Category Archives: Perbukuan

Tiga Cara Menerbitkan Buku

Oleh: Sidik Nugroho*)

Zaman sudah berubah, menerbitkan buku tidak lagi susah. Penerbit makin banyak bermunculan. Banyak orang dan kalangan berlomba-lomba menerbitkan buku. Komunitas-komunitas sastra menerbitkan antologi puisi atau cerpen. Para dosen menerbitkan buku-buku teks atau panduan bagi mahasiswa, sekalian menambah poin angka kreditnya. Para pembicara seminar menulis buku yang berisi materi-materi seminarnya, sekalian dijual saat mengadakan seminar di berbagai tempat.

Tulisan ini saya buat untuk memberikan gambaran tentang cara-cara menerbitkan buku — terlepas dari sampai sejauh mana sebuah buku bisa bermanfaat bagi para pembacanya. Ada tiga cara yang saya kupas dalam tulisan ini. Dua di antara tiga cara yang akan saya sampaikan, saya rasa sudah cukup banyak dikenali dan dibahas — walau pembaca yang belum mengetahuinya mungkin juga ada. Cara ketiga yang saya bahas di sini bagi saya merupakan hal baru dan tampak menarik.

Penerbitan Umum (Konvensional)

Penerbitan ini adalah cara yang paling banyak ditempuh oleh penulis. Para penulis menyerahkan naskah pada penerbit, kemudian menunggu selama beberapa minggu atau bulan untuk mendapatkan kepastian naskahnya layak terbit, tidak layak, atau perlu direvisi sebelum terbit. Tiap penerbit memiliki waktu yang berbeda dalam menilai naskah. Penerbit Gramedia Pustaka Utama biasanya menilai sebuah naskah selama 2 hingga 3 bulan. Penerbit Bhuana Ilmu Populer melakukannya selama 60 hari. Penerbit Elexmedia, Dolphin, atau Bentang Pustaka melakukannya dalam waktu yang lebih pendek, yakni sebulan.

Bila sebuah naskah dinyatakan layak terbit, biasanya penulis diajak bekerjasama oleh penerbit, dalam hal ini diwakili editor, untuk merapikan (mengedit) naskahnya, memberikan usul tentang kaver buku, dan beberapa hal lainnya seputar bentuk buku yang akan dicetak. Penulis juga akan menerima surat kontrak atau perjanjian tentang hasil yang diterimanya dari penjualan bukunya.

Ada hasil yang diberikan sekali saja, biasanya dikenal dengan istilah atau sistem beli putus. Hasil berupa uang ini diberikan penerbit kepada penulis saat bukunya sudah selesai dicetak dan siap dipasarkan. Salah satu penerbit yang sering melakukan beli putus ini adalah Diva Press. Jadi, lewat cara beli putus, dapat dikatakan bahwa penulis menjual naskahnya yang dibayar secara kontan oleh penerbit.

Ada juga hasil yang diberikan dalam bentuk atau sistem royalti. Royalti adalah hasil penjualan buku yang diberikan kepada penulis secara berkala — biasanya 6 bulan sekali. Tiap penerbit memiliki penghitungan royalti yang berbeda. Ada penerbit yang memberikan royalti 10 persen dari harga jual sebuah buku kepada penulis, ada yang cuma memberikan 8 persen.

Hal yang perlu diwaspadai oleh penulis adalah kecurangan penerbit dalam melaporkan jumlah naskah yang dicetak atau laku terjual. Saat sebuah penerbit memutuskan untuk menerbitkan sebuah naskah dan mencetaknya sekian ribu eksemplar, umumnya penulis tidak melihat proses itu secara langsung. Demikian pula dengan jumlah naskah yang laku, penulis hanya menerima laporannya dan kemudian mendapatkan royalti. Karena itulah, memilih penerbit yang terpercaya sangat penting.

Penerbitan konvensional juga membutuhkan kegigihan penulis agar naskahnya bisa diterima penerbit. Penerbit selalu mencari naskah yang laku dijual, itu intinya. Sebagus apa pun sebuah naskah menurut penulisnya, tapi bila menurut editor tidak layak jual, naskah akan tetap ditolak. Faktor-faktor dalam menilai sebuah naskah, apakah layak jual atau tidak, berbeda pada masing-masing penerbit.

Tapi, tidak semua naskah yang ditolak oleh sebuah penerbit itu buruk. Tidak sedikit editor yang salah menilai sebuah naskah. Harry Potter dan Batu Bertuah yang ditulis oleh J.K. Rowling pernah ditolak oleh 12 penerbit. Walaupun ada penolakan, cara menerbitkan buku ini disukai banyak penulis karena setelah naskah dinyatakan layak terbit, penulis banyak dibantu oleh penerbit dalam memasarkan naskahnya. Penulis tinggal tahu beres, mendapat hasil yang diberikan penerbit kepadanya.

Penerbitan Indie (Self Publish)

Seorang penulis buku indie yang pernah banyak membagi ilmunya pada suatu kesempatan diskusi buku adalah Kirana Kejora. Beberapa tahun lalu, di Surabaya, ia memiliki kenalan grup-grup band indie dan model. Suatu ketika, kalau tidak salah tahun 2004, Kirana menulis sebuah buku yang berisi kumpulan puisi dan novelet. Di antara sekian banyak temannya yang musisi dan model, tidak ada yang melahirkan karya tulis seperti itu. Namun, teman-temannya inilah yang berjasa baginya. Mereka banyak yang mendukung buku karya Kirana, memberi ide untuk mengemas buku itu dengan menarik, lalu mengadakan launching buku itu di sebuah acara musik yang menampilkan band-band indie.

Tak dinyana, buku itu disambut dengan cukup baik. Kirana kemudian memberanikan diri untuk memasarkan buku-buku itu ke toko buku. Di toko buku Gramedia, Uranus, dan beberapa toko buku lainnya di Surabaya, Kirana berjuang agar buku-bukunya bisa terdistribusi lebih luas.

Kirana juga menyampaikan gambaran soal keuntungan penerbitan buku indie. Misalnya, sebuah buku dicetak dengan biaya Rp15.000. Buku tersebut bisa dijual dengan harga Rp60.000. Jadi, seorang penulis buku indie bisa mendapat keuntungan sebanyak tiga kali lipat harga bukunya bila ia melakukan direct selling, sama sekali tak menggunakan jasa distributor yang memasok buku-buku itu ke toko-toko buku.

Namun, kendala penerbitan secara indie tidak kecil. Pertama, seorang penulis harus memiliki modal cukup banyak untuk mencetak bukunya sendiri. Harga cetak sebuah buku bisa menjadi murah bilamana buku tersebut dicetak paling sedikit 500 buah (dicetak secara offset). Seseorang bercerita bahwa ia baru saja menerbitkan buku yang dicetaknya sebanyak 100 buah (dicetak secara Print on Demand, atau PoD). Harga cetak per buku itu dengan cara PoD Rp26.000, sementara bila dicetak sebanyak 500 buah, harga cetaknya hanya sekitar Rp15.000. Jadi, mencetak 100 buku itu mengeluarkan dana Rp2.600.000 sementara bila mencetak 500 buah akan memerlukan dana Rp7.500.000.

Nah, dari hal itu lahirlah kendala kedua: bila seorang penulis sudah memiliki dana yang cukup untuk mencetak buku di atas 500 buah, apa yang harus dilakukannya agar buku tersebut laku terjual? Penulis harus giat berpromosi lewat segala cara. Tidak lucu rasanya kalau buku-buku tersebut pada akhirnya harus dibiarkan menumpuk atau dibagi-bagikan gratis.

Saya belajar dari kegigihan Kirana mengatasi kendala-kendala itu, terutama kendala kedua. “Seorang penulis indie harus percaya diri, bahkan kadang harus narsis,” katanya. Bila tidak demikian, memang sulit meyakinkan orang lain bahwa kita menulis sesuatu yang penting. Sebagai seorang ibu yang membesarkan kedua anaknya sendirian, tak ayal Kirana terus memutar otak untuk membuat karya-karyanya bisa diterima seluas-luasnya. Penulis indie memang harus kuat menjalin jaringan dengan banyak pihak, pintar mengemas bukunya, pandai memanfaatkan berbagai peluang dan momentum untuk menyosialisasikan karya-karyanya.

Pada masa kini juga banyak situs yang menyediakan layanan penerbitan buku indie. Bila Anda berkunjung ke situs http://www.dapurbuku.com, http://www.bukuindie.com, atau http://www.nulisbuku.com, di sana bisa dipelajari berbagai langkah yang bisa dilakukan oleh seorang penulis untuk menerbitkan dan memasarkan bukunya.

Penerbitan Kerjasama, Indie dan Konvensional

 

Hingga kini, saya bersyukur bisa bertemu dengan Pak Agus Wijaya, seorang dosen di Universitas Surabaya (Ubaya). Dalam pertemuan kami dia menceritakan tentang usaha penerbitan yang tengah dirintisnya, bernama Brilian Internasional (www.brilian-internasional.com). Buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit ini kebanyakan buku teks atau materi pendukung kuliah yang ditulis oleh dosen. Tapi, pada intinya, penerbit ini terbuka untuk menerbitkan berbagai jenis buku.

Dari pembicaraan dengan Pak Agus saya mendapatkan wawasan tentang cara ketiga ini. Cara ketiga ini saya sebut sebagai indie dan konvensional karena penulis ikut memiliki peran yang besar dalam penerbitan bukunya, begitu juga penerbit. Mari menyimaknya.

Hal yang unik dari cara ketiga ini adalah penulis ikut menanggung biaya cetak buku, memiliki kesempatan untuk menjual bukunya sendiri, tapi bukunya juga dipasarkan di toko-toko buku sehingga tetap mendapatkan royalti. Pertanyaannya, bagaimana perhitungan tanggungan biaya cetak, harga jual buku, dan royalti?

Semuanya diawali dari penentuan harga jual buku. Katakanlah, sebuah buku akan dijual dengan harga Rp50.000. Buku ini nantinya akan dicetak 1300 eksemplar: 1000 dipasarkan di toko buku, 300 diberikan kepada penulis. Nah, biaya yang ditanggung penulis adalah 60 persen dari 300 buku yang diterimanya (300 x Rp50.000 x 0,6), yaitu Rp9.000.000.

Nah, bila penulis berhasil menjual 300 buku yang menjadi jatahnya, ia sudah mendapat uang Rp15.000.000 (300 x Rp50.000). Ini berarti penulis sudah mendapatkan keuntungan Rp6.000.000 dari biaya awal yang ditanggungnya (Rp.15.000.000 – Rp9.000.000). Dan, keuntungan itu masih ditambah dengan royalti dari buku yang berhasil dipasarkan oleh pihak penerbit — yang jumlahnya 1000 buah tadi.

Saya rasa cara penerbitan yang ketiga ini cukup menarik untuk dicoba, terutama bila penulis sudah memiliki pasar tersendiri bagi bukunya, seperti para pembicara seminar, dosen, guru, dan lain sebagainya. Saya menduga, banyak penerbit yang terbuka untuk untuk kerjasama-kerjasama seperti ini, hanya saja saya belum mengetahuinya.

***

Demikianlah, sedikit pembahasan tentang tiga cara menerbitkan buku. Persoalan utama dalam dunia penerbitan yaitu penulis ingin mendapat pengakuan lewat karyanya yang ditulis dan diterbitkan, sementara penerbit tidak mau merugi dengan menerbitkan karya-karya yang tidak laku dijual. Tidak sedikit orang yang ingin menjadi penulis, maka penerbit pun makin selektif menerbitkan naskah.

Pembahasan singkat ini mungkin akan memperluas wacana Anda tentang berbagai kemungkinan penerbitan buku. Mungkin Anda akan berpikir: ternyata, menerbitkan buku itu mudah. Sebagai (calon) penulis, yang perlu dipikirkan adalah manfaat dan kualitas tulisan Anda bagi pembaca. Tidak semua tulisan bermanfaat, tidak semua hal perlu ditulis, dan tidak semua buku perlu dibaca. “Begitu kita sudah memahami tata bahasa, menulis itu tidak lain adalah berbicara di atas kertas dan, seiring dengan berjalannya waktu, belajar tentang apa yang tidak perlu kita katakan,” kata Beryl Bainbridge. (*)

Pontianak, 16-17 Januari 2013

*) Penulis lepas, guru SMA St. Petrus Pontianak

Living Life Enthusiastically (Book Review)

Reviewed by: T. Nugroho Angkasa

The title above was inspired by Sansan’s experience (p. 374). At the beginning, her daughter was normal. Then, she was infected by a certain virus. Suddenly, her beloved baby became deaf.

However, Sansan was not giving up. She even brought Gwen (her baby’s name) to Australia. Sansan was forced to be apart from her husband. Therefore, she became a single mother. She continued study to pursue S2 (Master) degree.

Sansan took Special Education subject. A faculty in which studying the education for children with special need. Sansan was very discipline in managing time. How to go to college, work on the task given by the lecturers, complete the household duties, and of course take care Gwen.

Based on her experiences, she wrote an inspiring book, I Can (Not) Hear. Sansan shared her knowledge to public. Especially, how to facilitate the learning process of children with special need. Therefore, future generation can achieve an equal opportunity in education.

From the true story above, Sidik Nugroho wanted to say one message. Sacrifice, effort, gratitude, and submission must be in a balance. Sincy, people tend to be passive in dealing with life’s challenges.

They avoid to work hard because of an old saying, “… everything has already destined by God”. Yet, this is just an excuse to hide her/his laziness.

Point of View

This book also appealed the readers to shift point of view. Once upon a time, a young teenager felt his life was nothing. Perhaps, he had rejected by a girl. In the midst of desperation, he went to meet a spiritual mentor.

The wise man listened to the pupil. After the boy satisfied outpouring his feeling, then it’s time for the master to speak up, “Son, please bring me a spoonful of salt. Then, mix them into a glass of water and drink it!”

This boy obeyed the instruction. “How does it taste?” The master asked. “Piuuuh! It’s very salty!“ the student replied while spouted the water out from his mouth.

After that, the master traveled with the student to the edge of a very vast lake. The water was so clear and fresh. The master asked the pupil again, “Please dissolve a spoonful of salt into the lake and stir it with a bamboo. Then, drink a cup of water from the lake!”

“The water is so fresh. It’s not salty at all,” the student answered with bright shinning eyes.

Through this simple story (p. 232)”, Nugroho told the reader to have a heart as wide as a lake. Because people who have a narrow one, every little thing shall cause stress and depression within him/her.

Porong citizens’ spirit can be a role model. Although since May 2006 they has not accept any compensations yet, they still persisted to survive. Moreover, they even become more creative.

Those victims transformed mud disaster – which was flooded 10,000 homes, dozens plants, as well as schools building from elementary to high school – into a tourism venue. Many tourists from all over Indonesia, even foreign country flocked to see this giant mudflow (p. 281).

It is similar with the community at the slopes of Merapi Mountain, Yogyakarta. They made the house of Mbah Maridjan (RIP) in Kinahrejo village as a place of pilgrimage.

Hopefully, these grass roots’ initiatives reminded the officials to fulfill the promise. By substituting all dead cows and cattle. Building some temporary shelters and setting up permanent residence for those people.

Romantic

The book also told a romantic story. Every morning, Mbah Khatijah presented a cup of hot tea. Her husband’s name is Mbah Setyowikromo. He worked as a charcoal seller. Both of them lived in the hamlet at Suko village. It was 40 km from Gudeg City. The income in average is IDR 2,000 – 5,000/day. This profession has been occupied since the Dutch era.

Interestingly, when selling charcoal in the Gudeg City, Mbah Setyowikromo has never bought any food. Indeed, he only ate once – it was always his wife own cooking  – usually in the evening.

The wife sold some teak leaves (daun jati) in the traditional market. With this kind of modest life, they could save money in a bamboo. Therefore, when there was a neighbor who conducted a celebration, they can give an envelope containing IDR 20,000 – 25,000-. “We do not want to eat food if has not paid yet,” said Mbah Khatijah (p. 161).

Through this true story, the author told the readers to reflect themselves. A person’s dignity is not only determined by his/her wealth and fame. It depended on every drop of sweat to gain the bliss of life.

Nowadays, a lot of government officers and the legislative members gaining money by unconventional (read: corruption) way. Indeed, hard work and honesty are two universal formulas to be successful. There are no shortcuts by robbing people’s budget.

Sidik Nugroho wrote the book in relatively long period, from 2003-2011 (8 years). It was consisted of 366 reflections. Just like a hunger healers menu, one day for one reflection. Therefore, it can be consumed for a full year. The sources were very diverse. For examples, from books, movies, interaction in the class, until an encounter with a madman in a coffee shop.

Writing

There is an inspiring story taken from a biography of Stephen King’s: On Writing. As a child, he has been able to write a story. It was about Mr. Rabbit Trick. This main character became a leader of 4 magical animals. Every day, they work providing assistance to children in the small village.

Stephen, then, gave the manuscript to his mother. The mother was very impressed. She was encouraging him with some payment. She paid 25 cents for every story that was written by little King. Of course, this increases her son motivation to keep on writing.

In a short time, he wrote 4 more stories. Those had same main character. “Four stories, 25 cents for each. That is my 1st reward in this business,” Stephen King admitted in his memoirs (p. 107).

Indeed, King’s mother did not only teach his son about mercenary. According to Sidik, Stephen was very lucky. Since, his mother appreciated his efforts and creativity from very early age.

The author classified the material according to the key events. For example, some educational writings, he put in May. Due the celebration of National Education Day (2 May). While the material about Love, of course in February. Then, the theme of Nationalism at August (17).

Podium’s Lion

Sukarno was arrested by the Dutch at 1929. Because of the speeches of Bung Karno which was considered very dangerous. While this head of PNI (Indonesian National Party) stood in front of the people, he could anesthetized the audiences as well awakened the spirit to achieve independence.

No wonder if this Indonesian 1st President was called the Podium’s Lion. While arresting in the jail, Bung Karno kept on fighting. The mediums were some papers and a single pen. He wrote a pledge for one and a half months.

Pad of the paper where he wrote was a potty. Yes, it was a disposal for urine and feces. Later, the hand written was compiled as a book. The title is Indonesia Menggugat or Indonesia Protesting (p. 235).

Ready to Win, Ready to Lose

As an elementary school teacher at SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, Sidik Nugroho has a lot of experiences while interacting with his students. He also shared an inspiring story.

After the teaching session, the authors often conducted a quiz. From guessing the song’s title – by referring to the tunes which was played with a guitar – until a quiz related to the material that was given previously.

Indeed, it was similar with the adults; children were also not ready to accept the defeat. Even, some of them were crying aloud when his/her group was lost. The solution was by writing, “Ready to Win, Ready to Lose!” on the blackboard.

Therefore, at the end of every quiz, the teacher pointed to the front of the class. All students shouted together – both the losing and winning sides – reading the previous agreement.

One weakness of this book was the lack of table of content. Therefore, the reader is rather difficult to find a particular reflection.

Nevertheless, this 384 pages book can be an oasis in the middle of the routines’ desert. I can not agree more with Nugroho Sidik’s opinion, “One of the reasons to keep our spirit up in this life is by awaking a beautiful memory.” Happy reading!

Book title: 366 Reflections of Life (Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati)
Author: Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita G
Published by Bhuana Ilmu Populer (2012), Jakarta, Indonesia
384 pages
ISBN: 10:979-074-893-4
Price: IDR 54,000

===

Reviewed by T. Nugroho Angkasa, S.Pd. The reviewer is a Teacher English at PKBM (Pusat Kegiatan Belajar-Mengajar or Center for Teaching-Learning Activity) Angon (Nature School) in Yogyakarta, Indonesia. Website: http://www.angon.org/ E-mail: nugroho.angkasa@gmail.com

Pelajaran Singkat Menulis Kreatif

Disusun oleh: Sidik Nugroho*)

Disampaikan dalam diklat penulisan yang diadakan SMPI Hidayatul Mubtaidin, Wajak, Malang, 19-05-12

Dalam tulisan yang saya buat ini, saya akan menyampaikan beberapa hal tentang menulis yang saya rasa paling perlu untuk diperhatikan. Di dalam tulisan ini terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan:

1. Memahami motivasi menulis

2. Menulis untuk media cetak

3. Menulis buku untuk penerbit

4. Menulis buku indie atau self-publish

5. Membaca ulang sebuah karya tulis

6. Lampiran: surat pengantar, proposal penerbitan buku, dan buku-buku yang disarankan

***

1. Memahami Motivasi Menulis

Motivasi tiap pengarang berbeda-beda. Seorang pengarang bernama Toni Morrison yang memenangkan hadiah Nobel lewat beberapa karyanya — yang terkenal salah satunya berjudul Beloved — menyatakan bahwa novelnya memuat tujuan politik. Dalam biografi ringkas yang ditulis oleh Kathryn VanSpanckeren, Toni menyatakan, “Aku tidak tertarik memanjakan diriku dalam sebuah kegiatan berimajinasi yang bersifat pribadi… ya, karya ini pasti politis.”

Pemenang Nobel yang lain, bernama Gao Xingjian, dalam pidatonya ketika menerima hadiah Nobel menyatakan sesuatu yang bertolak belakang: “… sastra itu hanya dapat menjadi suara individu, dan selalu seperti itu.”

Persoalan visi (bisa juga dibaca: motivasi) dalam menulis memuat banyak perbedaan. Ada yang menggunakan sastra sebagai salah satu alat bagi tujuan perubahan sosial. Ada juga yang menulis suatu karya sastra karena suka menulis, sebuah seni menuangkan gagasan untuk mematangkan dan mendewasakan diri, atau sebutlah tindakan seorang penulis yang menjunjung tinggi atau memuliakan estetika bahasa.

Seorang penulis yang berniat agar karya-karyanya laku dijual harus memiliki strategi mengurangi penolakan. Sebab, penulis mana pun tak suka mengalami hal ini, walau pada kenyataannya hampir semua penulis pernah mengalami penolakan. Inilah sebuah hal yang sering meresahkan penulis muda. Salah satu cara mengurangi penolakan adalah membuat proposal sebelum naskah sebuah buku diajukan (nanti akan kita pelajari lebih lanjut di bagian ke-3). Atau, kalau bosan ditolak dan masih ingin tetap menulis, silahkan banting stir merambah bidang penulisan lain yang lebih mendatangkan keuntungan.

Mari berpikir realistis. Tak jarang, banyak orang meninggalkan dunia penulisan gara-gara tak memiliki motivasi yang jelas dan terencana, lalu putus asa. Bila menulis direncanakan seseorang sebagai sarana meraih penghasilan, maka seseorang perlu menilik berbagai kemungkinan dan mengikuti trend yang membuat tulisannya laku dijual. Bila seseorang menulis hanya untuk kesenangan dan aktualisasi diri, tak perlulah mencoba-coba menjual tulisannya.

2. Menulis untuk Media Cetak

Sejarah film mencatat Lumiere bersaudara dari Prancis sebagai dua orang penting. Mereka tercatat sebagai penampil film pertama. Film pertama mereka saya yakin sama sekali tak menarik bagi kita saat ini. Mau tahu? Rekaman kereta api yang sedang berjalan. Nah, arah jalan kereta api itu mendekati kamera.

Namun, tahukah Anda apa yang terjadi pada 32 penonton pertama mereka ketika menyaksikannya? Mereka lari tunggang-langgang dari gedung pertunjukan ketika kereta yang tertampil di film itu “mendekati” mereka! Bagi mereka, film kereta Lumiere saat itu benar-benar heboh.

Lumiere bersaudara kemudian meraup kekayaan. Penonton mereka setelah film kereta api pertama mereka rata-rata tak kurang dari seribu orang. Namun, sebelum mereka sesukses itu, mereka pernah ditolak koran ketika hendak promosi film kereta api pertama mereka. Koran menolak membantu publikasi pemutaran film mereka.

Ternyata, yang pernah ditolak koran bukan hanya para penulis. Sebagai penulis yang karyanya puluhan kali ditolak, saya geli sekaligus merenung ketika menjumpai kenyataan ini. Para penulis, pencipta lagu, pelukis, penemu, siapa saja dengan profesi apa saja, rasanya pernah mengalami apa yang Lumiere alami. Kita ditolak. Orang tak yakin dengan apa yang kita yakini sebagai sesuatu yang luar biasa.

Nah, untuk mengurangi penolakan menulis di media cetak, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

a. Kenali tema yang sedang ramai diperbincangkan

Hal ini berlaku untuk esai atau opini. Media massa mengedepankan aktualitas. Tulisan akan susah dimuat bila temanya tidak sesuai dengan apa yang ramai diperbincangkan. Tulisan kita tak mungkin dimuat bila mengangkat pembahasan tentang mendidik anak dengan gembira padahal sehari-hari orang menyaksikan, membaca, dan mendengar berita tentang sebuah kecelakaan pesawat.

Cara lain yang berkaitan adalah mengingat momen-momen tertentu. Contoh, tanggal 20 Mei adalah hari Kebangkitan Nasional. Coba bolak-balik lagi buku Sejarah, temukan perspektif yang unik, angkat kiprah seorang tokoh yang mungkin “dilupakan” berkaitan dengan momen itu, lalu buatlah sebuah tulisan. Kirimkan tulisan itu satu atau dua minggu sebelum 20 Mei. Tulisan yang demikian akan berpeluang besar untuk dimuat.

b. Perhatikan panjang tulisan

Panjang tulisan penting diperhatikan karena berkaitan dengan ruang yang ada di dalam media cetak. Tulisan jangan kepanjangan atau kependekan. Resensi yang sering saya buat rata-rata panjangnya 2 halaman kuarto, 1 spasi, huruf Times New Roman ukuran 12. Atau, bila diukur dengan jumlah kata, resensi itu sekitar 4000-5000 karakter. Beberapa esai atau artikel lain ada yang panjangnya lebih, sampai sekitar 7500 karakter. Cerpen di koran, sepengamatan saya, panjangnya sekitar 10.000 karakter.

c. Baca ulang naskah yang ditulis

William Faulkner, seorang pemenang Nobel Sastra, pernah menyatakan, “Penulis-penulis muda terlalu dungu mengikuti teori. Ajarlah dirimu sendiri melalui kesalahan-kesalahan yang pernah kaulakukan — orang belajar dari kesalahan. Seniman yang baik tidak boleh berharap pada siapa pun yang mungkin dapat memberi nasihat padanya.”

Tidak sedikit penulis yang begitu selesai menulis, langsung mengirim tulisannya ke redaktur atau penerbit. Semangatnya menggebu-gebu, ide dan inspirasi di kepala tidak pernah kering. Tangannya terus menulis segala sesuatu yang memantik gagasan untuk dituangkan dalam kata-kata. Puisi, cerpen, artikel, semua ditulis! Namun, di balik semua itu, salah tulis bertaburan di mana-mana. Inilah yang sering menjadi alasan penolakan tulisan.

Dalam bidang apa pun, kita perlu meninjau ulang apa yang sudah kita kerjakan. Begitu banyak hal yang bisa dikoreksi dan diperbaiki ulang, dan hasilnya mungkin akan (jauh) lebih baik daripada dikerjakan sekali jadi. Dan, mungkin kita tidak sadar, bahwa kebiasaan ini pada akhirnya juga akan membuat kita belajar lebih banyak — yakni belajar menemukan kekurangan diri sendiri.

d. Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan

Sebuah tulisan yang dikirim ke sebuah koran atau majalah perlu diawali dengan surat pengantar (ada di lampiran, bagian 6). Di dalam surat pengantar itu, gambarkan sekilas isi naskah yang ditulis.

Menulis untuk koran atau majalah kadang juga menjengkelkan. Menjengkelkan, karena ada koran atau majalah yang tidak membayar honor tulisan kepada penulis. Saya pernah mengalami kejadian ini beberapa kali. Oleh karena itu, setiap penulis juga perlu membuat pilihan. Koran atau majalah biasanya mem-blacklist penulis yang berlaku curang. Sudah saatnya penulis juga berani mem-blacklist media cetak yang semena-mena.

Selain itu, sebuah koran memiliki visi tertentu atau kecenderungan tertentu. Ini perlu juga dipahami oleh penulis. Ada sebuah koran yang pro pemerintah sehingga opini yang ditulis di koran itu mayoritas mendukung kebijakan pemerintah. Ada juga sebuah koran yang sampai sekarang tidak mau memuat resensi novel, kumpulan cerpen, atau buku-buku sastrawi lainnya.

Terakhir, sebuah tulisan yang dikirim ke sebuah koran atau majalah semestinya tidak dikirim ke koran atau majalah lain dalam waktu dekat atau malah bersamaan. Sebuah tulisan baru boleh dikirim ke koran atau majalah lain bila “tampaknya” tidak akan dimuat. Mengapa saya tulis “tampaknya”? Karena, di Indonesia masih sangat sedikit koran dan majalah yang memberitahu seorang penulis bila tulisannya akan dimuat. Karena itulah setiap penulis sebaiknya memiliki catatan atau arsip atas setiap karya yang dikirimkannya dan kemudian menetapkan sendiri waktu tunggu pemuatan karyanya. Dalam hal ini, waktu tunggu pemuatan tulisan berbeda-beda. Untuk opini, esai, atau artikel yang sifatnya aktual biasanya hanya dua minggu. Untuk resensi bisa satu sampai dua bulan. Untuk cerpen bisa sampai tiga bulan.

3. Menulis Buku untuk Penerbit

Menulis buku untuk diterbitkan penerbit tidak selalu mudah. Hal itu akan mudah bila seorang penulis memahami apa yang diminati pasar saat ini. Masalah utama yang seringkali muncul dan menjadi ketegangan antara penulis dan editor adalah soal pemasaran buku: seorang penulis sudah menganggap karyanya sangat bagus, tapi bagi seorang editor karya tersebut tidak laku bila dijual.

Sama seperti pengiriman naskah ke koran atau majalah, pengiriman naskah ke penerbit juga perlu disertai surat pengantar. Saat mengajukan naskah ke penerbit, seorang penulis tidak harus sudah siap dengan naskahnya secara keseluruhan. Penulisan naskah buku bisa disiasati dengan menggunakan proposal, dilampiri beberapa contoh bab awal sebuah buku. Pembuatan proposal bertujuan untuk memberikan gambaran kepada editor tentang buku yang tengah digarap. (Bentuk proposal bisa dilihat dalam lampiran di bagian ke-6 yang saya sertakan.)

Namun, jangan sampai sebuah proposal malah membuat seorang penulis menjadi malas merampungkan karyanya, kemudian mengobral proposal ke sana-sini. Tujuan proposal harus dipahami dengan jelas sebagai langkah awal penulisan sebuah buku. Dan, penulisan buku yang proposalnya telah disetujui harus digarap dengan sungguh-sungguh. Ada editor yang sempat bercerita kepada saya kalau beberapa penulis menggarap proposalnya sangat baik, tapi begitu naskah utuhnya sampai di meja redaksi, keadaannya memprihatinkan.

Penulis yang menerbitkan buku di penerbit kebanyakan mendapat royati yang dibayar enam bulan sekali. Besarnya royalti pada umumnya adalah 10 persen harga jual per buku, dikali dengan jumlah buku yang terjual selama enam bulan itu. Namun, memilih penerbit juga tidak boleh sembarangan. Saat ini, penerbitan makin banyak. Tidak sedikit penerbit yang berlaku curang kepada penulis dengan tidak membayarkan royaltinya atau membuat laporan penjualan buku yang merugikan penulis.

Pemasaran buku lewat penerbit memang lebih banyak mendatangkan kemudahan daripada menerbitkan pemasaran buku secara indie. Penerbit, bekerjasama dengan distributor buku, bekerja mengemas dan memasarkan buku setelah naskah seorang penulis dinyatakan layak terbit oleh seorang editor. Seorang penulis bisa bernapas lega mengakhiri tugasnya. Kemudian, mungkin dengan royalti yang diterimanya, ia menggarap proyek menulis selanjutnya.

4. Menerbitkan Buku Indie atau Self Publish

“Saya tidak melawan arus, atau tidak ikut arus, tapi saya sedang menciptakan arus,” kata Kirana Kejora dengan lantang pada acara bedah buku di Kedai Sinau, Malang. Ia mengisahkan hal-hal apa saja yang membuatnya bertekad membangun dunia penulisan dengan memasarkan buku-buku secara indie.

Beberapa tahun lalu, di Surabaya, ia memiliki kenalan grup-grup band indie dan model. Suatu ketika, kalau tidak salah tahun 2004, Kirana menulis sebuah buku yang berisi kumpulan puisi dan novelet. Di antara sekian banyak temannya yang musisi dan model, tidak ada yang melahirkan karya tulis seperti yang ia lakukan. Namun, teman-teman inilah yang berjasa baginya. Mereka banyak yang mendukung buku karya Kirana, memberi ide untuk mengemas buku itu dengan menarik, lalu mengadakan launching buku itu di sebuah acara musik yang menampilkan band-band indie.

Tak dinyana, buku itu disambut dengan cukup baik. Kirana kemudian memberanikan diri untuk memasarkan buku-buku itu ke toko-toko buku. Di toko buku Gramedia, Uranus, dan beberapa toko buku lainnya di Surabaya, Kirana berjuang agar buku-bukunya terdistribusi lebih luas.

Singkat cerita, segala upayanya tidak sia-sia. Sejauh ini Kirana telah menulis tujuh novel (kalau tidak salah) yang semuanya dicetak dan dipasarkan secara indie. Ia membandingkan pengalamannya dengan pengalaman para penulis lain, dan menyimpulkan bahwa pendapatan seorang penulis buku indie lebih besar daripada yang menerima royalti dari penerbit: “Sebuah buku bisa dijual dengan harga empat kali ongkos cetak buku tersebut,” katanya.

Misalnya, sebuah buku dicetak dengan biaya Rp15.000. Buku tersebut bisa dijual dengan harga Rp60.000. Jadi, seorang penulis buku indie bisa mendapat keuntungan sebanyak tiga kali lipat harga bukunya bila ia sama sekali tak menggunakan jasa distributor.

Namun, kendala penerbitan secara indie tidak kecil. Pertama, seorang penulis harus memiliki modal cukup banyak untuk mencetak bukunya sendiri. Harga cetak sebuah buku bisa menjadi murah bilamana buku tersebut dicetak paling sedikit 500 buah. Seseorang bercerita bahwa ia baru saja menerbitkan buku yang dicetaknya sebanyak 100 buah. Harga cetak per buku sampai menembus angka Rp26.000, sementara bila ia mau mencetak sebanyak 500 buah, harganya hanya sekitar Rp15.000. Jadi, mencetak 100 buku itu mengeluarkan dana Rp2.600.000 sementara bila mencetak 500 buah akan memerlukan dana Rp7.500.000.

Nah, dari hal itu lahirlah kendala kedua: bila seorang penulis sudah memiliki dana yang cukup untuk mencetak buku di atas 500 buah, apa yang harus dilakukannya agar buku tersebut laku terjual? Tidak lucu rasanya kalau buku-buku tersebut pada akhirnya harus dibiarkan menumpuk atau dibagi-bagikan gratis.

Nah, saya belajar dari kegigihan Kirana mengatasi kendala-kendala itu, terutama kendala kedua. “Seorang penulis indie harus percaya diri, bahkan kadang harus narsis,” katanya. Bila tidak demikian, memang sulit meyakinkan orang lain bahwa kita menulis sesuatu yang penting. Sebagai seorang ibu yang membesarkan kedua anaknya sendirian, tak ayal Kirana pada akhirnya terus memutar otak untuk membuat karya-karyanya bisa diterima seluas-luasnya. Penulis indie memang harus kuat menjalin jaringan dengan banyak pihak, pintar mengemas bukunya, pandai memanfaatkan berbagai peluang dan momentum untuk menyosialisasikan karya-karyanya.

Jalur indie yang ditempuh Kirana Kejora bukanlah melulu jalur yang ditempuh orang-orang kalah yang butuh pengakuan. Karya-karya indie tidak bisa dianggap sebelah mata. Mungkin sebuah karya indie dulunya memang ditolak oleh seorang editor atau penerbit. Namun, bukankah editor juga manusia? Bukankah editor sebuah koran besar pun suatu ketika luput, menayangkan sebuah cerpen yang diduga keras plagiat dan sebelumnya pernah dimuat di koran kecil lain?

5. Membaca Ulang Sebuah Karya Tulis

Dalam sebuah bagian buku Keep Your Hand Moving, Anwar Holid, penulis buku ini hendak mengajak pembaca untuk terus menulis. Walaupun tulisan itu semrawut dan tak jelas fokusnya, Anwar hendak menegaskan bahwa yang penting: tulislah!

Setelah menulis, Anwar mengajak pembaca untuk menelusuri kembali apa-apa saja yang telah ditulisnya. Anwar juga mengajak pembaca untuk mengembangkan dan mendayagunakan kemampuannya mengolah naskah menjadi sebuah tulisan yang baik dan bisa dinikmati.

Tulisan yang baik dan bisa dinikmati adalah tulisan yang oleh penulisnya sendiri digarap dengan penuh kesungguhan. Sebagai seorang editor yang telah lama berpengalaman menangani berbagai naskah, Anwar sering lelah melihat naskah-naskah yang tidak serius digarap oleh penulisnya. Masih banyak penulis yang bergantung pada editor untuk meneliti naskah. Penulis yang memprihatinkan, yang membaca naskahnya sendiri tak sempat, atau mungkin malah tak berminat.

Padahal, seorang penulis bertanggung-jawab dalam menghasilkan naskah yang siap baca. Seorang penulis harus jadi orang pertama yang menikmati tulisannya. Anwar mengajak sidang pembaca untuk bukan hanya menulis, tapi mengedit dan memoles tulisan agar tampil lebih indah, bahkan berbobot. Bila kesalahan-kesalahan kecil seperti penggunaan tanda baca atau penyusunan kalimat masih banyak dilakukan di sana-sini, maka seorang penulis sebenarnya masih belum memberikan kemampuan terbaiknya.

Saya mengamati, hal yang cukup memprihatinkan di kalangan penulis pemula adalah penguasaan tata bahasa. Banyak penulis yang tidak tahu membedakan kata depan dan awalan, menggunakan tanda baca, membuat kalimat langsung, dan lain sebagainya. Kita akan melihat sedikit tentang hal ini.

a. Penggunaan kata depan dan awalan

Penulisan “di rumah” tak jarang menjadi salah tulis menjadi “dirumah”. Penulisan “diabaikan” juga salah tulis, menjadi “di abaikan”.

Masih banyak contoh kasus lainnya. Pada intinya, awalan selalu digabung. Kata depan digunakan terpisah, seringkali digunakan sebelum kata tempat, contoh: “di sana”, “di situ”, “di mana”, dsb.

Ada juga kata yang perlu lebih teliti sebab bisa ditulis secara dipisah dan digabung, contoh: “disalib” dan “di salib”; atau “dibalik” dan “di balik”. Nah, penggunaan keempat kata itu jangan sampai salah. Contoh penggunaan yang benar:

Saat digoreng, telur dadar itu dibalik supaya bagian sebelahnya matang.

Ada hal-hal yang masih mengganjal di balik semua peristiwa kematian itu.

b. Penggunaan tanda baca (koma)

Salah satu tanda baca yang sering salah tulis adalah koma. Perhatikan dua kalimat berikut:

1. “Penjahat itu sudah dipenjara Ibu Ani,” kata Rina.

2. “Penjahat itu sudah dipenjara, Ibu Ani,” kata Rina.

Di kalimat ke-1, kita dapat mengartikan bahwa Rina sedang menyatakan bahwa Ibu Ani memenjarakan seorang penjahat. Di kalimat ke-2, kita dapat mengartikan bahwa Rina tengah berkata kepada Ibu Ani bahwa seorang penjahat telah dipenjara. Nah, akan lain lagi artinya kalau kalimat itu ditulis demikian oleh orang yang tidak tahu membedakan kata depan dan awalan:

“Penjahat itu sudah di penjara Ibu Ani,” kata Rina.

Di kalimat itu, bisa diartikan Ibu Ani memiliki penjara untuk para penjahat.

c. Membuat kalimat langsung

Kalimat langsung digunakan dalam dialog. Kesalahan yang paling sering saya temui adalah percakapan dua orang atau lebih yang ada di paragraf yang sama. Saat terjadi pergantian orang bicara, berganti pula paragraf di dalam teks.

Penggunaan tanda baca kutip, koma, dan titik juga seringkali salah. Perhatikan contoh kesalahan kecil di bawah ini:

Ibu berkata, “Saya tidak akan ke pasar hari ini”.

Kalimat di atas salah, yang benar:

Ibu berkata, “Saya tidak akan ke pasar hari ini.”

Bisa juga kalimat itu diubah menjadi demikian: “Saya tidak akan ke pasar hari ini,” kata Ibu.

d. Beberapa tambahan seputar editorial

Beberapa penerbit dan kalangan memiliki penggunaan bahasa yang berbeda. Ini kadang cukup membingungkan karena sampai sekarang masih belum ada kesepakatan yang sama di dalam beberapa hal ini. Saya berikan beberapa contoh:

Kata “mencaritahu” dianggap lebih benar daripada “mencari tahu”.
Kata “mempengaruhi”, “memperhatikan”, atau “mempunyai” seringkali ditulis “memengaruhi”, “memerhatikan”, dan “memunyai”.
Kata “terima kasih” oleh banyak kalangan kini ditulis “terimakasih”.
Kata “orang tua” kini dibedakan dengan “orangtua”. Yang pertama menunjukkan usia yang telah lanjut, yang kedua menunjukkan ayah dan ibu.
Dan masih banyak yang lainnya.

Saran saya dalam hal ini adalah banyak membaca karya yang ditulis dengan baik. Saat membaca, hal-hal demikian hendaknya diperhatikan dengan sebaik-baiknya. Sebagai pengguna bahasa (tulis-menulis), paling tidak itulah yang dilakukan demi menghindari salah tulis.

***

Demikian hal-hal tentang menulis saya sampaikan. Pada akhirnya, semua kembali lagi pada motivasi. Bila Anda memiliki motivasi yang besar, niscaya akan mendisiplinkan diri Anda sendiri untuk menulis. Upaya pendisiplinan awalnya memang berat, namun lama-kelamaan akan menjadi sesuatu yang mengasyikkan.

“No life ever grows great until it is focused, dedicated, and disciplined,” kata Harry Emerson. Mulailah menulis sekarang juga, satu halaman sehari juga tidak apa-apa. Mulailah membuat cerita, opini, atau sekadar curhat. Salam kreatif.

***

Sidoarjo-Malang, Mei 2012

*) Sidik Nugroho, beberapa tulisannya (cerpen, puisi, esai, artikel, dan resensi buku) pernah dimuat di Jawa Pos, Suara Pembaruan, Berita Pagi, Malang Post, Kompas, GFresh!, Aneka Yess!, Sahabat Pena, Sinar Harapan, Koran Tempo, Psikologi Plus, Bhinneka, dan Bahana. Ia juga menjadi penulis di Renungan Malam dan Renungan Blessing pada tahun 2003 hingga 2010. Bukunya yang telah terbit adalah sebuah kumpulan cerpen remaja yang ditulisnya bersama Arie Saptaji berjudul Never be Alone (2005), sebuah novel fantasi berjudul Kisah-kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat (2011), dan 366 Reflections of Life (2012).

Memperhatikan yang Kecil agar Menjadi Hebat

Resensi Buku ini dimuat di Rubrik Perada Koran Jakarta, Kamis, 3 Mei 2012.

“Cinta bisa berbicara meskipun mulut tertutup.” (halaman 44).

Apa manfaat sebutir kacang tanah? Sekilas tampak tiada berarti. Namun, ternyata, hanya dari kulitnya, kacang dapat diracik menjadi plastik, cat, minyak, dan aneka produk lain. Sebelumnya, George Washington Carver harus meneliti anasir pembentuk kacang itu di laboratorium. Ia menemukan ratusan elemen alami dalam benih dan kulit kacang. Tokoh ini menjadi pelopor revolusi agraria di Amerika dengan penemuannya tersebut (halaman 139).

Begitulah salah satu kisah reflektif yang termaktub dalam buku ini. Sidik Nugroho menyampaikan satu fakta unik. Sesuatu yang sekilas dipandang sebelah mata bisa menjadi luar biasa. Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo tersebut mengutip wejangan gitaris favoritnya, Eric Johnson, “The smallest thing makes the hugest difference.” Terjemahan bebasnya, “Kesederhanaan menyimpan potensi menakjubkan.”

Buku 366 Reflections of Life memuat pengalaman pribadi penulis. Saat itu, Sidik akan memberi kado ulang tahun ke-57 untuk ayahnya. Ia mencari buku rohani di sebuah toko buku. Setelah menemukan yang dirasa sesuai, Sidik membeli kertas kado. Tapi, dia justru memilih pembungkus yang paling murah, tanpa memperhatikan motifnya.

Sesampai di rumah, dia baru menyadari bahwa kertas kado tersebut bergambar para tokoh Meteor Garden seperti Dao Ming Tse. Untung, dia masih menyimpan beberapa kertas kado lain di kamar yang dulu ia beli untuk wanita idaman yang ingin direbut hatinya. Saat itu, Sidik begitu teliti memilih motif dan warnanya agar pas.

Bagi seseorang yang telah membesarkan dengan keringat dan kerja keras, Sidik merasa lupa mempersembahkan yang terbaik. Ini memang terlihat sepele, hanya masalah kertas kado. Namun, lewat kisah di atas, Sidik Nugroho mengingatkan diri sendiri bahwa momen penting-ulang tahun seorang bapak-sepantasnya disikapi dengan lebih cermat. Sebagai bentuk apresiasi kepadanya (halaman 198).

Sebagai seorang pendidik, Sidik banyak berinteraksi dengan para murid di kelas. Keseharian pembelajaran itu menjadi sumber inspirasinya. Ia bersepakat dengan pendapat seorang teman, “Menjadi guru anak-anak kecil membuat tidak stres karena melihat kepolosan dan kelucuan apa adanya, tidak dibuat-buat.” Tan Malaka pernah mengucapkan bahwa mendidik anak usia dini adalah pekerjaan paling mulia.

Suatu hari, saat mengajar, Sidik berjanji memberi beberapa bungkus cokelat untuk para murid yang menghargai temannya yang bernyanyi di depan. Inisiatif ini dipilih karena mereka kerap gaduh setiap ada teman yang maju. Hasilnya, kelas yang biasanya seperti pasar tumpah mendadak sunyi. Akhirnya, semua siswa makan cokelat bersama-sama (halaman 111).

Dalam pandangannya, ancaman, sanksi, atau hukuman tidak efektif untuk menanamkan perilaku baik pada diri anak. Para guru dan orang tua menghukum karena lelah menghadapi “keliaran” anak. Padahal, bila mereka mau sedikit kreatif, metode pemberian hadiah dan pujian justru lebih ampuh. Ini senada dengan ungkapan, “Nilai suatu pemberian harus dilihat maksudnya, bukan harga atau kemewahannya.”

Buku ini juga mengungkap pentingnya keluasan suatu visi. Analoginya menarik sekali. Jangan saklek menjawab pertanyaan karena harus dapat menjelaskan lebih menarik.

Sidik mengutip pendapat P Korter, “Visi adalah gambaran realitas akan masa depan yang logis dan menarik.” Tingkat kelogisan dan keunikan sebuah visi berbanding lurus dengan keterlibatan banyak orang dalam mewujudkannya (halaman 175). Seseorang yang piawai menjelaskan hal-hal menarik dalam suatu perjalanan, misalnya, dari Yogyakarta-Jakarta, dia berpotensi menjadi pemandu wisata jempolan.

Buku setebal 384 halaman ini memang lebih bernuansa rohani. Pembaca perlu meluangkan waktu sejenak di tengah rutinitas hidup, misalnya, pagi hari, setelah jeda makan siang, ataupun malam hari menjelang tidur. Dalam kata pengantar, Sidik Nugroho mengakui mayoritas renungan ini lahir justru ketika dia tak berencana untuk menulis. Ia sekadar ingin berbagi hasil pengamatan, pendengaran, pembacaan, tontonan, dan perasaan.

Ditulis oleh Nugroho Angkasa, guru bahasa Inggris di PKBM Angon (sekolah alam), tinggal di Yogyakarta

Judul: 366 Reflections of Life, Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati
Penulis: Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita G.
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Cetakan: 1/Februari 2012
Tebal: x 384 halaman
ISBN: 979-978-074-893-0

Dari Jendela Karya

Beralaskan hijau, aksara mengetuk sebingkai bening.
“Perkenankan saya untuk masuk.”

Ia masih menunggu, menghitung kecambah tumbuh.

Bingkai diam, tak hendak bergerak.
“Apa kau lupa sandi?”

Aksara bingung,
mengapa pohon tak patahkan reranting sebagai kode.
“Apakah sandi itu berupa kata?”

Seketika kaca menggeser dedaun,
aksara menepis tiap rimbun, gugur.
“Ijinkan saya mengajak tanda baca?”

Tak terduga, derit semakin derak.
Tak ada udara yang berdesir, masuk.

Layaknya pagar, mengitar. Tiada silah.
“Setidaknya, sediakah kau menjaga embun?”

Aksara hanya menanti, percikan.

13.13 — 04.03.2012

(Pak Guru, hari ini kita belajar apa?)

Terinspirasi dari tulisan berjudul Mulailah (hal.212 -26 Juli-366 Reflections of Life karya Sidik Nugroho): “Inspirasi tidak hanya datang dari perenungan, tetapi juga tindakan.”

Merayakan Hidup dengan Gembira

Oleh: M. Iqbal Dawami*)

Judul: 366 Reflections of Life
Penulis: Sidik Nugroho
Penerbit: BIP
Cetakan: I, 2012
Tebal: x + 384 hlm.

BUKU ini adalah hasil serangkaian interaksi penulis (Sidik Nugroho) dengan pelbagai sisi kehidupan yang ada di sekitarnya. Dia tidak saja menyuguhkan peristiwa, tetapi juga mampu merefleksikannya. Ada getaran-getaran syukur dan ikhlas tatkala membacanya. Setiap kali ia menuliskan cuplikan peristiwa selalu saja diakhiri dengan refleksi, yang berarti bahwa kita diajak merenung perihal anugerah hidup dan Maha Rahman dan Rahim-Nya Tuhan. Cuplikan peristiwa yang diangkat bisa dari pengalaman si penulis, buku-buku yang dibacanya, maupun film-film yang ditontonnya. Ia bisa menceritakan seorang tokoh, peristiwa bersejarah, atau pun hal-hal sederhana dalam keseharian.

Misalnya, saat ia dan keluarganya tengah berbahagia, lantaran telah lahir seorang putri dari kakaknya. Ia pun memberi kabar gembira kepada beberapa temannya. Dan salah satu temannya berujar,”…Seluruh dunia turut merayakannya.” ketika memandangi keponakannya, ia teringat kata-kata Mahatma Gandhi: saya datang ke dunia dengan menangis dan semua orang tertawa; biarlah saya pergi dari dunia dengan tertawa dan orang lain menangis.

Sidik mengatakan bahwa semua manusia dewasa pernah menjadi bayi, dan kini mereka berjuang untuk mempertahankan hidup. Daya hidup diuji. Jika daya hidup besar, maka manusia akan tegar ketika badai datang. Contoh lainnya saat ia merefleksikan bahwa hidup ini sangat berharga, yaitu pada saat rumah tetangga kakaknya dilanda kebakaran. Kebakaran itu hampir mengenai rumah kakaknya. Ia dan kakaknya dengan sigap mengeluarkan barang-barang berharga untuk diselamatkan sebagai langkah antisipatif. Dari peristiwa itu ia merenung bahwa ketika dekat dengan bahaya yang mengancam hidup kita akan menyadari bahwa hidup ini sangat berharga.

Dalam tulisan “Keluasan Suatu Visi” ia mengajak kita untuk memiliki visi yang jelas. Hal itu ia dapatkan dari pengalamannya bolak-balik Malang-Sidoarjo. Dan dalam tulisan lainnya “Orang Gila di Warkop” ia bertutur tentang orang gila yang sedang ngopi bersamanya di warung kopi (warkop) dekat alun-alun Sidoarjo. Awalnya, ia tidak sadar kalau yang di sampingnya adalah orang gila, tapi bau pesing dan tingkahnya yang aneh, barulah ia ngeh bahwa ternyata yang berada di sampingnya adalah majnun alias gila. Sesampai di kos ia berpikir bagaimana nasib orang gila tersebut yang sedang kedinginan dan kelaparan saat turun hujan. Apakah kemudian orang gila itu diajak ke kosnya? Anda akan temukan jawabannya dalam buku ini.

Sedang dari contoh film, misalnya dari film The Shawshank Redemption, ia mendapatkan pelajaran berharga dari anugerah Tuhan. Kesalahan masa lalu tidak harus membuat hidup menjadi berantakan di masa kini. Dari film Hannibal Rising mengajarkannya untuk tidak memiliki dua jiwa, lantaran menyimpan dendam masa lalu terhadap seseorang. Buku ini menunjukkan bahwa apa pun gerak kehidupan bisa dijadikan bahan renungan. Renungan itu menggerakkan kita untuk mensyukuri anugerah hidup ini, dan peristiwa-peristiwa yang kita alami terdahulu disadari atau tidak memberikan efeknya pada masa kini.

Buku ini sesungguhnya tidak hanya sekadar refleksi tetapi juga sebentuk kontemplasi yang bisa memberikan pencerahan bagi pembacanya. Kombinasi antara (mantan) pendakwah, guru, dan penulis, menjadikan ia piawai mengolah bahan-bahan peristiwa menjadi nutrisi yang bergizi bagi batin yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga meneduhkan.

Buku ini enak dibaca sembari menyesap secangkir teh dan sepiring gogodoh.

*) M. Iqbal Dawami, esais, tinggal di Pati.

Leo Tolstoy vs Sidik Nugroho

Oleh: Fikrul Akbar Alamsyah*)

Rasa-rasanya, beberapa orang tertentu akan mengerutkan kening jika membaca judul di atas. Penggemar dunia tulis-menulis ataupun penggemar kegiatan membaca akan mempertanyakan apa kaitan antara Tolstoy dan Bung Sidik, apa alasan yang tepat untuk “mengadu” antara kedua orang tersebut. Pertanyaan-pertanyaan lain pun bisa muncul di tiap benak orang yang menyempatkan untuk membaca atau sekadar sekilas melihat judul tulisan ini.

Sebelumnya akan saya coba untuk menunjukkan beberapa alasan yang menunjukkan mengapa saya “mengadu” antara kedua penulis di atas. Berikut saya sampaikan poin demi poin:

Saya memiliki hasil karya dari kedua penulis tersebut, sehingga rasa-rasanya ingin saya bandingkan dari kacamata pembaca awam. Jika Tolstoy memiliki karya berjudul “Kalender Kata-Kata Bijak”, maka Bung Sidik memiliki karya berjudul “366 Reflections of Life”.

Selain karena saya memiliki karya kedua orang tersebut, kebetulan genre dari buku yang saya miliki di antara dua penulis tersebut sama, yaitu berada pada ranah nonfiksi/pengembangan diri/psikologi/inspirasi, atau jika benar-benar dicari kata yang pasti adalah pada ranah refleksi diri.

Alasan ketiga adalah: kedua penulis tersebut, keduanya mendasarkan atas hitungan hari dalam satu tahun untuk memberikan refleksi diri, yang mana pada tiap harinya diberikan sebuah tema.

Keempat, sedikit mengada-ada akan tetapi cukup signifikan juga jika dijadikan alasan: ketebalan dua buku ini hampir sama tapi tidak benar-benar sama — yang pertama 376 dan yang kedua 384. Mungkin persamaan ini juga berdasarkan atas hitungan hari dalam satu tahun sehingga muncullah jumlah pada kisaran yang saling mendekati.

Selain itu sebenarnya ada beberapa alasan lain mengapa saya “mengadu” dua buah buku ini, tetapi tidak begitu penting dirasa sehingga cukup empat hal di atas yang cukup signifikan untuk ditampilkan.

Rasanya dapat saya mulai komparasi dari kedua buku karya dua penulis di atas, dan akan saya sampaikan secara mengalir, bukan poin demi poin.

Pada karya Tolstoy, setiap hari disampaikan sebuah tema akan hal tertentu — begitu juga pada karya Bung Sidik. Akan tetapi, perbedaannya adalah: jika Tolstoy memberikan beberapa kata-kata bijak, maka Bung Sidik hanya memberikan satu buah kata-kata bijak saja. Meski begitu, pada karya Tolstoy tidak terdapat “pengantar” untuk menjelaskan/memperkuat kata-kata bijak yang disampaikan untuk hari itu. Berbeda dengan Bung Sidik, pada tiap tema untuk kata-kata bijak yang akan disampaikan terdapat semacam pengantar atas kata-kata bijak yang ia sampaikan untuk tiap harinya sehingga seakan-akan dijelaskan “Ashbabun Nuzul” atas disampaikannya kata-kata bijak untuk hari itu.

Pada karya Tolstoy kita dapat menerjemahkan secara bebas apa yang sedang kita baca pada hari itu sehingga di satu sisi dapat menghasilkan penafsiran yang begitu luas atas pemaknaan yang telah dibaca. Hal ini bagi saya dapat memberi hal baik dan buruk terhadap refleksi diri. Baik karena akan membebaskan pikiran dalam rangka pemaknaan, buruk karena apa yang ingin disampaikan Tolstoy rawan terbelokkan atas pemaknaan pembaca yang bisa saja luas ataupun sempit.

Saat membaca Pendahuluan dari Tolstoy maka ia menyampaikan bahwa kutipan kata-kata bijak yang ia cantumkan dapat berasal dari berbagai sumber sekaligus berasal dari penafsiran Tolstoy sendiri atas berbagai kutipan yang sumbernya beragam pula. Pada karya bung Sidik, ia tampaknya juga memperoleh sumber dari berbagai kutipan orang-orang penting, akan tetapi yang spesial dari Kata Pengantar yang bung Sidik sampaikan yaitu adanya semacam — kalau boleh dibilang — SOP (Standar Operating Procedure) untuk membaca karyanya, yaitu: kapan dan bagaimana sebaiknya bukunya dibaca.

Pada karya Tolstoy, sejauh saya membaca, rata-rata ia mendasarkan temanya pada kemanusiaan, ketuhanan yang universal, kejujuran, dan kesederhanaan. Ada sebuah kutipan dari Tolstoy yang cukup sederhana tapi bermakna yaitu: “Satu-satunya makna kehidupan adalah mengabdi pada kemanusiaan.” Makna dari kata-kata bijak yang ia sampaikan cukup dalam dan seperti yang saya sampaikan di atas untuk pemaknaan dapat sangat luas.

Sedangkan pada buku Bung Sidik, juga dicantumkan kutipan kata-kata bijak yang bermakna dalam, akan tetapi “pengantar” yang disampaikan cukup sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari bahkan mungkin tidak jauh berbeda dengan pengalaman sehari-hari dari masyarakat umum Indonesia. Sebelum kegiatan banding-membandingkan antara dua buah karya ini semakin jauh, ada baiknya saya cukupkan sampai sekian saja. Ada kekhawatiran: semakin dalam kegiatan banding-membandingkan ini saya lakukan, semakin berpeluang saya terjebak dalam mana yang lebih baik dan mana yang lebih kurang baik. Yang pasti, dua karya ini layak dikonsumsi untuk memperluas refleksi diri terhadap fenomena pengalaman manusia yang niscaya tidak dapat kita jalani semua.

Malang, Minggu 8 April 2012

*) Dosen di Universitas Brawijaya dan aktivis di Forum Penulis Kota Malang

Umur Panjang: Sehat Badani, Sehat Jiwani, dan Sehat Sosial

Judul Buku: Rahasia Awet Muda dan Panjang Umur
Penulis: Haryo Bagus Handoko
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Tebal Buku: 650 halaman
Cetakan Pertama, Desember 2011

“The only way to keep your health is to eat what you don’t want, drink what you don’t like, and do what you’d rather not.”
~ Mark Twain

Kata-kata yang diucapkan Mark Twain di atas sangat tepat menggambarkan kondisi masyarakat modern. Masyarakat, yang di masa kini kian konsumtif — karena tergerus arus modernisasi di perkotaan — umumnya lebih menyukai makanan fast food, minuman bersoda atau mengandung banyak gula, serta jarang melakukan aktivitas yang membuat dirinya lebih bugar. Manusia-manusia perkotaan, disadari atau tidak, kerap melupakan kesehatan: hal penting yang sangat menunjang kehidupan ini.

Kian lama usia manusia kian pendek. Bila kita mempelajari sejarah nenek moyang kita di beberapa kitab suci, orang-orang pada zaman dahulu ada yang hidup sampai ratusan — bahkan ada yang hidup hampir seribu tahun. Sekarang, seseorang yang dapat mencapai umur 100 tahun saja fantastis. Banyak faktor yang membuat hidup manusia menjadi semakin pendek: pola makan, gaya hidup, semangat hidup, dan beberapa faktor lainnya.

Salah satu komunitas manusia yang memiliki umur panjang adalah orang-orang Hunza. Di abad 20-an, mereka memiliki usia rata-rata 120-140 tahun. Orang-orang Hunza hidup di dekat pegunungan Himalaya. Mereka dapat berumur panjang karena mengonsumsi makanan yang diolah dari bahan-bahan yang masih segar. Mereka menolak makan makanan yang berlemak; lebih menyukai sayur, buah, air putih, dan kacang-kacangan.

Selain pola makan yang demikian, mereka juga giat bekerja dan mudah berempati pada sesama. Air yang mereka minum juga belum terpolusi oleh bermacam-macam zat. Alam di mana mereka hidup membentuk kehidupan mereka untuk rajin bekerja dan beraktivitas. Orang-orang Hunza yang umurnya mendekati 100 tahun masih giat bekerja di ladang, masih kuat bermain sepakbola atau voli. Pada tahun 1949, ketika sebagian dari mereka pindah ke Pakistan, mereka yang pindah itu pun bernasib sama seperti warga kota yang lainnya — berusia pendek — karena mereka mulai mengikuti cara dan pola hidup perkotaan.

Diawali dengan kisah orang-orang Hunza di dekat Himalaya itu, Haryo kemudian mengajak pembaca memperhatikan hal-hal yang perlu dilakukan agar dapat berumur panjang. Sudah barang tentu, Haryo tak mengajak para pembaca untuk melawan kodrat: kembali ke zaman dahulu, ketika manusia bisa hidup 900-an tahun.

Hal yang ditegaskan oleh Haryo dalam buku ini adalah — sesuai judulnya — cara-cara yang perlu ditempuh untuk berumur panjang dan awet muda. Secara garis besar, umur panjang bisa diraih dengan cara memperhatikan kesehatan. Dan, menariknya, lewat buku ini Haryo mengungkapkan bahwa kesehatan tak melulu berkaitan dengan fisik (badani) saja, namun sehat jiwani dan sosial.

Pola makan dan olahraga mendominasi bahasan Haryo dalam soal menjaga kesehatan fisik. Ia menyebutkan apa saja makanan dan kegiatan olahraga yang perlu diperhatikan oleh sidang pembaca bila ingin memiliki umur panjang.

Meditasi, latihan pernapasan, mendengarkan jenis musik tertentu, atau mandi dengan cara berendam, juga dibahas oleh Haryo. Hal-hal itu, selain berhubungan dengan fisik, tentu sangat berkaitan dengan kesehatan jiwa atau pikiran. Beberapa cara meditasi yang tradisional, misalnya, yang sejak dulu dikembangkan oleh beberapa kebudayaan dan negara, dibahas oleh Haryo untuk menambah wacana dan pemahaman pembaca akan pentingnya meditasi.

Haryo memberikan bahasan lain yang penting dalam hal umur panjang, yakni kesehatan sosial. Sikap yang ikhlas, mau mengampuni, toleran, juga positif, sangat penting bagi panjang-pendeknya umur manusia. Hal inilah yang saya anggap menjadi sumbangan khusus buku ini, yang masih belum ditemui dalam buku-buku kesehatan lain yang umumnya membahas kesehatan badani saja.

Sumber yang digunakan Haryo dalam buku ini sangat variatif. Haryo merujuk Qur’an, Bibel, dan beberapa kitab suci agama lain. Daftar pustaka (berupa buku, majalah, dan jurnal) yang digunakannya dalam buku ini pun sangat beragam. Sudah sepantasnya sidang pembaca menyambut baik buku (yang diterbitkan dalam 3 seri) tentang kesehatan ini. Dengan cakupan bahasan yang luas, tak berlebihan jika dikatakan, buku ini adalah rujukan yang penting tentang hidup sehat. Selamat membaca. (*)

Sidik Nugroho
Guru SD Pembangunan Jaya 2 dan penulis buku 366 Reflections of Life

 

Optimisme dan Semangat Pantang Menyerah

Judul buku : 366 Reflections of Life – Kisah-Kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati
Penulis : Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia)
Ukuran : 15 x 23 cm
Tebal : 384 halaman
Tahun terbit : Februari 2012

“Kita hidup dengan apa yang kita peroleh, tetapi kita memperoleh kehidupan dengan apa yang kita beri.”
~ Winston Churchill

Buku setebal 384 halaman dengan perwajahan sampul nan indah ini menyuguhkan sejumlah kisah inspiratif yang menyentuh hati. Kisah-kisah nan apik yang disajikan dalam buku ini menuturkan beragam peristiwa menarik dari berbagai belahan dunia, mulai dari kisah kehidupan si penulis sendiri, kehidupan tokoh-tokoh inspiratif ternama dunia, hingga kisah-kisah kehidupan nyata sehari-hari di sekitar kita. Kisah-kisah tersebut tanpa kita sadari, sebenarnya memiliki berbagai nilai pelajaran moral dan hikmah yang bisa kita ambil dan dapat dijadikan sebuah bahan perenungan. Buku ini pun mengajarkan kita agar kita mengenal lebih dekat diri kita sendiri.

Sidik Nugroho melalui kisah-kisah inspiratif yang dikemukakannya dalam buku ini, berusaha menyadarkan kita bahwa sebagian besar dari kita tak jarang merasa sebagai orang yang paling tidak beruntung di dunia ini apabila sedang dalam keadaan susah atau kurang beruntung, sehingga membuat kita mudah berputus asa dan miskin rasa syukur. Sebaliknya saat kita dalam keadaan bahagia dan sedang beruntung, kita pun demikian mudahnya lupa untuk bersyukur. Padahal kalau kita mau merenung sejenak setelah membaca kisah-kisah kehidupan orang lain yang banyak dikisahkan dalam buku ini, sesungguhnya masih lebih banyak orang lain yang jauh kurang beruntung daripada kita, sehingga kita tidak seharusnya miskin rasa syukur baik di saat kita sedang berada di bawah ataupun saat kita sedang berada di atas.

“Dalam situasi yang menyesakkan, harapan adalah suatu kekuatan,” kata G.K. Chesterton. Manusia dengan segala suka-dukanya senantiasa mewarnai berbagai kisah sejarah perjalanan panjang umat manusia. Manusia dalam sejarahnya selalu membuat kesalahan yang sama berulang-ulang. Manusia sering tidak memetik hikmah dari kisah-kisah perjalanan masa lampau. Padahal dari kisah-kisah perjalanan masa lampau, kita dapat belajar dari kesalahan-kesalahan bangsa lain di masa lampau. Tak hanya itu, kita pun seharusnya mau belajar dari kegagalan dan keberhasilan bangsa lain menilik dari kisah perjalanan bangsa mereka.

Keberhasilan suatu bangsa atau seseorang adalah sebuah proses panjang dari manusia itu sendiri. Proses adalah belajar dari banyak kegagalan kita di masa lalu sehingga dari kegagalan, kita akan bisa memperbaiki dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Kesuksesan seseorang bisa bermanfaat dan menginspirasi orang lain dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Sebagai manusia dan bangsa yang berbudaya seharusnya kita senantiasa pantang menyerah dalam menjalani suka duka kehidupan, karena sukses tidaknya kita sebagai manusia adalah tergantung dari seberapa keras daya upaya dan kerja keras kita untuk mau selalu berusaha mencapai segala apa yang kita cita-citakan dalam kehidupan dan dalam kehidupan bersosial kemanusiaan.

Kehidupan memang tak selalu seindah seperti yang diharapkan dan diimpikan oleh setiap orang. Liku-liku kehidupan tak jarang membuat seseorang seringkali bersedih, marah, frustasi dan tak jarang mudah berputus asa. Buku ini mencoba mengetuk hati para pembaca untuk merenung sejenak, betapa kehidupan itu sendiri sebenarnya telah banyak mengajarkan kita berbagai hal agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik, bijaksana, lebih mengasihi sesama, rendah hati, tidak mudah berputus asa dan senantiasa bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat dan karuniaNya yang seringkali tidak kita sadari.

Dalam buku ini Sidik Nugroho Wrekso Wikromo mencoba menggugah kesadaran kita, bahwa kebahagiaan dan kedamaian itu sejatinya terletak di hati dan pikiran kita sendiri, dan bagaimana untuk memperoleh kebahagiaan dan kedamaian itu sendiri adalah suatu hal yang perlu kita temukan dengan mengenal diri kita lebih dekat, dengan senantiasa ingat dan bersyukur kepada Tuhan yang tak putus-putusnya memberikan berbagai kenikmatan, karunia dan hidayah bagi kita semua. Kita pun tak boleh lupa untuk senantiasa membagi kasih kebaikan dan kebahagiaan terhadap sesama.

Sidik Nugroho cukup kreatif dalam menyisipkan beberapa pesan moral dan kebaikan dalam kisah inspiratif yang mampu menggugah para pembaca untuk merenung sejenak akan hakikat dan makna kehidupan ini. Proses pembelajaran tentang makna dan hikmah kehidupan itu sendiri sebenarnya berlangsung sepanjang hayat kita, dan dari setiap kisah kehidupan yang ditulis dalam buku ini, sudah seharusnya kita pandai-pandai memetik hikmah pembelajaran yang bisa kita terapkan dalam kehidupan.

Hidup sejatinya adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh proses pembelajaran. Beragam kisah inspiratif yang Anda temukan dalam buku ini ditulis dengan bahasa yang indah, santun, serta mudah untuk dipahami. Sejumlah kata-kata mutiara serta bait puisi juga tampak menghiasi buku ini, membuatnya sedikit berbeda dengan buku sejenis yang ada di pasaran, yang juga merupakan keunggulan dari buku ini.

Oleh: Haryo Bagus Handoko, penulis dan aktivis di Forum Penulis Kota Malang (FPKM)

Mengisahi Kisah, Dikisahi Kisah*)

Oleh: Fahrul Khakim**)

Sejarah melekat erat di berbagai elemen kehidupan. Disadari atau tidak, semua orang butuh sejarah dan sangat erat hubungannya dengan sejarah. Sejarah bukan sekadar periodisasi, tapi juga berkisah melalui sumber-sumber dan bukti nyata. Bahkan, proporsi isi atau kisah dalam sejarah lebih detail dan kompleks. Dalam ilmu Sejarah, dikenal 3 unsur utama yang membentuk sejarah, yaitu: tempat, waktu dan manusia.

Nah, kalau begitu apa bedanya sejarah dengan sebuah kisah? Karena dalam suatu kisah pasti terdapat setting (latar), alur, dan tokoh — hal-hal tersebut juga merupakan unsur-unsur penting dalam suatu cerita. Kehidupan manusia adalah kisah yang terpusat pada pikiran dan perbuatannya. Tak diragukan lagi, nasib dunia ada di tangan manusia.

Sebuah kisah kadang disepelekan, padahal memiliki makna yang berlapis-lapis, tergantung lewat perspektif mana manusia itu sendiri memandangnya. Bukankah mayoritas isi kitab suci adalah kisah? Kisah antara hal baik dan jahat, kisah yang patut diteladani serta diresapi oleh tiap insan di dunia; tak sekadar dibaca, namun mendalami pesan yang disampaikan dalam kisah tersebut. Kebiasaan membaca yang baik menurut banyak penelitian dapat meningkatkan kecerdasan otak. Bukan anggapan yang salah jika membaca kitab suci pun bisa meningkatkan kecerdasan umat beragama.

Mengapa manusia butuh membaca kisah? Kisah adalah sesuatu yang sangat sederhana namun memiliki dampak yang besar bagi jiwa manusia karena begitu mudah menyentuh hati manusia. Di antara genre yang lainnya, genre kisah atau cerita merupakan genre yang paling digemari. Membaca kisah tak perlu menuntut otak manusia untuk berpikir keras, namun sangat mudah meresap dalam hati dan perasaan manusia.

Kisah tak ubahnya napas yang dihembuskan manusia setiap hari. Selalu ada, dan tak pernah ada habisnya. Perlu disyukuri bahwa kisah adalah karunia Tuhan yang terus berkembang melintasi zaman ke zaman. Namun pada intinya sebuah kisah kadang memiliki pola dan pesan yang sama. Ada-ada saja sisi kreatif manusia yang meracik kisah tersebut dengan tampilan atau pemaknaan yang sedikit berbeda. Pada hakikatnya, otak manusia juga terbatas. Terkadang, kisah dalam sejarah terkesan tidak relevan dengan kenyataan masa kini. Terkadang, ada pula efek hiperbola dan fantasi dalam cerita sejarah. Namun hal tersebut membuktikan, bahwa sejak zaman kuno dan di belahan dunia manapun, manusia membutuhkan kisah. Karena, pada dasarnya, kisah pasti — dan akan selalu begitu — ada di dalam diri manusia. Jati diri manusia dibentuk oleh proses pergulatan kisah yang panjang.

Terdapat pihak yang menerima bahwa kisah-kisah itu ada merupakan hikmah dari Tuhan yang maha kuasa. Namun, juga sangat konyol bahwa tak sedikit orang yang langsung merasa jijik mendengar atau membaca suatu kisah. Mereka beranggapan sebuah kisah hanya untuk hiburan semata (stensilan), bahkan terkadang hanya dianggap sebagai hasil karya orang-orang pemalas yang suka melamun, bukan agen pembaharu masyarakat, tidak memberi kontribusi yang berarti. Pernahkah seseorang itu berpikir bahwa sebuah kisah selalu dijadikan senjata politik yang sangat ampuh untuk mengendalikan negara? Tengoklah rezim-rezim yang telah lalu. Begitu banyak kejanggalan yang mengerikan, namun dengan memesonanya para petinggi politik berhasil menyusun sebuah drama untuk menutupi segala ketimpangan tersebut. Para politisi merupakan pengarang yang cerdas, padahal mereka adalah orang yang menjunjung tinggi materialitas.

Hal tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Tengoklah berita yang beredar di berbagai media massa. Satu kisah pengadilan terkadang tak pernah usai dibahas malah disusul cerita menghebohkan lainnya seperti penemuan berbagai gunung piramida di Indonesia. Manusia realistis dan liberal pun tanpa mereka sadari telah menjadi budak-budak kisah. Manusia sebaiknya memandang dari perspektif serta berpikir dekonstruktif dalam mengkaji suatu kisah.

Sejak kecil manusia telah dibimbing melalui kisah-kisah teladan seperti kisah nabi, pahlawan, bahkan negeri dongeng pengantar mimpi. Mereka kerap menyerap kisah-kisah tersebut dalam sanubari mereka untuk mencari kebenaran dan keburukan. Normal dan wajar, di masa kecil, manusia mendengar kisah-kisah tentang leluhur mereka. Hal tersebut dilakukan oleh orang tua mereka agar mereka bisa memperoleh pesan hidup dan pengetahuan. Kemudian mereka akan menjadikannya pedoman hidup. Begitulah secara terus-menerus, berakumulasi, hingga mereka dewasa. Mereka akan membawa kisah itu dan disadari atau tidak, kisah tersebut juga akan mempengaruhi kehidupan manusia di masa depan. Lalu, kala mereka menginjak masa senja, kisah tersebut akan kembali dikisahkan pada penerusnya mereka. Penerus mereka akan mengkisahkannya pada keturunan mereka. Begitu seterusnya, siklus tersebut alamiah.

Sebuah kisah selayaknya bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Tidak sekadar dipandang sebelah mata. Bahasa adalah kekuatan sebuah kisah, tak mungkin di abad serba cyber seperti ini manusia menggunakan bahasa yang biasa. Oleh karena itu, manusia memeras otaknya untuk merangkai kalimat-kalimat menjadi literasi yang indah. Namun hal tersebut kadang juga disalahartikan oleh manusia lain, menganggap bahasa yang indah hanya sekadar laratan hati manusia yang kurang kerjaan. Sebuah kisah adalah berkah yang ajaib — wahyu Tuhan yang mulia. Tanpa sebuah kisah, tulisan ini tak akan sampai di depan mata Anda. Tanpa kisah hari ini, entah ada di mana kita nanti.

*) Catatan ini terinspirasi dari salah satu kisah dalam buku 366 Refelctions of Life karya Sidik Nugroho

**) Fahrul Khakim: Mahasiswa sejarah Universitas Negeri Malang, anggota Forum Lingkar Pena (FLP)