Category Archives: Artikel

Pria-pria yang Bimbang Menikah

Pertanyaan tentang pernikahan selalu saja disampaikan bila seseorang berkenalan dengan saya, setelah bertanya apa pekerjaan saya dan berapa usia saya. Itu sudah bukan sesuatu yang mengusik saya lagi.

Sore ini, saya berada cukup lama di warung kopi sambil menunggu hujan reda. Seorang bapak yang sudah cukup tua, usianya sekitar 60 tahun, mengobrol dengan saya tentang pernikahan dan keluarga. Ia berkata, “Keadaan sekarang sudah jauh berbeda. Dulu, seorang pria ketemu wanita, muncul rasa saling suka, pacaran, menikah. Sekarang, hal itu tampaknya lebih rumit.”

Saya berkata kepadanya, “Saya punya teman-teman yang tidak menikah dan kesepian. Tapi, ada juga teman-teman yang berbahagia dengan keadaan itu. Kalau Bapak mau dengar, saya mau bercerita tentang pria-pria yang tidak menikah.” Menarik, ia mau mendengar dan memperhatikan cerita-cerita saya tentang mereka.

“Tapi, ini bukan mereka yang menyukai sesama jenis, kan?” tanyanya.

Saya menggeleng. “Bukan, Pak. Saya tidak mengenal banyak pria yang suka sesama jenis.

“Mereka yang mau saya ceritakan ini bisa dikatakan pria-pria yang baik, setahu saya. Mereka menyukai wanita. Mereka juga pria yang, setahu saya, tidak mempunyai penyakit seperti impotensi. Kalaupun ada yang demikian, saya tidak tahu pasti. Tapi, kelihatannya, mereka pria-pria yang sehat secara seksual. Beberapa di antara mereka sudah saya kenal beberapa tahun dan pernah bercerita menyukai wanita ini atau itu.”

Bapak itu mengangguk-angguk. Saya pun mulai bercerita tentang beberapa kasus yang saya temui, kasus-kasus yang menyebabkan beberapa pria bimbang menikah.

1. Kencan-kencan yang Buruk

Seorang pria, anggaplah ia bernama Jack, mengajak kencan seorang wanita dengan menonton film bioskop. Jack sangat menggilai film, nyaris tidak pernah terlambat menonton film bioskop, dan biasanya membaca review film yang akan ditontonnya terlebih dahulu sebelum menonton. Si wanita yang diajak Jack sebenarnya mengenal sosok Jack yang suka menonton film. Tapi, ia terlambat datang ke bioskop karena hal sepele. Jack pun kesal karena keterlambatan itu.

Bukan hanya terlambat, saat menyaksikan film, si wanita sama sekali tak menunjukkan minat terhadap film yang ditonton. Tidak ada obrolan yang menarik di antara mereka berdua setelah menonton film tentang film yang ditonton karena si wanita tidak menunjukkan antusiasme.

Pada kesempatan lain, Jack mengajak wanita lain kencan. Baru bertemu beberapa kali di gereja, si wanita sudah menunjukkan penampilan yang nakal dan menggoda. Si wanita terlalu agresif. Suatu malam, Jack dan wanita itu makan malam di sebuah food court di Surabaya. Si wanita mengenakan kaos yang kerahnya sangat rendah. Sepasang payudaranya seperti hendak menyembul keluar kalau ia membungkuk mengambil makanan. Jack kurang suka melihatnya, si wanita malah menjadi perhatian orang lain yang ada di sekitar mereka.

Bukan hanya itu, beberapa hari setelah makan malam itu, si wanita berkata hendak meminjam uang dua juta rupiah kepada Jack karena saudaranya mengalami kecelakaan. Jack bukannya tidak mau menolong, tapi jadi mendapat kesan bahwa ia sedang dimanfaatkan. Jack merasa, permintaan bantuan itu terasa sangat terburu-buru ditujukan kepadanya. Ia pun menjaga jarak dengan wanita itu. Beberapa minggu kemudian, ia mendapat kabar saudara si wanita itu tertolong dengan bantuan pihak keluarga si wanita.

2. Hobi atau Minat yang Lebih Membahagiakan

Saya mengenal seorang pria, anggaplah ia bernama Sugeng. Sugeng sangat menggilai musik dan film. Selain bekerja dan menunjukkan perhatian untuk orangtua dan saudara-saudaranya, hidup Sugeng ia arahkan di musik dan film. Ia menciptakan musik, membeli alat musik, menonton film, menganalisa film. Ia bergabung dengan teman-teman sehobi, menikmati dunianya. Semua kegiatan itu membuat hidupnya terasa sangat bermakna.

Sedikit banyak, poin pertama, yaitu kencan yang buruk, pernah dialami Sugeng. Suatu waktu ia pernah berkata, “Jikalau dengan musik dan film aku berbahagia, tapi wanita-wanita yang datang dalam hidupku ini hanya membuat repot, mengapa aku harus memusingkan diriku dengan menghabiskan waktu bersama mereka?”

Sekilas ucapan Sugeng itu terdengar sinis dan egois, tapi saya rasa Sugeng lebih mengerti dengan apa yang ia ucapkan.

3. Suka Bertualang

Saat menumpang bis dari Yogya ke Solo pada liburan akhir tahun lalu, saya bertemu dengan seorang pria. Ia seorang dosen di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogyakarta, dan bila akhir pekan mengajar di sebuah universitas di Solo. Pria ini sudah tua, usianya mendekati 60 tahun. Ketika berbicara dengannya di dalam bis, saya takjub.

Pria ini bercerita bahwa sejak masa mudanya, sejak mahasiswa, ia memang berniat menjadi seorang petualang. Dan niat ini didukung dengan studinya. Fokus studinya adalah psikologi sosial, yang sedikit banyak berkaitan dengan perilaku atau budaya suatu masyarakat atau komunitas. Ia melakukan penelitian di banyak tempat, mengkaji berbagai perilaku masyarakat dan komunitas. Ia bercerita memiliki banyak rekaman wawancara dengan beberapa raja di kerajaan-kerajaan kecil yang masih ada di beberapa daerah di Indonesia.

Ia dulu juga suka menyelundupkan minyak wangi dari Timor Timur sebelum wilayah ini bersatu dengan Indonesia. Cara-cara yang ia gunakan untuk menyelundupkan minyak wangi sangat menarik perhatian saya, seperti kisah-kisah detektif.

Tiap enam bulan sekali ia pasti bepergian ke luar pulau Jawa sejak ia kuliah hingga sudah menjadi dosen. Ia berkata tidak memiliki harapan apa pun tentang jodoh. “Bila ada ya menikah, bila tidak ada tidak masalah,” katanya.

4. Pemuasan Hasrat Seksual yang Mudah dan Murah

Sudah menjadi rahasia umum, di semua kota besar selalu saja ada wanita pemuas birahi. Saya tinggal lima tahun di Sidoarjo, dan saya sering mendengar cerita tentang lokalisasi yang ada di Surabaya dan Pandaan yang tak jauh dari Sidoarjo.

Lokalisasi yang ada di Surabaya, Dolly, konon merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. “Di sana banyak pilihannya, Mas,” kata seorang teman saya yang sering nongkrong dengan saya di warung kopi. “Sampean punya uang 150 ribu saja sudah bisa dapat barang yang bagus banget.”

“Kalau yang di Pandaan lain lagi, Mas,” katanya. “Di sana kita harus menyewa vila kalau mau bawa cewek. Cewek di sana juga lebih mahal karena kita bawa lebih lama. Di Dolly hitungannya satu setengah jam, di Pandaan biasanya pakai short time, 3 jam, atau long time, semalaman. Yang short time saja biasanya pasang harga tiga ratus ribu.”

Pemuasan hasrat seksual yang murah dan mudah membuat seorang teman saya yang lain berkelakar saat ia sedang bermasalah dengan pasangannya. “Mungkin aku akan putus,” katanya. “Mengayomi cewek cerewet seperti dia bukan hanya menguras uang, tapi tenaga, pikiran, dan waktu. Aku pun enggak bingung dengan seks. Kalau sebulan perlu main dua kali, cari cewek saja di Dolly, keluarkan uang tiga ratus ribu, beres perkara.”

5. Wanita-wanita yang Rumit

Saya mengategorikan wanita yang rumit ini ke dalam dua bagian. Pertama, mereka yang terlalu banyak menuntut. Zaman sekarang memang wajar bila seseorang dituntut mapan secara finansial. Tapi, beberapa tuntutan kadangkala tidak masuk akal. Teman saya di Bandung pernah bercerita bahwa seorang wanita yang dikenalnya akan selalu bertanya apa merk mobil yang dimiliki pria yang mendekatinya.

Teman saya di Sidoarjo lain lagi ceritanya. Ia berkenalan dengan seorang wanita di Facebook. Suatu ketika ia meng-update status menggunakan Blackberry. Si wanita menanyakan lewat kotak pesan apa PIN-nya, teman saya mengatakan bahwa Blackberry yang ia gunakan untuk meng-update status adalah Blackberry pinjaman. Begitu tahu itu Blackberry pinjaman, si wanita langsung menjauh — menjauh sebelum didekati.

Kedua, wanita yang rumit adalah wanita yang memang tidak mau berkomitmen. Hal inilah yang dialami oleh teman saya, anggap saja ia bernama Yudi. Pada zaman chatting masih menggunakan mIRC, Yudi sudah menemukan wanita-wanita jenis ini: wanita-wanita yang mau saja diajak “one night stand”. Ia bercerita kepada saya, tidak kurang dari lima wanita yang berhasil dibawanya kencan hingga berakhir di ranjang gara-gara berkenalan lewat mIRC.

Wanita-wanita ini juga sama seperti pria yang mengajak mereka kencan: mereka menikmati hubungan tanpa status ini. Mereka enggan terikat dalam hubungan yang bernama pacaran, apalagi pernikahan. Keterikatan semacam itu selalu saja menimbulkan masalah besar bagi mereka.

***

Itulah beberapa cerita yang saya sampaikan kepada bapak tua itu. Tampaknya ia bisa memahami apa yang terjadi pada masa kini. “Zaman selalu berubah ya, Nak,” katanya kepada saya.

“Iya, Pak. Tapi cinta tetap cinta, walaupun dunia ini selalu berubah.”

“Maksudmu?” tanyanya sambil menghembuskan asap rokok.

“Maksud saya, tetap ada orang yang perlu dan bahkan harus sungguh-sungguh kita cintai untuk membuat hati ini sering gembira dan damai.”

“Benar, Nak, mencintai orang yang sama secara terus-menerus membuat kita lebih dewasa. Ini bukan melulu soal pernikahan lho. Banyak pernikahan yang juga berakhir dengan perceraian kok. Cerita-ceritamu itu ada yang baik, ada yang… yah… menurut saya kurang baik.”

Saya mengangguk, mengiyakan.

“Apakah kamu sendiri sudah menemukan seseorang untuk dicintai, Nak?”

Saya tersenyum. “Hanya Tuhan yang tahu, Pak.”

***

Pontianak, 18 April 2013

Advertisements

Sukses Berdamai dengan Diri Sendiri

asa

Jikalau Anda suka mendengar motivator berbicara, tontonlah “Raging Bull”. Jikalau Anda getol membaca kisah-kisah sukses, tontonlah “Raging Bull”. Apakah “Raging Bull” adalah film motivasi yang berisi kisah sukses? Bukan.

Bagi saya, “Raging Bull” adalah film tentang dunia tinju yang paling berkesan setelah “The Fighter” dan “Cinderella Man”. American Film Institute menobatkan “Raging Bull” sebagai film olahraga terbaik sepanjang masa. Kisah hidup Jake LaMotta (Robert De Niro) disajikan dengan begitu dramatis di tangan sutradara Martin Scorsese.

Kehidupan Jake La Motta yang penuh liku terutama disebabkan oleh sifatnya yang emosional. Jake sangat posesif, pencemburu, dan mudah naik darah. Di balik karir tinjunya yang penuh prestasi, kehidupan rumah tangganya berantakan. Untunglah ia memiliki adik, Joey (Joe Pesci), yang pengertian kepadanya. Adiknya ini juga menjadi asisten pelatih Jake.

Di atas ring tinju, amarah Jake juga mudah meluap. Beberapa adegan tinju di film ini tersaji sangat baik. Walaupun adegan di atas ring tinju tidak terlalu banyak ditampilkan di sepanjang film, namun sangat menohok dan efektif. Sebuah adegan tinju yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika Jake bertarung dengan seorang petinju yang disebut istri dan adiknya berwajah tampan. Sebelum bertemu dengan petinju itu pun, Jake sudah cemburu. Di atas ring, saat mereka bertarung, wajah petinju itu dihajarnya habis-habisan.

Adegan tinju lainnya yang menguras emosi adalah salah satu pertarungan antara Jake dengan musuh bebuyutannya, Sugar Ray Robinson. Di pertarungan ini, wajah Jake berdarah-darah. Keringat dan darah sudah bercampur-baur, muncrat di sana-sini. Di sinilah saya jadi paham mengapa Martin Scorsese memutuskan untuk menggarap film ini dalam format hitam putih (hanya ada sangat sedikit bagian yang ditampilkan berwarna).

Saya menduga sosok asli Jake LaMotta mirip preman, perangainya liar. Inilah yang mungkin membuat Martin Scorsese tertarik mengangkat kisah hidupnya sebagai film. Kemudian, kerjasama antara Martin Scorsese dengan Robert De Niro dan Joe Pesci berlanjut dalam dua film lain tentang mafia, “Goodfellas” dan “Casino”. (Hal yang menarik pada ketiga film ini adalah pola dialog yang mirip: pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menekan lawan bicara untuk jujur, penuh makian, dan tak jarang kalimat yang sama diulang-ulang.)

Setelah memutuskan berhenti bertinju, Jake hidup urakan. Ia tak lagi menjaga berat badannya. Ia suka mabuk dan berfoya-foya di kafe yang didirikannya. Badannya menjadi gembrot. Perubahan yang terjadi pada Robert De Niro sungguh mencengangkan. Karena suatu kasus di kafe yang didirikannya, Jake terpaksa dipenjarakan. Setelah keluar dari penjara, ia menjadi semacam pemandu berbagai acara di kafe-kafe. Hal inilah yang bagi saya dapat menjadi bahan renungan yang penting.

Jake sudah (pernah) sukses mendapatkan semua yang diinginkannya: rumah mewah, istri cantik, dan anak-anak. Namun, Jake tidak pernah sukses melawan amarah yang terus bergelora dalam dirinya sendiri. Dialah Raging Bull, banteng ketaton, yang suka mengamuk dan mengamuk. Pada akhir film, saat Jake berbicara di depan cermin, saya menduga, banteng ketaton ini sedang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.

(Ulasan lainnya oleh Arie Saptaji bisa ditengok di sini:http://www.oocities.org/denmasmarto/ragingbull.htm)

SN, Ptk, 040413

Pelajaran Singkat Menulis Kreatif

Disusun oleh: Sidik Nugroho*)

Disampaikan dalam diklat penulisan yang diadakan SMPI Hidayatul Mubtaidin, Wajak, Malang, 19-05-12

Dalam tulisan yang saya buat ini, saya akan menyampaikan beberapa hal tentang menulis yang saya rasa paling perlu untuk diperhatikan. Di dalam tulisan ini terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan:

1. Memahami motivasi menulis

2. Menulis untuk media cetak

3. Menulis buku untuk penerbit

4. Menulis buku indie atau self-publish

5. Membaca ulang sebuah karya tulis

6. Lampiran: surat pengantar, proposal penerbitan buku, dan buku-buku yang disarankan

***

1. Memahami Motivasi Menulis

Motivasi tiap pengarang berbeda-beda. Seorang pengarang bernama Toni Morrison yang memenangkan hadiah Nobel lewat beberapa karyanya — yang terkenal salah satunya berjudul Beloved — menyatakan bahwa novelnya memuat tujuan politik. Dalam biografi ringkas yang ditulis oleh Kathryn VanSpanckeren, Toni menyatakan, “Aku tidak tertarik memanjakan diriku dalam sebuah kegiatan berimajinasi yang bersifat pribadi… ya, karya ini pasti politis.”

Pemenang Nobel yang lain, bernama Gao Xingjian, dalam pidatonya ketika menerima hadiah Nobel menyatakan sesuatu yang bertolak belakang: “… sastra itu hanya dapat menjadi suara individu, dan selalu seperti itu.”

Persoalan visi (bisa juga dibaca: motivasi) dalam menulis memuat banyak perbedaan. Ada yang menggunakan sastra sebagai salah satu alat bagi tujuan perubahan sosial. Ada juga yang menulis suatu karya sastra karena suka menulis, sebuah seni menuangkan gagasan untuk mematangkan dan mendewasakan diri, atau sebutlah tindakan seorang penulis yang menjunjung tinggi atau memuliakan estetika bahasa.

Seorang penulis yang berniat agar karya-karyanya laku dijual harus memiliki strategi mengurangi penolakan. Sebab, penulis mana pun tak suka mengalami hal ini, walau pada kenyataannya hampir semua penulis pernah mengalami penolakan. Inilah sebuah hal yang sering meresahkan penulis muda. Salah satu cara mengurangi penolakan adalah membuat proposal sebelum naskah sebuah buku diajukan (nanti akan kita pelajari lebih lanjut di bagian ke-3). Atau, kalau bosan ditolak dan masih ingin tetap menulis, silahkan banting stir merambah bidang penulisan lain yang lebih mendatangkan keuntungan.

Mari berpikir realistis. Tak jarang, banyak orang meninggalkan dunia penulisan gara-gara tak memiliki motivasi yang jelas dan terencana, lalu putus asa. Bila menulis direncanakan seseorang sebagai sarana meraih penghasilan, maka seseorang perlu menilik berbagai kemungkinan dan mengikuti trend yang membuat tulisannya laku dijual. Bila seseorang menulis hanya untuk kesenangan dan aktualisasi diri, tak perlulah mencoba-coba menjual tulisannya.

2. Menulis untuk Media Cetak

Sejarah film mencatat Lumiere bersaudara dari Prancis sebagai dua orang penting. Mereka tercatat sebagai penampil film pertama. Film pertama mereka saya yakin sama sekali tak menarik bagi kita saat ini. Mau tahu? Rekaman kereta api yang sedang berjalan. Nah, arah jalan kereta api itu mendekati kamera.

Namun, tahukah Anda apa yang terjadi pada 32 penonton pertama mereka ketika menyaksikannya? Mereka lari tunggang-langgang dari gedung pertunjukan ketika kereta yang tertampil di film itu “mendekati” mereka! Bagi mereka, film kereta Lumiere saat itu benar-benar heboh.

Lumiere bersaudara kemudian meraup kekayaan. Penonton mereka setelah film kereta api pertama mereka rata-rata tak kurang dari seribu orang. Namun, sebelum mereka sesukses itu, mereka pernah ditolak koran ketika hendak promosi film kereta api pertama mereka. Koran menolak membantu publikasi pemutaran film mereka.

Ternyata, yang pernah ditolak koran bukan hanya para penulis. Sebagai penulis yang karyanya puluhan kali ditolak, saya geli sekaligus merenung ketika menjumpai kenyataan ini. Para penulis, pencipta lagu, pelukis, penemu, siapa saja dengan profesi apa saja, rasanya pernah mengalami apa yang Lumiere alami. Kita ditolak. Orang tak yakin dengan apa yang kita yakini sebagai sesuatu yang luar biasa.

Nah, untuk mengurangi penolakan menulis di media cetak, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

a. Kenali tema yang sedang ramai diperbincangkan

Hal ini berlaku untuk esai atau opini. Media massa mengedepankan aktualitas. Tulisan akan susah dimuat bila temanya tidak sesuai dengan apa yang ramai diperbincangkan. Tulisan kita tak mungkin dimuat bila mengangkat pembahasan tentang mendidik anak dengan gembira padahal sehari-hari orang menyaksikan, membaca, dan mendengar berita tentang sebuah kecelakaan pesawat.

Cara lain yang berkaitan adalah mengingat momen-momen tertentu. Contoh, tanggal 20 Mei adalah hari Kebangkitan Nasional. Coba bolak-balik lagi buku Sejarah, temukan perspektif yang unik, angkat kiprah seorang tokoh yang mungkin “dilupakan” berkaitan dengan momen itu, lalu buatlah sebuah tulisan. Kirimkan tulisan itu satu atau dua minggu sebelum 20 Mei. Tulisan yang demikian akan berpeluang besar untuk dimuat.

b. Perhatikan panjang tulisan

Panjang tulisan penting diperhatikan karena berkaitan dengan ruang yang ada di dalam media cetak. Tulisan jangan kepanjangan atau kependekan. Resensi yang sering saya buat rata-rata panjangnya 2 halaman kuarto, 1 spasi, huruf Times New Roman ukuran 12. Atau, bila diukur dengan jumlah kata, resensi itu sekitar 4000-5000 karakter. Beberapa esai atau artikel lain ada yang panjangnya lebih, sampai sekitar 7500 karakter. Cerpen di koran, sepengamatan saya, panjangnya sekitar 10.000 karakter.

c. Baca ulang naskah yang ditulis

William Faulkner, seorang pemenang Nobel Sastra, pernah menyatakan, “Penulis-penulis muda terlalu dungu mengikuti teori. Ajarlah dirimu sendiri melalui kesalahan-kesalahan yang pernah kaulakukan — orang belajar dari kesalahan. Seniman yang baik tidak boleh berharap pada siapa pun yang mungkin dapat memberi nasihat padanya.”

Tidak sedikit penulis yang begitu selesai menulis, langsung mengirim tulisannya ke redaktur atau penerbit. Semangatnya menggebu-gebu, ide dan inspirasi di kepala tidak pernah kering. Tangannya terus menulis segala sesuatu yang memantik gagasan untuk dituangkan dalam kata-kata. Puisi, cerpen, artikel, semua ditulis! Namun, di balik semua itu, salah tulis bertaburan di mana-mana. Inilah yang sering menjadi alasan penolakan tulisan.

Dalam bidang apa pun, kita perlu meninjau ulang apa yang sudah kita kerjakan. Begitu banyak hal yang bisa dikoreksi dan diperbaiki ulang, dan hasilnya mungkin akan (jauh) lebih baik daripada dikerjakan sekali jadi. Dan, mungkin kita tidak sadar, bahwa kebiasaan ini pada akhirnya juga akan membuat kita belajar lebih banyak — yakni belajar menemukan kekurangan diri sendiri.

d. Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan

Sebuah tulisan yang dikirim ke sebuah koran atau majalah perlu diawali dengan surat pengantar (ada di lampiran, bagian 6). Di dalam surat pengantar itu, gambarkan sekilas isi naskah yang ditulis.

Menulis untuk koran atau majalah kadang juga menjengkelkan. Menjengkelkan, karena ada koran atau majalah yang tidak membayar honor tulisan kepada penulis. Saya pernah mengalami kejadian ini beberapa kali. Oleh karena itu, setiap penulis juga perlu membuat pilihan. Koran atau majalah biasanya mem-blacklist penulis yang berlaku curang. Sudah saatnya penulis juga berani mem-blacklist media cetak yang semena-mena.

Selain itu, sebuah koran memiliki visi tertentu atau kecenderungan tertentu. Ini perlu juga dipahami oleh penulis. Ada sebuah koran yang pro pemerintah sehingga opini yang ditulis di koran itu mayoritas mendukung kebijakan pemerintah. Ada juga sebuah koran yang sampai sekarang tidak mau memuat resensi novel, kumpulan cerpen, atau buku-buku sastrawi lainnya.

Terakhir, sebuah tulisan yang dikirim ke sebuah koran atau majalah semestinya tidak dikirim ke koran atau majalah lain dalam waktu dekat atau malah bersamaan. Sebuah tulisan baru boleh dikirim ke koran atau majalah lain bila “tampaknya” tidak akan dimuat. Mengapa saya tulis “tampaknya”? Karena, di Indonesia masih sangat sedikit koran dan majalah yang memberitahu seorang penulis bila tulisannya akan dimuat. Karena itulah setiap penulis sebaiknya memiliki catatan atau arsip atas setiap karya yang dikirimkannya dan kemudian menetapkan sendiri waktu tunggu pemuatan karyanya. Dalam hal ini, waktu tunggu pemuatan tulisan berbeda-beda. Untuk opini, esai, atau artikel yang sifatnya aktual biasanya hanya dua minggu. Untuk resensi bisa satu sampai dua bulan. Untuk cerpen bisa sampai tiga bulan.

3. Menulis Buku untuk Penerbit

Menulis buku untuk diterbitkan penerbit tidak selalu mudah. Hal itu akan mudah bila seorang penulis memahami apa yang diminati pasar saat ini. Masalah utama yang seringkali muncul dan menjadi ketegangan antara penulis dan editor adalah soal pemasaran buku: seorang penulis sudah menganggap karyanya sangat bagus, tapi bagi seorang editor karya tersebut tidak laku bila dijual.

Sama seperti pengiriman naskah ke koran atau majalah, pengiriman naskah ke penerbit juga perlu disertai surat pengantar. Saat mengajukan naskah ke penerbit, seorang penulis tidak harus sudah siap dengan naskahnya secara keseluruhan. Penulisan naskah buku bisa disiasati dengan menggunakan proposal, dilampiri beberapa contoh bab awal sebuah buku. Pembuatan proposal bertujuan untuk memberikan gambaran kepada editor tentang buku yang tengah digarap. (Bentuk proposal bisa dilihat dalam lampiran di bagian ke-6 yang saya sertakan.)

Namun, jangan sampai sebuah proposal malah membuat seorang penulis menjadi malas merampungkan karyanya, kemudian mengobral proposal ke sana-sini. Tujuan proposal harus dipahami dengan jelas sebagai langkah awal penulisan sebuah buku. Dan, penulisan buku yang proposalnya telah disetujui harus digarap dengan sungguh-sungguh. Ada editor yang sempat bercerita kepada saya kalau beberapa penulis menggarap proposalnya sangat baik, tapi begitu naskah utuhnya sampai di meja redaksi, keadaannya memprihatinkan.

Penulis yang menerbitkan buku di penerbit kebanyakan mendapat royati yang dibayar enam bulan sekali. Besarnya royalti pada umumnya adalah 10 persen harga jual per buku, dikali dengan jumlah buku yang terjual selama enam bulan itu. Namun, memilih penerbit juga tidak boleh sembarangan. Saat ini, penerbitan makin banyak. Tidak sedikit penerbit yang berlaku curang kepada penulis dengan tidak membayarkan royaltinya atau membuat laporan penjualan buku yang merugikan penulis.

Pemasaran buku lewat penerbit memang lebih banyak mendatangkan kemudahan daripada menerbitkan pemasaran buku secara indie. Penerbit, bekerjasama dengan distributor buku, bekerja mengemas dan memasarkan buku setelah naskah seorang penulis dinyatakan layak terbit oleh seorang editor. Seorang penulis bisa bernapas lega mengakhiri tugasnya. Kemudian, mungkin dengan royalti yang diterimanya, ia menggarap proyek menulis selanjutnya.

4. Menerbitkan Buku Indie atau Self Publish

“Saya tidak melawan arus, atau tidak ikut arus, tapi saya sedang menciptakan arus,” kata Kirana Kejora dengan lantang pada acara bedah buku di Kedai Sinau, Malang. Ia mengisahkan hal-hal apa saja yang membuatnya bertekad membangun dunia penulisan dengan memasarkan buku-buku secara indie.

Beberapa tahun lalu, di Surabaya, ia memiliki kenalan grup-grup band indie dan model. Suatu ketika, kalau tidak salah tahun 2004, Kirana menulis sebuah buku yang berisi kumpulan puisi dan novelet. Di antara sekian banyak temannya yang musisi dan model, tidak ada yang melahirkan karya tulis seperti yang ia lakukan. Namun, teman-teman inilah yang berjasa baginya. Mereka banyak yang mendukung buku karya Kirana, memberi ide untuk mengemas buku itu dengan menarik, lalu mengadakan launching buku itu di sebuah acara musik yang menampilkan band-band indie.

Tak dinyana, buku itu disambut dengan cukup baik. Kirana kemudian memberanikan diri untuk memasarkan buku-buku itu ke toko-toko buku. Di toko buku Gramedia, Uranus, dan beberapa toko buku lainnya di Surabaya, Kirana berjuang agar buku-bukunya terdistribusi lebih luas.

Singkat cerita, segala upayanya tidak sia-sia. Sejauh ini Kirana telah menulis tujuh novel (kalau tidak salah) yang semuanya dicetak dan dipasarkan secara indie. Ia membandingkan pengalamannya dengan pengalaman para penulis lain, dan menyimpulkan bahwa pendapatan seorang penulis buku indie lebih besar daripada yang menerima royalti dari penerbit: “Sebuah buku bisa dijual dengan harga empat kali ongkos cetak buku tersebut,” katanya.

Misalnya, sebuah buku dicetak dengan biaya Rp15.000. Buku tersebut bisa dijual dengan harga Rp60.000. Jadi, seorang penulis buku indie bisa mendapat keuntungan sebanyak tiga kali lipat harga bukunya bila ia sama sekali tak menggunakan jasa distributor.

Namun, kendala penerbitan secara indie tidak kecil. Pertama, seorang penulis harus memiliki modal cukup banyak untuk mencetak bukunya sendiri. Harga cetak sebuah buku bisa menjadi murah bilamana buku tersebut dicetak paling sedikit 500 buah. Seseorang bercerita bahwa ia baru saja menerbitkan buku yang dicetaknya sebanyak 100 buah. Harga cetak per buku sampai menembus angka Rp26.000, sementara bila ia mau mencetak sebanyak 500 buah, harganya hanya sekitar Rp15.000. Jadi, mencetak 100 buku itu mengeluarkan dana Rp2.600.000 sementara bila mencetak 500 buah akan memerlukan dana Rp7.500.000.

Nah, dari hal itu lahirlah kendala kedua: bila seorang penulis sudah memiliki dana yang cukup untuk mencetak buku di atas 500 buah, apa yang harus dilakukannya agar buku tersebut laku terjual? Tidak lucu rasanya kalau buku-buku tersebut pada akhirnya harus dibiarkan menumpuk atau dibagi-bagikan gratis.

Nah, saya belajar dari kegigihan Kirana mengatasi kendala-kendala itu, terutama kendala kedua. “Seorang penulis indie harus percaya diri, bahkan kadang harus narsis,” katanya. Bila tidak demikian, memang sulit meyakinkan orang lain bahwa kita menulis sesuatu yang penting. Sebagai seorang ibu yang membesarkan kedua anaknya sendirian, tak ayal Kirana pada akhirnya terus memutar otak untuk membuat karya-karyanya bisa diterima seluas-luasnya. Penulis indie memang harus kuat menjalin jaringan dengan banyak pihak, pintar mengemas bukunya, pandai memanfaatkan berbagai peluang dan momentum untuk menyosialisasikan karya-karyanya.

Jalur indie yang ditempuh Kirana Kejora bukanlah melulu jalur yang ditempuh orang-orang kalah yang butuh pengakuan. Karya-karya indie tidak bisa dianggap sebelah mata. Mungkin sebuah karya indie dulunya memang ditolak oleh seorang editor atau penerbit. Namun, bukankah editor juga manusia? Bukankah editor sebuah koran besar pun suatu ketika luput, menayangkan sebuah cerpen yang diduga keras plagiat dan sebelumnya pernah dimuat di koran kecil lain?

5. Membaca Ulang Sebuah Karya Tulis

Dalam sebuah bagian buku Keep Your Hand Moving, Anwar Holid, penulis buku ini hendak mengajak pembaca untuk terus menulis. Walaupun tulisan itu semrawut dan tak jelas fokusnya, Anwar hendak menegaskan bahwa yang penting: tulislah!

Setelah menulis, Anwar mengajak pembaca untuk menelusuri kembali apa-apa saja yang telah ditulisnya. Anwar juga mengajak pembaca untuk mengembangkan dan mendayagunakan kemampuannya mengolah naskah menjadi sebuah tulisan yang baik dan bisa dinikmati.

Tulisan yang baik dan bisa dinikmati adalah tulisan yang oleh penulisnya sendiri digarap dengan penuh kesungguhan. Sebagai seorang editor yang telah lama berpengalaman menangani berbagai naskah, Anwar sering lelah melihat naskah-naskah yang tidak serius digarap oleh penulisnya. Masih banyak penulis yang bergantung pada editor untuk meneliti naskah. Penulis yang memprihatinkan, yang membaca naskahnya sendiri tak sempat, atau mungkin malah tak berminat.

Padahal, seorang penulis bertanggung-jawab dalam menghasilkan naskah yang siap baca. Seorang penulis harus jadi orang pertama yang menikmati tulisannya. Anwar mengajak sidang pembaca untuk bukan hanya menulis, tapi mengedit dan memoles tulisan agar tampil lebih indah, bahkan berbobot. Bila kesalahan-kesalahan kecil seperti penggunaan tanda baca atau penyusunan kalimat masih banyak dilakukan di sana-sini, maka seorang penulis sebenarnya masih belum memberikan kemampuan terbaiknya.

Saya mengamati, hal yang cukup memprihatinkan di kalangan penulis pemula adalah penguasaan tata bahasa. Banyak penulis yang tidak tahu membedakan kata depan dan awalan, menggunakan tanda baca, membuat kalimat langsung, dan lain sebagainya. Kita akan melihat sedikit tentang hal ini.

a. Penggunaan kata depan dan awalan

Penulisan “di rumah” tak jarang menjadi salah tulis menjadi “dirumah”. Penulisan “diabaikan” juga salah tulis, menjadi “di abaikan”.

Masih banyak contoh kasus lainnya. Pada intinya, awalan selalu digabung. Kata depan digunakan terpisah, seringkali digunakan sebelum kata tempat, contoh: “di sana”, “di situ”, “di mana”, dsb.

Ada juga kata yang perlu lebih teliti sebab bisa ditulis secara dipisah dan digabung, contoh: “disalib” dan “di salib”; atau “dibalik” dan “di balik”. Nah, penggunaan keempat kata itu jangan sampai salah. Contoh penggunaan yang benar:

Saat digoreng, telur dadar itu dibalik supaya bagian sebelahnya matang.

Ada hal-hal yang masih mengganjal di balik semua peristiwa kematian itu.

b. Penggunaan tanda baca (koma)

Salah satu tanda baca yang sering salah tulis adalah koma. Perhatikan dua kalimat berikut:

1. “Penjahat itu sudah dipenjara Ibu Ani,” kata Rina.

2. “Penjahat itu sudah dipenjara, Ibu Ani,” kata Rina.

Di kalimat ke-1, kita dapat mengartikan bahwa Rina sedang menyatakan bahwa Ibu Ani memenjarakan seorang penjahat. Di kalimat ke-2, kita dapat mengartikan bahwa Rina tengah berkata kepada Ibu Ani bahwa seorang penjahat telah dipenjara. Nah, akan lain lagi artinya kalau kalimat itu ditulis demikian oleh orang yang tidak tahu membedakan kata depan dan awalan:

“Penjahat itu sudah di penjara Ibu Ani,” kata Rina.

Di kalimat itu, bisa diartikan Ibu Ani memiliki penjara untuk para penjahat.

c. Membuat kalimat langsung

Kalimat langsung digunakan dalam dialog. Kesalahan yang paling sering saya temui adalah percakapan dua orang atau lebih yang ada di paragraf yang sama. Saat terjadi pergantian orang bicara, berganti pula paragraf di dalam teks.

Penggunaan tanda baca kutip, koma, dan titik juga seringkali salah. Perhatikan contoh kesalahan kecil di bawah ini:

Ibu berkata, “Saya tidak akan ke pasar hari ini”.

Kalimat di atas salah, yang benar:

Ibu berkata, “Saya tidak akan ke pasar hari ini.”

Bisa juga kalimat itu diubah menjadi demikian: “Saya tidak akan ke pasar hari ini,” kata Ibu.

d. Beberapa tambahan seputar editorial

Beberapa penerbit dan kalangan memiliki penggunaan bahasa yang berbeda. Ini kadang cukup membingungkan karena sampai sekarang masih belum ada kesepakatan yang sama di dalam beberapa hal ini. Saya berikan beberapa contoh:

Kata “mencaritahu” dianggap lebih benar daripada “mencari tahu”.
Kata “mempengaruhi”, “memperhatikan”, atau “mempunyai” seringkali ditulis “memengaruhi”, “memerhatikan”, dan “memunyai”.
Kata “terima kasih” oleh banyak kalangan kini ditulis “terimakasih”.
Kata “orang tua” kini dibedakan dengan “orangtua”. Yang pertama menunjukkan usia yang telah lanjut, yang kedua menunjukkan ayah dan ibu.
Dan masih banyak yang lainnya.

Saran saya dalam hal ini adalah banyak membaca karya yang ditulis dengan baik. Saat membaca, hal-hal demikian hendaknya diperhatikan dengan sebaik-baiknya. Sebagai pengguna bahasa (tulis-menulis), paling tidak itulah yang dilakukan demi menghindari salah tulis.

***

Demikian hal-hal tentang menulis saya sampaikan. Pada akhirnya, semua kembali lagi pada motivasi. Bila Anda memiliki motivasi yang besar, niscaya akan mendisiplinkan diri Anda sendiri untuk menulis. Upaya pendisiplinan awalnya memang berat, namun lama-kelamaan akan menjadi sesuatu yang mengasyikkan.

“No life ever grows great until it is focused, dedicated, and disciplined,” kata Harry Emerson. Mulailah menulis sekarang juga, satu halaman sehari juga tidak apa-apa. Mulailah membuat cerita, opini, atau sekadar curhat. Salam kreatif.

***

Sidoarjo-Malang, Mei 2012

*) Sidik Nugroho, beberapa tulisannya (cerpen, puisi, esai, artikel, dan resensi buku) pernah dimuat di Jawa Pos, Suara Pembaruan, Berita Pagi, Malang Post, Kompas, GFresh!, Aneka Yess!, Sahabat Pena, Sinar Harapan, Koran Tempo, Psikologi Plus, Bhinneka, dan Bahana. Ia juga menjadi penulis di Renungan Malam dan Renungan Blessing pada tahun 2003 hingga 2010. Bukunya yang telah terbit adalah sebuah kumpulan cerpen remaja yang ditulisnya bersama Arie Saptaji berjudul Never be Alone (2005), sebuah novel fantasi berjudul Kisah-kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat (2011), dan 366 Reflections of Life (2012).

Memperhatikan yang Kecil agar Menjadi Hebat

Resensi Buku ini dimuat di Rubrik Perada Koran Jakarta, Kamis, 3 Mei 2012.

“Cinta bisa berbicara meskipun mulut tertutup.” (halaman 44).

Apa manfaat sebutir kacang tanah? Sekilas tampak tiada berarti. Namun, ternyata, hanya dari kulitnya, kacang dapat diracik menjadi plastik, cat, minyak, dan aneka produk lain. Sebelumnya, George Washington Carver harus meneliti anasir pembentuk kacang itu di laboratorium. Ia menemukan ratusan elemen alami dalam benih dan kulit kacang. Tokoh ini menjadi pelopor revolusi agraria di Amerika dengan penemuannya tersebut (halaman 139).

Begitulah salah satu kisah reflektif yang termaktub dalam buku ini. Sidik Nugroho menyampaikan satu fakta unik. Sesuatu yang sekilas dipandang sebelah mata bisa menjadi luar biasa. Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo tersebut mengutip wejangan gitaris favoritnya, Eric Johnson, “The smallest thing makes the hugest difference.” Terjemahan bebasnya, “Kesederhanaan menyimpan potensi menakjubkan.”

Buku 366 Reflections of Life memuat pengalaman pribadi penulis. Saat itu, Sidik akan memberi kado ulang tahun ke-57 untuk ayahnya. Ia mencari buku rohani di sebuah toko buku. Setelah menemukan yang dirasa sesuai, Sidik membeli kertas kado. Tapi, dia justru memilih pembungkus yang paling murah, tanpa memperhatikan motifnya.

Sesampai di rumah, dia baru menyadari bahwa kertas kado tersebut bergambar para tokoh Meteor Garden seperti Dao Ming Tse. Untung, dia masih menyimpan beberapa kertas kado lain di kamar yang dulu ia beli untuk wanita idaman yang ingin direbut hatinya. Saat itu, Sidik begitu teliti memilih motif dan warnanya agar pas.

Bagi seseorang yang telah membesarkan dengan keringat dan kerja keras, Sidik merasa lupa mempersembahkan yang terbaik. Ini memang terlihat sepele, hanya masalah kertas kado. Namun, lewat kisah di atas, Sidik Nugroho mengingatkan diri sendiri bahwa momen penting-ulang tahun seorang bapak-sepantasnya disikapi dengan lebih cermat. Sebagai bentuk apresiasi kepadanya (halaman 198).

Sebagai seorang pendidik, Sidik banyak berinteraksi dengan para murid di kelas. Keseharian pembelajaran itu menjadi sumber inspirasinya. Ia bersepakat dengan pendapat seorang teman, “Menjadi guru anak-anak kecil membuat tidak stres karena melihat kepolosan dan kelucuan apa adanya, tidak dibuat-buat.” Tan Malaka pernah mengucapkan bahwa mendidik anak usia dini adalah pekerjaan paling mulia.

Suatu hari, saat mengajar, Sidik berjanji memberi beberapa bungkus cokelat untuk para murid yang menghargai temannya yang bernyanyi di depan. Inisiatif ini dipilih karena mereka kerap gaduh setiap ada teman yang maju. Hasilnya, kelas yang biasanya seperti pasar tumpah mendadak sunyi. Akhirnya, semua siswa makan cokelat bersama-sama (halaman 111).

Dalam pandangannya, ancaman, sanksi, atau hukuman tidak efektif untuk menanamkan perilaku baik pada diri anak. Para guru dan orang tua menghukum karena lelah menghadapi “keliaran” anak. Padahal, bila mereka mau sedikit kreatif, metode pemberian hadiah dan pujian justru lebih ampuh. Ini senada dengan ungkapan, “Nilai suatu pemberian harus dilihat maksudnya, bukan harga atau kemewahannya.”

Buku ini juga mengungkap pentingnya keluasan suatu visi. Analoginya menarik sekali. Jangan saklek menjawab pertanyaan karena harus dapat menjelaskan lebih menarik.

Sidik mengutip pendapat P Korter, “Visi adalah gambaran realitas akan masa depan yang logis dan menarik.” Tingkat kelogisan dan keunikan sebuah visi berbanding lurus dengan keterlibatan banyak orang dalam mewujudkannya (halaman 175). Seseorang yang piawai menjelaskan hal-hal menarik dalam suatu perjalanan, misalnya, dari Yogyakarta-Jakarta, dia berpotensi menjadi pemandu wisata jempolan.

Buku setebal 384 halaman ini memang lebih bernuansa rohani. Pembaca perlu meluangkan waktu sejenak di tengah rutinitas hidup, misalnya, pagi hari, setelah jeda makan siang, ataupun malam hari menjelang tidur. Dalam kata pengantar, Sidik Nugroho mengakui mayoritas renungan ini lahir justru ketika dia tak berencana untuk menulis. Ia sekadar ingin berbagi hasil pengamatan, pendengaran, pembacaan, tontonan, dan perasaan.

Ditulis oleh Nugroho Angkasa, guru bahasa Inggris di PKBM Angon (sekolah alam), tinggal di Yogyakarta

Judul: 366 Reflections of Life, Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati
Penulis: Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita G.
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Cetakan: 1/Februari 2012
Tebal: x 384 halaman
ISBN: 979-978-074-893-0

Secuil Pandangan Pribadi tentang Rokok

“Ketika penderitaan saya yang besar dilegakan, otak saya yang lelah dipulihkan, dan tenang, bisa tidur nyenyak sehabis merokok, saya bersyukur kepada Tuhan, dan memuliakan nama-Nya.”
~ Charles H. Spurgeon

Pendeta merokok? Sebagian kalangan Nasrani mungkin akan mencak-mencak membaca kutipan di atas itu. Apalagi, Spurgeon amat termasyhur di zamannya. Orang menjulukinya “raja pengkhotbah dari Inggris”. Tak hanya Spurgeon. C.S. Lewis, penulis terkenal itu terkenal suka merokok dan menghisap pipa bertembakau. J.R.R. Tolkien, sahabatnya, juga penulis legendaris, setali tiga uang.

Saya dulunya sangat membenci rokok. Apalagi pada saat SMA, saat saya bergabung dengan sebuah gereja yang benar-benar “mengharamkan” rokok. Ayat andalannya, tentu, 1 Korintus 3:16 — tubuh kita adalah bait Allah, dan kita harus menjaganya sebaik mungkin.

Pandangan saya tentang rokok mulai berubah saat saya melaksanakan KKN, 20 April-20 Juni 2004 di desa Gadingkulon bersama 18 teman saya. Kebetulan, 18 teman saya sepakat, menjadikan saya Kordes (Koordinator Desa) dalam pelaksanaan program-program KKN kami. Karena hal ini, mau tak mau saya jadi sering bertemu dengan para aparat desa, membahas program KKN. Saya juga sering berinteraksi dengan warga desa yang mayoritas adalah petani jeruk.

Tiap mampir ke rumah warga, rokok dan kopi dihidangkan. Ada pertemuan membahas program, rokok dan kopi juga dihidangkan. Kumpul-kumpul dan nongkrong dengan para pemuda desa, rokok dan kopi selalu ada. Kebersamaan saya dengan orang-orang desa ini membuat saya pun akhirnya mencoba merokok.

Saya menikmati saat-saat itu. Di desa yang berada pada ketinggian sekitar 700-800 meter di atas permukaan laut itu, saya suka merokok sambil menikmati pemandangan lampu-lampu kota Malang yang terbentang begitu indah pada malam hari. Hampir tiap malam kami membakar jagung, membuat api unggun, ngopi, dan merokok. Pokoknya gembira.

Beberapa tahun setelah KKN, kebiasaan merokok saya masih ada. Sekarang, saya termasuk orang yang kadang merokok, kadang tidak. Saya tidak pernah merasa kecanduan. Saya pernah menghabiskan lima batang rokok sehari, namun pernah juga tidak merokok sama sekali dalam dua bulan.

***

Seorang dokter yang juga penulis buku, Clifford R. Anderson, menyatakan bahwa jika kita hidup hingga berusia 70 tahun, maka makanan yang kita konsumsi beratnya sekitar 1400 kali berat badan kita. Kenyataan ini membuat kita sepantasnya merenung: makanan apa saja yang sudah kumakan hingga kini?

Bila makanan seberat 1400 kali berat badan kita itu ditukar dengan uang, jumlahnya tentu akan sangat besar — apalagi bila makanan itu berasal dari restoran-restoran kelas dunia. Tapi, justru mungkin selama ini kita jarang pernah berpikir bahwa makanan — apalagi yang mahal — juga dapat menjadi masalah.

Kembali pada rokok. Sebagian kalangan (saya rasa bukan hanya orang Nasrani) menganggap mengonsumsi rokok adalah dosa — hampir disejajarkan dengan narkoba dan minuman keras. Tapi, ingatlah bahwa kita hendaknya menjaga tubuh bukan hanya dengan menjauhi rokok, narkoba, dan minuman keras. Lemak yang berlebihan, jeroan, juga konsumsi berlebihan terhadap makanan-makanan instan juga sama berbahayanya. Karena itu, ketika suatu hari mendengar seorang pendeta berkata bahwa seorang perokok tidak lebih berdosa daripada seorang penggila jeroan, saya yakin pendeta itu benar.

Dari perbincangan dan kebersamaan saya dengan beberapa petani di desa waktu saya KKN dulu, saya pun menawarkan fakta ini: para petani laki-laki bisa dikatakan semuanya merokok. Namun, mengapa usia mereka panjang dan tubuh mereka sehat? Inilah yang mungkin perlu digarisbawahi: mereka melakukan aktivitas fisik yang tidak dilakukan para perokok di perkotaan. Mereka bekerja keras, bercocok tanam — melakukan banyak aktivitas pertanian yang notabene juga menyehatkan badan. Sementara, di perkotaan, kebanyakan orang merokok sambil nongkrong, ngopi, bekerja di depan komputer, melihat televisi, dan lain-lain — yang pada intinya bukan merupakan aktivitas fisik yang menyehatkan badan.

Apa yang saya sampaikan soal kebiasaan merokok di desa dan di kota bukanlah hasil penelitian. Seperti judulnya, tulisan ini adalah pandangan pribadi saya. Siapa pun dapat mempertarungkan hasil penelitian yang pro dan kontra soal bahaya rokok.

Mohamad Sobary baru-baru ini menulis “Ideologi di Balik Rokokku”. Tulisan yang cukup provokatif itu hendak menawarkan gagasan penting, bahwa gerakan, wacana, ataupun kebijakan pemerintah yang bersifat anti rokok (terutama rokok kretek) diboncengi berbagai kepentingan. “Gerakan itu alur rasionya demi kesehatan lingkungan. Tapi tak tahukah mereka, bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?” tulisnya. Di akhir tulisannya, ia menyuguhkan hasil penelitian tentang manfaat positif kretek bagi kesehatan.

***

Rokok. Barang kecil itu menantang kedewasaan kita berpikir dan memperlakukan orang lain. Seperti saya di masa lalu, tidak sedikit orang yang membatasi diri mengenal orang lain lebih jauh hanya karena melihat orang lain itu merokok. Merokok menjadi sekat yang membatasi hubungan antar manusia.

Sekarang, bandingkanlah dengan asap kendaraan bermotor kita hirup setiap hari. Kendaraan bermotor yang kita miliki atau tumpangi pun terbiasa “menghembuskan” asapnya setiap hari untuk — secara tidak sadar — dihirup orang lain. Mungkin, kita tidak menyadari bahwa asap itu juga sama berbahayanya dengan asap rokok. Sementara, dari hari ke hari kendaraan kian tumpah-ruah di jalan. Polusi udara dan kemacetan menjadi biang stres.

Jadi, bila Anda sampai sekarang masih membenci orang lain hanya gara-gara dia merokok, dan Anda sekarang selalu bepergian dengan kendaraan bermotor, akan lebih adil bila Anda bersedia jalan kaki, naik becak, atau bersepeda ke mana-mana. (*)

Sidoarjo, 18 April 2012

Umur Panjang: Sehat Badani, Sehat Jiwani, dan Sehat Sosial

Judul Buku: Rahasia Awet Muda dan Panjang Umur
Penulis: Haryo Bagus Handoko
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Tebal Buku: 650 halaman
Cetakan Pertama, Desember 2011

“The only way to keep your health is to eat what you don’t want, drink what you don’t like, and do what you’d rather not.”
~ Mark Twain

Kata-kata yang diucapkan Mark Twain di atas sangat tepat menggambarkan kondisi masyarakat modern. Masyarakat, yang di masa kini kian konsumtif — karena tergerus arus modernisasi di perkotaan — umumnya lebih menyukai makanan fast food, minuman bersoda atau mengandung banyak gula, serta jarang melakukan aktivitas yang membuat dirinya lebih bugar. Manusia-manusia perkotaan, disadari atau tidak, kerap melupakan kesehatan: hal penting yang sangat menunjang kehidupan ini.

Kian lama usia manusia kian pendek. Bila kita mempelajari sejarah nenek moyang kita di beberapa kitab suci, orang-orang pada zaman dahulu ada yang hidup sampai ratusan — bahkan ada yang hidup hampir seribu tahun. Sekarang, seseorang yang dapat mencapai umur 100 tahun saja fantastis. Banyak faktor yang membuat hidup manusia menjadi semakin pendek: pola makan, gaya hidup, semangat hidup, dan beberapa faktor lainnya.

Salah satu komunitas manusia yang memiliki umur panjang adalah orang-orang Hunza. Di abad 20-an, mereka memiliki usia rata-rata 120-140 tahun. Orang-orang Hunza hidup di dekat pegunungan Himalaya. Mereka dapat berumur panjang karena mengonsumsi makanan yang diolah dari bahan-bahan yang masih segar. Mereka menolak makan makanan yang berlemak; lebih menyukai sayur, buah, air putih, dan kacang-kacangan.

Selain pola makan yang demikian, mereka juga giat bekerja dan mudah berempati pada sesama. Air yang mereka minum juga belum terpolusi oleh bermacam-macam zat. Alam di mana mereka hidup membentuk kehidupan mereka untuk rajin bekerja dan beraktivitas. Orang-orang Hunza yang umurnya mendekati 100 tahun masih giat bekerja di ladang, masih kuat bermain sepakbola atau voli. Pada tahun 1949, ketika sebagian dari mereka pindah ke Pakistan, mereka yang pindah itu pun bernasib sama seperti warga kota yang lainnya — berusia pendek — karena mereka mulai mengikuti cara dan pola hidup perkotaan.

Diawali dengan kisah orang-orang Hunza di dekat Himalaya itu, Haryo kemudian mengajak pembaca memperhatikan hal-hal yang perlu dilakukan agar dapat berumur panjang. Sudah barang tentu, Haryo tak mengajak para pembaca untuk melawan kodrat: kembali ke zaman dahulu, ketika manusia bisa hidup 900-an tahun.

Hal yang ditegaskan oleh Haryo dalam buku ini adalah — sesuai judulnya — cara-cara yang perlu ditempuh untuk berumur panjang dan awet muda. Secara garis besar, umur panjang bisa diraih dengan cara memperhatikan kesehatan. Dan, menariknya, lewat buku ini Haryo mengungkapkan bahwa kesehatan tak melulu berkaitan dengan fisik (badani) saja, namun sehat jiwani dan sosial.

Pola makan dan olahraga mendominasi bahasan Haryo dalam soal menjaga kesehatan fisik. Ia menyebutkan apa saja makanan dan kegiatan olahraga yang perlu diperhatikan oleh sidang pembaca bila ingin memiliki umur panjang.

Meditasi, latihan pernapasan, mendengarkan jenis musik tertentu, atau mandi dengan cara berendam, juga dibahas oleh Haryo. Hal-hal itu, selain berhubungan dengan fisik, tentu sangat berkaitan dengan kesehatan jiwa atau pikiran. Beberapa cara meditasi yang tradisional, misalnya, yang sejak dulu dikembangkan oleh beberapa kebudayaan dan negara, dibahas oleh Haryo untuk menambah wacana dan pemahaman pembaca akan pentingnya meditasi.

Haryo memberikan bahasan lain yang penting dalam hal umur panjang, yakni kesehatan sosial. Sikap yang ikhlas, mau mengampuni, toleran, juga positif, sangat penting bagi panjang-pendeknya umur manusia. Hal inilah yang saya anggap menjadi sumbangan khusus buku ini, yang masih belum ditemui dalam buku-buku kesehatan lain yang umumnya membahas kesehatan badani saja.

Sumber yang digunakan Haryo dalam buku ini sangat variatif. Haryo merujuk Qur’an, Bibel, dan beberapa kitab suci agama lain. Daftar pustaka (berupa buku, majalah, dan jurnal) yang digunakannya dalam buku ini pun sangat beragam. Sudah sepantasnya sidang pembaca menyambut baik buku (yang diterbitkan dalam 3 seri) tentang kesehatan ini. Dengan cakupan bahasan yang luas, tak berlebihan jika dikatakan, buku ini adalah rujukan yang penting tentang hidup sehat. Selamat membaca. (*)

Sidik Nugroho
Guru SD Pembangunan Jaya 2 dan penulis buku 366 Reflections of Life

 

Mengisahi Kisah, Dikisahi Kisah*)

Oleh: Fahrul Khakim**)

Sejarah melekat erat di berbagai elemen kehidupan. Disadari atau tidak, semua orang butuh sejarah dan sangat erat hubungannya dengan sejarah. Sejarah bukan sekadar periodisasi, tapi juga berkisah melalui sumber-sumber dan bukti nyata. Bahkan, proporsi isi atau kisah dalam sejarah lebih detail dan kompleks. Dalam ilmu Sejarah, dikenal 3 unsur utama yang membentuk sejarah, yaitu: tempat, waktu dan manusia.

Nah, kalau begitu apa bedanya sejarah dengan sebuah kisah? Karena dalam suatu kisah pasti terdapat setting (latar), alur, dan tokoh — hal-hal tersebut juga merupakan unsur-unsur penting dalam suatu cerita. Kehidupan manusia adalah kisah yang terpusat pada pikiran dan perbuatannya. Tak diragukan lagi, nasib dunia ada di tangan manusia.

Sebuah kisah kadang disepelekan, padahal memiliki makna yang berlapis-lapis, tergantung lewat perspektif mana manusia itu sendiri memandangnya. Bukankah mayoritas isi kitab suci adalah kisah? Kisah antara hal baik dan jahat, kisah yang patut diteladani serta diresapi oleh tiap insan di dunia; tak sekadar dibaca, namun mendalami pesan yang disampaikan dalam kisah tersebut. Kebiasaan membaca yang baik menurut banyak penelitian dapat meningkatkan kecerdasan otak. Bukan anggapan yang salah jika membaca kitab suci pun bisa meningkatkan kecerdasan umat beragama.

Mengapa manusia butuh membaca kisah? Kisah adalah sesuatu yang sangat sederhana namun memiliki dampak yang besar bagi jiwa manusia karena begitu mudah menyentuh hati manusia. Di antara genre yang lainnya, genre kisah atau cerita merupakan genre yang paling digemari. Membaca kisah tak perlu menuntut otak manusia untuk berpikir keras, namun sangat mudah meresap dalam hati dan perasaan manusia.

Kisah tak ubahnya napas yang dihembuskan manusia setiap hari. Selalu ada, dan tak pernah ada habisnya. Perlu disyukuri bahwa kisah adalah karunia Tuhan yang terus berkembang melintasi zaman ke zaman. Namun pada intinya sebuah kisah kadang memiliki pola dan pesan yang sama. Ada-ada saja sisi kreatif manusia yang meracik kisah tersebut dengan tampilan atau pemaknaan yang sedikit berbeda. Pada hakikatnya, otak manusia juga terbatas. Terkadang, kisah dalam sejarah terkesan tidak relevan dengan kenyataan masa kini. Terkadang, ada pula efek hiperbola dan fantasi dalam cerita sejarah. Namun hal tersebut membuktikan, bahwa sejak zaman kuno dan di belahan dunia manapun, manusia membutuhkan kisah. Karena, pada dasarnya, kisah pasti — dan akan selalu begitu — ada di dalam diri manusia. Jati diri manusia dibentuk oleh proses pergulatan kisah yang panjang.

Terdapat pihak yang menerima bahwa kisah-kisah itu ada merupakan hikmah dari Tuhan yang maha kuasa. Namun, juga sangat konyol bahwa tak sedikit orang yang langsung merasa jijik mendengar atau membaca suatu kisah. Mereka beranggapan sebuah kisah hanya untuk hiburan semata (stensilan), bahkan terkadang hanya dianggap sebagai hasil karya orang-orang pemalas yang suka melamun, bukan agen pembaharu masyarakat, tidak memberi kontribusi yang berarti. Pernahkah seseorang itu berpikir bahwa sebuah kisah selalu dijadikan senjata politik yang sangat ampuh untuk mengendalikan negara? Tengoklah rezim-rezim yang telah lalu. Begitu banyak kejanggalan yang mengerikan, namun dengan memesonanya para petinggi politik berhasil menyusun sebuah drama untuk menutupi segala ketimpangan tersebut. Para politisi merupakan pengarang yang cerdas, padahal mereka adalah orang yang menjunjung tinggi materialitas.

Hal tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Tengoklah berita yang beredar di berbagai media massa. Satu kisah pengadilan terkadang tak pernah usai dibahas malah disusul cerita menghebohkan lainnya seperti penemuan berbagai gunung piramida di Indonesia. Manusia realistis dan liberal pun tanpa mereka sadari telah menjadi budak-budak kisah. Manusia sebaiknya memandang dari perspektif serta berpikir dekonstruktif dalam mengkaji suatu kisah.

Sejak kecil manusia telah dibimbing melalui kisah-kisah teladan seperti kisah nabi, pahlawan, bahkan negeri dongeng pengantar mimpi. Mereka kerap menyerap kisah-kisah tersebut dalam sanubari mereka untuk mencari kebenaran dan keburukan. Normal dan wajar, di masa kecil, manusia mendengar kisah-kisah tentang leluhur mereka. Hal tersebut dilakukan oleh orang tua mereka agar mereka bisa memperoleh pesan hidup dan pengetahuan. Kemudian mereka akan menjadikannya pedoman hidup. Begitulah secara terus-menerus, berakumulasi, hingga mereka dewasa. Mereka akan membawa kisah itu dan disadari atau tidak, kisah tersebut juga akan mempengaruhi kehidupan manusia di masa depan. Lalu, kala mereka menginjak masa senja, kisah tersebut akan kembali dikisahkan pada penerusnya mereka. Penerus mereka akan mengkisahkannya pada keturunan mereka. Begitu seterusnya, siklus tersebut alamiah.

Sebuah kisah selayaknya bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Tidak sekadar dipandang sebelah mata. Bahasa adalah kekuatan sebuah kisah, tak mungkin di abad serba cyber seperti ini manusia menggunakan bahasa yang biasa. Oleh karena itu, manusia memeras otaknya untuk merangkai kalimat-kalimat menjadi literasi yang indah. Namun hal tersebut kadang juga disalahartikan oleh manusia lain, menganggap bahasa yang indah hanya sekadar laratan hati manusia yang kurang kerjaan. Sebuah kisah adalah berkah yang ajaib — wahyu Tuhan yang mulia. Tanpa sebuah kisah, tulisan ini tak akan sampai di depan mata Anda. Tanpa kisah hari ini, entah ada di mana kita nanti.

*) Catatan ini terinspirasi dari salah satu kisah dalam buku 366 Refelctions of Life karya Sidik Nugroho

**) Fahrul Khakim: Mahasiswa sejarah Universitas Negeri Malang, anggota Forum Lingkar Pena (FLP)

Guru, Sertifikasi, dan Kompetensi Mengajarnya

Sidik Nugroho*)

Guru biasa memberitahukan
Guru baik menjelaskan
Guru ulung memeragakan
Guru hebat mengilhami

~ William Arthur Ward

Sertifikasi guru yang diadakan mulai tahun 2006, hingga kini masih menorehkan beberapa catatan yang perlu dicermati. Kecurangan demi kecurangan yang terjadi tiap tahun mengindikasikan bahwa guru — yang notabene adalah pendidik dan pengajar — di tanah air ini perlu mengedepankan kejujuran dalam proses yang ditempuhnya untuk memperoleh predikat sebagai guru bersertifikat.

Pada tahun 2006 sampai 2010, saat proses sertifikasi menggunakan portofolio, guru mencari sertifikat dan penghargaan — dari hasil seminar, workshop, pelatihan, dan lain-lain — dengan segala cara, karena semakin banyak sertifikat dan penghargaan yang dikumpulkannya, poin portofolio-nya akan semakin tinggi. Pada 2011 dan 2012 kebijakan diubah, ada tiga jalur sertifikasi: Penilaian Portofolio (PF), Pemberian Sertifikat Pendidik secara Langsung (PSPL), dan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG).

Dari tiga jalur itu, kuota dari jalur PF hanya disediakan 1% dari total kuota guru yang akan disertifikasi; kuota dari jalur PSPL diperuntukkan bagi guru yang sudah S2 dan S3, atau memiliki golongan sekurang-kurangnya IVB bagi guru PNS; dan kuota dari jalur PLPG disediakan terbanyak. Jalur PLPG bisa diketahui memiliki kuota terbanyak dengan melihat di situs http://www.sergur.pusbangprodik.org. Di tautan “Daftar urutan calon peserta sertifikasi guru tahun 2012” yang di dalamnya memuat Daftar Calon Peserta Sertifikasi Guru 2012, dapat dilihat, mayoritas guru mengikuti sertifikasi lewat jalur PLPG.

Nah, lewat jalur PLPG inilah kecurangan-kecurangan kembali terjadi. Padahal, pada tahun 2012 ini, kuota sertifikasi guru sudah dibuat secara online — transparan bagi publik. Bagaimana atau apa saja kecurangan-kecurangan itu?

Di banyak situs berita disebutkan adanya guru yang memalsukan jumlah jam mengajar. Dalam hal ini, syarat sertifikasi jelas: seorang guru harus mengajar 24 jam seminggu. Karena tidak mengajar sebanyak itu, datanya dipalsu. Ada juga guru yang merekayasa tahun (lama) mengajar agar masuk kuota. Lagi-lagi data persyaratan sertifikasi dipalsu. Dan, pemalsuan atau rekayasa ini tentunya juga melibatkan kepala sekolah.

Inilah potret pendidik dan pengajar yang menyedihkan di negeri ini. Guru, yang dulu identik dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa sekarang ingin dibayar mahal tanpa jasa. Pengabdian guru tergerus arus budaya konsumtif dan instan di masyarakat. Pahlawan tanpa tanda jasa, dulunya adalah judul asli himne guru yang diciptakan Sartono. Istilah itu juga dimuat di baris terakhir himne guru: “Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.”

Namun, kata-kata “tanpa tanda jasa” diganti dengan “pembangun insan cendekia”. Di harian Kompas, 24 November 2008, disebutkan bahwa perubahan tersebut diadakan sebagai hasil negosiasi antara Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional, PGRI, dan pencipta lagu itu, Sartono.

Sartono, yang dulu sehari-harinya menjadi guru musik di sebuah SMP swasta pernah bercerita kepada saya bahwa lagu “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” yang diciptakannya terilhami oleh seorang guru bernama Suroyo, atau kerap dipanggil Pak Royo, teman baik Sartono. Dalam ceritanya, Pak Royo suatu ketika mengalami kesusahan ekonomi akibat sebuah musibah yang menimpa keluarganya. Hartanya ludes. Pak Royo pernah kehabisan akal, sampai menjadi seorang pengamen sembari mengajar gara-gara kejadian itu. Perjuangannya mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup kemudian dituangkan Sartono dalam lirik lagu “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” atau himne guru.

Istilah “tanpa tanda jasa” yang diganti “pembangun insan cendekia” berkaitan dengan kesejahteraan guru yang kian baik — jasanya kian dihargai. Namun, pertanyaannya, apakah guru-guru yang membangun insan cendekia di negeri ini — yang memalsu data demi sertifikasi itu — sudah lupa dengan pengabdian? Sartono yang lain, bernama lengkap Sartono Kartodirdjo, seorang sejarawan dan guru yang pernah mengajar anak TK hingga menguji desertasi doktoral mahasiswanya, pernah menyatakan bahwa beberapa ilmuwan yang ada di Indonesia lahir karena bagi mereka, “… hidup ini tidak ditentukan oleh nasi.” Ia menceritakan beberapa orang yang hampir abai terhadap uang, mempelajari ilmu dengan ketekunan yang amat tinggi, hingga ilmu itu bagai menjadi sebuah jalan lain untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Seperti itulah bentuk pengabdian guru semestinya.

Sertifikasi guru sebenarnya hal yang baik, membuat kesejahteraan guru lebih diperhatikan. Namun, kesejahteraan perlu diraih dengan cara-cara yang halal dan sesuai aturan. Dan, kesejahteraan itu pun pada akhirnya menjadi batu uji bagi kompetensi seorang guru: sudahkah ia menjadi guru yang profesional? Sudahkah kompetensi mengajarnya seimbang dengan tunjangan sertifikasi yang diterimanya? Apakah tunjangan itu pada akhirnya hanya membuat guru lupa akan pentingnya sebuah pengabdian?

Hal inilah yang perlu dicermati secara sungguh-sungguh oleh pemerintah. Tidak sedikit laporan yang menyebutkan bahwa kinerja guru yang disertifikasi tidak mengalami peningkatan. Perlu ada pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan. Jangan sampai malah yang terjadi demikian: seorang guru yang lolos sertifikasi dengan cara tidak jujur, kemudian mendidik murid-muridnya dengan kompetensi mengajar yang tak mengalami kemajuan. Bila demikian adanya, betapa ironis bila guru menuntut anak didiknya berlaku jujur saat ulangan atau ujian.

Pada akhirnya, pertanyaan inilah yang perlu direnungkan: akan jadi apa generasi muda bangsa ini kalau guru-gurunya meneladankan sikap yang tak terpuji? (*)

*) Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan penulis buku 366 Reflections of Life (Bhuana Ilmu Populer, 2012)

Polisi-polisi Moral yang Mengerikan

“Homines sumus, non dei.” (Kita manusia yang lemah, bukan dewa.)
~ Pepatah Latin

Sebelum mengajar, saya seringkali menyempatkan diri untuk sarapan, atau paling tidak minum kopi di sebuah warung kopi (warkop) dekat sekolah saya. Di warkop itu ada sebuah televisi berukuran 21 inci yang selalu menyala, demikian pula setiap pagi. Pagi-pagi sebelum pukul tujuh, tayangan gosip pun sudah menghiasi layar kaca.

Berita tentang artis atau selebritas selalu menarik perhatian publik. Ketika Syahrini tidak tahu dari mana asal mobil Esemka, banyak yang menghujat dan memaki-makinya. Ketika Adesagi Kierana, desainer yang diduga keras seorang gay tewas bersama seseorang, di situs-situs berita banyak komentar yang melaknatinya atas nama Tuhan dan agama. Dulu, ketika Roy Marten ketahuan menggunakan narkoba, gedung pengadilan yang menggelar sidangnya menjadi ramai sekali. Seorang selebritas ternama ketahuan menggunakan barang haram, itu pas sekali jadi berita utama!

Seperti infotainment, kini, makin banyak orang yang sangat suka menyaksikan dan meributkan hal-hal yang memalukan, yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan kehidupan pribadinya. Penghakiman, hujatan, dan makian diteriakkan. Orang-orang tampak sibuk memunguti dosa, masalah, dan kebobrokan orang lain.

Keadaan ini mengingatkan saya pada kisah yang pernah ditulis Philip Yancey, seorang penulis terkenal. Ketika masih kecil ia mengenal seorang pria yang mengesankan. Pria itu sering dipanggil Big Harold. Ia suka mengawasi anak-anak yang riang gembira bermain komidi putar. Ia juga meluangkan waktu bermain catur bersama mereka. Namun, di balik sikap ramahnya, Big Harold suka menghakimi orang lain.

Ia juga membenci orang kulit hitam — sama sekali tidak bisa toleran pada mereka. Ia mengkritik dengan tajam segala sesuatu yang amoral dalam pandangannya lewat surat-surat yang ditulisnya. Ia berhasil menjadi seorang pendeta di sebuah gereja kecil di Afrika. Namun, di balik surat dan khotbah-khotbahnya yang menyuarakan moralitas, Big Harold ternyata menyimpan misteri lain.

Ia melakukan phone-sex, juga berlangganan majalah porno. Ia bahkan menggunting beberapa bagian majalah porno itu, dan mengirimkan guntingan itu kepada beberapa wanita, sambil menuliskan: “Ini yang akan kulakukan padamu.” Moralitas yang begitu kuat ia suarakan dalam khotbah dan surat-suratnya ternyata tak pernah mengubah kondisi hatinya sendiri yang bobrok.

Moralitas seperti ini adalah legalisme. Orang yang terjebak dalam legalisme tahu hukum, tahu yang baik dan buruk, mungkin selalu tampak adil dan bijaksana, namun menjadi pribadi yang kaku dan gagal untuk mengupayakan kehidupan yang seimbang. Sebaliknya, ada orang yang mengakui ketidakberdayaan dan ketidaksempurnaannya, tidak selalu tampak baik, namun selalu berusaha menjaga integritas dengan cara mengoreksi diri.

Dosa yang terungkap, dibeberkan di tengah masyarakat, efeknya akan luar biasa. Sidang digelar, pengadilan ramai. Namun, dosa yang tak ketahuan, tersembunyi jauh dalam relung hati, siapa yang tahu seberapa besar efeknya? Jangankan efeknya, yang punya dosa kadang juga tidak sadar bahwa itu juga namanya dosa. Pengadilan seperti apakah yang akan membuktikannya sebagai dosa?

Iri hati, ketamakan, kesombongan, pikiran najis, kebencian dan sederet dosa lain, siapakah yang menjadi hakim atasnya? Tidak ada pengadilan atau negara di muka bumi ini yang mengatur hukuman bagi sebuah iri hati atau kebencian. Seseorang dapat terjebak menjadi polisi-polisi moral yang mengerikan ketika lupa pada kekurangan diri sendiri. Bahkan, polisi yang bertindak atas nama hukum pun kadang lelah menghadapi kejahatan.

“Menjadi polisi berarti percaya pada hukum… menghormati persamaan manusia… dan menghargai setiap individu. Setiap hari kau bertugas. Kau perlu integritas dan keberanian, (juga) kejujuran, kasih sayang, sopan santun, ketekunan dan kesabaran. Kalian sekarang siap bergabung, berperang dengan kejahatan,” demikian retorika itu berkumandang dengan agung dalam film Serpico yang dibintangi Al Pacino — diangkat dari kisah nyata.

Serpico polisi yang idealis, suka memberantas kejahatan. Ia bahkan diangkat menjadi detektif. Namun, ketika sudah menjadi detektif ia justru menyaksikan betapa kejahatan sudah mengurat-akar dan mustahil diberantas. Polisi kongkalikong dengan penjahat. Mereka disuap agar kejahatan dibiarkan hingga kian merajalela. Sebuah adegan yang begitu kuat menempelak rasa keadilan adalah saat Serpico berhasil menangkap gembong mafia bernama Rudy Corsaro:

Setelah Rudy berhasil ditangkap, ia malah santai duduk-duduk bersama beberapa polisi lain di kantor polisi. Serpico yang amarahnya sudah tak terkendali, awalnya hanya bersiul-siul. Namun, berangnya terlampiaskan begitu tak terduga. Dia jatuhkan Rudy ke lantai, dia pelorotkan celananya, dia robek bajunya, dan dia lemparkan Rudy ke sel kecil yang ada di kantor itu!

Kejahatan — juga dosa, masalah, dan persoalan hidup — tak pernah berhenti terjadi. Kejahatan selalu ada di sekitar kita dan kadang sengaja dipelihara karena serasa mustahil diberantas. Saat seseorang hendak membasminya, orang itu pun merasa terlalu kecil untuk menegakkan kebaikan. Ketika kejahatan tak bisa ditumpas, jadi, bagaimana?

Segala sesuatu akhirnya berpulang pada hati nurani masing-masing. Semoga, tidak makin sedikit orang yang menghakimi kebencian dan kedengkian yang tumbuh di dalam dirinya sendiri, lalu bertanya seperti sebuah lagu yang pernah dinyanyikan God Bless*):

Oh, adakah kasih
Di dalam dada kita yang tersisa?

***

*) Dari lagu berjudul “Rindu Damai”.

Meneladani Semangat Menulis Kirana Kejora dan Haryo Bagus Handoko

Oleh: Sidik Nugroho *)

Hari Sabtu dan Minggu yang baru saja lewat adalah hari-hari yang mengesankan bagi saya. Sepanjang dua hari ini, saya bertemu dengan beberapa orang yang memiliki minat serupa — minat dalam dunia tulis-menulis. Dua di antara beberapa orang itu adalah Kirana Kejora dan Haryo Bagus Handoko. Nah, hal yang menarik dari mereka berdua adalah jalan berbeda yang mereka tempuh dalam berkarya di dunia penulisan.

Ide untuk menulis catatan kecil ini muncul di sebuah kedai kopi di Malang, Kedai Sinau. Sabtu sore, 3 Agustus 2011, saya duduk bersebelahan dengan Fikrul Akbar Alamsyah, seorang anggota Forum Penulis Kota Malang (FPKM) yang kini menjadi dosen di Universitas Brawijaya. Saat itu tengah berlangsung bedah buku Air Mata Terakhir Bunda yang ditulis Kirana Kejora. Kami dan beberapa orang lain di kedai itu asyik menyimak Kirana menyampaikan cerita dan gagasan-gagasannya.

Menjelang acara berakhir, saya berkata kepada Fikrul, “Acara bedah buku ini kelihatannya bagus buat ditulis. Aku belajar banyak dari semangat independen Kirana Kejora menerbitkan buku indie. Dan, tadi siang aku juga ngomong banyak dengan Haryo soal penerbitan buku di penerbit, bukan yang indie.”

Semangat Independen Kirana Kejora

“Saya tidak melawan arus, atau tidak ikut arus, tapi saya sedang menciptakan arus,” kata Kirana Kejora dengan lantang pada acara bedah buku di Kedai Sinau. Ia mengisahkan hal-hal apa saja yang membuatnya bertekad membangun dunia penulisan dengan memasarkan buku-buku secara indie.

Beberapa tahun lalu, di Surabaya, ia memiliki kenalan grup-grup band indie dan model. Suatu ketika, kalau tidak salah tahun 2004, Kirana menulis sebuah buku yang berisi kumpulan puisi dan novelet. Di antara sekian banyak temannya yang musisi dan model, tidak ada yang melahirkan karya tulis seperti yang ia lakukan. Namun, teman-teman inilah yang berjasa baginya. Mereka banyak yang mendukung buku karya Kirana, memberi ide untuk mengemas buku itu dengan menarik, lalu mengadakan launching buku itu di sebuah acara musik yang menampilkan band-band indie.

Tak dinyana, buku itu disambut dengan cukup baik. Kirana kemudian memberanikan diri untuk memasarkan buku-buku itu ke toko buku. Di toko buku Gramedia, Uranus, dan beberapa toko buku lainnya di Surabaya, Kirana berjuang agar buku-bukunya terdistribusi lebih luas.

Singkat cerita, segala upayanya tidak sia-sia. Sejauh ini Kirana telah menulis tujuh novel (kalau tidak salah) yang semuanya dicetak dan dipasarkan secara indie. Ia membandingkan pengalamannya dengan pengalaman para penulis lain, dan menyimpulkan bahwa pendapatan seorang penulis buku indie lebih besar daripada yang menerima royalti dari penerbit: “Sebuah buku bisa dijual dengan harga empat kali ongkos cetak buku tersebut,” katanya.

Misalnya, sebuah buku dicetak dengan biaya Rp15.000,00. Buku tersebut bisa dijual dengan harga Rp60.000,00. Jadi, seorang penulis buku indie bisa mendapat keuntungan sebanyak tiga kali lipat harga bukunya bila ia sama sekali tak menggunakan jasa distributor. Sementara seorang penulis yang menerbitkan buku di penerbit kebanyakan mendapat royati yang dibayar enam bulan sekali. Besarnya royalti pada umumnya adalah 10 persen harga jual per buku, dikali dengan jumlah buku yang terjual selama enam bulan itu.

Namun, kendala penerbitan secara indie tidak kecil. Pertama, seorang penulis harus memiliki modal cukup banyak untuk mencetak bukunya sendiri. Harga cetak sebuah buku bisa menjadi murah bilamana buku tersebut dicetak paling sedikit 500 buah. Seseorang bercerita bahwa ia baru saja menerbitkan buku yang dicetaknya sebanyak 100 buah. Harga cetak per buku sampai menembus angka Rp26.000,00, sementara bila ia mau mencetak sebanyak 500 buah, harganya hanya sekitar Rp15.000,00. Jadi, mencetak 100 buku itu mengeluarkan dana Rp2.600.000,00 sementara bila mencetak 500 buah akan memerlukan dana Rp7.500.000,00.

Nah, dari hal itu lahirlah kendala kedua: bila seorang penulis sudah memiliki dana yang cukup untuk mencetak buku di atas 500 buah, apa yang harus dilakukannya agar buku tersebut laku terjual? Tidak lucu rasanya kalau buku-buku tersebut pada akhirnya harus dibiarkan menumpuk atau dibagi-bagikan gratis.

Nah, saya belajar dari kegigihan Kirana mengatasi kendala-kendala itu, terutama kendala kedua. “Seorang penulis indie harus percaya diri, bahkan kadang harus narsis,” katanya. Bila tidak demikian, memang sulit meyakinkan orang lain bahwa kita menulis sesuatu yang penting. Sebagai seorang ibu yang membesarkan kedua anaknya sendirian, tak ayal Kirana pada akhirnya terus memutar otak untuk membuat karya-karyanya bisa diterima seluas-luasnya. Penulis indie memang harus kuat menjalin jaringan dengan banyak pihak, pintar mengemas bukunya, pandai memanfaatkan berbagai peluang dan momentum untuk menyosialisasikan karya-karyanya.

Buah Ketekunan Haryo Bagus Handoko

Sebelum bertemu dengan Kirana Kejora, saya ngobrol dengan Haryo Bagus Handoko soal buku barunya, Rahasia Awet Muda dan Panjang Umur. Ketika saya melihat buku itu, betapa saya kaget. Tebalnya 600 halaman lebih, dan itu pun baru seri pertama. “Seri kedua tebalnya hampir sama dengan yang ini, Mas. Kalau yang ketiga lebih tipis, sekitar 400 halaman,” katanya.

Haryo bercerita, naskah bukunya yang bertema kesehatan itu sebagian besar adalah tulisan-tulisannya yang dulu pernah dipublikasikan di majalah Noor, Clara, dan Healthy Life. Namun, tambahan yang dimasukkannya dalam ketiga buku serial itu juga tidak sedikit. Jadilah demikian, sebuah buku yang cukup tebal dan berbobot.

Haryo adalah sosok yang gigih dalam penulisan. Hampir empat tahun saya mengenalnya, di mata saya ia adalah orang yang pandai menemukan peluang. Buku-buku yang ditulisnya cukup beragam. Buku pertamanya tentang tanaman hias, kedua (terbit dua seri) tentang tempat-tempat makan dan jajanan khas di Malang, ketiga tentang usaha laundry, dan keempat tentang toko online. Buku kelima sebanyak tiga seri yang diterbitkan kali ini tentang kesehatan.

Buku-buku Haryo dibuat dengan perjuangan dan pengorbanan yang tidak kecil. Saat menulis buku tentang tempat-tempat makan dan jajanan di Malang, ia bercerita harus berkeliling kota Malang mencari tempat-tempat makan yang unik, lalu mencatat, dan memfoto. Buku-bukunya kaya dengan hasil riset, tidak dibuat asal-asalan. Dari Haryo saya juga belajar untuk tidak asal-asalan memilih penerbit. Semua bukunya diterbitkan oleh penerbit yang memiliki reputasi baik.

Di komunitas menulis yang sama-sama kami bangun, FPKM, begitu banyak yang sudah Haryo lakukan. Dari membuat berbagai situs FPKM, membagi cara-cara menulis yang baik, membuka jalan untuk berhubungan dengan editor atau penerbit, juga mengamati trend atau tema menulis yang sedang diminati dan berpeluang besar dipasarkan di perbukuan nasional. Belakangan, ia juga mengajak saya dan para anggota FPKM untuk membuka mata kami lebih luas: menerbitkan naskah atau mencari peluang menulis di luar negeri.

Saya mendapat kehormatan sebagai salah satu orang pertama yang menerima buku itu secara gratis langsung dari penulisnya. Waktu saya pulang, saya segera meminta bapak saya untuk membaca buku itu karena bapak saya suka sekali membaca buku-buku kesehatan. Bapak saya senang sekali membacanya. Ia mendapatkan banyak wawasan baru dari buku itu. Dari siang sampai sore di hari Sabtu itu, bapak saya sudah membaca 56 halaman.

***

Jalur indie yang ditempuh Kirana Kejora bukanlah melulu jalur yang ditempuh orang-orang kalah yang butuh pengakuan. Karya-karya indie tidak bisa dianggap sebelah mata. Mungkin sebuah karya indie dulunya memang ditolak oleh seorang editor atau penerbit. Namun, bukankah editor juga manusia? Bukankah editor sebuah koran besar pun suatu ketika luput, menayangkan sebuah cerpen yang diduga keras plagiat dan sebelumnya pernah dimuat di koran kecil lain?

Jalur penerbitan buku lewat penerbit seperti yang dipilih Haryo Bagus Handoko memang lebih banyak mendatangkan kemudahan. Penerbit, bekerjasama dengan distributor buku, ganti bekerja mengemas dan memasarkan buku setelah naskah seorang penulis dinyatakan layak terbit oleh seorang editor. Seorang penulis bisa bernapas lega mengakhiri tugasnya. Kemudian, mungkin, dengan royalti yang diterimanya, ia menggarap proyek menulis selanjutnya.

Kedua orang ini, dengan kiprah dan semangat juang mereka masing-masing, terus saya pikirkan dan kenang hingga sekarang. Kiranya dedikasi Kirana dan Haryo dalam penulisan akan terus menginspirasi banyak orang walau mereka berdua sejauh ini memilih jalur yang berbeda dalam dunia penulisan. (*)

Sidoarjo, 5 Desember 2011

*) Sidik Nugroho: Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan penulis lepas. Bukunya yang akan terbit adalah 366 Reflections of Life, diterbitkan Bhuana Ilmu Populer