Category Archives: Catatan

Dari Panti Asuhan yang Terbakar

Image

Saya menulis cerita Si Tuan Malam gara-gara melihat panti asuhan yang terbakar. Kejadian ini saya alami pada tahun 2007, saat saya kembali ke Singkawang, setelah hampir sepuluh tahun tidak ke sana.

Selama tinggal di Singkawang, waktu SMP, saya beribadah tiap Minggu di sebuah gereja kecil. Gereja itu belum memiliki gedung sendiri, masih menumpang di sebuah aula panti asuhan. Hampir tiap Minggu saya dan kawan-kawan seusia tampil mempersembahkan paduan suara di gereja — saya sering kebagian bermain gitar.

Seringkali, setelah ibadah selesai, saya bertemu dengan anak-anak panti asuhan. Mereka rata-rata berasal dari pedalaman Kalbar, kurang bisa akrab dengan saya dan teman-teman saya di gereja. Namun, beberapa kali saya membayangkan nasib mereka yang jauh dari orangtua mereka. Saat itu saya berpikir, mungkin perlu usaha lebih keras untuk menjalani kehidupan seperti mereka.

Tamat SMP, tahun 1995, saya pindah ke Semarang. Pada tahun 1996 dan 1997 saya sempat kembali ke Singkawang beberapa kali. Kemudian saya kuliah di Malang, lalu bekerja di Sidoarjo.

Pada tahun 2007, Kota Singkawang sudah banyak berubah. Salah satu perubahan yang membuat saya terpana adalah panti asuhan yang terletak di Jalan Diponegoro, di belakang Hotel Mahkota, yang aulanya menjadi tempat beribadah saya dulu. Panti asuhan itu terbakar! Masih ada beberapa dinding yang berdiri, tapi secara keseluruhan kondisi bangunannya sudah amburadul.

Di depan panti asuhan itulah saya kemudian merenung, membayangkan masa-masa SMP dulu. Saya mampir ke sebuah warung, kemudian menyusun cerita berjudul “Pencarian Kolam Mukjizat” di mana bab pertamanya saya beri judul ‘Rumah-rumah yang Terbakar’. Saya pun membayangkan sebuah rumah asuh yang saya beri nama Rumah Damai dalam cerita yang saya tulis.

Sementara itu, nama tokoh Si Tuan Malam lahir karena saya suka begadang sejak kuliah. Saya suka menulis pada malam hari karena suasana malam yang lebih tenang. Pada malam hari, saya lebih leluasa menjadi “tuan” bagi imajinasi yang mengalir dalam pikiran saya.

***

Penulisan cerita “Pencarian Kolam Mukjizat” sempat tersendat-sendat karena beberapa hal. Tahun 2009 cerita itu akhirnya selesai. Satu-satunya hal yang membuat saya yakin bahwa saya harus menyelesaikan cerita itu adalah kesaksian ilustrator saya, Angelia Lionardi.

Angelia Lionardi, ilustrator untuk buku “Pencarian Kolam Mukjizat” cetakan pertama, menyatakan kepada saya bahwa adiknya, yang saat itu masih SD, sangat suka dengan cerita Si Tuan Malam itu. Saya biasanya menyerahkan beberapa bab yang sudah selesai kepada Angelia untuk dibuatkan ilustrasi. Bab-bab itulah yang dibaca adiknya, dan adiknya selalu menunggu-nunggu bab-bab selanjutnya. Dari antusiasme adiknya itu juga saya mendapat ide untuk menulis cerita itu secara berseri.

Setelah naskah dan ilustrasi selesai semua, “Pencarian Kolam Mukjizat” saya ajukan ke sebuah penerbit. Namun, penerbit itu tak bersedia menerbitkannya. Teman saya satu kos memberi saran: terbitkan sendiri saja. Usul itu saya pandang baik. Setelah modal untuk mencetak buku terkumpul, saya pun mencetaknya dengan bantuan Yosua Agustinus Sirait yang menjadi desainer grafis dan layouter.

Sungguh tak terduga, novel “Pencarian Kolam Mukjizat” itu disukai murid-murid yang saya ajar di SD Pembangunan Jaya 2. Ada juga beberapa teman lain yang memesan, namun murid-murid saya memiliki kesan yang tak terduga terhadap cerita yang saya tulis. Ada seorang murid saya bernama Andika Constantine yang sampai memeragakan-membayangkan cara tokoh-tokoh di dalam novel itu berkelahi dengan serigala. Jessica Irawan, murid saya yang lainnya, menyelesaikan pembacaan novel itu dalam sehari; dan dia selalu menanyakan kapan novel kedua Si Tuan Malam saya tulis.

***

Begitulah sekilas proses lahirnya Kisah-kisah Si Tuan Malam. Sudah dua cerita berhasil saya tulis. Di novel pertama (cetak ulang) dan novel kedua, saya menggunakan ilustrator lain untuk menggarap ilustrasi, yakni Zul M.S. Penggantian ilustrator saya lakukan untuk memudahkan pengerjaan karena Zul M.S. tinggal sekota dengan saya di Pontianak.

Tak lama lagi saya akan menulis novel ketiga Si Tuan Malam. Saya berencana, akan ada empat novel Si Tuan Malam yang (akan) saya tulis. (*)

Pontianak, 26-27 Agustus 2013

(Catatan: Info untuk pemesanan novel Si Tuan Malam bisa dilihat di situs http://www.sidiknugroho.com)

Pria-pria yang Bimbang Menikah

Pertanyaan tentang pernikahan selalu saja disampaikan bila seseorang berkenalan dengan saya, setelah bertanya apa pekerjaan saya dan berapa usia saya. Itu sudah bukan sesuatu yang mengusik saya lagi.

Sore ini, saya berada cukup lama di warung kopi sambil menunggu hujan reda. Seorang bapak yang sudah cukup tua, usianya sekitar 60 tahun, mengobrol dengan saya tentang pernikahan dan keluarga. Ia berkata, “Keadaan sekarang sudah jauh berbeda. Dulu, seorang pria ketemu wanita, muncul rasa saling suka, pacaran, menikah. Sekarang, hal itu tampaknya lebih rumit.”

Saya berkata kepadanya, “Saya punya teman-teman yang tidak menikah dan kesepian. Tapi, ada juga teman-teman yang berbahagia dengan keadaan itu. Kalau Bapak mau dengar, saya mau bercerita tentang pria-pria yang tidak menikah.” Menarik, ia mau mendengar dan memperhatikan cerita-cerita saya tentang mereka.

“Tapi, ini bukan mereka yang menyukai sesama jenis, kan?” tanyanya.

Saya menggeleng. “Bukan, Pak. Saya tidak mengenal banyak pria yang suka sesama jenis.

“Mereka yang mau saya ceritakan ini bisa dikatakan pria-pria yang baik, setahu saya. Mereka menyukai wanita. Mereka juga pria yang, setahu saya, tidak mempunyai penyakit seperti impotensi. Kalaupun ada yang demikian, saya tidak tahu pasti. Tapi, kelihatannya, mereka pria-pria yang sehat secara seksual. Beberapa di antara mereka sudah saya kenal beberapa tahun dan pernah bercerita menyukai wanita ini atau itu.”

Bapak itu mengangguk-angguk. Saya pun mulai bercerita tentang beberapa kasus yang saya temui, kasus-kasus yang menyebabkan beberapa pria bimbang menikah.

1. Kencan-kencan yang Buruk

Seorang pria, anggaplah ia bernama Jack, mengajak kencan seorang wanita dengan menonton film bioskop. Jack sangat menggilai film, nyaris tidak pernah terlambat menonton film bioskop, dan biasanya membaca review film yang akan ditontonnya terlebih dahulu sebelum menonton. Si wanita yang diajak Jack sebenarnya mengenal sosok Jack yang suka menonton film. Tapi, ia terlambat datang ke bioskop karena hal sepele. Jack pun kesal karena keterlambatan itu.

Bukan hanya terlambat, saat menyaksikan film, si wanita sama sekali tak menunjukkan minat terhadap film yang ditonton. Tidak ada obrolan yang menarik di antara mereka berdua setelah menonton film tentang film yang ditonton karena si wanita tidak menunjukkan antusiasme.

Pada kesempatan lain, Jack mengajak wanita lain kencan. Baru bertemu beberapa kali di gereja, si wanita sudah menunjukkan penampilan yang nakal dan menggoda. Si wanita terlalu agresif. Suatu malam, Jack dan wanita itu makan malam di sebuah food court di Surabaya. Si wanita mengenakan kaos yang kerahnya sangat rendah. Sepasang payudaranya seperti hendak menyembul keluar kalau ia membungkuk mengambil makanan. Jack kurang suka melihatnya, si wanita malah menjadi perhatian orang lain yang ada di sekitar mereka.

Bukan hanya itu, beberapa hari setelah makan malam itu, si wanita berkata hendak meminjam uang dua juta rupiah kepada Jack karena saudaranya mengalami kecelakaan. Jack bukannya tidak mau menolong, tapi jadi mendapat kesan bahwa ia sedang dimanfaatkan. Jack merasa, permintaan bantuan itu terasa sangat terburu-buru ditujukan kepadanya. Ia pun menjaga jarak dengan wanita itu. Beberapa minggu kemudian, ia mendapat kabar saudara si wanita itu tertolong dengan bantuan pihak keluarga si wanita.

2. Hobi atau Minat yang Lebih Membahagiakan

Saya mengenal seorang pria, anggaplah ia bernama Sugeng. Sugeng sangat menggilai musik dan film. Selain bekerja dan menunjukkan perhatian untuk orangtua dan saudara-saudaranya, hidup Sugeng ia arahkan di musik dan film. Ia menciptakan musik, membeli alat musik, menonton film, menganalisa film. Ia bergabung dengan teman-teman sehobi, menikmati dunianya. Semua kegiatan itu membuat hidupnya terasa sangat bermakna.

Sedikit banyak, poin pertama, yaitu kencan yang buruk, pernah dialami Sugeng. Suatu waktu ia pernah berkata, “Jikalau dengan musik dan film aku berbahagia, tapi wanita-wanita yang datang dalam hidupku ini hanya membuat repot, mengapa aku harus memusingkan diriku dengan menghabiskan waktu bersama mereka?”

Sekilas ucapan Sugeng itu terdengar sinis dan egois, tapi saya rasa Sugeng lebih mengerti dengan apa yang ia ucapkan.

3. Suka Bertualang

Saat menumpang bis dari Yogya ke Solo pada liburan akhir tahun lalu, saya bertemu dengan seorang pria. Ia seorang dosen di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogyakarta, dan bila akhir pekan mengajar di sebuah universitas di Solo. Pria ini sudah tua, usianya mendekati 60 tahun. Ketika berbicara dengannya di dalam bis, saya takjub.

Pria ini bercerita bahwa sejak masa mudanya, sejak mahasiswa, ia memang berniat menjadi seorang petualang. Dan niat ini didukung dengan studinya. Fokus studinya adalah psikologi sosial, yang sedikit banyak berkaitan dengan perilaku atau budaya suatu masyarakat atau komunitas. Ia melakukan penelitian di banyak tempat, mengkaji berbagai perilaku masyarakat dan komunitas. Ia bercerita memiliki banyak rekaman wawancara dengan beberapa raja di kerajaan-kerajaan kecil yang masih ada di beberapa daerah di Indonesia.

Ia dulu juga suka menyelundupkan minyak wangi dari Timor Timur sebelum wilayah ini bersatu dengan Indonesia. Cara-cara yang ia gunakan untuk menyelundupkan minyak wangi sangat menarik perhatian saya, seperti kisah-kisah detektif.

Tiap enam bulan sekali ia pasti bepergian ke luar pulau Jawa sejak ia kuliah hingga sudah menjadi dosen. Ia berkata tidak memiliki harapan apa pun tentang jodoh. “Bila ada ya menikah, bila tidak ada tidak masalah,” katanya.

4. Pemuasan Hasrat Seksual yang Mudah dan Murah

Sudah menjadi rahasia umum, di semua kota besar selalu saja ada wanita pemuas birahi. Saya tinggal lima tahun di Sidoarjo, dan saya sering mendengar cerita tentang lokalisasi yang ada di Surabaya dan Pandaan yang tak jauh dari Sidoarjo.

Lokalisasi yang ada di Surabaya, Dolly, konon merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. “Di sana banyak pilihannya, Mas,” kata seorang teman saya yang sering nongkrong dengan saya di warung kopi. “Sampean punya uang 150 ribu saja sudah bisa dapat barang yang bagus banget.”

“Kalau yang di Pandaan lain lagi, Mas,” katanya. “Di sana kita harus menyewa vila kalau mau bawa cewek. Cewek di sana juga lebih mahal karena kita bawa lebih lama. Di Dolly hitungannya satu setengah jam, di Pandaan biasanya pakai short time, 3 jam, atau long time, semalaman. Yang short time saja biasanya pasang harga tiga ratus ribu.”

Pemuasan hasrat seksual yang murah dan mudah membuat seorang teman saya yang lain berkelakar saat ia sedang bermasalah dengan pasangannya. “Mungkin aku akan putus,” katanya. “Mengayomi cewek cerewet seperti dia bukan hanya menguras uang, tapi tenaga, pikiran, dan waktu. Aku pun enggak bingung dengan seks. Kalau sebulan perlu main dua kali, cari cewek saja di Dolly, keluarkan uang tiga ratus ribu, beres perkara.”

5. Wanita-wanita yang Rumit

Saya mengategorikan wanita yang rumit ini ke dalam dua bagian. Pertama, mereka yang terlalu banyak menuntut. Zaman sekarang memang wajar bila seseorang dituntut mapan secara finansial. Tapi, beberapa tuntutan kadangkala tidak masuk akal. Teman saya di Bandung pernah bercerita bahwa seorang wanita yang dikenalnya akan selalu bertanya apa merk mobil yang dimiliki pria yang mendekatinya.

Teman saya di Sidoarjo lain lagi ceritanya. Ia berkenalan dengan seorang wanita di Facebook. Suatu ketika ia meng-update status menggunakan Blackberry. Si wanita menanyakan lewat kotak pesan apa PIN-nya, teman saya mengatakan bahwa Blackberry yang ia gunakan untuk meng-update status adalah Blackberry pinjaman. Begitu tahu itu Blackberry pinjaman, si wanita langsung menjauh — menjauh sebelum didekati.

Kedua, wanita yang rumit adalah wanita yang memang tidak mau berkomitmen. Hal inilah yang dialami oleh teman saya, anggap saja ia bernama Yudi. Pada zaman chatting masih menggunakan mIRC, Yudi sudah menemukan wanita-wanita jenis ini: wanita-wanita yang mau saja diajak “one night stand”. Ia bercerita kepada saya, tidak kurang dari lima wanita yang berhasil dibawanya kencan hingga berakhir di ranjang gara-gara berkenalan lewat mIRC.

Wanita-wanita ini juga sama seperti pria yang mengajak mereka kencan: mereka menikmati hubungan tanpa status ini. Mereka enggan terikat dalam hubungan yang bernama pacaran, apalagi pernikahan. Keterikatan semacam itu selalu saja menimbulkan masalah besar bagi mereka.

***

Itulah beberapa cerita yang saya sampaikan kepada bapak tua itu. Tampaknya ia bisa memahami apa yang terjadi pada masa kini. “Zaman selalu berubah ya, Nak,” katanya kepada saya.

“Iya, Pak. Tapi cinta tetap cinta, walaupun dunia ini selalu berubah.”

“Maksudmu?” tanyanya sambil menghembuskan asap rokok.

“Maksud saya, tetap ada orang yang perlu dan bahkan harus sungguh-sungguh kita cintai untuk membuat hati ini sering gembira dan damai.”

“Benar, Nak, mencintai orang yang sama secara terus-menerus membuat kita lebih dewasa. Ini bukan melulu soal pernikahan lho. Banyak pernikahan yang juga berakhir dengan perceraian kok. Cerita-ceritamu itu ada yang baik, ada yang… yah… menurut saya kurang baik.”

Saya mengangguk, mengiyakan.

“Apakah kamu sendiri sudah menemukan seseorang untuk dicintai, Nak?”

Saya tersenyum. “Hanya Tuhan yang tahu, Pak.”

***

Pontianak, 18 April 2013

Kisah Pendek tentang Hantu

Andi, bukan nama sebenarnya, pada tanggal 26 hingga 27 Februari 2013 susah tidur di rumah kosnya yang berada di dekat STKIP PGRI, Pontianak. Pasalnya, dalam pergantian hari itu, dia digoda hantu.

Andi awalnya gelisah, tidak bisa tidur di kamar kos hingga pukul 10 malam. Rumah kos itu memang sedang sepi, hanya dia sendiri di situ. Tidak seperti biasanya, suasana di sana terasa lain, seram. Dia pun keluar, ke warung kopi langganannya.

Jam 11 malam dia sudah sangat mengantuk, dia pulang ke rumah kos. Suasana seram itu masih ada. Dan, benar saja, tak lama setelah ia masuk ke dalam kamar — sekitar 15 menit — dia mendengar langkah-langkah kaki seseorang di depan kamarnya. Jelas sekali.

Andi tidak bisa tidur, menyetel beberapa lagu-lagu instrumen Antonio Vivaldi dari ponselnya. Sampai lewat tengah malam, rasa kantuk tak kunjung datang. Dia menyetel lagu-lagu itu berulang-ulang dengan suara agak keras supaya tidak mendengar apa pun dari luar kamarnya.

Namun, lagu-lagu itu tak kunjung membawanya tidur dengan pulas. Setengah tidur setengah sadar, Andi mendengar ada orang yang mandi di kamar mandi yang tak jauh dari kamarnya. Kemudian, terdengar langkah kaki orang masuk ke dalam kamar di sebelah kamar Andi. Kamar itu selama ini tak berpenghuni.

Setelah mendengar orang masuk di kamar sebelah, Andi merasakan dan melihat seekor kucing yang menduduki perutnya. Entah dari mana datangnya kucing itu. Dia usir kucing itu pelan-pelan dari atas perutnya. Kucing itu beranjak dari perutnya, duduk di tumpukan buku yang ada di samping tempat tidurnya.

Andi hendak membawa kucing itu keluar, sekalian melihat siapa orang yang mandi dan ada di kamar sebelah. Namun dia tak bisa bangun dari tidurnya, seluruh badannya terasa berat untuk diangkat. Andi pun menyadari, dia sedang bermimpi. Mimpi itu membuat sekujur tubuhnya kaku, lidahnya kelu.

Setelah berjuang menepis kaku itu dengan mencoba berteriak beberapa kali, Andi berhasil sadar. Dia terengah-engah, duduk di kasurnya, melihat seisi kamarnya yang dia khawatirkan dimasuki oleh hantu-hantu bertampang mengerikan.

Dia tak berani keluar kamar, memastikan apakah ada orang yang tadi benar-benar mandi dan masuk ke kamar. Lagu-lagu Vivaldi sudah tidak terdengar lagi dari ponselnya. Andi berbaring, tidak bisa tidur selama hampir sejam. Dia sengaja tidak memutar lagu lagi dari ponselnya. Dia ingin mendengar apa saja yang terjadi di luar kamarnya.

Beberapa motor dan mobil melintas. Suara jangkrik terdengar beberapa kali.

Tiba-tiba, bulu kuduknya berdiri saat ia mendengar suara desah napas seseorang yang begitu kuat dan panjang. “Haaahhh…,” suara seorang pria. Dua kali dia mendengar suara itu, seluruh tubuhnya jadi terasa kaku. Tidak ada suara langkah kaki atau gerakan lainnya, hanya desahan itu.

Kira-kira setengah jam kemudian, Andi mendengar suara lain: anjing menggonggong beberapa kali.

Terakhir, sebelum terlelap, dia mendengar seseorang menyuarakan, “Uuu…” dengan pelan. Tak jelas, itu suara pria atau wanita.

Andi membalikkan badannya, berusaha tidur sekuat tenaga. Dilihatnya jam, sudah hampir jam 4 pagi. Dia berhasil tidur tak sampai sejam, suara adzan di masjid depan rumah kosnya membangunkannya.

Perlahan-lahan Andi membuka kamarnya saat hari mulai terang, melihat kamar yang ada di sebelahnya. Tidak ada siapa-siapa. Andi termenung di depan kamarnya beberapa saat. Apakah hantu memang ada? Seumur hidupnya belum pernah dia melihat hantu. Tapi, apa yang baru saja dialaminya membuatnya sadar: hantu mungkin memang benar-benar ada.

Pontianak, 27 Februari 2013

Guru-guru yang Paling Mengesankan Sepanjang Hidup Saya

Guru yang paling sering saya kenang adalah guru yang lucu — entahlah kalau Anda. Setelah itu, barulah yang pintar atau unik dalam hal-hal tertentu. Berikut beberapa guru saya dari SD sampai kuliah yang hingga kini masih sering saya kenang.

1. Pak Ferdinandus

Pak Ferdinandus adalah guru saya waktu sekolah di SD Subsidi Suster Singkawang. Saya dan teman-teman memanggilnya Pak Ferdi. Dia terampil dalam banyak hal: pandai bermain organ dan seruling; selain mengajar Seni Musik, Pak Ferdi juga pernah mengajar Matematika, IPA, IPS, bahkan Olahraga.

Saya masih ingat saat saya di kelas 4 SD, Pak Ferdi sedang mengajar IPA. Dia menyampaikan sesuatu yang selalu saya kenang. Dia berkata kurang lebih begini, “Kalau kalian sudah besar, ciptakanlah sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Ikutilah jejak para ilmuwan dan penemu. Nah, salah satu yang menarik untuk ditemukan di masa depan adalah sepakbola di udara.”

“Sepakbola di udara” — tiga kata itu selalu terngiang-ngiang di benak saya. Seperti apa ya sepakbola di udara? Sampai kapanpun mungkin sepakbola di udara tak pernah bisa terwujudkan — entahlah. Tapi, kata-kata itu membuat saya sering berimajinasi. Puluhan tahun kemudian, saat saya membaca buku dan menonton film Harry Potter, saya pun teringat kepada Pak Ferdi saat melihat Quidditch, semacam sepakbola para penyihir yang dilakukan dengan sapu-sapu terbang di udara.

Kadang, saya berpikir, apakah Pak Ferdi pernah mengobrol dengan J.K. Rowling?

2. Pak Petrus

Di SMP Negeri 3 Singkawang, saya tidak bisa melupakan Pak Petrus, guru yang sangat kocak. Pak Petrus, bagi saya — dan saya rasa bagi kebanyakan muridnya — bukanlah guru yang ideal, dalam arti memiliki wawasan yang luas, pandai menjelaskan materi, atau pintar. Pak Petrus justru guru kami yang paling suka mengada-ada.

Pak Petrus mengajar Olahraga dan Elektronika, dia suka mengarang cerita-cerita yang tidak masuk akal. Tapi, dia menyampaikan cerita-ceritanya dengan begitu bersemangat. Saat dia bercerita, dia memperlakukan kami seperti anak kecil yang mudah dikelabui. Entahlah, sampai sekarang saya tidak tahu apakah dia sebenarnya tahu atau tidak bahwa kami tidak pernah bisa mempercayai cerita-ceritanya, hanya suka mendengarnya bercerita.

Salah satu ceritanya adalah tentang adu layang-layang. “Kalian kalau buat benang gelasan dari kaca kan? Kalau saya tidak, saya membuat benang gelasan dari intan,” katanya. Dia bercerita semua layang-layang yang dia lawan dengan benang gelasan intannya putus.

“Karena tidak ada lawan lagi, layang-layang saya cuma sendiri, saya timpakan saja benang dan layang-layang saya ke pohon kelapa! Pohon kelapa itu pun patah!” katanya dengan penuh semangat. Seisi kelas tertawa mendengarnya.

Satu hal lain yang menarik dari Pak Petrus adalah sifatnya yang pemarah dan emosional. Hal ini yang membuatnya ditakuti oleh anak-anak. Karenanya, saat dia bercerita, hampir semua anak diam mendengarkan. Hingga kini, bila saya bertemu lagi dengan teman-teman semasa SMP, kami masih sering mengenang Pak Petrus.

3. Pak Solehan

Pak Solehan — akrab disapa Pak Lehan — adalah guru agama Islam di SMA Negeri 6 Semarang. Pak Lehan memang tidak mengajar saya, tapi saya cukup akrab dengannya. Yang membuat saya terkesan dengannya adalah kedekatannya dengan para murid. Ini sedikit banyak disebabkan oleh kesibukannya membimbing ekskul band.

Saya masih ingat saat pertama kali bertemu Pak Lehan di audisi band sekolah. Sambil merokok, dia mengamati siswa-siswi kelas 1 yang sedang menunjukkan kebolehan masing-masing dalam bermain musik.

Pak Lehan selalu tampak santai. Kalau ketemu di pagi hari, dia selalu tersenyum ramah kepada semua orang. Dia tampak klop sekali mengendarai motor Vespa lawasnya. Saya mendengar dari beberapa teman, dia mengajar agama Islam dengan sangat rileks. Pernah, suatu waktu, saat ulangan umum, kunci jawaban untuk semua soal pilihan ganda yang dibuatnya adalah D.

Saya tidak pernah merasa canggung walau berbeda agama dengan Pak Lehan. Dia beberapa kali mengingatkan saya untuk tidak lupa sembahyang di gereja. Ekskul band sempat diadakan pada hari Minggu, dan saya dari gereja biasanya langsung ke sekolah, datang lebih awal dari teman-teman yang lain. Saya sempat dipasrahi kunci untuk ruang ekskul band selama beberapa minggu.

Hal yang tak terlupakan adalah tahun 1996, saat tiga band dari SMA Negeri 6 yang didaftarkan Pak Lehan ikut festival band se-Jateng-DIY menyabet habis semua gelar juara — juara pertama, kedua, dan grup band berpenampilan terbaik (tidak ada juara ketiga). Festival itu diadakan Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. Juara pertama adalah Casta; juara kedua Golgota; dan band saya, Neo-Six, mendapat juara sebagai band berpenampilan terbaik. Kami semua begitu bangga dengan Pak Lehan.

Suatu hari, semua pemain musik dari sekolah kami bertandang ke rumah Pak Lehan di daerah Genuk, dekat Pedurungan, Semarang. Rumah Pak lehan sederhana, tapi halamannya luas. Di sana Pak Lehan dan beberapa teman saya sudah menyiapkan semua alat band. Kami bermain musik bergantian dari pagi sampai hampir malam.

4. Pak Sujud

Pak Sujud adalah dosen saya di jurusan Sejarah Univeritas Negeri Malang. Dia pernah mengajar saya di mata kuliah Prasejarah Indonesia dan Studi Masyarakat Indonesia. Pak Sujud juga menjadi dosen pembimbing skripsi saya. Pak Sujud sangat ramah, suka tersenyum. Dia juga begitu cuek dalam soal penampilan, kadang bagian belakang sepatunya diinjak dengan tumitnya, jadi mirip sepatu sandal.

Yang tidak pernah saya lupakan dari Pak Sujud adalah cerita-cerita lucunya. Saya menduga, dia punya cukup banyak koleksi buku kumpulan humor. Hampir di tiap kuliahnya, selalu saja ada lelucon yang membuat suasana kelas jadi begitu cair.

Cerita-cerita lucu Pak Sujud sangat beragam: dari humor mahasiswa, humor umum, sampai humor dewasa. Dia juga pernah menggelari sebuah merek sabun sebagai “sabune babu” (sabunnya pembantu). Saya menceritakan istilah “sabune babu” itu kepada nenek saya suatu hari, waktu nenek saya baru saja membeli sabun itu untuk mandi. Nenek saya tertawa-tawa mendengar istilah “sabune babu”.

5. Pak Soepratignyo

Pak Soepratignyo — panggilannya Pak Pratig — juga dosen saya di Universitas Negeri Malang. Seingat saya, dia pernah mengajar mata kuliah Sejarah Asia Selatan dan Geohistori. Saya tidak banyak mengingat pelajaran-pelajaran Pak Pratig, tapi sampai sekarang masih mengingat wawasannya yang sangat luas.

Bila Pak Pratig sudah berdiri di depan kelas, semua mahasiswa tenang. Dia sangat pandai bercerita, juga menghapal banyak sekali fakta sejarah yang saling berkaitan. Saya pernah berpikir kalau dia adalah ensiklopedi sejarah yang bisa berjalan.

Hal yang masih saya ingat dengan jelas adalah ketika Pak Pratig mengangkat isu terorisme pada tahun 2001. Saat itu menteri senior Singapura, Lee Kuan Yuw, menyatakan bahwa Indonesia adalah sarang teroris. Banyak pihak yang saat itu tidak setuju dengan pernyataan sang menteri. Pak Pratig, saya masih ingat betul, tidak menyatakan setuju atau tidak. Dia hanya mengajak para mahasiswanya untuk menilik sejarah dan melihat apa yang terjadi di kemudian hari.

Hal lain yang tak terlupakan dari Pak Pratig adalah kesukaannya merokok Gudang Garam saat menjelaskan materi perkuliahan. Sekali berdiri di depan kelas, Pak Pratig bisa menghabiskan 2-3 batang rokok. Pernah, suatu ketika rokoknya habis saat dia ada di depan kelas, lalu dia meminta tolong seorang mahasiswanya membelikannya rokok.

***

Demikianlah sekilas kisah lima orang guru yang paling mengesankan dalam hidup saya. Ada kalanya saya ingin kembali duduk, mendengar, dan menyimak lagi apa yang mereka ajarkan atau sampaikan di depan kelas. Saat-saat diajar oleh mereka dan mendengarkan mereka adalah saat-saat yang berharga.

Masih ada beberapa guru lain yang meninggalkan kesan tersendiri dalam ingatan saya. Namun, ingatan tentang mereka tak sebanding dengan ingatan saya akan kelima guru ini. Saya sudah tidak pernah lagi bertemu dengan mereka bertahun-tahun. Dari kelima guru ini, hanya Pak Sujud yang saya tahu masih mengajar. (*)

Pontianak, 24-25 November 2012

Perjalanan ke Singkawang, Sambas, dan Sekadau

Oleh: Sidik Nugroho

Saya pindah tanggal 27 Juni 2012 lalu dari Sidoarjo ke Pontianak. Suasana berganti, kehidupan berubah. Dulu, pada tahun 2007-2012 hampir tiap seminggu sekali saya mengendarai sepeda motor dari Sidoarjo ke Malang. Kadangkala saya naik bis karena jalan di Porong sering macet. Pengalaman bersepeda motor bukan hanya saat bekerja di Sidoarjo. Beberapa kali saya bersepeda motor ke beberapa kota di Jawa Timur: Blitar, Ngantang, Mojokerto, dan Kertosono.

Pada liburan Lebaran tahun ini, saya berkesempatan untuk bersepeda motor ke Singkawang, kota yang saya tinggali selama belasan tahun, sejak TK hingga SMP. Dalam perjalanan dari Pontianak ke Singkawang pada hari Selasa, 21 Agustus 2012, saya sempat singgah ke pantai Pasir Panjang. Dulu pengelolanya hanya satu. Sekarang, kalau tidak salah sudah dipecah dan dikelola oleh empat orang yang berbeda. Pantai ini, seperti namanya, memang panjang. Setelah dikelola oleh lebih dari satu orang, pantai ini cukup banyak berubah. Dulu cuma ada losmen, kolam renang, dan warung-warung di sepanjang pantai. Sekarang pantai ini sudah digarap lebih baik. Ada taman-taman lebih banyak, permainan seperti Banana Boat, dan lain-lain.

Saya tidak lama singgah di pantai ini, sekitar setengah jam, karena ingin segera mengunjungi teman-teman saya waktu SMP. Menjelang sore, saya sampai di Singkawang. Saya dan beberapa teman bersilaturahmi ke kawan-kawan kami. Malamnya, kami nongkrong dengan gembira di Pasar Hongkong. Kami nongkrong tidak sampai tengah malam. Beberapa orang tampak lelah dan sudah mengantuk.

***

Keesokan harinya, pagi-pagi, saya berkeliling kota Singkawang sendirian. Saya melihat-lihat beberapa tempat yang sering saya kunjungi waktu kecil dulu: SD, gereja, Taman Burung, dan beberapa tempat lain. Pagi itu saya hendak berkunjung ke rumah seorang kawan, tapi dia sedang tidak ada di rumah. Saya pun menancap gas ke Pemangkat. Perjalanan dari Singkawang membutuhkan waktu kurang dari satu jam; jarak Singkawang-Pemangkat sekitar 30 km. Dalam perjalanan itu saya sempat memfoto sebuah klenteng yang bagus. Klenteng itu ada di Sebangkau, di ujung sungai yang melintas di tengah jalan. Kemudian, saya menuju ke warung di pantai di tepi jalan yang pemandangannya lumayan bagus.

Di Pemangkat ada Tanjung Batu, tempat wisata di tepi pantai. Tempat wisata ini tidak banyak perubahan sejak saya kunjungi belasan tahun silam, tahun 1996. Di pintu gerbang masuk seorang wanita duduk, pengunjung yang masuk ke dalam tempat wisata dimintanya membayar uang Rp3000 tapi karcis masuknya tidak ada. Saya masuk ke dalam. Sayang sekali, tempat wisata ini kurang diperhatikan dengan baik.

Saya meninggalkan Tanjung Batu, nongkrong di sebuah warung di tepi pantai. Di sana saya bertemu dengan dua orang bersaudara yang sedang menunggu saudara mereka dari Pontianak. Mereka berdua berasal dari Sekura, kota kecil di bagian utara Kalimantan Barat. Dari Sekura, perbatasan Indonesia-Malaysia cukup dekat, 2-3 jam sampai.

Mereka berdua memberi saran kepada saya agar melanjutkan perjalanan ke Sambas. “Sekarang lagi ramai-ramainya, Mas. Mampirlah ke sana. Kalau ke sana jangan lupa wudhu dari air kolam yang ada di dekat kraton,” kata salah satu dari mereka. Air kolam yang ada di kraton itu dipercaya memiliki khasiat tertentu oleh banyak orang. Mereka juga bercerita bahwa sultan yang ada di Sambas masih memiliki hubungan darah dengan raja-raja di kerajaan Kutai dan sultan-sultan di Brunei Darussalam.

Saya pun berangkat ke Sambas sekitar jam 1 siang. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam; jarak Pemangkat-Sambas sekitar 45 km. Di sana saya langsung menuju kraton. Siang itu banyak sekali orang yang datang. Mereka umumnya datang dari Singkawang, Pontianak, dan kota-kota lainnya di Kalbar.

Hal yang disayangkan di sini adalah sampah yang berserakan di luar pagar kraton. Tempat sampah masih kurang banyak disediakan di luar kraton. Selain itu, orang-orang yang berjualan juga menyebar di mana-mana — bahkan sampai ada yang berjualan di dekat kraton, di dalam pagar. Di depan kraton ada sampan-sampan yang disediakan untuk pengunjung kraton yang mau berkeliling di sungai depan kraton. Saya berada di kraton ini sekitar satu jam. Beberapa bangunan kraton yang memajang benda-benda pusaka dan warisan leluhur dipadati pengunjung. Tidak banyak informasi seputar sejarah kraton ini yang saya gali karena terlalu banyak orang yang berkunjung di sana. Saya sempat mampir ke salah satu makam sultan Sambas, yakni Sultan Mohammad Tsafioedin II.

 Saya pulang dari Sambas sekitar jam 3 sore. Saya sampai di Singkawang sekitar pukul 16.30. Saya pun berpikir, ini waktu yang pas untuk menunggu sunset di pantai Pasir Panjang. Namun sayang, sunset kali ini kurang sempurna. Hingga terbenam, matahari berada di balik awan terus.

Namun, menyaksikan pendar jingga di langit berteman segelas kopi sambil menunggu angkasa beranjak gelap, adalah hal yang menyenangkan.

Saat malam tiba, saya pun kembali ke Singkawang. Malam ini, bersama teman-teman SMP, saya bersilaturahmi lagi ke beberapa kawan lama. Sekitar jam 11 malam kami bernyanyi-nyanyi dengan gembira di sebuah ruang karaoke hotel Dangau, sampai hampir jam 1 malam. Setelah berkaraoke, kami masih melanjutkan pertemuan di warung kopi sampai jam 2 malam.

***

Tanggal 23 Agustus 2012, pagi hari, saya kembali ke Pontianak. Malamnya saya berangkat lagi ke Sekadau. Kali ini saya tidak bersepeda motor, tapi menggunakan jasa taksi yang dimiliki kedua saudara saya.

Selama di Sekadau, saya ke sebuah tempat yang bernama Batu Tinggi atau Batu Muncul pada tanggal 24 Agustus 2012. Batu itu muncul di permukaan air sungai, terbentang hampir di sepanjang kedua tepi sungai yang lebarnya sekitar 60 hingga 70 meter. Batu ini hanya muncul saat kemarau tiba. “Hampir setiap tahun di sini ada korban, Mas,” kata salah seorang yang berkunjung di situ kepada saya. Menurut cerita beberapa orang, tempat ini dulu dianggap keramat. Ada beberapa orang yang pernah hanyut di sini.

Kemudian, pada tanggal 25 Agustus 2012 saya memancing ikan bersama adik saya dan teman-temannya di daerah Berona, di sungai Sekadau. Hampir tiga jam memancing, kami tidak mendapatkan satu ikan pun. Ada satu ikan yang hampir didapatkan, tapi lepas saat ditarik.

Karena merasa belum puas, keesokan harinya kami memancing lagi di sungai Kapuas. Kali ini kami menggunakan perahu motor untuk memancing. Saya sangat terhibur dengan pemandangan yang ada di sepanjang sungai Kapuas yang kami lewati. Sungai ini sangat lebar — ada yang lebarnya mencapai 700 meter. Kami memancing ikan di beberapa tempat di tepi sungai yang berbatu-batu. Sayang, kali ini pun kami belum beruntung. Selama hampir 5 jam memancing, kami hanya mendapatkan satu ikan kecil, namanya ikan juara. Tapi, bagaimana pun juga, pengalaman menyusuri sungai dengan perahu motor adalah hal yang menyenangkan.

Tanggal 26 Agustus 2012, malam hari, saya pun kembali ke Pontianak. Liburan sudah berakhir. Saya sungguh bersyukur dapat mengunjungi semua tempat yang saya sebut di atas, terutama pengalaman saya menyusuri sungai Kapuas dengan perahu motor sambil memancing, karena hal itu yang belum pernah saya alami sebelumnya.

Saya sampai di Pontianak pukul 03.00 dinihari tanggal 27 Agustus 2012. Saat mengajar pada pagi hari, saya masih agak mengantuk. (*)

Singkawang-Sekadau-Pontianak, 24-27 Agustus 2012

Foto-foto lebih lengkap ada di sini (Facebook saya): Foto-foto Perjalanan

Dedikasi Guru-guru bagi Anak-anak Cacat

Pada tanggal 5 November 2011 saya berkunjung ke SLB (Sekolah Luar Biasa) Bhakti Luhur. Istilah SLB ternyata sudah diganti dengan SABK (Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus). Hari masih pagi, sekitar pukul delapan. Di hari ini kegiatan pembelajaran tidak sepadat pada hari Senin hingga Jumat, sehingga saya berkesempatan berbincang-bincang dengan beberapa guru dan melihat-lihat kegiatan pembelajaran di SABK ini. Seminggu yang lalu, 29 Oktober 2011, sebenarnya saya sudah berkunjung ke sini, namun hanya sebentar.

Suster Merry, asisten Kepala Sekolah di SABK ini, menemani saya berkeliling ke kelas-kelas, melihat kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Sambil berkeliling dia bercerita kalau pendiri sekolah ini, Romo Yansen, mendirikan sekolah ini karena terilhami perjuangan dan bakti Santo Vincentius, salah satu orang kudus yang dijunjung orang Katolik. Sekolah Bhakti Luhur yang ada di depan Plasa Dieng di Malang ini luas sekali. Di sini ada TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB atau SABK.

***

Guru SABK Bhakti Luhur yang saya ajak bicara pertama kali adalah Ibu Claudia Merry, yang biasa dipanggil Ibu Merry. Ibu Merry berusia 51 tahun. Saat ini dia menjadi guru kelas di kelas tunarungu (bisu-tuli) tingkat TK B. Dia sudah mengajar sejak tahun 1984. “Saya ingin menjadi guru sejak kecil. Bapak saya seorang guru,” katanya kepada saya.

Dia bercerita bahwa mendidik anak-anak bisu-tuli memerlukan kecakapan khusus. Anak-anak tunarungu harus dihadapi lebih sabar dan lebih teliti. Konsentrasi yang diperlukan untuk mendidik seorang anak tunarungu juga tinggi. Belum lagi kalau ada anak yang mogok belajar, dan kadang bertingkah semaunya.

Selama mendidik anak tunarungu, Ibu Merry memiliki banyak pengalaman yang mengesankan. Salah satunya adalah ketika ia mendapat seorang murid bernama Jorei. Waktu pertama kali Jorei masuk sekolah, dia sama sekali tidak mau belajar. Hampir setiap hari dia hanya tidur pagi sampai siang. Susah untuk membangkitkan semangat belajarnya. Namun, Ibu Merry pantang menyerah. Salah satu cara yang ditempuh Ibu Merry adalah dengan menyalakan lampu seterang-terangnya saat belajar. Karena, dalam keadaan gelap, si Jorei akan mudah mengantuk. Cara lain adalah dengan membuat banyak alat peraga yang merangsang anak untuk belajar. Karena anak-anak di sini konsentrasi belajarnya tidak seperti anak normal.

Jorei yang bisu, tuli, dan low vision (berkemampuan melihat rendah) pada akhirnya berhasil digerakkan motivasi belajarnya. Jorei sangat menyayangi Ibu Merry. Suatu ketika Ibu Merry sakit, dan harus dioperasi kista-nya di rumah sakit. Hampir sebulan Jorei tidak bertemu dengan guru kesayangannya itu. Begitu mereka bertemu, Jorei memeluk Ibu Merry.

“Menjadi guru di sini adalah bentuk pengabdian dan pelayanan saya, Mas,” katanya kepada saya. Ibu Merry bercerita kalau murid-murid yang ada di SABK ini tidak sedikit yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. “Bahkan ada yang dulunya di jalanan, kemudian dibawa ke sini, Mas. Dengan latar belakang seperti itu, saya otomatis tidak terlalu memikirkan gaji. Menjadi pengajar sudah menjadi semacam panggilan.”

***

Guru kedua yang saya temui adalah Ibu Yustina Rini, yang sering dipanggil Ibu Yustina. Ia sudah berusia 39 tahun, mengajar di sini sejak 1993. Ibu Yustina menjadi wali kelas D3 (Dasar tingkat 3).

Hal yang membuat Ibu Yustina tergerak menjadi guru SLB sungguh menarik.

Keluarga Ibu Yustina tidak ada seorang pun yang menjadi guru. Suatu hari — saat itu ia masih SMA — ia tertarik dengan kehidupan seorang anak di desanya, desa Gampang Lor, Ambar Ketawang, Yogyakarta. Anak ini tunarungu, dan ia tidak bisa belajar seperti anak-anak lainnya. Orang tua anak itu bekerja sebagai tukang bengkel.

Ibu Yustina mencoba mengajari anak ini semampunya, lalu anak itu masuk ke sebuah SLB. Setelah tamat SMA, Ibu Yustina bertekad mengajari anak-anak tunarungu sebanyak-banyaknya. Orang tua dan keluarganya sempat menyarankan ia mengambil pendidikan yang umum saja, untuk anak-anak normal. Namun, Ibu Yustina bersikeras. “Saya rasa sudah banyak orang yang mendidik anak normal,” katanya, “dan masih sedikit yang mau mendidik anak-anak tunarungu.”

Ia pun masuk ke SPGLB (Sekolah Pendidikan Guru Luar Biasa) di Wates, Yogyakarta. Mejelang lulus, ada tawaran untuk mengajar di Malang. Di sinilah ia sekarang berada, bersama dengan anak-anak didiknya. Ia bercerita kalau anak-anak muridnya digolongkan bukan berdasarkan usia, namun kemampuan yang mereka miliki. Ada anak yang sudah berusia 15 tahun, tapi masih di kelas D3. Hal ini terjadi karena orang tuanya terlambat memasukkan anaknya ke sekolah.

“Sekarang, tetangga saya yang tunarungu itu sudah punya suami, Mas,” katanya kepada saya. “Tiap kali saya pulang ke Yogya, ia selalu menemui dan menyalami saya. Dia sekarang menjadi tukang jahit, dan anaknya sudah dua orang.”

Salah satu pengalaman Ibu Yustina yang amat menggugah adalah ketika ia mendapat seorang murid bernama Diar. Diar memiliki sakit jantung sejak lahir. Berdasarkan pemeriksaan dokter, jantungnya harus dioperasi. Orang tua Diar membawanya ke rumah sakit Harapan Kita, Jakarta. Ibu Yustina terkesan dengan semangat belajar Diar. Di rumah sakit pun, Diar tetap bersemangat belajar. Ibu Yustina sampai pergi ke Jakarta juga untuk menemani dan membimbing Diar belajar.

Operasi Diar berjalan dengan baik, sekarang ia sudah duduk di kelas D6 (Dasar tingkat 6). “Salah satu tantangan yang terbesar mendidik anak-anak di sini adalah membiasakan mereka berbahasa oral (lewat mulut). Oleh karena itu saya membatasi penggunaan bahasa isyarat,” kata Bu Yustina. Ia memperkenalkan huruf-huruf kepada mereka, dan mengajak mereka melihat gerakan bibirnya saat mengucapkan huruf-huruf itu.

***

Setelah berbincang-bincang dengan dua guru di kelas tunarungu tadi, saya diajak Suster Merry bertemu dengan Ibu Lusiana (Ibu Lusi) dan Ibu Ana Tri Astuti (Ibu Ana). Ibu Lusi berusia 43 tahun, sudah menjadi guru sejak tahun 1992. Ibu Ana berusia 38 tahun dan sudah menjadi guru sejak 1995. Mereka berdua adalah guru di kelas tunagrahita.

“Pada intinya, anak-anak tunagrahita adalah anak-anak yang slow learner,” kata Ibu Lusi. “IQ mereka umumnya di bawah 80.”

Anak-anak tunagrahita ada yang menggunakan kursi roda sepanjang waktu. Ada yang berjalan lambat dan tertatih-tatih. Ada juga yang raut wajahnya unik. Beberapa anak di sini juga ada yang tergolong down syndrome. Tak sedikit anak-anak tunagrahita yang susah diatur, sangat nakal. “Mengajari mereka sangat memerlukan ketelatenan. Apa yang diajarkan harus sering diulang-ulang,” kata Ibu Ana.

Ibu Lusi dan Ibu Ana sama-sama menegaskan kalau mengajari anak-anak tunagrahita harus kreatif dan inovatif. Anak-anak normal mungkin betah bila diberi ceramah 15-20 menit, namun tidak demikian dengan anak-anak ini. “Tantangannya terutama dalam menciptakan alat peraga yang menarik sehingga anak-anak ini bisa diajak berpikir,” kata Ibu Ana.

Sama seperti Ibu Lusi, Ibu Ana juga menyatakan dia selalu memikirkan cara agar target pembelajaran tercapai. “Kadang, bila suatu materi susah dipahami, saya selalu memikirkan alat peraga apa yang pas dipakai untuk anak-anak. Kadang, sampai rumah pun masih terus saya pikirkan.”

***

Hari semakin siang. Saya sangat senang dengan apa yang saya temui dan alami hari ini. Suster Merry yang menemani saya akan pergi ke Blitar, ke sebuah desa kecil untuk melakukan tugas-tugas pelayanan edukasi dan gerejawi. Saya menyempatkan diri mengambil foto-foto di SABK Bhakti Luhur. Kira-kira jam sebelas siang, saya meninggalkan sekolah ini.

Selalu ada sisi menarik dari dunia pendidikan, selalu ada suka-duka di dalamnya. Para guru selalu memiliki kisah yang inspiratif saat mendidik dan mengajar para muridnya. Begitu pula para murid dalam menempuh pendidikan — selalu ada murid yang semangat hidup dan kegigihannya menginspirasi banyak orang. Para guru dan murid ini hidup melampaui batas-batas penghalang, berupaya menempuh pendidikan karena keyakinan akan adanya hari depan yang lebih baik. (*)

Nenek, Kue-kue, dan Cucunya

Hingga sekarang, saya selalu bersyukur bisa hadir dalam pertemuan family altar (ibadah keluarga) di rumah bapak Johnny, seorang aktivis di Gereja Bethel Indonesia El Shaddai, Pontianak pada Jumat lalu, 3 Agustus 2012. Ini kali pertama saya ikut ibadah keluarga di Pontianak setelah ampir dua bulan saya ada di sini.

Pada kesempatan itu, seorang bapak yang turut hadir, bernama Pak Ricky, membawa beberapa kue untuk kami santap setelah ibadah. Dia membawa dua jenis kue: bakpau dan pastel.

Bakpau itu ada yang berisi kacang tanah, ada juga yang berisi bengkuang. Pastelnya ada yang berisi bengkuang, ada yang berisi bihun. Pak Ricky membawa makanan itu untuk mensyukuri seorang anaknya yang diterima di SMA 3 Pontianak dan seorang anaknya yang naik kelas 4 SD. Kami semua bersukacita bersama keluarga Pak Ricky yang tengah gembira. Kami yang ada di situ juga sangat menyukai bakpau dan pastel yang dibawanya.

Bakpau dan pastel yang dibawa Pak Ricky rasanya sangat enak. Saya paling suka dengan bakpau dan pastel yang berisi bengkuang. Kedua kue itu bila dimakan dengan sambal cair, rasanya benar-benar maknyus.

Dan, kami semua terheran-heran, bakpau dan pastel yang enak-enak itu, semuanya dijual dengan harga yang murah — per buah Rp500,00 saja.

Cerita pun berlanjut tentang siapa yang membuat bakpau dan pastel itu. Pak Ricky bercerita bahwa bakpau dan pastel itu dibuat oleh seorang nenek yang usianya sudah sangat lanjut, 70 tahun lebih. “Tiap hari dia selalu bangun saat hari masih gelap, menyiapkan semua dagangannya yang dijual door to door,” kata Pak Ricky.

Pak Ricky kemudian bercerita kalau nenek itu menjual dagangannya door to door karena menghindari persaingan dengan sesama pembuat dan penjaja kue. “Kalau kue-kue ini dititipkan di warung, kue-kue lain yang juga dititipkan tentu akan kalah saing. Kue buatan nenek ini harganya murah, rasanya enak. Nah, nenek itu sadar akan kelebihannya, dia pun mencari cara lain, menjualnya door to door,” kata Pak Ricky.

Pak Ricky mengisahkan kalau nenek tua ini, walaupun badannya sudah ringkih, tetap tampak penuh semangat ketika menjajakan kue-kuenya. Ia tampak penuh sukacita dan pengharapan. Ia dikasihani karena usianya yang renta, tapi sekaligus sangat dihormati karena kue-kuenya yang enak.

Tiap hari sang nenek membawa dua keranjang — masing-masing di tangan kanan dan kirinya — menjajakan dagangannya kepada para tetangga dan langganan. Ada beberapa langganannya yang sangat menyukai kue-kue itu. Bila bertemu dengan nenek ini, mereka akan membeli banyak kue.

Perjuangan nenek ini yang hingga sekarang selalu gigih membuat dan memasarkan kue-kue itu, ternyata sangat menggugah.

Beberapa tahun yang lalu, anaknya melahirkan seorang bayi dari hasil percintaannya dengan seorang pria. Namun, pria itu meninggalkan kekasihnya tak lama setelah bayi mereka lahir. Ibu si bayi mendapatkan kekasih lain yang kemudian menjadi suaminya.

Saat bayi itu masih berusia lima bulan, ibu bayi itu memutuskan untuk ke Taiwan, mengikuti suaminya. Si bayi tidak diajak turut serta, ditinggal bersama sang nenek. Sejak ia berusia lima bulan, hingga sekarang sudah kelas 3 SMP, si nenek itulah yang merawatnya. Nenek itu membesarkannya dan menyekolahkannya dengan uang yang didapatkannya dari menjual kue-kue itu.

Saya tidak tahu apakah ibu si bayi sudah mulai memberikan bantuan dana kepada si nenek untuk menyekolahkan anaknya. (Pada kesempatan lain saya akan mencaritahu tentang hal ini.) Yang jelas, ibunya belum pernah pulang sejak ia meninggalkan sang nenek dan anaknya yang masih berusia 5 bulan. Dan, nenek ini bukanlah orang yang kaya — ia dikenal hidup sederhana oleh orang-orang di sekitarnya dan Pak Ricky.

Merenungkan perjuangan kehidupan sang nenek, saya jadi teringat sebuah pernyataan C.S. Lewis, seorang penulis. Ia pernah menyatakan hal ini: “Engkau tidak akan pernah tahu seberapa besar kepercayaanmu mengenai sesuatu hal sampai hal itu menjadi masalah antara hidup dan mati.” Nah, membuat kue-kue yang enak mungkin hanya hal sepele bagi sebagian orang — mungkin sebuah pekerjaan sambilan.

Tapi, ada kalanya kue-kue yang enak lahir dari sebuah pergulatan — antara hidup dan mati. (*)

Pontianak, 6-7 Agustus 2012

Himne Guru: Inspirasi dari Guru yang Ketiban Sial

Hari masih pagi, belum pukul 07.00. Suasana tahun baru masih terasa di beberapa bagian kota Surabaya. Pagi itu, Sabtu, tanggal 14 Januari 2012, terminal bis Bungurasih di Surabaya tidak begitu ramai. Saya santai sejenak di warung kopi sebelum menumpang sebuah bis Sumber Kencono yang hendak menuju ke Madiun.

Kepergian saya ke Madiun adalah untuk menemui Pak Sartono, pencipta lagu Pahlawan tanpa Tanda Jasa yang lebih dikenal sebagai himne guru. Sebelum hari itu, kami pernah bertemu dalam sebuah acara. Ibu Tiwi, pendamping Pak Sartono, yang juga adalah adik iparnya, mengisahkan masa lalu Pak Sartono sebagai guru. Pak Sartono kini sudah sering tidak fokus dalam berbicara — kadang omongannya melantur atau diulang-ulang.

Ibu Tiwi menyatakan, “Tiga puluh tahun lagu himne guru diciptakan, namun baru akhir-akhir ini Pak Sartono mendapat perhatian dari banyak pihak. Pak Sartono semakin sering diundang ke sana kemari, menjadi narasumber untuk berbagai acara pendidikan. Namun, beliau ini tidak bisa berbicara dengan lancar karena faktor usia. Oleh karena itu, saya sering mendampingi beliau.”

***

Perjalanan saya ke Madiun cukup lancar dari Surabaya — hampir 6 jam. Saya sampai di terminal Madiun tengah hari. Di sana saya bertemu dengan tukang ojek yang bernama Suprapto, yang biasa dipanggil Pak Prapto. Saya mengajaknya berbincang-bincang mengenai kota Madiun. Saya kemudian menjelaskan kedatangan saya, mau bertemu dengan Pak Sartono, pencipta himne guru.

“Saya kelihatannya pernah tahu tentang beliau, Mas, tapi agak lupa,” kata Pak Prapto ketika saya bertanya kepadanya mengenal Pak Sartono atau tidak.

Saya pun dibawa ke alamat Pak Sartono, di jalan Halmahera No. 98. Rumah Pak Sartono berada di ujung jalan itu, tak jauh dari pemakaman umum. Rumahnya sederhana, usianya sudah puluhan tahun. Rumah itu warisan dari orangtua Pak Sartono. Saya disambut ramah oleh Pak Sartono, istrinya, dan Ibu Tiwi. Ibu Tiwi telah menyiapkan rujak dan es tape untuk saya.

Image
Saya seperti berada di tengah-tengah orang yang sudah lama saya kenal. Saya tak merasa asing. Saya mengajak Ibu Tiwi dan Ibu Damiati berbincang-bincang. Pak Sartono duduk di sebuah kursi, mendengarkan apa yang kami bicarakan. Pak Sartono selalu tersenyum, sekali-sekali ia mengangguk-angguk. Ibu Damiati sangat senang dengan kunjungan saya. Ia mengisahkan banyak cerita tentang Pak Sartono dan dirinya sendiri. Saya berada di rumah itu hampir tiga jam.

Ibu Damiati dan Ibu Tiwi juga menunjukkan foto-foto keluarga Pak Sartono pada masa lalu. Beberapa penghargaan yang diterima oleh Pak Sartono, naskah asli lagu himne guru, beberapa kenangan dan cinderamata, dan beberapa foto lainnya dipajang di ruang tamu itu. Suasana siang itu di Madiun sangat menyenangkan untuk sebuah pembicaraan.

Sambil menikmati rujak yang disuguhkan, saya berbincang-bincang dengan Ibu Damiati dan Ibu Tiwi. Cuaca sedang panas pada kunjungan pertama ini. Pada siang itu, berbagai peristiwa dan kenangan masa lalu dikisahkan kembali oleh Ibu Damiati kepada saya. Beberapa foto Pak Sartono dan Ibu Damiati juga ditunjukkan kepada saya.

***

Pada waktu remaja dan sekolah Pak Sartono mendirikan grup musik bersama teman-temannya. Lagu-lagu yang sering mereka nyanyikan adalah keroncong. Sartono sering memainkan gitar di dalam grup keroncongnya.

Masa-masa sekolah berlalu, Sartono kemudian bekerja di Lokananta, sebuah perusahaan rekaman musik, pembuat piringan hitam. Dari situ minat dan kecintaannya terhadap musik kian bertumbuh. Grup band yang ia dirikan bersama teman-temannya suatu ketika mendapat tugas dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) karena Sartono dimasukkan dalam korps musik TNI. Tugas tersebut adalah menghibur para tentara yang akan berangkat perang di Irian Barat.

Tugas itu diberikan kepada Sartono dan grup musiknya pada tahun 1963. Saat itu, bangsa Indonesia tengah berjuang membebaskan Irian bagian barat yang diklaim oleh Belanda sebagai miliknya. Presiden Soekarno, dua tahun sebelumnya, tepatnya pada 19 Desember 1961, mencetuskan Operasi Trikora yang bertujuan untuk merebut kembali wilayah tersebut.

Selama tiga bulan Sartono ada di Irian, menghibur para tentara yang akan melaksanakan tugas negara. Ia kembali lagi ke Madiun setelah tugas itu. Saat kembali ke Madiun, harapannya untuk mendapat kesempatan bekerja sebagai TNI atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak kesampaian. Beberapa temannya yang ikut dalam korps musik di TNI diangkat menjadi TNI, namun ia tidak.

“Pak Sartono tidak diangkat karena dia tidak punya koneksi, Mas. Orang yang tidak punya koneksi pada zaman dahulu susah untuk menjadi TNI atau PNS,” kata Damiati, istrinya. Sartono tetap bermain musik bersama teman-temannya untuk mencari nafkah. Ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun.

“Pak Sartono pernah kerja di bioskop, mengurusi bagian reklame bioskop. Ia juga pernah juga bekerja di PT. Mitrako di Magetan. Waktu kerja di Mitrako, kesejahteraan cukup baik. Perusahaan itu milik orang-orang Tionghoa. Di sana Pak Sartono bisa makan enak,” kata Damiati.

Saat bekerja di Mitrako, Sartono juga terus menekuni musik. Ia mahir memainkan kulintang, saksofon, dan gitar. Ia sempat menciptakan beberapa lagu, memberi les musik kepada beberapa orang. Ia kadang juga menjadi juri kalau ada lomba menyanyi, paduan suara, atau musik. Saat-saat inilah ia bertemu dengan Damiati. Sartono bermain musik, Damiati bernyanyi — mereka sering tampil sepanggung. Rasa saling menyukai pun tumbuh di antara keduanya. Sartono dan Damiati menikah pada tahun 1971.

Dengan modal kemampuan bermusiknya itu, Sartono berhasil mendapat pekerjaan mengajar di SMP Purna Karya Bhakti, yang lebih dikenal dengan nama SMP Katolik Santo Bernardus. Ia mengajar tiga kali seminggu. Sartono mengajar musik, juga vokal atau paduan suara. Ia bisa bekerja di sana karena Damiati, istri Sartono yang beragama Katolik, mengenal dengan baik salah satu suster di situ. “Saya dulu waktu sekolah tinggal di asrama. Nah, kebetulan saya kenal dengan salah satu suster. Suster itulah yang meminta Pak Sartono untuk mengajar di sekolah itu. Walaupun Pak Sartono beragama Islam, tidak masalah. Sartono pun mulai resmi mengajar di sekolah itu pada tanggal 1 Januari 1978,” kata Damiati.

Sambil mengajar di SMP Santo Bernardus, Sartono juga mengajar anak-anak TK Perhutani di Nganjuk bermain kulintang. Pada suatu perjalanan ke Nganjuk untuk mengajar, tahun 1980, ia membaca pengumuman lomba menciptakan himne guru di sebuah koran. Ia membaca pengumuman itu di dalam bis: ada sayembara mencipta lagu himne guru yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Nasional!

Ia tertarik mengikuti lomba itu. Hadiahnya amat besar di masa itu, Rp750.000. Dalam perjalanan pulang Pak Sartono menggumamkan nada-nada yang nantinya akan ia tuliskan. Di sepanjang perjalanan, bahkan sampai tiba di rumah, ia sama sekali tak mendapat ide untuk menuliskan kata demi kata dalam lagu itu.

Saat menuliskan lagu itu, tenggat waktu yang ditetapkan panitia lomba tinggal dua minggu. Dengan bantuan istrinya, yang mengisahkan kehidupan seorang guru yang dikenal baik oleh mereka berdua, akhirnya lagu itu pun jadi. Penciptaan lagu itu ternyata diilhami oleh seorang rekan guru yang dikenal oleh Pak Sartono bernama Suroyo, atau kerap dipanggil Pak Royo.

Pak Royo suatu ketika mengalami kesusahan ekonomi akibat sebuah musibah yang menimpa keluarganya, hartanya habis dirampok orang. Setelah ketiban sial ia pun mengamen sambil tetap mengajar. Perjuangannya mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup kemudian dituangkan pak Sartono dalam lirik lagu Pahlawan tanpa Tanda Jasa atau himne guru.

Namun, persoalan lain datang. Ketika hendak mengirimkan lagu itu ke Jakarta, Pak Sartono tidak memiliki cukup uang. Pak Sartono pun pergi ke toko yang menerima lungsuran pakaian bekas, menjual pakaiannya. Uangnya dipakai untuk membeli perangko.

Pahlawan tanpa Tanda Jasa akhirnya terpilih menjadi himne guru setelah melalui serangkaian seleksi yang ketat. Pak Sartono mendapat hadiah dan penghargaan. Lagu itu mulai dinyanyikan di sekolah-sekolah di tanah air — dari Sabang sampai Merauke. Himne guru terdengar di segenap penjuru negeri.

Kehidupan Pak Sartono tak serta-merta berubah drastis. Ia tetap menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta di Madiun. Kisah hidup Pak Sartono sarat dengan pengabdian dan kreativitas. Banyak lagu yang ia ciptakan di sela-sela kesibukannya. Istrinya tetap menjadi guru dan seniwati yang giat berkesenian. Pak Sartono berhenti mengajar di SMP Bernardus pada tanggal 30 Juni 2002. Gaji terakhir yang diterima Sartono di situ Rp60.000 sebulan.

“Pak Sartono itu orang yang penurut, tak suka menuntut. Ia nrimo. Tapi, bukan berarti pasrah begitu saja dan menyerah dengan kehidupan yang serba susah di zaman itu,” kata istrinya. Menjelang sore, rumah yang sederhana itu saya tinggalkan. Sepanjang jalan pulang saya merenung, inspirasi apakah yang akan datang di dalam benak saya saat berada di dalam bis? (*)

Sidik Nugroho, guru SMA St. Petrus Pontianak dan penulis lepas.

Secuil Pandangan Pribadi tentang Rokok

“Ketika penderitaan saya yang besar dilegakan, otak saya yang lelah dipulihkan, dan tenang, bisa tidur nyenyak sehabis merokok, saya bersyukur kepada Tuhan, dan memuliakan nama-Nya.”
~ Charles H. Spurgeon

Pendeta merokok? Sebagian kalangan Nasrani mungkin akan mencak-mencak membaca kutipan di atas itu. Apalagi, Spurgeon amat termasyhur di zamannya. Orang menjulukinya “raja pengkhotbah dari Inggris”. Tak hanya Spurgeon. C.S. Lewis, penulis terkenal itu terkenal suka merokok dan menghisap pipa bertembakau. J.R.R. Tolkien, sahabatnya, juga penulis legendaris, setali tiga uang.

Saya dulunya sangat membenci rokok. Apalagi pada saat SMA, saat saya bergabung dengan sebuah gereja yang benar-benar “mengharamkan” rokok. Ayat andalannya, tentu, 1 Korintus 3:16 — tubuh kita adalah bait Allah, dan kita harus menjaganya sebaik mungkin.

Pandangan saya tentang rokok mulai berubah saat saya melaksanakan KKN, 20 April-20 Juni 2004 di desa Gadingkulon bersama 18 teman saya. Kebetulan, 18 teman saya sepakat, menjadikan saya Kordes (Koordinator Desa) dalam pelaksanaan program-program KKN kami. Karena hal ini, mau tak mau saya jadi sering bertemu dengan para aparat desa, membahas program KKN. Saya juga sering berinteraksi dengan warga desa yang mayoritas adalah petani jeruk.

Tiap mampir ke rumah warga, rokok dan kopi dihidangkan. Ada pertemuan membahas program, rokok dan kopi juga dihidangkan. Kumpul-kumpul dan nongkrong dengan para pemuda desa, rokok dan kopi selalu ada. Kebersamaan saya dengan orang-orang desa ini membuat saya pun akhirnya mencoba merokok.

Saya menikmati saat-saat itu. Di desa yang berada pada ketinggian sekitar 700-800 meter di atas permukaan laut itu, saya suka merokok sambil menikmati pemandangan lampu-lampu kota Malang yang terbentang begitu indah pada malam hari. Hampir tiap malam kami membakar jagung, membuat api unggun, ngopi, dan merokok. Pokoknya gembira.

Beberapa tahun setelah KKN, kebiasaan merokok saya masih ada. Sekarang, saya termasuk orang yang kadang merokok, kadang tidak. Saya tidak pernah merasa kecanduan. Saya pernah menghabiskan lima batang rokok sehari, namun pernah juga tidak merokok sama sekali dalam dua bulan.

***

Seorang dokter yang juga penulis buku, Clifford R. Anderson, menyatakan bahwa jika kita hidup hingga berusia 70 tahun, maka makanan yang kita konsumsi beratnya sekitar 1400 kali berat badan kita. Kenyataan ini membuat kita sepantasnya merenung: makanan apa saja yang sudah kumakan hingga kini?

Bila makanan seberat 1400 kali berat badan kita itu ditukar dengan uang, jumlahnya tentu akan sangat besar — apalagi bila makanan itu berasal dari restoran-restoran kelas dunia. Tapi, justru mungkin selama ini kita jarang pernah berpikir bahwa makanan — apalagi yang mahal — juga dapat menjadi masalah.

Kembali pada rokok. Sebagian kalangan (saya rasa bukan hanya orang Nasrani) menganggap mengonsumsi rokok adalah dosa — hampir disejajarkan dengan narkoba dan minuman keras. Tapi, ingatlah bahwa kita hendaknya menjaga tubuh bukan hanya dengan menjauhi rokok, narkoba, dan minuman keras. Lemak yang berlebihan, jeroan, juga konsumsi berlebihan terhadap makanan-makanan instan juga sama berbahayanya. Karena itu, ketika suatu hari mendengar seorang pendeta berkata bahwa seorang perokok tidak lebih berdosa daripada seorang penggila jeroan, saya yakin pendeta itu benar.

Dari perbincangan dan kebersamaan saya dengan beberapa petani di desa waktu saya KKN dulu, saya pun menawarkan fakta ini: para petani laki-laki bisa dikatakan semuanya merokok. Namun, mengapa usia mereka panjang dan tubuh mereka sehat? Inilah yang mungkin perlu digarisbawahi: mereka melakukan aktivitas fisik yang tidak dilakukan para perokok di perkotaan. Mereka bekerja keras, bercocok tanam — melakukan banyak aktivitas pertanian yang notabene juga menyehatkan badan. Sementara, di perkotaan, kebanyakan orang merokok sambil nongkrong, ngopi, bekerja di depan komputer, melihat televisi, dan lain-lain — yang pada intinya bukan merupakan aktivitas fisik yang menyehatkan badan.

Apa yang saya sampaikan soal kebiasaan merokok di desa dan di kota bukanlah hasil penelitian. Seperti judulnya, tulisan ini adalah pandangan pribadi saya. Siapa pun dapat mempertarungkan hasil penelitian yang pro dan kontra soal bahaya rokok.

Mohamad Sobary baru-baru ini menulis “Ideologi di Balik Rokokku”. Tulisan yang cukup provokatif itu hendak menawarkan gagasan penting, bahwa gerakan, wacana, ataupun kebijakan pemerintah yang bersifat anti rokok (terutama rokok kretek) diboncengi berbagai kepentingan. “Gerakan itu alur rasionya demi kesehatan lingkungan. Tapi tak tahukah mereka, bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?” tulisnya. Di akhir tulisannya, ia menyuguhkan hasil penelitian tentang manfaat positif kretek bagi kesehatan.

***

Rokok. Barang kecil itu menantang kedewasaan kita berpikir dan memperlakukan orang lain. Seperti saya di masa lalu, tidak sedikit orang yang membatasi diri mengenal orang lain lebih jauh hanya karena melihat orang lain itu merokok. Merokok menjadi sekat yang membatasi hubungan antar manusia.

Sekarang, bandingkanlah dengan asap kendaraan bermotor kita hirup setiap hari. Kendaraan bermotor yang kita miliki atau tumpangi pun terbiasa “menghembuskan” asapnya setiap hari untuk — secara tidak sadar — dihirup orang lain. Mungkin, kita tidak menyadari bahwa asap itu juga sama berbahayanya dengan asap rokok. Sementara, dari hari ke hari kendaraan kian tumpah-ruah di jalan. Polusi udara dan kemacetan menjadi biang stres.

Jadi, bila Anda sampai sekarang masih membenci orang lain hanya gara-gara dia merokok, dan Anda sekarang selalu bepergian dengan kendaraan bermotor, akan lebih adil bila Anda bersedia jalan kaki, naik becak, atau bersepeda ke mana-mana. (*)

Sidoarjo, 18 April 2012

Buku “366 Reflections of Life” di Gramedia Expo

Akhirnya, setelah menunggu sejak akhir tahun 2011 lalu, berita gembira ini datang juga: buku saya, 366 Reflections of Life (Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati) sudah beredar di toko buku!

Sabtu malam, tanggal 18 Februari 2012, saya mendapati ada 100 buku saya di Gramedia Expo Surabaya berdasarkan pencarian di komputer toko itu. Semoga di kota-kota lain — selain Surabaya — buku tersebut juga sudah beredar. Bagi yang berminat, silahkan langsung ke toko buku untuk membelinya atau menuju ke link berikut: beli buku ini online.

Seorang teman bertanya tentang isi buku saya ini, 366 Reflections of Life (Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati). Saya menjawab bahwa isinya campur-baur. Intinya, lewat buku ini saya mengajak pembaca berefleksi dengan berbagai kisah dan kejadian dalam kehidupan ini.

Saya mengangkat kisah dan renungan dari: pertemuan terakhir kedua proklamator, sebuah cerpen Leo Tolstoy, seorang wanita yang dikecewakan oleh kekasihnya, bayi yang diserahkan kepada orang lain begitu dilahirkan, TKW yang meninggal seorang diri di negeri asing, pengalaman Lumiere bersaudara waktu menampilkan film pertama dalam sejarah dunia, kebakaran di rumah tetangga adik saya di Kalbar, kebiasaan John Petrucci berlatih gitar, dan berbagai tulisan lainnya dengan tema yang variatif.

Hampir semua kisah dalam buku ini disajikan dalam 1 halaman buku. Jadi, tiap halaman buku memiliki kisah tersendiri yang reflektif dan inspiratif.

Keterangan mengenai buku ini di sampul belakang:

366 tulisan di buku ini hendak mengajak Anda melihat dan merenungkan berbagai sisi kehidupan yang dinamis dan terus bergejolak. Ada tulisan yang mengajak Anda untuk terus bertahan di masa sukar. Ada yang berupaya memetik hikmah dari sebuah film atau buku. Ada juga ajakan untuk memetik pelajaran berharga dari kisah seorang tokoh, atau orang biasa yang sering kita jumpai dalam keseharian. Ada tulisan yang diangkat dari peristiwa-peristiwa bersejarah, ada juga yang diangkat dari hal-hal kecil dalam keseharian.

366 tulisan pendek yang ada di buku ini bersifat reflektif dan inspiratif, menawarkan kesegaran untuk kesesakan, penderitaan, dan kesusahan dalam hidup kita yang tak pernah hilang dan datang silih berganti. Lewat buku ini, semoga Anda mendapatkan pencerahan dan kedamaian untuk terus melanjutkan hidup dengan pengharapan.

Detail buku:

Penulis: Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita G.
Desain: Vidya Prawitasari
Harga: Rp. 54.000,00
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (Kompas-Gramedia)