Lihatlah, Niat Menulis Saja Tidak Cukup

Menulis novel tidaklah semudah yang dibayangkan. Menulis novel adalah sebuah pekerjaan yang menuntut banyak pengetahuan bahasa, seperti penggunaan berbagai tanda baca (kutip, koma, titik, titik tiga, dan sebagainya), penggunaan kalimat naratif, pembedaan kata depan dan awalan, penggunaan dialog dan kalimat langsung, dan lain sebagainya. Itu baru masalah teknis, belum lagi masalah-masalah lainnya yang berkaitan dengan alur, penokohan, latar, dan lain sebagainya.

Beberapa hari yang lalu, saya dikirimi seseorang sebuah tulisannya. Saya tercengang — benar-benar tercengang! — naskah itu sudah digarapnya sebanyak 13 halaman, ketikan satu spasi. Yang membuat saya tercengang adalah: naskah ini sudah cukup panjang, tapi tata bahasanya benar-benar amburadul. Perhatikanlah paragraf pertama tulisan ini, saya salin sesuai aslinya. Di bawahnya, saya memberikan revisi saya untuk paragraf pertama itu.

***

Tulisan Asli:

Di suatu petang , suara anak-anak bermain di halaman gereja Katedral .Sambil menarik napas dan menghadap kearah jendela yang sudah berdebu” fhuuu… “suara yang ditiup oleh Kerocin berirama di koridor ulama ruang doa sambil melihat waktu ia memutar kain yang basah dan melapnya di jendela gereja itulah anak yatim piatu yang diadopsi di gereja tersebut”Heii” sapa Hamcyn” kenapa kau tidak ke festival malam ini ?” Tanya Hamcyn “Ahhh aku malas lagi pula setiap pergi kefetival pasti ada saja anak-anak berandalan yang selalu menganggu “hmm heii.. kau sebaiknya kau ikut saja, dari pada kau sendiri di gereja …yahh dan juga rumah kita sendiri…”

Revisi Saya:

Pada suatu petang, terdengar suara anak-anak bermain dengan gembira di depan gereja katedral. Di koridor ulama ruang doa, seseorang sedang bekerja. “Fuuu…,” desah napas Kerocin terdengar seperti berirama, seperti angin. Beberapa kali ia menarik napas panjang, menghembuskannya ke arah jendela yang sudah berdebu. Sambil sesekali melihat jam, Kerocin memutar kain basah dan melapnya ke kaca jendela gereja. Kerocin adalah anak yatim piatu yang diadopsi di gereja katedral itu.

“Hei!” terdengar panggilan. Itu suara Hamcyn, kawannya. “Kenapa kau tidak ke festival malam ini?”

“Ah… aku lagi malas. Setiap pergi ke festival, ada saja anak-anak berandalan yang selalu mengganggu.”

“Hm…,” gumam Hamcyn. “Kali ini sebaiknya ikut saja, daripada kau sendiri di gereja. Di rumah juga sepi.”

***

Saya tidak bisa membayangkan jika seorang editor menerima naskah seperti ini. Terlepas dari kehebatan ide cerita, masalah teknis adalah sesuatu yang mendasar. Kau tidak menghabiskan uang ratusan juta rupiah untuk memperindah dinding dan atap rumahmu bila fondasinya dibangun asal-asalan.

Paragraf pertama tulisan ini saja sudah mengerikan, apalagi jumlahnya mungkin mencapai ratusan halaman. Saya membayangkan, bila saya yang menjadi editor, dan atasan saya memutuskan menerbitkan naskah ini, saya akan memutuskan berhenti bekerja — daripada mati muda.

Mungkin orang ini sangat berniat jadi penulis, tapi jarang sekali membaca. Untunglah niat itu menjadi penulis, yang berkreasi dengan teks — setidaknya itu tidak mencelakakan orang lain. Bayangkan saja bila dia berniat menjadi montir, yang berurusan dengan mesin.

Hanya satu cara untuk menyelamatkan orang ini dan tulisannya. Membaca — membaca sebanyak-banyaknya. Saya pun memberi masukan agar penggarapan naskah dihentikan dulu. “Baca buku, pelajari naskah lain yang sudah diterbitkan. Pelajari semua masalah teknis menulis dengan memperhatikan tanda baca, dialog, kalimat langsung, dan sebagainya,” tulis saya. (*)

Pontianak, 28 September 2013

Advertisements

About sidiknugroho

Guru SD, penulis lepas. Suka film, buku, alam terbuka, dan gitar. Tinggal di Pontianak

Posted on September 28, 2013, in Penulisan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: