Category Archives: Musik

Ketika Cinta Harus Kehilangan

Mungkin tidak banyak orang yang mengenal siapa itu Mary Austin. Wanita ini pernah menjalin hubungan asmara dengan seorang penyanyi ternama. Ia adalah Freddie Mercury, vokalis band legendaris Queen. Mary Austin, seorang karyawati di sebuah butik di London, menjalin hubungan asmara dengan Freddie selama tujuh tahun.

Namun, perjalanan cinta mereka kandas di tengah jalan, entah apa sebabnya. “Cinta kami berakhir dengan air mata, tapi ikatan yang mendalam tumbuh dari itu, dan itu sesuatu yang tidak bisa diambil dari kami berdua,” kata Freddie Mercury. Di kemudian hari, ia menciptakan Love of My Life yang tak lekang oleh perubahan zaman — sebuah lagu tentang cinta yang hilang.

Banyak orang yang meributkan soal kehidupan pribadi Freddie Mercury, terutama soal perilakunya yang urakan. Namun, tak sedikit juga yang tidak ambil pusing dengan perilaku sang penyanyi ini — mereka menggemari karya-karyanya dengan sepenuh hati. Dan, terkait dengan Mary Austin, berita baiknya adalah mereka berdua tetap menjadi teman baik. Hingga Freddie meninggal pada 24 November 1991, hubungan baik keduanya tak terpisahkan. Mary bahkan menjadi pewaris beberapa kekayaan yang dimiliki Freddie.

Begitu banyak orang yang lebih memilih melupakan mantan kekasihnya ketika hubungan mereka kandas di tengah jalan. Tak sedikit yang menyimpan trauma dan dendam sekian lama. Ketika cinta harus kehilangan, dan tak bisa dipertahankan, hal itu memang menuntut kedewasaan seseorang untuk tetap kuat dan terus melanjutkan hidupnya.

“Aku mencintaimu tanpa mengetahui bagaimana, mengapa, bahkan dari mana.”
~ Dari film Patch Adams ~

3 Persoalan Hidup, 3 Kedamaian Jiwa, 3 Lagu Dream Theater

“Hati Anda belum hidup kalau belum pernah mengalami rasa sakit. Rasa sakit karena cinta akan membuka hati, bahkan bila hati itu sekeras batu.”

~ Hazrat Inayat Khan

Pada akhir tahun lalu, saya sering merenung seorang diri. Di tengah-tengah keluarga yang berkumpul dan berlibur di rumah orang tua saya di Malang, atau di beberapa tempat lain, saya selalu meluangkan waktu untuk merenungkan beberapa hal. Hal-hal yang saya renungkan tak melulu tentang diri saya sendiri, walau tulisan ini secara garis besar mengangkat hal-hal yang saya alami.

Hal pertama yang saya renungkan adalah kegagalan. Saya termasuk orang yang sering gagal. Dalam dunia penulisan, misalnya, naskah saya cukup banyak yang ditolak oleh redaktur koran atau editor penerbit. Sejak tahun 2002 saya menekuni dunia penulisan, namun masih sedikit pencapaian yang saya raih. Ada pula kegagalan lain yang sifatnya lebih pribadi, namun cukup mengusik pikiran saya setiap kali mengingatnya. Kadangkala saya bertanya-tanya: apakah sebagian manusia memang ditentukan untuk mengalami kegagalan lebih banyak dan lebih kompleks?

Pada saat-saat inilah saya sering mendengarkan lagu “Another Day”. Sebuah penggalan liriknya yang selalu mendamaikan jiwa saya adalah: “You won’t find it here, look another way. You won’t find it here, so try another day.

Dan, di bagian lain, dengan amat puitis dituliskan bahwa mimpi-mimpi kita yang diambil oleh orang lain mungkin disembunyikan di balik bintang. Kita berharap bintang yang menyembunyikan mimpi kita itu jatuh, mimpi menjadi kenyataan. Namun hal itu tidak kunjung tiba. Pada saat itu, lebih baik tetap membiarkannya sebagai misteri dan berserah pada rahasia ilahi:

They took pictures of our dreams
Ran to hide behind the stars
And said maybe when it’s right for you, they’ll fall
But if they don’t come down
Resist the need to pull them in
And throw them away
Better to save the mystery
Than surrender to the secret

***

Hal kedua yang kadang mengganggu saya adalah beberapa orang yang meninggalkan saya tanpa sebab yang pasti, tanpa penjelasan yang memadai. Di antara mereka ada seorang yang sangat baik, tiap hari selalu berbagi kabar, dan suka bercanda. Saya mengenal dia saat sakit dan hendak dioperasi. Dari dia mengalami sakit hingga dioperasi, lalu sembuh, dan kemudian sehat kembali, kami selalu berbagi kabar.

Ada juga seorang lain yang selalu menyebut saya sebagai kakaknya, suka dunia penulisan juga. Beberapa karyanya sempat saya beri masukan. Dia begitu gembira ketika cerpennya dimuat juga di sebuah majalah yang dulu pernah memuat cerpen saya. Karena 10 tahun lebih muda daripada saya, dia cukup sering menanyakan hal-hal yang baginya perlu pertimbangan masak-masak.

Dua orang ini, hingga kini menghilang tanpa jejak. Saya sempat berbeda pendapat dengan keduanya dan meminta maaf untuk perbedaan itu, namun keduanya tidak membuka komunikasi lagi kepada saya. Kadangkala, saya ingin bisa berdiskusi, bercanda, dan mendengar apa yang mereka alami dan hadapi. Namun, hubungan itu kini hanya menjadi kenangan yang susah diharapkan untuk bisa terjalin lagi.

Ketika memikirkan mereka, saya pun teringat lagu “Beneath the Surface”. Akan tiba masanya ketika saya tidak akan berharap lagi bisa menjadi seseorang yang berarti buat mereka, begitu juga sebaliknya. Bukan karena kebencian, bukan karena dendam. Namun, karena alasan-alasan yang kadang susah dibahasakan.

Until one day I stopped caring,
and began to forget why I longed to be so close.
And I disappeared into the darkness,
and the darkness turned to pain,
and never went away,
until all that remained was buried
deep beneath the surface.

Lewat permintaan maaf, saya selalu berharap mereka bisa mengampuni saya. Namun, kadangkala saya juga bertanya-tanya: apakah mereka yang justru merasa jauh lebih bersalah daripada saya sehingga akhirnya lebih memilih untuk melupakan saya? Entahlah.

Tidak sedikit orang yang menyatakan bahwa waktu akan menjawab semua pertanyaan dan misteri yang menggelayuti sebuah hubungan. Namun, ketika waktu tak kunjung bicara… biarlah semuanya terkubur saja, sehingga saya tak harus terus berharap pada kekuatan waktu.

***

Hal ketiga adalah meyakini bahwa kehidupan yang saya jalani saat ini berharga.

Tak jarang saya merasa kehidupan saya sudah sangat baik saat ini. Saya bersyukur untuk hal ini. Saya mempunyai pekerjaan yang baik sebagai seorang guru — dan saya memang suka mengajar, juga suka bersama anak-anak. Saya memiliki hobi menonton film, menulis, bermain musik, minum kopi — yang semuanya membuat saya bahagia.

Namun, pernah juga saya merasakan bahwa kehidupan yang saya jalani ini statis, kurang bergairah. Saya bosan bekerja dari pagi sampai sore; lalu pada malam hari menonton film, menulis, atau bermain gitar. Saya ingin keluar dari apa yang telah menjadi dunia saya. Namun, saya tak tahu harus melakukan apa atau menciptakan dunia apa lagi. Pada saat-saat seperti inilah saya sering merenungkan bahwa apa yang sudah saya miliki adalah sesuatu yang berharga. Saya merenungkannya bersama lagu “The Answer Lies Within”.

Di beberapa gereja, dulu lagu “You Raise Me Up” dijadikan seperti lagu rohani, dinyanyikan pula saat ibadah. Menurut saya, lagu “The Answer Lies Within” bisa juga dijadikan lagu rohani. Kata demi kata yang ada di dalamnya dengan sangat baik memotret kegelisahan manusia yang perlu kesadaran untuk menata dirinya agar menjadi lebih maknawi. Simaklah penggalan liriknya berikut:

Look around, where do you belong
Don’t be afraid, you’re not the only one

Life is short, so learn from your mistakes
And stand behind, the choices that you made
Face each day with both eyes open wide
And try to give, don’t keep it all inside

Pilihan dalam kehidupan — pekerjaan, hobi, minat, dan sederet hal lain — bisa diambil kapan saja bila kita mau, dan tentunya akan mengubah kehidupan yang selama ini dijalani. Namun, hal itu pada akhirnya menerbitkan pertanyaan dalam diri saya: bila saya mengambil keputusan dengan memilih kehidupan yang lain dari apa yang telah saya jalani saat ini, apakah itu merupakan suatu bentuk pelarian dari kebosanan?

***

Bagi beberapa orang orang, grup band Dream Theater adalah grup band yang sulit. Lagu-lagu mereka dimainkan dengan nada dan irama yang penuh perubahan, durasinya panjang-panjang, atau tidak easy listening alias musik kelas berat. Saya nyatakan, tidak demikian — atau setidaknya bagi anda yang kurang suka grup band rock: tidak semua lagu mereka demikian.

Contohnya, tiga lagu ini. Saya merasa, apabila ketiganya didengar tidak sambil lalu, ada manfaat baik yang bisa didapatkan ketika merenungkan kata-kata dalam lagu-lagu ini. (*)

Sidoarjo, 2 Januari 2012