Category Archives: Pendidikan

Guru-guru yang Paling Mengesankan Sepanjang Hidup Saya

Guru yang paling sering saya kenang adalah guru yang lucu — entahlah kalau Anda. Setelah itu, barulah yang pintar atau unik dalam hal-hal tertentu. Berikut beberapa guru saya dari SD sampai kuliah yang hingga kini masih sering saya kenang.

1. Pak Ferdinandus

Pak Ferdinandus adalah guru saya waktu sekolah di SD Subsidi Suster Singkawang. Saya dan teman-teman memanggilnya Pak Ferdi. Dia terampil dalam banyak hal: pandai bermain organ dan seruling; selain mengajar Seni Musik, Pak Ferdi juga pernah mengajar Matematika, IPA, IPS, bahkan Olahraga.

Saya masih ingat saat saya di kelas 4 SD, Pak Ferdi sedang mengajar IPA. Dia menyampaikan sesuatu yang selalu saya kenang. Dia berkata kurang lebih begini, “Kalau kalian sudah besar, ciptakanlah sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Ikutilah jejak para ilmuwan dan penemu. Nah, salah satu yang menarik untuk ditemukan di masa depan adalah sepakbola di udara.”

“Sepakbola di udara” — tiga kata itu selalu terngiang-ngiang di benak saya. Seperti apa ya sepakbola di udara? Sampai kapanpun mungkin sepakbola di udara tak pernah bisa terwujudkan — entahlah. Tapi, kata-kata itu membuat saya sering berimajinasi. Puluhan tahun kemudian, saat saya membaca buku dan menonton film Harry Potter, saya pun teringat kepada Pak Ferdi saat melihat Quidditch, semacam sepakbola para penyihir yang dilakukan dengan sapu-sapu terbang di udara.

Kadang, saya berpikir, apakah Pak Ferdi pernah mengobrol dengan J.K. Rowling?

2. Pak Petrus

Di SMP Negeri 3 Singkawang, saya tidak bisa melupakan Pak Petrus, guru yang sangat kocak. Pak Petrus, bagi saya — dan saya rasa bagi kebanyakan muridnya — bukanlah guru yang ideal, dalam arti memiliki wawasan yang luas, pandai menjelaskan materi, atau pintar. Pak Petrus justru guru kami yang paling suka mengada-ada.

Pak Petrus mengajar Olahraga dan Elektronika, dia suka mengarang cerita-cerita yang tidak masuk akal. Tapi, dia menyampaikan cerita-ceritanya dengan begitu bersemangat. Saat dia bercerita, dia memperlakukan kami seperti anak kecil yang mudah dikelabui. Entahlah, sampai sekarang saya tidak tahu apakah dia sebenarnya tahu atau tidak bahwa kami tidak pernah bisa mempercayai cerita-ceritanya, hanya suka mendengarnya bercerita.

Salah satu ceritanya adalah tentang adu layang-layang. “Kalian kalau buat benang gelasan dari kaca kan? Kalau saya tidak, saya membuat benang gelasan dari intan,” katanya. Dia bercerita semua layang-layang yang dia lawan dengan benang gelasan intannya putus.

“Karena tidak ada lawan lagi, layang-layang saya cuma sendiri, saya timpakan saja benang dan layang-layang saya ke pohon kelapa! Pohon kelapa itu pun patah!” katanya dengan penuh semangat. Seisi kelas tertawa mendengarnya.

Satu hal lain yang menarik dari Pak Petrus adalah sifatnya yang pemarah dan emosional. Hal ini yang membuatnya ditakuti oleh anak-anak. Karenanya, saat dia bercerita, hampir semua anak diam mendengarkan. Hingga kini, bila saya bertemu lagi dengan teman-teman semasa SMP, kami masih sering mengenang Pak Petrus.

3. Pak Solehan

Pak Solehan — akrab disapa Pak Lehan — adalah guru agama Islam di SMA Negeri 6 Semarang. Pak Lehan memang tidak mengajar saya, tapi saya cukup akrab dengannya. Yang membuat saya terkesan dengannya adalah kedekatannya dengan para murid. Ini sedikit banyak disebabkan oleh kesibukannya membimbing ekskul band.

Saya masih ingat saat pertama kali bertemu Pak Lehan di audisi band sekolah. Sambil merokok, dia mengamati siswa-siswi kelas 1 yang sedang menunjukkan kebolehan masing-masing dalam bermain musik.

Pak Lehan selalu tampak santai. Kalau ketemu di pagi hari, dia selalu tersenyum ramah kepada semua orang. Dia tampak klop sekali mengendarai motor Vespa lawasnya. Saya mendengar dari beberapa teman, dia mengajar agama Islam dengan sangat rileks. Pernah, suatu waktu, saat ulangan umum, kunci jawaban untuk semua soal pilihan ganda yang dibuatnya adalah D.

Saya tidak pernah merasa canggung walau berbeda agama dengan Pak Lehan. Dia beberapa kali mengingatkan saya untuk tidak lupa sembahyang di gereja. Ekskul band sempat diadakan pada hari Minggu, dan saya dari gereja biasanya langsung ke sekolah, datang lebih awal dari teman-teman yang lain. Saya sempat dipasrahi kunci untuk ruang ekskul band selama beberapa minggu.

Hal yang tak terlupakan adalah tahun 1996, saat tiga band dari SMA Negeri 6 yang didaftarkan Pak Lehan ikut festival band se-Jateng-DIY menyabet habis semua gelar juara — juara pertama, kedua, dan grup band berpenampilan terbaik (tidak ada juara ketiga). Festival itu diadakan Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. Juara pertama adalah Casta; juara kedua Golgota; dan band saya, Neo-Six, mendapat juara sebagai band berpenampilan terbaik. Kami semua begitu bangga dengan Pak Lehan.

Suatu hari, semua pemain musik dari sekolah kami bertandang ke rumah Pak Lehan di daerah Genuk, dekat Pedurungan, Semarang. Rumah Pak lehan sederhana, tapi halamannya luas. Di sana Pak Lehan dan beberapa teman saya sudah menyiapkan semua alat band. Kami bermain musik bergantian dari pagi sampai hampir malam.

4. Pak Sujud

Pak Sujud adalah dosen saya di jurusan Sejarah Univeritas Negeri Malang. Dia pernah mengajar saya di mata kuliah Prasejarah Indonesia dan Studi Masyarakat Indonesia. Pak Sujud juga menjadi dosen pembimbing skripsi saya. Pak Sujud sangat ramah, suka tersenyum. Dia juga begitu cuek dalam soal penampilan, kadang bagian belakang sepatunya diinjak dengan tumitnya, jadi mirip sepatu sandal.

Yang tidak pernah saya lupakan dari Pak Sujud adalah cerita-cerita lucunya. Saya menduga, dia punya cukup banyak koleksi buku kumpulan humor. Hampir di tiap kuliahnya, selalu saja ada lelucon yang membuat suasana kelas jadi begitu cair.

Cerita-cerita lucu Pak Sujud sangat beragam: dari humor mahasiswa, humor umum, sampai humor dewasa. Dia juga pernah menggelari sebuah merek sabun sebagai “sabune babu” (sabunnya pembantu). Saya menceritakan istilah “sabune babu” itu kepada nenek saya suatu hari, waktu nenek saya baru saja membeli sabun itu untuk mandi. Nenek saya tertawa-tawa mendengar istilah “sabune babu”.

5. Pak Soepratignyo

Pak Soepratignyo — panggilannya Pak Pratig — juga dosen saya di Universitas Negeri Malang. Seingat saya, dia pernah mengajar mata kuliah Sejarah Asia Selatan dan Geohistori. Saya tidak banyak mengingat pelajaran-pelajaran Pak Pratig, tapi sampai sekarang masih mengingat wawasannya yang sangat luas.

Bila Pak Pratig sudah berdiri di depan kelas, semua mahasiswa tenang. Dia sangat pandai bercerita, juga menghapal banyak sekali fakta sejarah yang saling berkaitan. Saya pernah berpikir kalau dia adalah ensiklopedi sejarah yang bisa berjalan.

Hal yang masih saya ingat dengan jelas adalah ketika Pak Pratig mengangkat isu terorisme pada tahun 2001. Saat itu menteri senior Singapura, Lee Kuan Yuw, menyatakan bahwa Indonesia adalah sarang teroris. Banyak pihak yang saat itu tidak setuju dengan pernyataan sang menteri. Pak Pratig, saya masih ingat betul, tidak menyatakan setuju atau tidak. Dia hanya mengajak para mahasiswanya untuk menilik sejarah dan melihat apa yang terjadi di kemudian hari.

Hal lain yang tak terlupakan dari Pak Pratig adalah kesukaannya merokok Gudang Garam saat menjelaskan materi perkuliahan. Sekali berdiri di depan kelas, Pak Pratig bisa menghabiskan 2-3 batang rokok. Pernah, suatu ketika rokoknya habis saat dia ada di depan kelas, lalu dia meminta tolong seorang mahasiswanya membelikannya rokok.

***

Demikianlah sekilas kisah lima orang guru yang paling mengesankan dalam hidup saya. Ada kalanya saya ingin kembali duduk, mendengar, dan menyimak lagi apa yang mereka ajarkan atau sampaikan di depan kelas. Saat-saat diajar oleh mereka dan mendengarkan mereka adalah saat-saat yang berharga.

Masih ada beberapa guru lain yang meninggalkan kesan tersendiri dalam ingatan saya. Namun, ingatan tentang mereka tak sebanding dengan ingatan saya akan kelima guru ini. Saya sudah tidak pernah lagi bertemu dengan mereka bertahun-tahun. Dari kelima guru ini, hanya Pak Sujud yang saya tahu masih mengajar. (*)

Pontianak, 24-25 November 2012

Dedikasi Guru-guru bagi Anak-anak Cacat

Pada tanggal 5 November 2011 saya berkunjung ke SLB (Sekolah Luar Biasa) Bhakti Luhur. Istilah SLB ternyata sudah diganti dengan SABK (Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus). Hari masih pagi, sekitar pukul delapan. Di hari ini kegiatan pembelajaran tidak sepadat pada hari Senin hingga Jumat, sehingga saya berkesempatan berbincang-bincang dengan beberapa guru dan melihat-lihat kegiatan pembelajaran di SABK ini. Seminggu yang lalu, 29 Oktober 2011, sebenarnya saya sudah berkunjung ke sini, namun hanya sebentar.

Suster Merry, asisten Kepala Sekolah di SABK ini, menemani saya berkeliling ke kelas-kelas, melihat kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Sambil berkeliling dia bercerita kalau pendiri sekolah ini, Romo Yansen, mendirikan sekolah ini karena terilhami perjuangan dan bakti Santo Vincentius, salah satu orang kudus yang dijunjung orang Katolik. Sekolah Bhakti Luhur yang ada di depan Plasa Dieng di Malang ini luas sekali. Di sini ada TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB atau SABK.

***

Guru SABK Bhakti Luhur yang saya ajak bicara pertama kali adalah Ibu Claudia Merry, yang biasa dipanggil Ibu Merry. Ibu Merry berusia 51 tahun. Saat ini dia menjadi guru kelas di kelas tunarungu (bisu-tuli) tingkat TK B. Dia sudah mengajar sejak tahun 1984. “Saya ingin menjadi guru sejak kecil. Bapak saya seorang guru,” katanya kepada saya.

Dia bercerita bahwa mendidik anak-anak bisu-tuli memerlukan kecakapan khusus. Anak-anak tunarungu harus dihadapi lebih sabar dan lebih teliti. Konsentrasi yang diperlukan untuk mendidik seorang anak tunarungu juga tinggi. Belum lagi kalau ada anak yang mogok belajar, dan kadang bertingkah semaunya.

Selama mendidik anak tunarungu, Ibu Merry memiliki banyak pengalaman yang mengesankan. Salah satunya adalah ketika ia mendapat seorang murid bernama Jorei. Waktu pertama kali Jorei masuk sekolah, dia sama sekali tidak mau belajar. Hampir setiap hari dia hanya tidur pagi sampai siang. Susah untuk membangkitkan semangat belajarnya. Namun, Ibu Merry pantang menyerah. Salah satu cara yang ditempuh Ibu Merry adalah dengan menyalakan lampu seterang-terangnya saat belajar. Karena, dalam keadaan gelap, si Jorei akan mudah mengantuk. Cara lain adalah dengan membuat banyak alat peraga yang merangsang anak untuk belajar. Karena anak-anak di sini konsentrasi belajarnya tidak seperti anak normal.

Jorei yang bisu, tuli, dan low vision (berkemampuan melihat rendah) pada akhirnya berhasil digerakkan motivasi belajarnya. Jorei sangat menyayangi Ibu Merry. Suatu ketika Ibu Merry sakit, dan harus dioperasi kista-nya di rumah sakit. Hampir sebulan Jorei tidak bertemu dengan guru kesayangannya itu. Begitu mereka bertemu, Jorei memeluk Ibu Merry.

“Menjadi guru di sini adalah bentuk pengabdian dan pelayanan saya, Mas,” katanya kepada saya. Ibu Merry bercerita kalau murid-murid yang ada di SABK ini tidak sedikit yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. “Bahkan ada yang dulunya di jalanan, kemudian dibawa ke sini, Mas. Dengan latar belakang seperti itu, saya otomatis tidak terlalu memikirkan gaji. Menjadi pengajar sudah menjadi semacam panggilan.”

***

Guru kedua yang saya temui adalah Ibu Yustina Rini, yang sering dipanggil Ibu Yustina. Ia sudah berusia 39 tahun, mengajar di sini sejak 1993. Ibu Yustina menjadi wali kelas D3 (Dasar tingkat 3).

Hal yang membuat Ibu Yustina tergerak menjadi guru SLB sungguh menarik.

Keluarga Ibu Yustina tidak ada seorang pun yang menjadi guru. Suatu hari — saat itu ia masih SMA — ia tertarik dengan kehidupan seorang anak di desanya, desa Gampang Lor, Ambar Ketawang, Yogyakarta. Anak ini tunarungu, dan ia tidak bisa belajar seperti anak-anak lainnya. Orang tua anak itu bekerja sebagai tukang bengkel.

Ibu Yustina mencoba mengajari anak ini semampunya, lalu anak itu masuk ke sebuah SLB. Setelah tamat SMA, Ibu Yustina bertekad mengajari anak-anak tunarungu sebanyak-banyaknya. Orang tua dan keluarganya sempat menyarankan ia mengambil pendidikan yang umum saja, untuk anak-anak normal. Namun, Ibu Yustina bersikeras. “Saya rasa sudah banyak orang yang mendidik anak normal,” katanya, “dan masih sedikit yang mau mendidik anak-anak tunarungu.”

Ia pun masuk ke SPGLB (Sekolah Pendidikan Guru Luar Biasa) di Wates, Yogyakarta. Mejelang lulus, ada tawaran untuk mengajar di Malang. Di sinilah ia sekarang berada, bersama dengan anak-anak didiknya. Ia bercerita kalau anak-anak muridnya digolongkan bukan berdasarkan usia, namun kemampuan yang mereka miliki. Ada anak yang sudah berusia 15 tahun, tapi masih di kelas D3. Hal ini terjadi karena orang tuanya terlambat memasukkan anaknya ke sekolah.

“Sekarang, tetangga saya yang tunarungu itu sudah punya suami, Mas,” katanya kepada saya. “Tiap kali saya pulang ke Yogya, ia selalu menemui dan menyalami saya. Dia sekarang menjadi tukang jahit, dan anaknya sudah dua orang.”

Salah satu pengalaman Ibu Yustina yang amat menggugah adalah ketika ia mendapat seorang murid bernama Diar. Diar memiliki sakit jantung sejak lahir. Berdasarkan pemeriksaan dokter, jantungnya harus dioperasi. Orang tua Diar membawanya ke rumah sakit Harapan Kita, Jakarta. Ibu Yustina terkesan dengan semangat belajar Diar. Di rumah sakit pun, Diar tetap bersemangat belajar. Ibu Yustina sampai pergi ke Jakarta juga untuk menemani dan membimbing Diar belajar.

Operasi Diar berjalan dengan baik, sekarang ia sudah duduk di kelas D6 (Dasar tingkat 6). “Salah satu tantangan yang terbesar mendidik anak-anak di sini adalah membiasakan mereka berbahasa oral (lewat mulut). Oleh karena itu saya membatasi penggunaan bahasa isyarat,” kata Bu Yustina. Ia memperkenalkan huruf-huruf kepada mereka, dan mengajak mereka melihat gerakan bibirnya saat mengucapkan huruf-huruf itu.

***

Setelah berbincang-bincang dengan dua guru di kelas tunarungu tadi, saya diajak Suster Merry bertemu dengan Ibu Lusiana (Ibu Lusi) dan Ibu Ana Tri Astuti (Ibu Ana). Ibu Lusi berusia 43 tahun, sudah menjadi guru sejak tahun 1992. Ibu Ana berusia 38 tahun dan sudah menjadi guru sejak 1995. Mereka berdua adalah guru di kelas tunagrahita.

“Pada intinya, anak-anak tunagrahita adalah anak-anak yang slow learner,” kata Ibu Lusi. “IQ mereka umumnya di bawah 80.”

Anak-anak tunagrahita ada yang menggunakan kursi roda sepanjang waktu. Ada yang berjalan lambat dan tertatih-tatih. Ada juga yang raut wajahnya unik. Beberapa anak di sini juga ada yang tergolong down syndrome. Tak sedikit anak-anak tunagrahita yang susah diatur, sangat nakal. “Mengajari mereka sangat memerlukan ketelatenan. Apa yang diajarkan harus sering diulang-ulang,” kata Ibu Ana.

Ibu Lusi dan Ibu Ana sama-sama menegaskan kalau mengajari anak-anak tunagrahita harus kreatif dan inovatif. Anak-anak normal mungkin betah bila diberi ceramah 15-20 menit, namun tidak demikian dengan anak-anak ini. “Tantangannya terutama dalam menciptakan alat peraga yang menarik sehingga anak-anak ini bisa diajak berpikir,” kata Ibu Ana.

Sama seperti Ibu Lusi, Ibu Ana juga menyatakan dia selalu memikirkan cara agar target pembelajaran tercapai. “Kadang, bila suatu materi susah dipahami, saya selalu memikirkan alat peraga apa yang pas dipakai untuk anak-anak. Kadang, sampai rumah pun masih terus saya pikirkan.”

***

Hari semakin siang. Saya sangat senang dengan apa yang saya temui dan alami hari ini. Suster Merry yang menemani saya akan pergi ke Blitar, ke sebuah desa kecil untuk melakukan tugas-tugas pelayanan edukasi dan gerejawi. Saya menyempatkan diri mengambil foto-foto di SABK Bhakti Luhur. Kira-kira jam sebelas siang, saya meninggalkan sekolah ini.

Selalu ada sisi menarik dari dunia pendidikan, selalu ada suka-duka di dalamnya. Para guru selalu memiliki kisah yang inspiratif saat mendidik dan mengajar para muridnya. Begitu pula para murid dalam menempuh pendidikan — selalu ada murid yang semangat hidup dan kegigihannya menginspirasi banyak orang. Para guru dan murid ini hidup melampaui batas-batas penghalang, berupaya menempuh pendidikan karena keyakinan akan adanya hari depan yang lebih baik. (*)

Himne Guru: Inspirasi dari Guru yang Ketiban Sial

Hari masih pagi, belum pukul 07.00. Suasana tahun baru masih terasa di beberapa bagian kota Surabaya. Pagi itu, Sabtu, tanggal 14 Januari 2012, terminal bis Bungurasih di Surabaya tidak begitu ramai. Saya santai sejenak di warung kopi sebelum menumpang sebuah bis Sumber Kencono yang hendak menuju ke Madiun.

Kepergian saya ke Madiun adalah untuk menemui Pak Sartono, pencipta lagu Pahlawan tanpa Tanda Jasa yang lebih dikenal sebagai himne guru. Sebelum hari itu, kami pernah bertemu dalam sebuah acara. Ibu Tiwi, pendamping Pak Sartono, yang juga adalah adik iparnya, mengisahkan masa lalu Pak Sartono sebagai guru. Pak Sartono kini sudah sering tidak fokus dalam berbicara — kadang omongannya melantur atau diulang-ulang.

Ibu Tiwi menyatakan, “Tiga puluh tahun lagu himne guru diciptakan, namun baru akhir-akhir ini Pak Sartono mendapat perhatian dari banyak pihak. Pak Sartono semakin sering diundang ke sana kemari, menjadi narasumber untuk berbagai acara pendidikan. Namun, beliau ini tidak bisa berbicara dengan lancar karena faktor usia. Oleh karena itu, saya sering mendampingi beliau.”

***

Perjalanan saya ke Madiun cukup lancar dari Surabaya — hampir 6 jam. Saya sampai di terminal Madiun tengah hari. Di sana saya bertemu dengan tukang ojek yang bernama Suprapto, yang biasa dipanggil Pak Prapto. Saya mengajaknya berbincang-bincang mengenai kota Madiun. Saya kemudian menjelaskan kedatangan saya, mau bertemu dengan Pak Sartono, pencipta himne guru.

“Saya kelihatannya pernah tahu tentang beliau, Mas, tapi agak lupa,” kata Pak Prapto ketika saya bertanya kepadanya mengenal Pak Sartono atau tidak.

Saya pun dibawa ke alamat Pak Sartono, di jalan Halmahera No. 98. Rumah Pak Sartono berada di ujung jalan itu, tak jauh dari pemakaman umum. Rumahnya sederhana, usianya sudah puluhan tahun. Rumah itu warisan dari orangtua Pak Sartono. Saya disambut ramah oleh Pak Sartono, istrinya, dan Ibu Tiwi. Ibu Tiwi telah menyiapkan rujak dan es tape untuk saya.

Image
Saya seperti berada di tengah-tengah orang yang sudah lama saya kenal. Saya tak merasa asing. Saya mengajak Ibu Tiwi dan Ibu Damiati berbincang-bincang. Pak Sartono duduk di sebuah kursi, mendengarkan apa yang kami bicarakan. Pak Sartono selalu tersenyum, sekali-sekali ia mengangguk-angguk. Ibu Damiati sangat senang dengan kunjungan saya. Ia mengisahkan banyak cerita tentang Pak Sartono dan dirinya sendiri. Saya berada di rumah itu hampir tiga jam.

Ibu Damiati dan Ibu Tiwi juga menunjukkan foto-foto keluarga Pak Sartono pada masa lalu. Beberapa penghargaan yang diterima oleh Pak Sartono, naskah asli lagu himne guru, beberapa kenangan dan cinderamata, dan beberapa foto lainnya dipajang di ruang tamu itu. Suasana siang itu di Madiun sangat menyenangkan untuk sebuah pembicaraan.

Sambil menikmati rujak yang disuguhkan, saya berbincang-bincang dengan Ibu Damiati dan Ibu Tiwi. Cuaca sedang panas pada kunjungan pertama ini. Pada siang itu, berbagai peristiwa dan kenangan masa lalu dikisahkan kembali oleh Ibu Damiati kepada saya. Beberapa foto Pak Sartono dan Ibu Damiati juga ditunjukkan kepada saya.

***

Pada waktu remaja dan sekolah Pak Sartono mendirikan grup musik bersama teman-temannya. Lagu-lagu yang sering mereka nyanyikan adalah keroncong. Sartono sering memainkan gitar di dalam grup keroncongnya.

Masa-masa sekolah berlalu, Sartono kemudian bekerja di Lokananta, sebuah perusahaan rekaman musik, pembuat piringan hitam. Dari situ minat dan kecintaannya terhadap musik kian bertumbuh. Grup band yang ia dirikan bersama teman-temannya suatu ketika mendapat tugas dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) karena Sartono dimasukkan dalam korps musik TNI. Tugas tersebut adalah menghibur para tentara yang akan berangkat perang di Irian Barat.

Tugas itu diberikan kepada Sartono dan grup musiknya pada tahun 1963. Saat itu, bangsa Indonesia tengah berjuang membebaskan Irian bagian barat yang diklaim oleh Belanda sebagai miliknya. Presiden Soekarno, dua tahun sebelumnya, tepatnya pada 19 Desember 1961, mencetuskan Operasi Trikora yang bertujuan untuk merebut kembali wilayah tersebut.

Selama tiga bulan Sartono ada di Irian, menghibur para tentara yang akan melaksanakan tugas negara. Ia kembali lagi ke Madiun setelah tugas itu. Saat kembali ke Madiun, harapannya untuk mendapat kesempatan bekerja sebagai TNI atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak kesampaian. Beberapa temannya yang ikut dalam korps musik di TNI diangkat menjadi TNI, namun ia tidak.

“Pak Sartono tidak diangkat karena dia tidak punya koneksi, Mas. Orang yang tidak punya koneksi pada zaman dahulu susah untuk menjadi TNI atau PNS,” kata Damiati, istrinya. Sartono tetap bermain musik bersama teman-temannya untuk mencari nafkah. Ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun.

“Pak Sartono pernah kerja di bioskop, mengurusi bagian reklame bioskop. Ia juga pernah juga bekerja di PT. Mitrako di Magetan. Waktu kerja di Mitrako, kesejahteraan cukup baik. Perusahaan itu milik orang-orang Tionghoa. Di sana Pak Sartono bisa makan enak,” kata Damiati.

Saat bekerja di Mitrako, Sartono juga terus menekuni musik. Ia mahir memainkan kulintang, saksofon, dan gitar. Ia sempat menciptakan beberapa lagu, memberi les musik kepada beberapa orang. Ia kadang juga menjadi juri kalau ada lomba menyanyi, paduan suara, atau musik. Saat-saat inilah ia bertemu dengan Damiati. Sartono bermain musik, Damiati bernyanyi — mereka sering tampil sepanggung. Rasa saling menyukai pun tumbuh di antara keduanya. Sartono dan Damiati menikah pada tahun 1971.

Dengan modal kemampuan bermusiknya itu, Sartono berhasil mendapat pekerjaan mengajar di SMP Purna Karya Bhakti, yang lebih dikenal dengan nama SMP Katolik Santo Bernardus. Ia mengajar tiga kali seminggu. Sartono mengajar musik, juga vokal atau paduan suara. Ia bisa bekerja di sana karena Damiati, istri Sartono yang beragama Katolik, mengenal dengan baik salah satu suster di situ. “Saya dulu waktu sekolah tinggal di asrama. Nah, kebetulan saya kenal dengan salah satu suster. Suster itulah yang meminta Pak Sartono untuk mengajar di sekolah itu. Walaupun Pak Sartono beragama Islam, tidak masalah. Sartono pun mulai resmi mengajar di sekolah itu pada tanggal 1 Januari 1978,” kata Damiati.

Sambil mengajar di SMP Santo Bernardus, Sartono juga mengajar anak-anak TK Perhutani di Nganjuk bermain kulintang. Pada suatu perjalanan ke Nganjuk untuk mengajar, tahun 1980, ia membaca pengumuman lomba menciptakan himne guru di sebuah koran. Ia membaca pengumuman itu di dalam bis: ada sayembara mencipta lagu himne guru yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Nasional!

Ia tertarik mengikuti lomba itu. Hadiahnya amat besar di masa itu, Rp750.000. Dalam perjalanan pulang Pak Sartono menggumamkan nada-nada yang nantinya akan ia tuliskan. Di sepanjang perjalanan, bahkan sampai tiba di rumah, ia sama sekali tak mendapat ide untuk menuliskan kata demi kata dalam lagu itu.

Saat menuliskan lagu itu, tenggat waktu yang ditetapkan panitia lomba tinggal dua minggu. Dengan bantuan istrinya, yang mengisahkan kehidupan seorang guru yang dikenal baik oleh mereka berdua, akhirnya lagu itu pun jadi. Penciptaan lagu itu ternyata diilhami oleh seorang rekan guru yang dikenal oleh Pak Sartono bernama Suroyo, atau kerap dipanggil Pak Royo.

Pak Royo suatu ketika mengalami kesusahan ekonomi akibat sebuah musibah yang menimpa keluarganya, hartanya habis dirampok orang. Setelah ketiban sial ia pun mengamen sambil tetap mengajar. Perjuangannya mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup kemudian dituangkan pak Sartono dalam lirik lagu Pahlawan tanpa Tanda Jasa atau himne guru.

Namun, persoalan lain datang. Ketika hendak mengirimkan lagu itu ke Jakarta, Pak Sartono tidak memiliki cukup uang. Pak Sartono pun pergi ke toko yang menerima lungsuran pakaian bekas, menjual pakaiannya. Uangnya dipakai untuk membeli perangko.

Pahlawan tanpa Tanda Jasa akhirnya terpilih menjadi himne guru setelah melalui serangkaian seleksi yang ketat. Pak Sartono mendapat hadiah dan penghargaan. Lagu itu mulai dinyanyikan di sekolah-sekolah di tanah air — dari Sabang sampai Merauke. Himne guru terdengar di segenap penjuru negeri.

Kehidupan Pak Sartono tak serta-merta berubah drastis. Ia tetap menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta di Madiun. Kisah hidup Pak Sartono sarat dengan pengabdian dan kreativitas. Banyak lagu yang ia ciptakan di sela-sela kesibukannya. Istrinya tetap menjadi guru dan seniwati yang giat berkesenian. Pak Sartono berhenti mengajar di SMP Bernardus pada tanggal 30 Juni 2002. Gaji terakhir yang diterima Sartono di situ Rp60.000 sebulan.

“Pak Sartono itu orang yang penurut, tak suka menuntut. Ia nrimo. Tapi, bukan berarti pasrah begitu saja dan menyerah dengan kehidupan yang serba susah di zaman itu,” kata istrinya. Menjelang sore, rumah yang sederhana itu saya tinggalkan. Sepanjang jalan pulang saya merenung, inspirasi apakah yang akan datang di dalam benak saya saat berada di dalam bis? (*)

Sidik Nugroho, guru SMA St. Petrus Pontianak dan penulis lepas.

Guru, Sertifikasi, dan Kompetensi Mengajarnya

Sidik Nugroho*)

Guru biasa memberitahukan
Guru baik menjelaskan
Guru ulung memeragakan
Guru hebat mengilhami

~ William Arthur Ward

Sertifikasi guru yang diadakan mulai tahun 2006, hingga kini masih menorehkan beberapa catatan yang perlu dicermati. Kecurangan demi kecurangan yang terjadi tiap tahun mengindikasikan bahwa guru — yang notabene adalah pendidik dan pengajar — di tanah air ini perlu mengedepankan kejujuran dalam proses yang ditempuhnya untuk memperoleh predikat sebagai guru bersertifikat.

Pada tahun 2006 sampai 2010, saat proses sertifikasi menggunakan portofolio, guru mencari sertifikat dan penghargaan — dari hasil seminar, workshop, pelatihan, dan lain-lain — dengan segala cara, karena semakin banyak sertifikat dan penghargaan yang dikumpulkannya, poin portofolio-nya akan semakin tinggi. Pada 2011 dan 2012 kebijakan diubah, ada tiga jalur sertifikasi: Penilaian Portofolio (PF), Pemberian Sertifikat Pendidik secara Langsung (PSPL), dan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG).

Dari tiga jalur itu, kuota dari jalur PF hanya disediakan 1% dari total kuota guru yang akan disertifikasi; kuota dari jalur PSPL diperuntukkan bagi guru yang sudah S2 dan S3, atau memiliki golongan sekurang-kurangnya IVB bagi guru PNS; dan kuota dari jalur PLPG disediakan terbanyak. Jalur PLPG bisa diketahui memiliki kuota terbanyak dengan melihat di situs http://www.sergur.pusbangprodik.org. Di tautan “Daftar urutan calon peserta sertifikasi guru tahun 2012” yang di dalamnya memuat Daftar Calon Peserta Sertifikasi Guru 2012, dapat dilihat, mayoritas guru mengikuti sertifikasi lewat jalur PLPG.

Nah, lewat jalur PLPG inilah kecurangan-kecurangan kembali terjadi. Padahal, pada tahun 2012 ini, kuota sertifikasi guru sudah dibuat secara online — transparan bagi publik. Bagaimana atau apa saja kecurangan-kecurangan itu?

Di banyak situs berita disebutkan adanya guru yang memalsukan jumlah jam mengajar. Dalam hal ini, syarat sertifikasi jelas: seorang guru harus mengajar 24 jam seminggu. Karena tidak mengajar sebanyak itu, datanya dipalsu. Ada juga guru yang merekayasa tahun (lama) mengajar agar masuk kuota. Lagi-lagi data persyaratan sertifikasi dipalsu. Dan, pemalsuan atau rekayasa ini tentunya juga melibatkan kepala sekolah.

Inilah potret pendidik dan pengajar yang menyedihkan di negeri ini. Guru, yang dulu identik dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa sekarang ingin dibayar mahal tanpa jasa. Pengabdian guru tergerus arus budaya konsumtif dan instan di masyarakat. Pahlawan tanpa tanda jasa, dulunya adalah judul asli himne guru yang diciptakan Sartono. Istilah itu juga dimuat di baris terakhir himne guru: “Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.”

Namun, kata-kata “tanpa tanda jasa” diganti dengan “pembangun insan cendekia”. Di harian Kompas, 24 November 2008, disebutkan bahwa perubahan tersebut diadakan sebagai hasil negosiasi antara Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional, PGRI, dan pencipta lagu itu, Sartono.

Sartono, yang dulu sehari-harinya menjadi guru musik di sebuah SMP swasta pernah bercerita kepada saya bahwa lagu “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” yang diciptakannya terilhami oleh seorang guru bernama Suroyo, atau kerap dipanggil Pak Royo, teman baik Sartono. Dalam ceritanya, Pak Royo suatu ketika mengalami kesusahan ekonomi akibat sebuah musibah yang menimpa keluarganya. Hartanya ludes. Pak Royo pernah kehabisan akal, sampai menjadi seorang pengamen sembari mengajar gara-gara kejadian itu. Perjuangannya mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup kemudian dituangkan Sartono dalam lirik lagu “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” atau himne guru.

Istilah “tanpa tanda jasa” yang diganti “pembangun insan cendekia” berkaitan dengan kesejahteraan guru yang kian baik — jasanya kian dihargai. Namun, pertanyaannya, apakah guru-guru yang membangun insan cendekia di negeri ini — yang memalsu data demi sertifikasi itu — sudah lupa dengan pengabdian? Sartono yang lain, bernama lengkap Sartono Kartodirdjo, seorang sejarawan dan guru yang pernah mengajar anak TK hingga menguji desertasi doktoral mahasiswanya, pernah menyatakan bahwa beberapa ilmuwan yang ada di Indonesia lahir karena bagi mereka, “… hidup ini tidak ditentukan oleh nasi.” Ia menceritakan beberapa orang yang hampir abai terhadap uang, mempelajari ilmu dengan ketekunan yang amat tinggi, hingga ilmu itu bagai menjadi sebuah jalan lain untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Seperti itulah bentuk pengabdian guru semestinya.

Sertifikasi guru sebenarnya hal yang baik, membuat kesejahteraan guru lebih diperhatikan. Namun, kesejahteraan perlu diraih dengan cara-cara yang halal dan sesuai aturan. Dan, kesejahteraan itu pun pada akhirnya menjadi batu uji bagi kompetensi seorang guru: sudahkah ia menjadi guru yang profesional? Sudahkah kompetensi mengajarnya seimbang dengan tunjangan sertifikasi yang diterimanya? Apakah tunjangan itu pada akhirnya hanya membuat guru lupa akan pentingnya sebuah pengabdian?

Hal inilah yang perlu dicermati secara sungguh-sungguh oleh pemerintah. Tidak sedikit laporan yang menyebutkan bahwa kinerja guru yang disertifikasi tidak mengalami peningkatan. Perlu ada pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan. Jangan sampai malah yang terjadi demikian: seorang guru yang lolos sertifikasi dengan cara tidak jujur, kemudian mendidik murid-muridnya dengan kompetensi mengajar yang tak mengalami kemajuan. Bila demikian adanya, betapa ironis bila guru menuntut anak didiknya berlaku jujur saat ulangan atau ujian.

Pada akhirnya, pertanyaan inilah yang perlu direnungkan: akan jadi apa generasi muda bangsa ini kalau guru-gurunya meneladankan sikap yang tak terpuji? (*)

*) Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan penulis buku 366 Reflections of Life (Bhuana Ilmu Populer, 2012)