikota dari Marinaleda, Provinsi Andalusia, selatan Spanyol. Namanya tengah diperbincangkan berbagai media karena tindakannya yang heroik. Awal bulan lalu ia memerintahkan rakyatnya tidak membayar tagihan ke bank. Hari ini, Kamis, ia mengerahkan beberapa rakyatnya menjarah dua toko swalayan terbesar di Marinaleda. Hasil jarahan berhasil dibagikan kepada rakyat yang paling miskin. Rakyat Spanyol sekarang banyak yang jadi pengangguran dan mengalami krisis ekonomi.

Membaca berita itu saya jadi teringat film The Dark Knight Rises (TDKR) yang sempat saya tonton tiga kali. Dalam film itu Batman menjadi superhero yang tidak diketahui siapa jati dirinya. Bahkan, di film Batman yang sebelumnya, Batman Begins, ia menampilkan dirinya sebagai orang yang urakan di sebuah acara. Gayanya flamboyan, ditemani dua gadis seksi. Bruce Wayne, sang Batman, selalu menyembunyikan identitasnya.

Dalam TDKR, Batman berkata bahwa semua orang bisa menjadi Batman. Gordillo memilih tampil tak bertopeng, sementara Bruce memilih tampil misterius. Saya lebih menyukai pilihan Bruce untuk selalu tampil misterius — semua nait baik dan semangat juangnya ia sembunyikan. Namun, saya pun belajar memahami mengapa Juan Gordillo tak bisa bertindak sembunyi-sembunyi — ini bukan kisah superhero, Bung!

Pada akhirnya, kepahlawanan seseorang akan diuji dengan publisitas. Pro dan kontra akan muncul. Bruce Wayne meninggalkan jubah kepahlawanannya, mendirikan panti asuhan, dan hidup sederhana. Ia lebih memilih untuk tak dikenang sebagai Batman. Apa yang nantinya terjadi dengan Juan Gordillo? Entahlah. Saya hanya teringat kepada Ralph Waldo Emerson yang suatu ketika pernah menulis, “Semua pahlawan akan membosankan pada akhirnya.”

~ Sidik Nugroho

Dedikasi Guru-guru bagi Anak-anak Cacat

Pada tanggal 5 November 2011 saya berkunjung ke SLB (Sekolah Luar Biasa) Bhakti Luhur. Istilah SLB ternyata sudah diganti dengan SABK (Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus). Hari masih pagi, sekitar pukul delapan. Di hari ini kegiatan pembelajaran tidak sepadat pada hari Senin hingga Jumat, sehingga saya berkesempatan berbincang-bincang dengan beberapa guru dan melihat-lihat kegiatan pembelajaran di SABK ini. Seminggu yang lalu, 29 Oktober 2011, sebenarnya saya sudah berkunjung ke sini, namun hanya sebentar.

Suster Merry, asisten Kepala Sekolah di SABK ini, menemani saya berkeliling ke kelas-kelas, melihat kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Sambil berkeliling dia bercerita kalau pendiri sekolah ini, Romo Yansen, mendirikan sekolah ini karena terilhami perjuangan dan bakti Santo Vincentius, salah satu orang kudus yang dijunjung orang Katolik. Sekolah Bhakti Luhur yang ada di depan Plasa Dieng di Malang ini luas sekali. Di sini ada TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB atau SABK.

***

Guru SABK Bhakti Luhur yang saya ajak bicara pertama kali adalah Ibu Claudia Merry, yang biasa dipanggil Ibu Merry. Ibu Merry berusia 51 tahun. Saat ini dia menjadi guru kelas di kelas tunarungu (bisu-tuli) tingkat TK B. Dia sudah mengajar sejak tahun 1984. “Saya ingin menjadi guru sejak kecil. Bapak saya seorang guru,” katanya kepada saya.

Dia bercerita bahwa mendidik anak-anak bisu-tuli memerlukan kecakapan khusus. Anak-anak tunarungu harus dihadapi lebih sabar dan lebih teliti. Konsentrasi yang diperlukan untuk mendidik seorang anak tunarungu juga tinggi. Belum lagi kalau ada anak yang mogok belajar, dan kadang bertingkah semaunya.

Selama mendidik anak tunarungu, Ibu Merry memiliki banyak pengalaman yang mengesankan. Salah satunya adalah ketika ia mendapat seorang murid bernama Jorei. Waktu pertama kali Jorei masuk sekolah, dia sama sekali tidak mau belajar. Hampir setiap hari dia hanya tidur pagi sampai siang. Susah untuk membangkitkan semangat belajarnya. Namun, Ibu Merry pantang menyerah. Salah satu cara yang ditempuh Ibu Merry adalah dengan menyalakan lampu seterang-terangnya saat belajar. Karena, dalam keadaan gelap, si Jorei akan mudah mengantuk. Cara lain adalah dengan membuat banyak alat peraga yang merangsang anak untuk belajar. Karena anak-anak di sini konsentrasi belajarnya tidak seperti anak normal.

Jorei yang bisu, tuli, dan low vision (berkemampuan melihat rendah) pada akhirnya berhasil digerakkan motivasi belajarnya. Jorei sangat menyayangi Ibu Merry. Suatu ketika Ibu Merry sakit, dan harus dioperasi kista-nya di rumah sakit. Hampir sebulan Jorei tidak bertemu dengan guru kesayangannya itu. Begitu mereka bertemu, Jorei memeluk Ibu Merry.

“Menjadi guru di sini adalah bentuk pengabdian dan pelayanan saya, Mas,” katanya kepada saya. Ibu Merry bercerita kalau murid-murid yang ada di SABK ini tidak sedikit yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. “Bahkan ada yang dulunya di jalanan, kemudian dibawa ke sini, Mas. Dengan latar belakang seperti itu, saya otomatis tidak terlalu memikirkan gaji. Menjadi pengajar sudah menjadi semacam panggilan.”

***

Guru kedua yang saya temui adalah Ibu Yustina Rini, yang sering dipanggil Ibu Yustina. Ia sudah berusia 39 tahun, mengajar di sini sejak 1993. Ibu Yustina menjadi wali kelas D3 (Dasar tingkat 3).

Hal yang membuat Ibu Yustina tergerak menjadi guru SLB sungguh menarik.

Keluarga Ibu Yustina tidak ada seorang pun yang menjadi guru. Suatu hari — saat itu ia masih SMA — ia tertarik dengan kehidupan seorang anak di desanya, desa Gampang Lor, Ambar Ketawang, Yogyakarta. Anak ini tunarungu, dan ia tidak bisa belajar seperti anak-anak lainnya. Orang tua anak itu bekerja sebagai tukang bengkel.

Ibu Yustina mencoba mengajari anak ini semampunya, lalu anak itu masuk ke sebuah SLB. Setelah tamat SMA, Ibu Yustina bertekad mengajari anak-anak tunarungu sebanyak-banyaknya. Orang tua dan keluarganya sempat menyarankan ia mengambil pendidikan yang umum saja, untuk anak-anak normal. Namun, Ibu Yustina bersikeras. “Saya rasa sudah banyak orang yang mendidik anak normal,” katanya, “dan masih sedikit yang mau mendidik anak-anak tunarungu.”

Ia pun masuk ke SPGLB (Sekolah Pendidikan Guru Luar Biasa) di Wates, Yogyakarta. Mejelang lulus, ada tawaran untuk mengajar di Malang. Di sinilah ia sekarang berada, bersama dengan anak-anak didiknya. Ia bercerita kalau anak-anak muridnya digolongkan bukan berdasarkan usia, namun kemampuan yang mereka miliki. Ada anak yang sudah berusia 15 tahun, tapi masih di kelas D3. Hal ini terjadi karena orang tuanya terlambat memasukkan anaknya ke sekolah.

“Sekarang, tetangga saya yang tunarungu itu sudah punya suami, Mas,” katanya kepada saya. “Tiap kali saya pulang ke Yogya, ia selalu menemui dan menyalami saya. Dia sekarang menjadi tukang jahit, dan anaknya sudah dua orang.”

Salah satu pengalaman Ibu Yustina yang amat menggugah adalah ketika ia mendapat seorang murid bernama Diar. Diar memiliki sakit jantung sejak lahir. Berdasarkan pemeriksaan dokter, jantungnya harus dioperasi. Orang tua Diar membawanya ke rumah sakit Harapan Kita, Jakarta. Ibu Yustina terkesan dengan semangat belajar Diar. Di rumah sakit pun, Diar tetap bersemangat belajar. Ibu Yustina sampai pergi ke Jakarta juga untuk menemani dan membimbing Diar belajar.

Operasi Diar berjalan dengan baik, sekarang ia sudah duduk di kelas D6 (Dasar tingkat 6). “Salah satu tantangan yang terbesar mendidik anak-anak di sini adalah membiasakan mereka berbahasa oral (lewat mulut). Oleh karena itu saya membatasi penggunaan bahasa isyarat,” kata Bu Yustina. Ia memperkenalkan huruf-huruf kepada mereka, dan mengajak mereka melihat gerakan bibirnya saat mengucapkan huruf-huruf itu.

***

Setelah berbincang-bincang dengan dua guru di kelas tunarungu tadi, saya diajak Suster Merry bertemu dengan Ibu Lusiana (Ibu Lusi) dan Ibu Ana Tri Astuti (Ibu Ana). Ibu Lusi berusia 43 tahun, sudah menjadi guru sejak tahun 1992. Ibu Ana berusia 38 tahun dan sudah menjadi guru sejak 1995. Mereka berdua adalah guru di kelas tunagrahita.

“Pada intinya, anak-anak tunagrahita adalah anak-anak yang slow learner,” kata Ibu Lusi. “IQ mereka umumnya di bawah 80.”

Anak-anak tunagrahita ada yang menggunakan kursi roda sepanjang waktu. Ada yang berjalan lambat dan tertatih-tatih. Ada juga yang raut wajahnya unik. Beberapa anak di sini juga ada yang tergolong down syndrome. Tak sedikit anak-anak tunagrahita yang susah diatur, sangat nakal. “Mengajari mereka sangat memerlukan ketelatenan. Apa yang diajarkan harus sering diulang-ulang,” kata Ibu Ana.

Ibu Lusi dan Ibu Ana sama-sama menegaskan kalau mengajari anak-anak tunagrahita harus kreatif dan inovatif. Anak-anak normal mungkin betah bila diberi ceramah 15-20 menit, namun tidak demikian dengan anak-anak ini. “Tantangannya terutama dalam menciptakan alat peraga yang menarik sehingga anak-anak ini bisa diajak berpikir,” kata Ibu Ana.

Sama seperti Ibu Lusi, Ibu Ana juga menyatakan dia selalu memikirkan cara agar target pembelajaran tercapai. “Kadang, bila suatu materi susah dipahami, saya selalu memikirkan alat peraga apa yang pas dipakai untuk anak-anak. Kadang, sampai rumah pun masih terus saya pikirkan.”

***

Hari semakin siang. Saya sangat senang dengan apa yang saya temui dan alami hari ini. Suster Merry yang menemani saya akan pergi ke Blitar, ke sebuah desa kecil untuk melakukan tugas-tugas pelayanan edukasi dan gerejawi. Saya menyempatkan diri mengambil foto-foto di SABK Bhakti Luhur. Kira-kira jam sebelas siang, saya meninggalkan sekolah ini.

Selalu ada sisi menarik dari dunia pendidikan, selalu ada suka-duka di dalamnya. Para guru selalu memiliki kisah yang inspiratif saat mendidik dan mengajar para muridnya. Begitu pula para murid dalam menempuh pendidikan — selalu ada murid yang semangat hidup dan kegigihannya menginspirasi banyak orang. Para guru dan murid ini hidup melampaui batas-batas penghalang, berupaya menempuh pendidikan karena keyakinan akan adanya hari depan yang lebih baik. (*)

Nenek, Kue-kue, dan Cucunya

Hingga sekarang, saya selalu bersyukur bisa hadir dalam pertemuan family altar (ibadah keluarga) di rumah bapak Johnny, seorang aktivis di Gereja Bethel Indonesia El Shaddai, Pontianak pada Jumat lalu, 3 Agustus 2012. Ini kali pertama saya ikut ibadah keluarga di Pontianak setelah ampir dua bulan saya ada di sini.

Pada kesempatan itu, seorang bapak yang turut hadir, bernama Pak Ricky, membawa beberapa kue untuk kami santap setelah ibadah. Dia membawa dua jenis kue: bakpau dan pastel.

Bakpau itu ada yang berisi kacang tanah, ada juga yang berisi bengkuang. Pastelnya ada yang berisi bengkuang, ada yang berisi bihun. Pak Ricky membawa makanan itu untuk mensyukuri seorang anaknya yang diterima di SMA 3 Pontianak dan seorang anaknya yang naik kelas 4 SD. Kami semua bersukacita bersama keluarga Pak Ricky yang tengah gembira. Kami yang ada di situ juga sangat menyukai bakpau dan pastel yang dibawanya.

Bakpau dan pastel yang dibawa Pak Ricky rasanya sangat enak. Saya paling suka dengan bakpau dan pastel yang berisi bengkuang. Kedua kue itu bila dimakan dengan sambal cair, rasanya benar-benar maknyus.

Dan, kami semua terheran-heran, bakpau dan pastel yang enak-enak itu, semuanya dijual dengan harga yang murah — per buah Rp500,00 saja.

Cerita pun berlanjut tentang siapa yang membuat bakpau dan pastel itu. Pak Ricky bercerita bahwa bakpau dan pastel itu dibuat oleh seorang nenek yang usianya sudah sangat lanjut, 70 tahun lebih. “Tiap hari dia selalu bangun saat hari masih gelap, menyiapkan semua dagangannya yang dijual door to door,” kata Pak Ricky.

Pak Ricky kemudian bercerita kalau nenek itu menjual dagangannya door to door karena menghindari persaingan dengan sesama pembuat dan penjaja kue. “Kalau kue-kue ini dititipkan di warung, kue-kue lain yang juga dititipkan tentu akan kalah saing. Kue buatan nenek ini harganya murah, rasanya enak. Nah, nenek itu sadar akan kelebihannya, dia pun mencari cara lain, menjualnya door to door,” kata Pak Ricky.

Pak Ricky mengisahkan kalau nenek tua ini, walaupun badannya sudah ringkih, tetap tampak penuh semangat ketika menjajakan kue-kuenya. Ia tampak penuh sukacita dan pengharapan. Ia dikasihani karena usianya yang renta, tapi sekaligus sangat dihormati karena kue-kuenya yang enak.

Tiap hari sang nenek membawa dua keranjang — masing-masing di tangan kanan dan kirinya — menjajakan dagangannya kepada para tetangga dan langganan. Ada beberapa langganannya yang sangat menyukai kue-kue itu. Bila bertemu dengan nenek ini, mereka akan membeli banyak kue.

Perjuangan nenek ini yang hingga sekarang selalu gigih membuat dan memasarkan kue-kue itu, ternyata sangat menggugah.

Beberapa tahun yang lalu, anaknya melahirkan seorang bayi dari hasil percintaannya dengan seorang pria. Namun, pria itu meninggalkan kekasihnya tak lama setelah bayi mereka lahir. Ibu si bayi mendapatkan kekasih lain yang kemudian menjadi suaminya.

Saat bayi itu masih berusia lima bulan, ibu bayi itu memutuskan untuk ke Taiwan, mengikuti suaminya. Si bayi tidak diajak turut serta, ditinggal bersama sang nenek. Sejak ia berusia lima bulan, hingga sekarang sudah kelas 3 SMP, si nenek itulah yang merawatnya. Nenek itu membesarkannya dan menyekolahkannya dengan uang yang didapatkannya dari menjual kue-kue itu.

Saya tidak tahu apakah ibu si bayi sudah mulai memberikan bantuan dana kepada si nenek untuk menyekolahkan anaknya. (Pada kesempatan lain saya akan mencaritahu tentang hal ini.) Yang jelas, ibunya belum pernah pulang sejak ia meninggalkan sang nenek dan anaknya yang masih berusia 5 bulan. Dan, nenek ini bukanlah orang yang kaya — ia dikenal hidup sederhana oleh orang-orang di sekitarnya dan Pak Ricky.

Merenungkan perjuangan kehidupan sang nenek, saya jadi teringat sebuah pernyataan C.S. Lewis, seorang penulis. Ia pernah menyatakan hal ini: “Engkau tidak akan pernah tahu seberapa besar kepercayaanmu mengenai sesuatu hal sampai hal itu menjadi masalah antara hidup dan mati.” Nah, membuat kue-kue yang enak mungkin hanya hal sepele bagi sebagian orang — mungkin sebuah pekerjaan sambilan.

Tapi, ada kalanya kue-kue yang enak lahir dari sebuah pergulatan — antara hidup dan mati. (*)

Pontianak, 6-7 Agustus 2012

Himne Guru: Inspirasi dari Guru yang Ketiban Sial

Hari masih pagi, belum pukul 07.00. Suasana tahun baru masih terasa di beberapa bagian kota Surabaya. Pagi itu, Sabtu, tanggal 14 Januari 2012, terminal bis Bungurasih di Surabaya tidak begitu ramai. Saya santai sejenak di warung kopi sebelum menumpang sebuah bis Sumber Kencono yang hendak menuju ke Madiun.

Kepergian saya ke Madiun adalah untuk menemui Pak Sartono, pencipta lagu Pahlawan tanpa Tanda Jasa yang lebih dikenal sebagai himne guru. Sebelum hari itu, kami pernah bertemu dalam sebuah acara. Ibu Tiwi, pendamping Pak Sartono, yang juga adalah adik iparnya, mengisahkan masa lalu Pak Sartono sebagai guru. Pak Sartono kini sudah sering tidak fokus dalam berbicara — kadang omongannya melantur atau diulang-ulang.

Ibu Tiwi menyatakan, “Tiga puluh tahun lagu himne guru diciptakan, namun baru akhir-akhir ini Pak Sartono mendapat perhatian dari banyak pihak. Pak Sartono semakin sering diundang ke sana kemari, menjadi narasumber untuk berbagai acara pendidikan. Namun, beliau ini tidak bisa berbicara dengan lancar karena faktor usia. Oleh karena itu, saya sering mendampingi beliau.”

***

Perjalanan saya ke Madiun cukup lancar dari Surabaya — hampir 6 jam. Saya sampai di terminal Madiun tengah hari. Di sana saya bertemu dengan tukang ojek yang bernama Suprapto, yang biasa dipanggil Pak Prapto. Saya mengajaknya berbincang-bincang mengenai kota Madiun. Saya kemudian menjelaskan kedatangan saya, mau bertemu dengan Pak Sartono, pencipta himne guru.

“Saya kelihatannya pernah tahu tentang beliau, Mas, tapi agak lupa,” kata Pak Prapto ketika saya bertanya kepadanya mengenal Pak Sartono atau tidak.

Saya pun dibawa ke alamat Pak Sartono, di jalan Halmahera No. 98. Rumah Pak Sartono berada di ujung jalan itu, tak jauh dari pemakaman umum. Rumahnya sederhana, usianya sudah puluhan tahun. Rumah itu warisan dari orangtua Pak Sartono. Saya disambut ramah oleh Pak Sartono, istrinya, dan Ibu Tiwi. Ibu Tiwi telah menyiapkan rujak dan es tape untuk saya.

Image
Saya seperti berada di tengah-tengah orang yang sudah lama saya kenal. Saya tak merasa asing. Saya mengajak Ibu Tiwi dan Ibu Damiati berbincang-bincang. Pak Sartono duduk di sebuah kursi, mendengarkan apa yang kami bicarakan. Pak Sartono selalu tersenyum, sekali-sekali ia mengangguk-angguk. Ibu Damiati sangat senang dengan kunjungan saya. Ia mengisahkan banyak cerita tentang Pak Sartono dan dirinya sendiri. Saya berada di rumah itu hampir tiga jam.

Ibu Damiati dan Ibu Tiwi juga menunjukkan foto-foto keluarga Pak Sartono pada masa lalu. Beberapa penghargaan yang diterima oleh Pak Sartono, naskah asli lagu himne guru, beberapa kenangan dan cinderamata, dan beberapa foto lainnya dipajang di ruang tamu itu. Suasana siang itu di Madiun sangat menyenangkan untuk sebuah pembicaraan.

Sambil menikmati rujak yang disuguhkan, saya berbincang-bincang dengan Ibu Damiati dan Ibu Tiwi. Cuaca sedang panas pada kunjungan pertama ini. Pada siang itu, berbagai peristiwa dan kenangan masa lalu dikisahkan kembali oleh Ibu Damiati kepada saya. Beberapa foto Pak Sartono dan Ibu Damiati juga ditunjukkan kepada saya.

***

Pada waktu remaja dan sekolah Pak Sartono mendirikan grup musik bersama teman-temannya. Lagu-lagu yang sering mereka nyanyikan adalah keroncong. Sartono sering memainkan gitar di dalam grup keroncongnya.

Masa-masa sekolah berlalu, Sartono kemudian bekerja di Lokananta, sebuah perusahaan rekaman musik, pembuat piringan hitam. Dari situ minat dan kecintaannya terhadap musik kian bertumbuh. Grup band yang ia dirikan bersama teman-temannya suatu ketika mendapat tugas dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) karena Sartono dimasukkan dalam korps musik TNI. Tugas tersebut adalah menghibur para tentara yang akan berangkat perang di Irian Barat.

Tugas itu diberikan kepada Sartono dan grup musiknya pada tahun 1963. Saat itu, bangsa Indonesia tengah berjuang membebaskan Irian bagian barat yang diklaim oleh Belanda sebagai miliknya. Presiden Soekarno, dua tahun sebelumnya, tepatnya pada 19 Desember 1961, mencetuskan Operasi Trikora yang bertujuan untuk merebut kembali wilayah tersebut.

Selama tiga bulan Sartono ada di Irian, menghibur para tentara yang akan melaksanakan tugas negara. Ia kembali lagi ke Madiun setelah tugas itu. Saat kembali ke Madiun, harapannya untuk mendapat kesempatan bekerja sebagai TNI atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak kesampaian. Beberapa temannya yang ikut dalam korps musik di TNI diangkat menjadi TNI, namun ia tidak.

“Pak Sartono tidak diangkat karena dia tidak punya koneksi, Mas. Orang yang tidak punya koneksi pada zaman dahulu susah untuk menjadi TNI atau PNS,” kata Damiati, istrinya. Sartono tetap bermain musik bersama teman-temannya untuk mencari nafkah. Ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun.

“Pak Sartono pernah kerja di bioskop, mengurusi bagian reklame bioskop. Ia juga pernah juga bekerja di PT. Mitrako di Magetan. Waktu kerja di Mitrako, kesejahteraan cukup baik. Perusahaan itu milik orang-orang Tionghoa. Di sana Pak Sartono bisa makan enak,” kata Damiati.

Saat bekerja di Mitrako, Sartono juga terus menekuni musik. Ia mahir memainkan kulintang, saksofon, dan gitar. Ia sempat menciptakan beberapa lagu, memberi les musik kepada beberapa orang. Ia kadang juga menjadi juri kalau ada lomba menyanyi, paduan suara, atau musik. Saat-saat inilah ia bertemu dengan Damiati. Sartono bermain musik, Damiati bernyanyi — mereka sering tampil sepanggung. Rasa saling menyukai pun tumbuh di antara keduanya. Sartono dan Damiati menikah pada tahun 1971.

Dengan modal kemampuan bermusiknya itu, Sartono berhasil mendapat pekerjaan mengajar di SMP Purna Karya Bhakti, yang lebih dikenal dengan nama SMP Katolik Santo Bernardus. Ia mengajar tiga kali seminggu. Sartono mengajar musik, juga vokal atau paduan suara. Ia bisa bekerja di sana karena Damiati, istri Sartono yang beragama Katolik, mengenal dengan baik salah satu suster di situ. “Saya dulu waktu sekolah tinggal di asrama. Nah, kebetulan saya kenal dengan salah satu suster. Suster itulah yang meminta Pak Sartono untuk mengajar di sekolah itu. Walaupun Pak Sartono beragama Islam, tidak masalah. Sartono pun mulai resmi mengajar di sekolah itu pada tanggal 1 Januari 1978,” kata Damiati.

Sambil mengajar di SMP Santo Bernardus, Sartono juga mengajar anak-anak TK Perhutani di Nganjuk bermain kulintang. Pada suatu perjalanan ke Nganjuk untuk mengajar, tahun 1980, ia membaca pengumuman lomba menciptakan himne guru di sebuah koran. Ia membaca pengumuman itu di dalam bis: ada sayembara mencipta lagu himne guru yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Nasional!

Ia tertarik mengikuti lomba itu. Hadiahnya amat besar di masa itu, Rp750.000. Dalam perjalanan pulang Pak Sartono menggumamkan nada-nada yang nantinya akan ia tuliskan. Di sepanjang perjalanan, bahkan sampai tiba di rumah, ia sama sekali tak mendapat ide untuk menuliskan kata demi kata dalam lagu itu.

Saat menuliskan lagu itu, tenggat waktu yang ditetapkan panitia lomba tinggal dua minggu. Dengan bantuan istrinya, yang mengisahkan kehidupan seorang guru yang dikenal baik oleh mereka berdua, akhirnya lagu itu pun jadi. Penciptaan lagu itu ternyata diilhami oleh seorang rekan guru yang dikenal oleh Pak Sartono bernama Suroyo, atau kerap dipanggil Pak Royo.

Pak Royo suatu ketika mengalami kesusahan ekonomi akibat sebuah musibah yang menimpa keluarganya, hartanya habis dirampok orang. Setelah ketiban sial ia pun mengamen sambil tetap mengajar. Perjuangannya mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup kemudian dituangkan pak Sartono dalam lirik lagu Pahlawan tanpa Tanda Jasa atau himne guru.

Namun, persoalan lain datang. Ketika hendak mengirimkan lagu itu ke Jakarta, Pak Sartono tidak memiliki cukup uang. Pak Sartono pun pergi ke toko yang menerima lungsuran pakaian bekas, menjual pakaiannya. Uangnya dipakai untuk membeli perangko.

Pahlawan tanpa Tanda Jasa akhirnya terpilih menjadi himne guru setelah melalui serangkaian seleksi yang ketat. Pak Sartono mendapat hadiah dan penghargaan. Lagu itu mulai dinyanyikan di sekolah-sekolah di tanah air — dari Sabang sampai Merauke. Himne guru terdengar di segenap penjuru negeri.

Kehidupan Pak Sartono tak serta-merta berubah drastis. Ia tetap menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta di Madiun. Kisah hidup Pak Sartono sarat dengan pengabdian dan kreativitas. Banyak lagu yang ia ciptakan di sela-sela kesibukannya. Istrinya tetap menjadi guru dan seniwati yang giat berkesenian. Pak Sartono berhenti mengajar di SMP Bernardus pada tanggal 30 Juni 2002. Gaji terakhir yang diterima Sartono di situ Rp60.000 sebulan.

“Pak Sartono itu orang yang penurut, tak suka menuntut. Ia nrimo. Tapi, bukan berarti pasrah begitu saja dan menyerah dengan kehidupan yang serba susah di zaman itu,” kata istrinya. Menjelang sore, rumah yang sederhana itu saya tinggalkan. Sepanjang jalan pulang saya merenung, inspirasi apakah yang akan datang di dalam benak saya saat berada di dalam bis? (*)

Sidik Nugroho, guru SMA St. Petrus Pontianak dan penulis lepas.