Category Archives: Keluarga

Pria-pria yang Bimbang Menikah

Pertanyaan tentang pernikahan selalu saja disampaikan bila seseorang berkenalan dengan saya, setelah bertanya apa pekerjaan saya dan berapa usia saya. Itu sudah bukan sesuatu yang mengusik saya lagi.

Sore ini, saya berada cukup lama di warung kopi sambil menunggu hujan reda. Seorang bapak yang sudah cukup tua, usianya sekitar 60 tahun, mengobrol dengan saya tentang pernikahan dan keluarga. Ia berkata, “Keadaan sekarang sudah jauh berbeda. Dulu, seorang pria ketemu wanita, muncul rasa saling suka, pacaran, menikah. Sekarang, hal itu tampaknya lebih rumit.”

Saya berkata kepadanya, “Saya punya teman-teman yang tidak menikah dan kesepian. Tapi, ada juga teman-teman yang berbahagia dengan keadaan itu. Kalau Bapak mau dengar, saya mau bercerita tentang pria-pria yang tidak menikah.” Menarik, ia mau mendengar dan memperhatikan cerita-cerita saya tentang mereka.

“Tapi, ini bukan mereka yang menyukai sesama jenis, kan?” tanyanya.

Saya menggeleng. “Bukan, Pak. Saya tidak mengenal banyak pria yang suka sesama jenis.

“Mereka yang mau saya ceritakan ini bisa dikatakan pria-pria yang baik, setahu saya. Mereka menyukai wanita. Mereka juga pria yang, setahu saya, tidak mempunyai penyakit seperti impotensi. Kalaupun ada yang demikian, saya tidak tahu pasti. Tapi, kelihatannya, mereka pria-pria yang sehat secara seksual. Beberapa di antara mereka sudah saya kenal beberapa tahun dan pernah bercerita menyukai wanita ini atau itu.”

Bapak itu mengangguk-angguk. Saya pun mulai bercerita tentang beberapa kasus yang saya temui, kasus-kasus yang menyebabkan beberapa pria bimbang menikah.

1. Kencan-kencan yang Buruk

Seorang pria, anggaplah ia bernama Jack, mengajak kencan seorang wanita dengan menonton film bioskop. Jack sangat menggilai film, nyaris tidak pernah terlambat menonton film bioskop, dan biasanya membaca review film yang akan ditontonnya terlebih dahulu sebelum menonton. Si wanita yang diajak Jack sebenarnya mengenal sosok Jack yang suka menonton film. Tapi, ia terlambat datang ke bioskop karena hal sepele. Jack pun kesal karena keterlambatan itu.

Bukan hanya terlambat, saat menyaksikan film, si wanita sama sekali tak menunjukkan minat terhadap film yang ditonton. Tidak ada obrolan yang menarik di antara mereka berdua setelah menonton film tentang film yang ditonton karena si wanita tidak menunjukkan antusiasme.

Pada kesempatan lain, Jack mengajak wanita lain kencan. Baru bertemu beberapa kali di gereja, si wanita sudah menunjukkan penampilan yang nakal dan menggoda. Si wanita terlalu agresif. Suatu malam, Jack dan wanita itu makan malam di sebuah food court di Surabaya. Si wanita mengenakan kaos yang kerahnya sangat rendah. Sepasang payudaranya seperti hendak menyembul keluar kalau ia membungkuk mengambil makanan. Jack kurang suka melihatnya, si wanita malah menjadi perhatian orang lain yang ada di sekitar mereka.

Bukan hanya itu, beberapa hari setelah makan malam itu, si wanita berkata hendak meminjam uang dua juta rupiah kepada Jack karena saudaranya mengalami kecelakaan. Jack bukannya tidak mau menolong, tapi jadi mendapat kesan bahwa ia sedang dimanfaatkan. Jack merasa, permintaan bantuan itu terasa sangat terburu-buru ditujukan kepadanya. Ia pun menjaga jarak dengan wanita itu. Beberapa minggu kemudian, ia mendapat kabar saudara si wanita itu tertolong dengan bantuan pihak keluarga si wanita.

2. Hobi atau Minat yang Lebih Membahagiakan

Saya mengenal seorang pria, anggaplah ia bernama Sugeng. Sugeng sangat menggilai musik dan film. Selain bekerja dan menunjukkan perhatian untuk orangtua dan saudara-saudaranya, hidup Sugeng ia arahkan di musik dan film. Ia menciptakan musik, membeli alat musik, menonton film, menganalisa film. Ia bergabung dengan teman-teman sehobi, menikmati dunianya. Semua kegiatan itu membuat hidupnya terasa sangat bermakna.

Sedikit banyak, poin pertama, yaitu kencan yang buruk, pernah dialami Sugeng. Suatu waktu ia pernah berkata, “Jikalau dengan musik dan film aku berbahagia, tapi wanita-wanita yang datang dalam hidupku ini hanya membuat repot, mengapa aku harus memusingkan diriku dengan menghabiskan waktu bersama mereka?”

Sekilas ucapan Sugeng itu terdengar sinis dan egois, tapi saya rasa Sugeng lebih mengerti dengan apa yang ia ucapkan.

3. Suka Bertualang

Saat menumpang bis dari Yogya ke Solo pada liburan akhir tahun lalu, saya bertemu dengan seorang pria. Ia seorang dosen di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogyakarta, dan bila akhir pekan mengajar di sebuah universitas di Solo. Pria ini sudah tua, usianya mendekati 60 tahun. Ketika berbicara dengannya di dalam bis, saya takjub.

Pria ini bercerita bahwa sejak masa mudanya, sejak mahasiswa, ia memang berniat menjadi seorang petualang. Dan niat ini didukung dengan studinya. Fokus studinya adalah psikologi sosial, yang sedikit banyak berkaitan dengan perilaku atau budaya suatu masyarakat atau komunitas. Ia melakukan penelitian di banyak tempat, mengkaji berbagai perilaku masyarakat dan komunitas. Ia bercerita memiliki banyak rekaman wawancara dengan beberapa raja di kerajaan-kerajaan kecil yang masih ada di beberapa daerah di Indonesia.

Ia dulu juga suka menyelundupkan minyak wangi dari Timor Timur sebelum wilayah ini bersatu dengan Indonesia. Cara-cara yang ia gunakan untuk menyelundupkan minyak wangi sangat menarik perhatian saya, seperti kisah-kisah detektif.

Tiap enam bulan sekali ia pasti bepergian ke luar pulau Jawa sejak ia kuliah hingga sudah menjadi dosen. Ia berkata tidak memiliki harapan apa pun tentang jodoh. “Bila ada ya menikah, bila tidak ada tidak masalah,” katanya.

4. Pemuasan Hasrat Seksual yang Mudah dan Murah

Sudah menjadi rahasia umum, di semua kota besar selalu saja ada wanita pemuas birahi. Saya tinggal lima tahun di Sidoarjo, dan saya sering mendengar cerita tentang lokalisasi yang ada di Surabaya dan Pandaan yang tak jauh dari Sidoarjo.

Lokalisasi yang ada di Surabaya, Dolly, konon merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. “Di sana banyak pilihannya, Mas,” kata seorang teman saya yang sering nongkrong dengan saya di warung kopi. “Sampean punya uang 150 ribu saja sudah bisa dapat barang yang bagus banget.”

“Kalau yang di Pandaan lain lagi, Mas,” katanya. “Di sana kita harus menyewa vila kalau mau bawa cewek. Cewek di sana juga lebih mahal karena kita bawa lebih lama. Di Dolly hitungannya satu setengah jam, di Pandaan biasanya pakai short time, 3 jam, atau long time, semalaman. Yang short time saja biasanya pasang harga tiga ratus ribu.”

Pemuasan hasrat seksual yang murah dan mudah membuat seorang teman saya yang lain berkelakar saat ia sedang bermasalah dengan pasangannya. “Mungkin aku akan putus,” katanya. “Mengayomi cewek cerewet seperti dia bukan hanya menguras uang, tapi tenaga, pikiran, dan waktu. Aku pun enggak bingung dengan seks. Kalau sebulan perlu main dua kali, cari cewek saja di Dolly, keluarkan uang tiga ratus ribu, beres perkara.”

5. Wanita-wanita yang Rumit

Saya mengategorikan wanita yang rumit ini ke dalam dua bagian. Pertama, mereka yang terlalu banyak menuntut. Zaman sekarang memang wajar bila seseorang dituntut mapan secara finansial. Tapi, beberapa tuntutan kadangkala tidak masuk akal. Teman saya di Bandung pernah bercerita bahwa seorang wanita yang dikenalnya akan selalu bertanya apa merk mobil yang dimiliki pria yang mendekatinya.

Teman saya di Sidoarjo lain lagi ceritanya. Ia berkenalan dengan seorang wanita di Facebook. Suatu ketika ia meng-update status menggunakan Blackberry. Si wanita menanyakan lewat kotak pesan apa PIN-nya, teman saya mengatakan bahwa Blackberry yang ia gunakan untuk meng-update status adalah Blackberry pinjaman. Begitu tahu itu Blackberry pinjaman, si wanita langsung menjauh — menjauh sebelum didekati.

Kedua, wanita yang rumit adalah wanita yang memang tidak mau berkomitmen. Hal inilah yang dialami oleh teman saya, anggap saja ia bernama Yudi. Pada zaman chatting masih menggunakan mIRC, Yudi sudah menemukan wanita-wanita jenis ini: wanita-wanita yang mau saja diajak “one night stand”. Ia bercerita kepada saya, tidak kurang dari lima wanita yang berhasil dibawanya kencan hingga berakhir di ranjang gara-gara berkenalan lewat mIRC.

Wanita-wanita ini juga sama seperti pria yang mengajak mereka kencan: mereka menikmati hubungan tanpa status ini. Mereka enggan terikat dalam hubungan yang bernama pacaran, apalagi pernikahan. Keterikatan semacam itu selalu saja menimbulkan masalah besar bagi mereka.

***

Itulah beberapa cerita yang saya sampaikan kepada bapak tua itu. Tampaknya ia bisa memahami apa yang terjadi pada masa kini. “Zaman selalu berubah ya, Nak,” katanya kepada saya.

“Iya, Pak. Tapi cinta tetap cinta, walaupun dunia ini selalu berubah.”

“Maksudmu?” tanyanya sambil menghembuskan asap rokok.

“Maksud saya, tetap ada orang yang perlu dan bahkan harus sungguh-sungguh kita cintai untuk membuat hati ini sering gembira dan damai.”

“Benar, Nak, mencintai orang yang sama secara terus-menerus membuat kita lebih dewasa. Ini bukan melulu soal pernikahan lho. Banyak pernikahan yang juga berakhir dengan perceraian kok. Cerita-ceritamu itu ada yang baik, ada yang… yah… menurut saya kurang baik.”

Saya mengangguk, mengiyakan.

“Apakah kamu sendiri sudah menemukan seseorang untuk dicintai, Nak?”

Saya tersenyum. “Hanya Tuhan yang tahu, Pak.”

***

Pontianak, 18 April 2013

Nenek, Kue-kue, dan Cucunya

Hingga sekarang, saya selalu bersyukur bisa hadir dalam pertemuan family altar (ibadah keluarga) di rumah bapak Johnny, seorang aktivis di Gereja Bethel Indonesia El Shaddai, Pontianak pada Jumat lalu, 3 Agustus 2012. Ini kali pertama saya ikut ibadah keluarga di Pontianak setelah ampir dua bulan saya ada di sini.

Pada kesempatan itu, seorang bapak yang turut hadir, bernama Pak Ricky, membawa beberapa kue untuk kami santap setelah ibadah. Dia membawa dua jenis kue: bakpau dan pastel.

Bakpau itu ada yang berisi kacang tanah, ada juga yang berisi bengkuang. Pastelnya ada yang berisi bengkuang, ada yang berisi bihun. Pak Ricky membawa makanan itu untuk mensyukuri seorang anaknya yang diterima di SMA 3 Pontianak dan seorang anaknya yang naik kelas 4 SD. Kami semua bersukacita bersama keluarga Pak Ricky yang tengah gembira. Kami yang ada di situ juga sangat menyukai bakpau dan pastel yang dibawanya.

Bakpau dan pastel yang dibawa Pak Ricky rasanya sangat enak. Saya paling suka dengan bakpau dan pastel yang berisi bengkuang. Kedua kue itu bila dimakan dengan sambal cair, rasanya benar-benar maknyus.

Dan, kami semua terheran-heran, bakpau dan pastel yang enak-enak itu, semuanya dijual dengan harga yang murah — per buah Rp500,00 saja.

Cerita pun berlanjut tentang siapa yang membuat bakpau dan pastel itu. Pak Ricky bercerita bahwa bakpau dan pastel itu dibuat oleh seorang nenek yang usianya sudah sangat lanjut, 70 tahun lebih. “Tiap hari dia selalu bangun saat hari masih gelap, menyiapkan semua dagangannya yang dijual door to door,” kata Pak Ricky.

Pak Ricky kemudian bercerita kalau nenek itu menjual dagangannya door to door karena menghindari persaingan dengan sesama pembuat dan penjaja kue. “Kalau kue-kue ini dititipkan di warung, kue-kue lain yang juga dititipkan tentu akan kalah saing. Kue buatan nenek ini harganya murah, rasanya enak. Nah, nenek itu sadar akan kelebihannya, dia pun mencari cara lain, menjualnya door to door,” kata Pak Ricky.

Pak Ricky mengisahkan kalau nenek tua ini, walaupun badannya sudah ringkih, tetap tampak penuh semangat ketika menjajakan kue-kuenya. Ia tampak penuh sukacita dan pengharapan. Ia dikasihani karena usianya yang renta, tapi sekaligus sangat dihormati karena kue-kuenya yang enak.

Tiap hari sang nenek membawa dua keranjang — masing-masing di tangan kanan dan kirinya — menjajakan dagangannya kepada para tetangga dan langganan. Ada beberapa langganannya yang sangat menyukai kue-kue itu. Bila bertemu dengan nenek ini, mereka akan membeli banyak kue.

Perjuangan nenek ini yang hingga sekarang selalu gigih membuat dan memasarkan kue-kue itu, ternyata sangat menggugah.

Beberapa tahun yang lalu, anaknya melahirkan seorang bayi dari hasil percintaannya dengan seorang pria. Namun, pria itu meninggalkan kekasihnya tak lama setelah bayi mereka lahir. Ibu si bayi mendapatkan kekasih lain yang kemudian menjadi suaminya.

Saat bayi itu masih berusia lima bulan, ibu bayi itu memutuskan untuk ke Taiwan, mengikuti suaminya. Si bayi tidak diajak turut serta, ditinggal bersama sang nenek. Sejak ia berusia lima bulan, hingga sekarang sudah kelas 3 SMP, si nenek itulah yang merawatnya. Nenek itu membesarkannya dan menyekolahkannya dengan uang yang didapatkannya dari menjual kue-kue itu.

Saya tidak tahu apakah ibu si bayi sudah mulai memberikan bantuan dana kepada si nenek untuk menyekolahkan anaknya. (Pada kesempatan lain saya akan mencaritahu tentang hal ini.) Yang jelas, ibunya belum pernah pulang sejak ia meninggalkan sang nenek dan anaknya yang masih berusia 5 bulan. Dan, nenek ini bukanlah orang yang kaya — ia dikenal hidup sederhana oleh orang-orang di sekitarnya dan Pak Ricky.

Merenungkan perjuangan kehidupan sang nenek, saya jadi teringat sebuah pernyataan C.S. Lewis, seorang penulis. Ia pernah menyatakan hal ini: “Engkau tidak akan pernah tahu seberapa besar kepercayaanmu mengenai sesuatu hal sampai hal itu menjadi masalah antara hidup dan mati.” Nah, membuat kue-kue yang enak mungkin hanya hal sepele bagi sebagian orang — mungkin sebuah pekerjaan sambilan.

Tapi, ada kalanya kue-kue yang enak lahir dari sebuah pergulatan — antara hidup dan mati. (*)

Pontianak, 6-7 Agustus 2012

Membaurnya Derita dan Bahagia

Dalam Bukan Pasar Malam, novelnya yang cukup tersohor, diterbitkan pertama kali pada tahun 1951, Pramoedya Ananta Toer mengisahkan seorang anak revolusi yang mengunjungi ayahnya yang sakit keras akibat TBC. Ayahnya, seorang guru, setia berbakti pada negara sebagai pendidik yang menolak jabatan menjadi pengawas sekolah. Ia juga seorang aktivis partai yang dermawan, walau juga punya satu sifat buruk: suka berjudi.

Yang mengesankan adalah suatu malam ketika si anak bisa menjaga ayahnya hingga tidak tidur. Pramoedya menulis “… betapa bahagia rasanya tidak tidur untuk kepentingan seorang ayah — ayahnya sendiri — yang sedang tergeletak sakit. Dan terasalah olehku betapa gampangnya orang yang hidup dalam kesengsaraan itu kadang-kadang — dengan diam-diam — menikmati kebahagiaan.”

Terlepas dari muatan kritiknya terhadap kondisi politik Indonesia di masa itu, juga terhadap para jendral dan pembesar yang sarat dusta dan permainan kotor, novel yang amat disukai oleh Romo Mangun ini berupaya memaknai pertautan kasih bapak-anak yang dirasakan dan terjalin dalam penderitaan.

Pernahkah Anda berada di samping orang yang dekat dengan Anda, dan menunggu ajalnya tiba? Jikalau Anda dapat menghayatinya sungguh-sungguh, di saat-saat itulah kebahagiaan dan penderitaan berbaur; hakikat hidup yang sementara ini tersingkapkan; dan niat dan tekad untuk menjalani hidup agar lebih bermakna dibulatkan. ***

“Berbagi kesenangan melipatduakan kesenangan, berbagi kesedihan membuat kesedihan menjadi setengahnya.”
~ Peribahasa Swedia ~

Yang Diharapkan Ketika Kembali

Hampir tiap akhir pekan saya pulang ke Malang sejak empat tahun lalu. Saya bekerja di Sidoarjo, sementara kedua orang tua saya tinggal di Malang. Ada saat-saat yang selalu saya tunggu setiap akhir pekan ketika kembali bertemu dengan keluarga. Saat-saat ketika saya dan orang tua saling bercerita di meja makan tentang kehidupan kami masing-masing.

Juga, saat-saat ketika seorang keponakan saya yang masih balita dulu selalu menyambut saya ketika mendengar bunyi pagar rumah dibuka. Dia akan berlari keluar, menyerukan nama saya, lalu minta digendong. Dia senang kalau saya ajak melihati kambing, domba, dan beberapa ikan di kolam yang ada di dekat sawah di sekitar perumahan kami.

“Setiap orang yang baru tiba dari bepergian jauh selalu mengharapkan seseorang menunggunya di stasiun atau bandara. Setiap orang ingin menceritakan kisahnya dan membagi kepedihan hati atau sukacitanya dengan keluarganya, yang menunggunya untuk pulang,” kata seorang yang bijaksana.

Hal itu memang benar. Itulah yang membuktikan bahwa manusia tak dapat hidup sendiri. Manusia mengharapkan adanya orang lain ketika ia kembali dari suatu tempat. Ketika kita menutup diri untuk diterima orang lain, sesungguhnya tindakan ini akan mengecilkan arti diri kita yang sesungguhnya. Jurang yang dalam berupa prinsip atau tujuan hidup memang dapat menjadi pemisah sebuah relasi. Namun, kita tetap dapat dikasihi, meskipun kadang orang yang mengasihi kita tak selalu sejalan dan sepikiran dengan kita. ***

 “Untuk mendapatkan kesenangan sepenuhnya, Anda harus memiliki seseorang untuk berbagi dengannya.”
~ Mark Twain

Ulang Tahun Keponakan dan Wanita Pembungkus Kado

1 Januari 2012. Keponakan saya, Gracia Arinda Sarsanto, hari ini berulang tahun. Usianya 3 tahun. Ia masih sangat cadel. Ia tidak bisa menyebut “permen”, tetapi “demen”. Bila menyanyi lagu “Cicak di Dinding”, ia tidak bisa menyebut “merayap”, tapi “dedayap”. Saya berjanji membelikannya sebuah hadiah ulang tahun. Namun, hingga menjelang malam, hadiah itu tak kunjung saya beli. Sejak tadi sore, Malang diguyur hujan deras.

Hujan tak kunjung reda. Malam telah tiba. Bersama seorang teman baik saya, Junaedi Ridwan, akhirnya saya memutuskan pergi ke Gajahmada Plaza, membeli beberapa kaset vcd anak-anak untuk Gracia. Hujan turun sangat deras, sepanjang perjalanan bersepeda motor kami mengenakan jas hujan. Di toko kaset itu tidak tersedia kertas kado. Setelah bertanya kepada penjual di toko kaset, saya menemukan toko yang menjual kertas kado.

Kertas kado itu ada di sebuah toko aksesoris. Penjaga toko itu adalah seorang wanita muda. Ia berkulit terang, mengenakan kaos putih. Penampilannya begitu sederhana. Di toko itu saya melihat sebuah kertas kado berwarna biru dan bergambar ikan. Saya bertanya kepadanya bisakah saya minta tolong agar kaset-kaset vcd yang saya beli ini dibungkuskan karena tak lama lagi perayaan kecil ulang tahun Gracia akan dimulai.

“Bisa,” katanya. “Ongkosnya dua ribu.”

Saat dia membungkus kado itu, saya dan Junaedi melihat-lihat barang-barang yang dijual di toko aksesoris itu. Tidak ada satu pun barang yang menarik minat kami: sepatu anak-anak, kaos kaki kecil, kalung, cincin, gelang, dan lain-lain.

Saya mendekati wanita itu. Saya amati gerak-geriknya yang sangat teliti membungkus kado. Ia melipat kertas kado itu dengan lurus di beberapa bagian, lalu memotong bekas lipatan itu menggunakan cutter dengan rapi. Ia mempersilakan saya duduk, namun saya lebih suka melihatnya membungkus kado. Saat kado itu hampir selesai dibungkus, ia bertanya kepada saya, “Ini untuk anaknya ya, Mas?”

“Bukan, ini untuk keponakan saya. Usianya tiga tahun,” kata saya.

Tiga kaset vcd itu selesai dibungkus. Sangat rapi. Dia berkata, “Mau enggak kalau kado ini saya tambahi dengan hiasan pita kecil?”

“Wah, tidak usah, Mbak. Jangan repot-repot,” kata saya.

“Tidak apa-apa kok, Mas.”

Ia pun membuat pita kecil dari sisa kertas kado itu. Saat ia membuatnya, saya iseng-iseng bertanya, “Mbak tinggal di mana?”

“Di daerah Juanda, Mas.”

Saya tidak tahu di mana itu Juanda. Junaedi berkata kepada saya kalau Juanda itu tidak terlalu jauh dari Pasar Besar kota Malang, dekat apotek Boldy. Kami bertiga kemudian bercakap-cakap tentang beberapa hal remeh: tokonya buka dan tutup jam berapa, sudah berapa lama ia bekerja di toko itu, dan lain-lain.

Percakapan kami yang berlangsung tak lebih dari lima menit itu, tanpa saya sadari melahirkan pertanyaan ini kepada wanita itu: “Mbak sendiri sudah punya anak?”

“Anak saya sudah meninggal, Mas. Enam bulan lalu.”

Saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Wanita itu menyelesaikan pita yang dibuatnya untuk ditempelkan di kado itu. Kado itu pun selesai dibungkus. Saya dan Junaedi meninggalkan wanita itu, wajahnya yang tampak murung. Saya dan Junaedi mampir ke sebuah warung kopi untuk berteduh, menunggu acara ulang tahun Gracia yang akan diadakan di sebuah warung steak setengah jam kemudian.

Keluarga saya merayakan acara ulang tahun Gracia dengan penuh sukacita. Saat kami tengah merayakan ulang tahun, seorang teman baik saya yang lain, Yohanes Purwonegoro, menelepon saya. Ia bercerita kalau ia tak bisa pulang karena kehujanan sepulang dari gereja yang ada di dekat rumah saya. Sekarang Yohanes sudah bisa naik sepeda, dulu ia selalu berjalan kaki ke mana-mana.

Malam ini rumah orang tua saya ramai. Junaedi dan Yohanes turut menginap di rumah ini. Orang-orang di rumah ini bercanda dengan riang. Gracia tengah bermain dan senang dengan kado-kado yang diterimanya malam ini. Saya kembali mengenang wanita itu. Mungkinkah ia tengah memikirkan anaknya di alam baka ketika jari-jemarinya yang telaten itu membungkus kado untuk Gracia?

Hujan sudah reda. Suara kodok bersahut-sahutan dengan nyaring. Satu per satu penghuni rumah ini terlelap. (*)

Malang, 1 Januari 2012