Category Archives: Refleksi

Pria-pria yang Bimbang Menikah

Pertanyaan tentang pernikahan selalu saja disampaikan bila seseorang berkenalan dengan saya, setelah bertanya apa pekerjaan saya dan berapa usia saya. Itu sudah bukan sesuatu yang mengusik saya lagi.

Sore ini, saya berada cukup lama di warung kopi sambil menunggu hujan reda. Seorang bapak yang sudah cukup tua, usianya sekitar 60 tahun, mengobrol dengan saya tentang pernikahan dan keluarga. Ia berkata, “Keadaan sekarang sudah jauh berbeda. Dulu, seorang pria ketemu wanita, muncul rasa saling suka, pacaran, menikah. Sekarang, hal itu tampaknya lebih rumit.”

Saya berkata kepadanya, “Saya punya teman-teman yang tidak menikah dan kesepian. Tapi, ada juga teman-teman yang berbahagia dengan keadaan itu. Kalau Bapak mau dengar, saya mau bercerita tentang pria-pria yang tidak menikah.” Menarik, ia mau mendengar dan memperhatikan cerita-cerita saya tentang mereka.

“Tapi, ini bukan mereka yang menyukai sesama jenis, kan?” tanyanya.

Saya menggeleng. “Bukan, Pak. Saya tidak mengenal banyak pria yang suka sesama jenis.

“Mereka yang mau saya ceritakan ini bisa dikatakan pria-pria yang baik, setahu saya. Mereka menyukai wanita. Mereka juga pria yang, setahu saya, tidak mempunyai penyakit seperti impotensi. Kalaupun ada yang demikian, saya tidak tahu pasti. Tapi, kelihatannya, mereka pria-pria yang sehat secara seksual. Beberapa di antara mereka sudah saya kenal beberapa tahun dan pernah bercerita menyukai wanita ini atau itu.”

Bapak itu mengangguk-angguk. Saya pun mulai bercerita tentang beberapa kasus yang saya temui, kasus-kasus yang menyebabkan beberapa pria bimbang menikah.

1. Kencan-kencan yang Buruk

Seorang pria, anggaplah ia bernama Jack, mengajak kencan seorang wanita dengan menonton film bioskop. Jack sangat menggilai film, nyaris tidak pernah terlambat menonton film bioskop, dan biasanya membaca review film yang akan ditontonnya terlebih dahulu sebelum menonton. Si wanita yang diajak Jack sebenarnya mengenal sosok Jack yang suka menonton film. Tapi, ia terlambat datang ke bioskop karena hal sepele. Jack pun kesal karena keterlambatan itu.

Bukan hanya terlambat, saat menyaksikan film, si wanita sama sekali tak menunjukkan minat terhadap film yang ditonton. Tidak ada obrolan yang menarik di antara mereka berdua setelah menonton film tentang film yang ditonton karena si wanita tidak menunjukkan antusiasme.

Pada kesempatan lain, Jack mengajak wanita lain kencan. Baru bertemu beberapa kali di gereja, si wanita sudah menunjukkan penampilan yang nakal dan menggoda. Si wanita terlalu agresif. Suatu malam, Jack dan wanita itu makan malam di sebuah food court di Surabaya. Si wanita mengenakan kaos yang kerahnya sangat rendah. Sepasang payudaranya seperti hendak menyembul keluar kalau ia membungkuk mengambil makanan. Jack kurang suka melihatnya, si wanita malah menjadi perhatian orang lain yang ada di sekitar mereka.

Bukan hanya itu, beberapa hari setelah makan malam itu, si wanita berkata hendak meminjam uang dua juta rupiah kepada Jack karena saudaranya mengalami kecelakaan. Jack bukannya tidak mau menolong, tapi jadi mendapat kesan bahwa ia sedang dimanfaatkan. Jack merasa, permintaan bantuan itu terasa sangat terburu-buru ditujukan kepadanya. Ia pun menjaga jarak dengan wanita itu. Beberapa minggu kemudian, ia mendapat kabar saudara si wanita itu tertolong dengan bantuan pihak keluarga si wanita.

2. Hobi atau Minat yang Lebih Membahagiakan

Saya mengenal seorang pria, anggaplah ia bernama Sugeng. Sugeng sangat menggilai musik dan film. Selain bekerja dan menunjukkan perhatian untuk orangtua dan saudara-saudaranya, hidup Sugeng ia arahkan di musik dan film. Ia menciptakan musik, membeli alat musik, menonton film, menganalisa film. Ia bergabung dengan teman-teman sehobi, menikmati dunianya. Semua kegiatan itu membuat hidupnya terasa sangat bermakna.

Sedikit banyak, poin pertama, yaitu kencan yang buruk, pernah dialami Sugeng. Suatu waktu ia pernah berkata, “Jikalau dengan musik dan film aku berbahagia, tapi wanita-wanita yang datang dalam hidupku ini hanya membuat repot, mengapa aku harus memusingkan diriku dengan menghabiskan waktu bersama mereka?”

Sekilas ucapan Sugeng itu terdengar sinis dan egois, tapi saya rasa Sugeng lebih mengerti dengan apa yang ia ucapkan.

3. Suka Bertualang

Saat menumpang bis dari Yogya ke Solo pada liburan akhir tahun lalu, saya bertemu dengan seorang pria. Ia seorang dosen di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogyakarta, dan bila akhir pekan mengajar di sebuah universitas di Solo. Pria ini sudah tua, usianya mendekati 60 tahun. Ketika berbicara dengannya di dalam bis, saya takjub.

Pria ini bercerita bahwa sejak masa mudanya, sejak mahasiswa, ia memang berniat menjadi seorang petualang. Dan niat ini didukung dengan studinya. Fokus studinya adalah psikologi sosial, yang sedikit banyak berkaitan dengan perilaku atau budaya suatu masyarakat atau komunitas. Ia melakukan penelitian di banyak tempat, mengkaji berbagai perilaku masyarakat dan komunitas. Ia bercerita memiliki banyak rekaman wawancara dengan beberapa raja di kerajaan-kerajaan kecil yang masih ada di beberapa daerah di Indonesia.

Ia dulu juga suka menyelundupkan minyak wangi dari Timor Timur sebelum wilayah ini bersatu dengan Indonesia. Cara-cara yang ia gunakan untuk menyelundupkan minyak wangi sangat menarik perhatian saya, seperti kisah-kisah detektif.

Tiap enam bulan sekali ia pasti bepergian ke luar pulau Jawa sejak ia kuliah hingga sudah menjadi dosen. Ia berkata tidak memiliki harapan apa pun tentang jodoh. “Bila ada ya menikah, bila tidak ada tidak masalah,” katanya.

4. Pemuasan Hasrat Seksual yang Mudah dan Murah

Sudah menjadi rahasia umum, di semua kota besar selalu saja ada wanita pemuas birahi. Saya tinggal lima tahun di Sidoarjo, dan saya sering mendengar cerita tentang lokalisasi yang ada di Surabaya dan Pandaan yang tak jauh dari Sidoarjo.

Lokalisasi yang ada di Surabaya, Dolly, konon merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. “Di sana banyak pilihannya, Mas,” kata seorang teman saya yang sering nongkrong dengan saya di warung kopi. “Sampean punya uang 150 ribu saja sudah bisa dapat barang yang bagus banget.”

“Kalau yang di Pandaan lain lagi, Mas,” katanya. “Di sana kita harus menyewa vila kalau mau bawa cewek. Cewek di sana juga lebih mahal karena kita bawa lebih lama. Di Dolly hitungannya satu setengah jam, di Pandaan biasanya pakai short time, 3 jam, atau long time, semalaman. Yang short time saja biasanya pasang harga tiga ratus ribu.”

Pemuasan hasrat seksual yang murah dan mudah membuat seorang teman saya yang lain berkelakar saat ia sedang bermasalah dengan pasangannya. “Mungkin aku akan putus,” katanya. “Mengayomi cewek cerewet seperti dia bukan hanya menguras uang, tapi tenaga, pikiran, dan waktu. Aku pun enggak bingung dengan seks. Kalau sebulan perlu main dua kali, cari cewek saja di Dolly, keluarkan uang tiga ratus ribu, beres perkara.”

5. Wanita-wanita yang Rumit

Saya mengategorikan wanita yang rumit ini ke dalam dua bagian. Pertama, mereka yang terlalu banyak menuntut. Zaman sekarang memang wajar bila seseorang dituntut mapan secara finansial. Tapi, beberapa tuntutan kadangkala tidak masuk akal. Teman saya di Bandung pernah bercerita bahwa seorang wanita yang dikenalnya akan selalu bertanya apa merk mobil yang dimiliki pria yang mendekatinya.

Teman saya di Sidoarjo lain lagi ceritanya. Ia berkenalan dengan seorang wanita di Facebook. Suatu ketika ia meng-update status menggunakan Blackberry. Si wanita menanyakan lewat kotak pesan apa PIN-nya, teman saya mengatakan bahwa Blackberry yang ia gunakan untuk meng-update status adalah Blackberry pinjaman. Begitu tahu itu Blackberry pinjaman, si wanita langsung menjauh — menjauh sebelum didekati.

Kedua, wanita yang rumit adalah wanita yang memang tidak mau berkomitmen. Hal inilah yang dialami oleh teman saya, anggap saja ia bernama Yudi. Pada zaman chatting masih menggunakan mIRC, Yudi sudah menemukan wanita-wanita jenis ini: wanita-wanita yang mau saja diajak “one night stand”. Ia bercerita kepada saya, tidak kurang dari lima wanita yang berhasil dibawanya kencan hingga berakhir di ranjang gara-gara berkenalan lewat mIRC.

Wanita-wanita ini juga sama seperti pria yang mengajak mereka kencan: mereka menikmati hubungan tanpa status ini. Mereka enggan terikat dalam hubungan yang bernama pacaran, apalagi pernikahan. Keterikatan semacam itu selalu saja menimbulkan masalah besar bagi mereka.

***

Itulah beberapa cerita yang saya sampaikan kepada bapak tua itu. Tampaknya ia bisa memahami apa yang terjadi pada masa kini. “Zaman selalu berubah ya, Nak,” katanya kepada saya.

“Iya, Pak. Tapi cinta tetap cinta, walaupun dunia ini selalu berubah.”

“Maksudmu?” tanyanya sambil menghembuskan asap rokok.

“Maksud saya, tetap ada orang yang perlu dan bahkan harus sungguh-sungguh kita cintai untuk membuat hati ini sering gembira dan damai.”

“Benar, Nak, mencintai orang yang sama secara terus-menerus membuat kita lebih dewasa. Ini bukan melulu soal pernikahan lho. Banyak pernikahan yang juga berakhir dengan perceraian kok. Cerita-ceritamu itu ada yang baik, ada yang… yah… menurut saya kurang baik.”

Saya mengangguk, mengiyakan.

“Apakah kamu sendiri sudah menemukan seseorang untuk dicintai, Nak?”

Saya tersenyum. “Hanya Tuhan yang tahu, Pak.”

***

Pontianak, 18 April 2013

Advertisements

Sukses Berdamai dengan Diri Sendiri

asa

Jikalau Anda suka mendengar motivator berbicara, tontonlah “Raging Bull”. Jikalau Anda getol membaca kisah-kisah sukses, tontonlah “Raging Bull”. Apakah “Raging Bull” adalah film motivasi yang berisi kisah sukses? Bukan.

Bagi saya, “Raging Bull” adalah film tentang dunia tinju yang paling berkesan setelah “The Fighter” dan “Cinderella Man”. American Film Institute menobatkan “Raging Bull” sebagai film olahraga terbaik sepanjang masa. Kisah hidup Jake LaMotta (Robert De Niro) disajikan dengan begitu dramatis di tangan sutradara Martin Scorsese.

Kehidupan Jake La Motta yang penuh liku terutama disebabkan oleh sifatnya yang emosional. Jake sangat posesif, pencemburu, dan mudah naik darah. Di balik karir tinjunya yang penuh prestasi, kehidupan rumah tangganya berantakan. Untunglah ia memiliki adik, Joey (Joe Pesci), yang pengertian kepadanya. Adiknya ini juga menjadi asisten pelatih Jake.

Di atas ring tinju, amarah Jake juga mudah meluap. Beberapa adegan tinju di film ini tersaji sangat baik. Walaupun adegan di atas ring tinju tidak terlalu banyak ditampilkan di sepanjang film, namun sangat menohok dan efektif. Sebuah adegan tinju yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika Jake bertarung dengan seorang petinju yang disebut istri dan adiknya berwajah tampan. Sebelum bertemu dengan petinju itu pun, Jake sudah cemburu. Di atas ring, saat mereka bertarung, wajah petinju itu dihajarnya habis-habisan.

Adegan tinju lainnya yang menguras emosi adalah salah satu pertarungan antara Jake dengan musuh bebuyutannya, Sugar Ray Robinson. Di pertarungan ini, wajah Jake berdarah-darah. Keringat dan darah sudah bercampur-baur, muncrat di sana-sini. Di sinilah saya jadi paham mengapa Martin Scorsese memutuskan untuk menggarap film ini dalam format hitam putih (hanya ada sangat sedikit bagian yang ditampilkan berwarna).

Saya menduga sosok asli Jake LaMotta mirip preman, perangainya liar. Inilah yang mungkin membuat Martin Scorsese tertarik mengangkat kisah hidupnya sebagai film. Kemudian, kerjasama antara Martin Scorsese dengan Robert De Niro dan Joe Pesci berlanjut dalam dua film lain tentang mafia, “Goodfellas” dan “Casino”. (Hal yang menarik pada ketiga film ini adalah pola dialog yang mirip: pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menekan lawan bicara untuk jujur, penuh makian, dan tak jarang kalimat yang sama diulang-ulang.)

Setelah memutuskan berhenti bertinju, Jake hidup urakan. Ia tak lagi menjaga berat badannya. Ia suka mabuk dan berfoya-foya di kafe yang didirikannya. Badannya menjadi gembrot. Perubahan yang terjadi pada Robert De Niro sungguh mencengangkan. Karena suatu kasus di kafe yang didirikannya, Jake terpaksa dipenjarakan. Setelah keluar dari penjara, ia menjadi semacam pemandu berbagai acara di kafe-kafe. Hal inilah yang bagi saya dapat menjadi bahan renungan yang penting.

Jake sudah (pernah) sukses mendapatkan semua yang diinginkannya: rumah mewah, istri cantik, dan anak-anak. Namun, Jake tidak pernah sukses melawan amarah yang terus bergelora dalam dirinya sendiri. Dialah Raging Bull, banteng ketaton, yang suka mengamuk dan mengamuk. Pada akhir film, saat Jake berbicara di depan cermin, saya menduga, banteng ketaton ini sedang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.

(Ulasan lainnya oleh Arie Saptaji bisa ditengok di sini:http://www.oocities.org/denmasmarto/ragingbull.htm)

SN, Ptk, 040413

Pekerjaan, Pelayanan, dan Pengabdian kepada Allah

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
~ Lukas 1:38 ~

Hingga kini saya masih terkesan dengan khotbah yang disampaikan Pendeta Yehezkiel Wilan, gembala sidang GBI El Shaddai Kota Baru, Pontianak, pada hari Minggu, 12 Agustus 2012 lalu. “Satu hal yang sering meresahkan saya adalah julukan hamba Tuhan. Kita semua hamba Tuhan, bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja,” demikian kurang lebih ia menegaskan tentang jati diri umat Tuhan.

Hanya karena seseorang berstatus hamba Tuhan, tanpa disadari orang-orang menetapkan suatu standar moral yang lebih tinggi kepadanya. Di mata sebagian orang, ia menjadi “lebih tinggi”. Dan, kita pun tidak akan pernah maukah pergi ke gereja yang hamba Tuhan atau gembala sidangnya merampok, membunuh, atau berzinah. Tapi, selama ini mungkin kita terlalu mempersoalkan rekan bisnis yang suka mencuri atau berzinah, misalnya.

Padahal, tiap orang percaya adalah hamba Tuhan. Dan, pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang kudus, yang darinya Tuhan mempercayakan berkat untuk dibagikan kepada keluarga dan sesama. Pekerjaan yang kudus bukan pelayanan gerejawi semata. Inilah yang kadang dilupakan oleh banyak orang Kristen.

Mendengar khotbah itu, saya serta-merta teringat pada sebuah buku. Di dalam bab terakhir buku legendaris A.W. Tozer yang berjudul Mengejar Allah, banyak sekali nilai penting tentang kehidupan yang berkenan kepada Allah. Bab yang berjudul Sakramen Kehidupan ini mungkin telah menjadi sebuah bab acuan bagi banyak pengkhotbah dan pemikir Kristen dewasa ini dalam menjabarkan integrasi yang terjalin antara kehidupan duniawi dengan kehidupan rohani. Di dalam bab ini dengan jelas Tozer memberi penekanan-penekanan penting bahwa segala pekerjaan dan aktivitas yang (tampak) duniawi bukan berarti tidak rohani.

Segala pekerjaan dan aktivitas manusia dapat menjadi sedemikian rohani karena ia melakukannya sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pemberi Hidup. Dan, hakikat hidup manusia adalah bekerja. “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan,” tulis Paulus. Lalu, Paulus menulis lagi: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Dan lagi, di kitab Pengkhotbah tertulis demikian, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”

Lewat pekerjaannya, Tuhan memberkati kehidupan seseorang. Yang perlu diingat, berkat bukan semata-mata soal materi, namun damai sejahtera dan sukacita yang ada di dalam hati manusia. Hal yang sering disalahpahami oleh beberapa kalangan adalah pada saat Tuhan memberkati hidup seseorang, Ia berarti memberikan banyak harta kepada orang itu. Hal ini tidak selalu benar. Memang, banyak ayat firman Tuhan yang memuat janji-janji Tuhan tentang kelimpahan hidup yang bisa dijadikan acuan bahwa berkat Tuhan dapat diartikan sebagai kelimpahan materi. Tapi ingat, Alkitab juga pernah bercerita tentang Yesus yang mengajarkan kepada seorang muda yang kaya untuk menjual seluruh harta miliknya.

Begitulah, karena pengajaran tentang hidup sukses nan berkelimpahan sudah sedemikian sering disampaikan, beberapa kalangan menganggap hidup yang susah atau menderita sebagai kutukan, dan sukses adalah tolok ukur hidup yang dikenan Allah. Padahal tidak demikian. Kesuksesan pun — kalau dipikirkan lagi — tolok ukurnya begitu bervariasi, walau lebih banyak orang yang mengaitkan sukses dengan harta, kemapanan finansial, dan status sosial yang terpandang.

Alkitab menunjukkan banyak sekali kisah tentang orang yang sama sekali tidak sukses di mata manusia namun hidup mereka penuh dengan kemuliaan Allah. Yeremia di Perjanjian Lama hidup penuh penderitaan hingga akhir hayatnya. Di Perjanjian Baru, Paulus, Petrus, dan banyak rasul lainnya hidup dengan keadaan yang amat sederhana, bisa dibilang melarat, bahkan akhirnya menderita sebagai martir.

Dari sinilah mungkin kita memikirkan kembali: apakah tujuan tertinggi dari pekerjaan atau pelayanan kita?

Tozer menulis dengan sangat baik tentang hal ini: “Bukan apa yang dilakukan seorang manusia yang menentukan apakah pekerjaannya kudus atau sekuler, melainkan mengapa ia melakukannya. Motif adalah segala-galanya. Biarlah seorang manusia menguduskan Tuhan Allah dalam hatinya dan setelah itu ia bisa melakukan perbuatan yang tidak biasa.”

Jadi, sebuah pekerjaan yang kudus, pada akhirnya bukan seberapa tampak rohaninya pekerjaan itu, atau seberapa banyak menghasilkan uangnya pekerjaan itu. Pekerjaan yang kudus berbicara tentang hati yang gembira saat bekerja — juga integritas, damai sejahtera, dedikasi, dan totalitas hidup seseorang di dalamnya.

Berapa pun uang yang Anda hasilkan, Anda bisa menikmati hidup. Anda rajin bekerja, tapi tidak lupa bersyukur. Anda hidup penuh visi, target, dan rencana — tapi tidak melupakan firman Tuhan yang menjaga hati dan menguji niat Anda dalam seluruh hal yang Anda rancang dan kerjakan. Apa pun pekerjaan itu, biarlah melaluinya Anda bisa mempersembahkan pengabdian yang terbaik kepada Allah. (*)

Sidik Nugroho

Pontianak, Agustus 2012

 

Juan Gordillo dan Bruce Wayne

Juan Manuel Sanchez Gordillo adalah walikota dari Marinaleda, Provinsi Andalusia, selatan Spanyol. Namanya tengah diperbincangkan berbagai media karena tindakannya yang heroik. Awal bulan lalu ia memerintahkan rakyatnya tidak membayar tagihan ke bank. Hari ini, Kamis, ia mengerahkan beberapa rakyatnya menjarah dua toko swalayan terbesar di Marinaleda. Hasil jarahan berhasil dibagikan kepada rakyat yang paling miskin. Rakyat Spanyol sekarang banyak yang jadi pengangguran dan mengalami krisis ekonomi.

Membaca berita itu saya jadi teringat film The Dark Knight Rises (TDKR) yang sempat saya tonton tiga kali. Dalam film itu Batman menjadi superhero yang tidak diketahui siapa jati dirinya. Bahkan, di film Batman yang sebelumnya, Batman Begins, ia menampilkan dirinya sebagai orang yang urakan di sebuah acara. Gayanya flamboyan, ditemani dua gadis seksi. Bruce Wayne, sang Batman, selalu menyembunyikan identitasnya.

Dalam TDKR, Batman berkata bahwa semua orang bisa menjadi Batman. Gordillo memilih tampil tak bertopeng, sementara Bruce memilih tampil misterius. Saya lebih menyukai pilihan Bruce untuk selalu tampil misterius — semua nait baik dan semangat juangnya ia sembunyikan. Namun, saya pun belajar memahami mengapa Juan Gordillo tak bisa bertindak sembunyi-sembunyi — ini bukan kisah superhero, Bung!

Pada akhirnya, kepahlawanan seseorang akan diuji dengan publisitas. Pro dan kontra akan muncul. Bruce Wayne meninggalkan jubah kepahlawanannya, mendirikan panti asuhan, dan hidup sederhana. Ia lebih memilih untuk tak dikenang sebagai Batman. Apa yang nantinya terjadi dengan Juan Gordillo? Entahlah. Saya hanya teringat kepada Ralph Waldo Emerson yang suatu ketika pernah menulis, “Semua pahlawan akan membosankan pada akhirnya.”

~ Sidik Nugroho

Dedikasi Guru-guru bagi Anak-anak Cacat

Pada tanggal 5 November 2011 saya berkunjung ke SLB (Sekolah Luar Biasa) Bhakti Luhur. Istilah SLB ternyata sudah diganti dengan SABK (Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus). Hari masih pagi, sekitar pukul delapan. Di hari ini kegiatan pembelajaran tidak sepadat pada hari Senin hingga Jumat, sehingga saya berkesempatan berbincang-bincang dengan beberapa guru dan melihat-lihat kegiatan pembelajaran di SABK ini. Seminggu yang lalu, 29 Oktober 2011, sebenarnya saya sudah berkunjung ke sini, namun hanya sebentar.

Suster Merry, asisten Kepala Sekolah di SABK ini, menemani saya berkeliling ke kelas-kelas, melihat kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Sambil berkeliling dia bercerita kalau pendiri sekolah ini, Romo Yansen, mendirikan sekolah ini karena terilhami perjuangan dan bakti Santo Vincentius, salah satu orang kudus yang dijunjung orang Katolik. Sekolah Bhakti Luhur yang ada di depan Plasa Dieng di Malang ini luas sekali. Di sini ada TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB atau SABK.

***

Guru SABK Bhakti Luhur yang saya ajak bicara pertama kali adalah Ibu Claudia Merry, yang biasa dipanggil Ibu Merry. Ibu Merry berusia 51 tahun. Saat ini dia menjadi guru kelas di kelas tunarungu (bisu-tuli) tingkat TK B. Dia sudah mengajar sejak tahun 1984. “Saya ingin menjadi guru sejak kecil. Bapak saya seorang guru,” katanya kepada saya.

Dia bercerita bahwa mendidik anak-anak bisu-tuli memerlukan kecakapan khusus. Anak-anak tunarungu harus dihadapi lebih sabar dan lebih teliti. Konsentrasi yang diperlukan untuk mendidik seorang anak tunarungu juga tinggi. Belum lagi kalau ada anak yang mogok belajar, dan kadang bertingkah semaunya.

Selama mendidik anak tunarungu, Ibu Merry memiliki banyak pengalaman yang mengesankan. Salah satunya adalah ketika ia mendapat seorang murid bernama Jorei. Waktu pertama kali Jorei masuk sekolah, dia sama sekali tidak mau belajar. Hampir setiap hari dia hanya tidur pagi sampai siang. Susah untuk membangkitkan semangat belajarnya. Namun, Ibu Merry pantang menyerah. Salah satu cara yang ditempuh Ibu Merry adalah dengan menyalakan lampu seterang-terangnya saat belajar. Karena, dalam keadaan gelap, si Jorei akan mudah mengantuk. Cara lain adalah dengan membuat banyak alat peraga yang merangsang anak untuk belajar. Karena anak-anak di sini konsentrasi belajarnya tidak seperti anak normal.

Jorei yang bisu, tuli, dan low vision (berkemampuan melihat rendah) pada akhirnya berhasil digerakkan motivasi belajarnya. Jorei sangat menyayangi Ibu Merry. Suatu ketika Ibu Merry sakit, dan harus dioperasi kista-nya di rumah sakit. Hampir sebulan Jorei tidak bertemu dengan guru kesayangannya itu. Begitu mereka bertemu, Jorei memeluk Ibu Merry.

“Menjadi guru di sini adalah bentuk pengabdian dan pelayanan saya, Mas,” katanya kepada saya. Ibu Merry bercerita kalau murid-murid yang ada di SABK ini tidak sedikit yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. “Bahkan ada yang dulunya di jalanan, kemudian dibawa ke sini, Mas. Dengan latar belakang seperti itu, saya otomatis tidak terlalu memikirkan gaji. Menjadi pengajar sudah menjadi semacam panggilan.”

***

Guru kedua yang saya temui adalah Ibu Yustina Rini, yang sering dipanggil Ibu Yustina. Ia sudah berusia 39 tahun, mengajar di sini sejak 1993. Ibu Yustina menjadi wali kelas D3 (Dasar tingkat 3).

Hal yang membuat Ibu Yustina tergerak menjadi guru SLB sungguh menarik.

Keluarga Ibu Yustina tidak ada seorang pun yang menjadi guru. Suatu hari — saat itu ia masih SMA — ia tertarik dengan kehidupan seorang anak di desanya, desa Gampang Lor, Ambar Ketawang, Yogyakarta. Anak ini tunarungu, dan ia tidak bisa belajar seperti anak-anak lainnya. Orang tua anak itu bekerja sebagai tukang bengkel.

Ibu Yustina mencoba mengajari anak ini semampunya, lalu anak itu masuk ke sebuah SLB. Setelah tamat SMA, Ibu Yustina bertekad mengajari anak-anak tunarungu sebanyak-banyaknya. Orang tua dan keluarganya sempat menyarankan ia mengambil pendidikan yang umum saja, untuk anak-anak normal. Namun, Ibu Yustina bersikeras. “Saya rasa sudah banyak orang yang mendidik anak normal,” katanya, “dan masih sedikit yang mau mendidik anak-anak tunarungu.”

Ia pun masuk ke SPGLB (Sekolah Pendidikan Guru Luar Biasa) di Wates, Yogyakarta. Mejelang lulus, ada tawaran untuk mengajar di Malang. Di sinilah ia sekarang berada, bersama dengan anak-anak didiknya. Ia bercerita kalau anak-anak muridnya digolongkan bukan berdasarkan usia, namun kemampuan yang mereka miliki. Ada anak yang sudah berusia 15 tahun, tapi masih di kelas D3. Hal ini terjadi karena orang tuanya terlambat memasukkan anaknya ke sekolah.

“Sekarang, tetangga saya yang tunarungu itu sudah punya suami, Mas,” katanya kepada saya. “Tiap kali saya pulang ke Yogya, ia selalu menemui dan menyalami saya. Dia sekarang menjadi tukang jahit, dan anaknya sudah dua orang.”

Salah satu pengalaman Ibu Yustina yang amat menggugah adalah ketika ia mendapat seorang murid bernama Diar. Diar memiliki sakit jantung sejak lahir. Berdasarkan pemeriksaan dokter, jantungnya harus dioperasi. Orang tua Diar membawanya ke rumah sakit Harapan Kita, Jakarta. Ibu Yustina terkesan dengan semangat belajar Diar. Di rumah sakit pun, Diar tetap bersemangat belajar. Ibu Yustina sampai pergi ke Jakarta juga untuk menemani dan membimbing Diar belajar.

Operasi Diar berjalan dengan baik, sekarang ia sudah duduk di kelas D6 (Dasar tingkat 6). “Salah satu tantangan yang terbesar mendidik anak-anak di sini adalah membiasakan mereka berbahasa oral (lewat mulut). Oleh karena itu saya membatasi penggunaan bahasa isyarat,” kata Bu Yustina. Ia memperkenalkan huruf-huruf kepada mereka, dan mengajak mereka melihat gerakan bibirnya saat mengucapkan huruf-huruf itu.

***

Setelah berbincang-bincang dengan dua guru di kelas tunarungu tadi, saya diajak Suster Merry bertemu dengan Ibu Lusiana (Ibu Lusi) dan Ibu Ana Tri Astuti (Ibu Ana). Ibu Lusi berusia 43 tahun, sudah menjadi guru sejak tahun 1992. Ibu Ana berusia 38 tahun dan sudah menjadi guru sejak 1995. Mereka berdua adalah guru di kelas tunagrahita.

“Pada intinya, anak-anak tunagrahita adalah anak-anak yang slow learner,” kata Ibu Lusi. “IQ mereka umumnya di bawah 80.”

Anak-anak tunagrahita ada yang menggunakan kursi roda sepanjang waktu. Ada yang berjalan lambat dan tertatih-tatih. Ada juga yang raut wajahnya unik. Beberapa anak di sini juga ada yang tergolong down syndrome. Tak sedikit anak-anak tunagrahita yang susah diatur, sangat nakal. “Mengajari mereka sangat memerlukan ketelatenan. Apa yang diajarkan harus sering diulang-ulang,” kata Ibu Ana.

Ibu Lusi dan Ibu Ana sama-sama menegaskan kalau mengajari anak-anak tunagrahita harus kreatif dan inovatif. Anak-anak normal mungkin betah bila diberi ceramah 15-20 menit, namun tidak demikian dengan anak-anak ini. “Tantangannya terutama dalam menciptakan alat peraga yang menarik sehingga anak-anak ini bisa diajak berpikir,” kata Ibu Ana.

Sama seperti Ibu Lusi, Ibu Ana juga menyatakan dia selalu memikirkan cara agar target pembelajaran tercapai. “Kadang, bila suatu materi susah dipahami, saya selalu memikirkan alat peraga apa yang pas dipakai untuk anak-anak. Kadang, sampai rumah pun masih terus saya pikirkan.”

***

Hari semakin siang. Saya sangat senang dengan apa yang saya temui dan alami hari ini. Suster Merry yang menemani saya akan pergi ke Blitar, ke sebuah desa kecil untuk melakukan tugas-tugas pelayanan edukasi dan gerejawi. Saya menyempatkan diri mengambil foto-foto di SABK Bhakti Luhur. Kira-kira jam sebelas siang, saya meninggalkan sekolah ini.

Selalu ada sisi menarik dari dunia pendidikan, selalu ada suka-duka di dalamnya. Para guru selalu memiliki kisah yang inspiratif saat mendidik dan mengajar para muridnya. Begitu pula para murid dalam menempuh pendidikan — selalu ada murid yang semangat hidup dan kegigihannya menginspirasi banyak orang. Para guru dan murid ini hidup melampaui batas-batas penghalang, berupaya menempuh pendidikan karena keyakinan akan adanya hari depan yang lebih baik. (*)

Nenek, Kue-kue, dan Cucunya

Hingga sekarang, saya selalu bersyukur bisa hadir dalam pertemuan family altar (ibadah keluarga) di rumah bapak Johnny, seorang aktivis di Gereja Bethel Indonesia El Shaddai, Pontianak pada Jumat lalu, 3 Agustus 2012. Ini kali pertama saya ikut ibadah keluarga di Pontianak setelah ampir dua bulan saya ada di sini.

Pada kesempatan itu, seorang bapak yang turut hadir, bernama Pak Ricky, membawa beberapa kue untuk kami santap setelah ibadah. Dia membawa dua jenis kue: bakpau dan pastel.

Bakpau itu ada yang berisi kacang tanah, ada juga yang berisi bengkuang. Pastelnya ada yang berisi bengkuang, ada yang berisi bihun. Pak Ricky membawa makanan itu untuk mensyukuri seorang anaknya yang diterima di SMA 3 Pontianak dan seorang anaknya yang naik kelas 4 SD. Kami semua bersukacita bersama keluarga Pak Ricky yang tengah gembira. Kami yang ada di situ juga sangat menyukai bakpau dan pastel yang dibawanya.

Bakpau dan pastel yang dibawa Pak Ricky rasanya sangat enak. Saya paling suka dengan bakpau dan pastel yang berisi bengkuang. Kedua kue itu bila dimakan dengan sambal cair, rasanya benar-benar maknyus.

Dan, kami semua terheran-heran, bakpau dan pastel yang enak-enak itu, semuanya dijual dengan harga yang murah — per buah Rp500,00 saja.

Cerita pun berlanjut tentang siapa yang membuat bakpau dan pastel itu. Pak Ricky bercerita bahwa bakpau dan pastel itu dibuat oleh seorang nenek yang usianya sudah sangat lanjut, 70 tahun lebih. “Tiap hari dia selalu bangun saat hari masih gelap, menyiapkan semua dagangannya yang dijual door to door,” kata Pak Ricky.

Pak Ricky kemudian bercerita kalau nenek itu menjual dagangannya door to door karena menghindari persaingan dengan sesama pembuat dan penjaja kue. “Kalau kue-kue ini dititipkan di warung, kue-kue lain yang juga dititipkan tentu akan kalah saing. Kue buatan nenek ini harganya murah, rasanya enak. Nah, nenek itu sadar akan kelebihannya, dia pun mencari cara lain, menjualnya door to door,” kata Pak Ricky.

Pak Ricky mengisahkan kalau nenek tua ini, walaupun badannya sudah ringkih, tetap tampak penuh semangat ketika menjajakan kue-kuenya. Ia tampak penuh sukacita dan pengharapan. Ia dikasihani karena usianya yang renta, tapi sekaligus sangat dihormati karena kue-kuenya yang enak.

Tiap hari sang nenek membawa dua keranjang — masing-masing di tangan kanan dan kirinya — menjajakan dagangannya kepada para tetangga dan langganan. Ada beberapa langganannya yang sangat menyukai kue-kue itu. Bila bertemu dengan nenek ini, mereka akan membeli banyak kue.

Perjuangan nenek ini yang hingga sekarang selalu gigih membuat dan memasarkan kue-kue itu, ternyata sangat menggugah.

Beberapa tahun yang lalu, anaknya melahirkan seorang bayi dari hasil percintaannya dengan seorang pria. Namun, pria itu meninggalkan kekasihnya tak lama setelah bayi mereka lahir. Ibu si bayi mendapatkan kekasih lain yang kemudian menjadi suaminya.

Saat bayi itu masih berusia lima bulan, ibu bayi itu memutuskan untuk ke Taiwan, mengikuti suaminya. Si bayi tidak diajak turut serta, ditinggal bersama sang nenek. Sejak ia berusia lima bulan, hingga sekarang sudah kelas 3 SMP, si nenek itulah yang merawatnya. Nenek itu membesarkannya dan menyekolahkannya dengan uang yang didapatkannya dari menjual kue-kue itu.

Saya tidak tahu apakah ibu si bayi sudah mulai memberikan bantuan dana kepada si nenek untuk menyekolahkan anaknya. (Pada kesempatan lain saya akan mencaritahu tentang hal ini.) Yang jelas, ibunya belum pernah pulang sejak ia meninggalkan sang nenek dan anaknya yang masih berusia 5 bulan. Dan, nenek ini bukanlah orang yang kaya — ia dikenal hidup sederhana oleh orang-orang di sekitarnya dan Pak Ricky.

Merenungkan perjuangan kehidupan sang nenek, saya jadi teringat sebuah pernyataan C.S. Lewis, seorang penulis. Ia pernah menyatakan hal ini: “Engkau tidak akan pernah tahu seberapa besar kepercayaanmu mengenai sesuatu hal sampai hal itu menjadi masalah antara hidup dan mati.” Nah, membuat kue-kue yang enak mungkin hanya hal sepele bagi sebagian orang — mungkin sebuah pekerjaan sambilan.

Tapi, ada kalanya kue-kue yang enak lahir dari sebuah pergulatan — antara hidup dan mati. (*)

Pontianak, 6-7 Agustus 2012

Himne Guru: Inspirasi dari Guru yang Ketiban Sial

Hari masih pagi, belum pukul 07.00. Suasana tahun baru masih terasa di beberapa bagian kota Surabaya. Pagi itu, Sabtu, tanggal 14 Januari 2012, terminal bis Bungurasih di Surabaya tidak begitu ramai. Saya santai sejenak di warung kopi sebelum menumpang sebuah bis Sumber Kencono yang hendak menuju ke Madiun.

Kepergian saya ke Madiun adalah untuk menemui Pak Sartono, pencipta lagu Pahlawan tanpa Tanda Jasa yang lebih dikenal sebagai himne guru. Sebelum hari itu, kami pernah bertemu dalam sebuah acara. Ibu Tiwi, pendamping Pak Sartono, yang juga adalah adik iparnya, mengisahkan masa lalu Pak Sartono sebagai guru. Pak Sartono kini sudah sering tidak fokus dalam berbicara — kadang omongannya melantur atau diulang-ulang.

Ibu Tiwi menyatakan, “Tiga puluh tahun lagu himne guru diciptakan, namun baru akhir-akhir ini Pak Sartono mendapat perhatian dari banyak pihak. Pak Sartono semakin sering diundang ke sana kemari, menjadi narasumber untuk berbagai acara pendidikan. Namun, beliau ini tidak bisa berbicara dengan lancar karena faktor usia. Oleh karena itu, saya sering mendampingi beliau.”

***

Perjalanan saya ke Madiun cukup lancar dari Surabaya — hampir 6 jam. Saya sampai di terminal Madiun tengah hari. Di sana saya bertemu dengan tukang ojek yang bernama Suprapto, yang biasa dipanggil Pak Prapto. Saya mengajaknya berbincang-bincang mengenai kota Madiun. Saya kemudian menjelaskan kedatangan saya, mau bertemu dengan Pak Sartono, pencipta himne guru.

“Saya kelihatannya pernah tahu tentang beliau, Mas, tapi agak lupa,” kata Pak Prapto ketika saya bertanya kepadanya mengenal Pak Sartono atau tidak.

Saya pun dibawa ke alamat Pak Sartono, di jalan Halmahera No. 98. Rumah Pak Sartono berada di ujung jalan itu, tak jauh dari pemakaman umum. Rumahnya sederhana, usianya sudah puluhan tahun. Rumah itu warisan dari orangtua Pak Sartono. Saya disambut ramah oleh Pak Sartono, istrinya, dan Ibu Tiwi. Ibu Tiwi telah menyiapkan rujak dan es tape untuk saya.

Image
Saya seperti berada di tengah-tengah orang yang sudah lama saya kenal. Saya tak merasa asing. Saya mengajak Ibu Tiwi dan Ibu Damiati berbincang-bincang. Pak Sartono duduk di sebuah kursi, mendengarkan apa yang kami bicarakan. Pak Sartono selalu tersenyum, sekali-sekali ia mengangguk-angguk. Ibu Damiati sangat senang dengan kunjungan saya. Ia mengisahkan banyak cerita tentang Pak Sartono dan dirinya sendiri. Saya berada di rumah itu hampir tiga jam.

Ibu Damiati dan Ibu Tiwi juga menunjukkan foto-foto keluarga Pak Sartono pada masa lalu. Beberapa penghargaan yang diterima oleh Pak Sartono, naskah asli lagu himne guru, beberapa kenangan dan cinderamata, dan beberapa foto lainnya dipajang di ruang tamu itu. Suasana siang itu di Madiun sangat menyenangkan untuk sebuah pembicaraan.

Sambil menikmati rujak yang disuguhkan, saya berbincang-bincang dengan Ibu Damiati dan Ibu Tiwi. Cuaca sedang panas pada kunjungan pertama ini. Pada siang itu, berbagai peristiwa dan kenangan masa lalu dikisahkan kembali oleh Ibu Damiati kepada saya. Beberapa foto Pak Sartono dan Ibu Damiati juga ditunjukkan kepada saya.

***

Pada waktu remaja dan sekolah Pak Sartono mendirikan grup musik bersama teman-temannya. Lagu-lagu yang sering mereka nyanyikan adalah keroncong. Sartono sering memainkan gitar di dalam grup keroncongnya.

Masa-masa sekolah berlalu, Sartono kemudian bekerja di Lokananta, sebuah perusahaan rekaman musik, pembuat piringan hitam. Dari situ minat dan kecintaannya terhadap musik kian bertumbuh. Grup band yang ia dirikan bersama teman-temannya suatu ketika mendapat tugas dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) karena Sartono dimasukkan dalam korps musik TNI. Tugas tersebut adalah menghibur para tentara yang akan berangkat perang di Irian Barat.

Tugas itu diberikan kepada Sartono dan grup musiknya pada tahun 1963. Saat itu, bangsa Indonesia tengah berjuang membebaskan Irian bagian barat yang diklaim oleh Belanda sebagai miliknya. Presiden Soekarno, dua tahun sebelumnya, tepatnya pada 19 Desember 1961, mencetuskan Operasi Trikora yang bertujuan untuk merebut kembali wilayah tersebut.

Selama tiga bulan Sartono ada di Irian, menghibur para tentara yang akan melaksanakan tugas negara. Ia kembali lagi ke Madiun setelah tugas itu. Saat kembali ke Madiun, harapannya untuk mendapat kesempatan bekerja sebagai TNI atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak kesampaian. Beberapa temannya yang ikut dalam korps musik di TNI diangkat menjadi TNI, namun ia tidak.

“Pak Sartono tidak diangkat karena dia tidak punya koneksi, Mas. Orang yang tidak punya koneksi pada zaman dahulu susah untuk menjadi TNI atau PNS,” kata Damiati, istrinya. Sartono tetap bermain musik bersama teman-temannya untuk mencari nafkah. Ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun.

“Pak Sartono pernah kerja di bioskop, mengurusi bagian reklame bioskop. Ia juga pernah juga bekerja di PT. Mitrako di Magetan. Waktu kerja di Mitrako, kesejahteraan cukup baik. Perusahaan itu milik orang-orang Tionghoa. Di sana Pak Sartono bisa makan enak,” kata Damiati.

Saat bekerja di Mitrako, Sartono juga terus menekuni musik. Ia mahir memainkan kulintang, saksofon, dan gitar. Ia sempat menciptakan beberapa lagu, memberi les musik kepada beberapa orang. Ia kadang juga menjadi juri kalau ada lomba menyanyi, paduan suara, atau musik. Saat-saat inilah ia bertemu dengan Damiati. Sartono bermain musik, Damiati bernyanyi — mereka sering tampil sepanggung. Rasa saling menyukai pun tumbuh di antara keduanya. Sartono dan Damiati menikah pada tahun 1971.

Dengan modal kemampuan bermusiknya itu, Sartono berhasil mendapat pekerjaan mengajar di SMP Purna Karya Bhakti, yang lebih dikenal dengan nama SMP Katolik Santo Bernardus. Ia mengajar tiga kali seminggu. Sartono mengajar musik, juga vokal atau paduan suara. Ia bisa bekerja di sana karena Damiati, istri Sartono yang beragama Katolik, mengenal dengan baik salah satu suster di situ. “Saya dulu waktu sekolah tinggal di asrama. Nah, kebetulan saya kenal dengan salah satu suster. Suster itulah yang meminta Pak Sartono untuk mengajar di sekolah itu. Walaupun Pak Sartono beragama Islam, tidak masalah. Sartono pun mulai resmi mengajar di sekolah itu pada tanggal 1 Januari 1978,” kata Damiati.

Sambil mengajar di SMP Santo Bernardus, Sartono juga mengajar anak-anak TK Perhutani di Nganjuk bermain kulintang. Pada suatu perjalanan ke Nganjuk untuk mengajar, tahun 1980, ia membaca pengumuman lomba menciptakan himne guru di sebuah koran. Ia membaca pengumuman itu di dalam bis: ada sayembara mencipta lagu himne guru yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Nasional!

Ia tertarik mengikuti lomba itu. Hadiahnya amat besar di masa itu, Rp750.000. Dalam perjalanan pulang Pak Sartono menggumamkan nada-nada yang nantinya akan ia tuliskan. Di sepanjang perjalanan, bahkan sampai tiba di rumah, ia sama sekali tak mendapat ide untuk menuliskan kata demi kata dalam lagu itu.

Saat menuliskan lagu itu, tenggat waktu yang ditetapkan panitia lomba tinggal dua minggu. Dengan bantuan istrinya, yang mengisahkan kehidupan seorang guru yang dikenal baik oleh mereka berdua, akhirnya lagu itu pun jadi. Penciptaan lagu itu ternyata diilhami oleh seorang rekan guru yang dikenal oleh Pak Sartono bernama Suroyo, atau kerap dipanggil Pak Royo.

Pak Royo suatu ketika mengalami kesusahan ekonomi akibat sebuah musibah yang menimpa keluarganya, hartanya habis dirampok orang. Setelah ketiban sial ia pun mengamen sambil tetap mengajar. Perjuangannya mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup kemudian dituangkan pak Sartono dalam lirik lagu Pahlawan tanpa Tanda Jasa atau himne guru.

Namun, persoalan lain datang. Ketika hendak mengirimkan lagu itu ke Jakarta, Pak Sartono tidak memiliki cukup uang. Pak Sartono pun pergi ke toko yang menerima lungsuran pakaian bekas, menjual pakaiannya. Uangnya dipakai untuk membeli perangko.

Pahlawan tanpa Tanda Jasa akhirnya terpilih menjadi himne guru setelah melalui serangkaian seleksi yang ketat. Pak Sartono mendapat hadiah dan penghargaan. Lagu itu mulai dinyanyikan di sekolah-sekolah di tanah air — dari Sabang sampai Merauke. Himne guru terdengar di segenap penjuru negeri.

Kehidupan Pak Sartono tak serta-merta berubah drastis. Ia tetap menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta di Madiun. Kisah hidup Pak Sartono sarat dengan pengabdian dan kreativitas. Banyak lagu yang ia ciptakan di sela-sela kesibukannya. Istrinya tetap menjadi guru dan seniwati yang giat berkesenian. Pak Sartono berhenti mengajar di SMP Bernardus pada tanggal 30 Juni 2002. Gaji terakhir yang diterima Sartono di situ Rp60.000 sebulan.

“Pak Sartono itu orang yang penurut, tak suka menuntut. Ia nrimo. Tapi, bukan berarti pasrah begitu saja dan menyerah dengan kehidupan yang serba susah di zaman itu,” kata istrinya. Menjelang sore, rumah yang sederhana itu saya tinggalkan. Sepanjang jalan pulang saya merenung, inspirasi apakah yang akan datang di dalam benak saya saat berada di dalam bis? (*)

Sidik Nugroho, guru SMA St. Petrus Pontianak dan penulis lepas.

Dari Jendela Karya

Beralaskan hijau, aksara mengetuk sebingkai bening.
“Perkenankan saya untuk masuk.”

Ia masih menunggu, menghitung kecambah tumbuh.

Bingkai diam, tak hendak bergerak.
“Apa kau lupa sandi?”

Aksara bingung,
mengapa pohon tak patahkan reranting sebagai kode.
“Apakah sandi itu berupa kata?”

Seketika kaca menggeser dedaun,
aksara menepis tiap rimbun, gugur.
“Ijinkan saya mengajak tanda baca?”

Tak terduga, derit semakin derak.
Tak ada udara yang berdesir, masuk.

Layaknya pagar, mengitar. Tiada silah.
“Setidaknya, sediakah kau menjaga embun?”

Aksara hanya menanti, percikan.

13.13 — 04.03.2012

(Pak Guru, hari ini kita belajar apa?)

Terinspirasi dari tulisan berjudul Mulailah (hal.212 -26 Juli-366 Reflections of Life karya Sidik Nugroho): “Inspirasi tidak hanya datang dari perenungan, tetapi juga tindakan.”

Secuil Pandangan Pribadi tentang Rokok

“Ketika penderitaan saya yang besar dilegakan, otak saya yang lelah dipulihkan, dan tenang, bisa tidur nyenyak sehabis merokok, saya bersyukur kepada Tuhan, dan memuliakan nama-Nya.”
~ Charles H. Spurgeon

Pendeta merokok? Sebagian kalangan Nasrani mungkin akan mencak-mencak membaca kutipan di atas itu. Apalagi, Spurgeon amat termasyhur di zamannya. Orang menjulukinya “raja pengkhotbah dari Inggris”. Tak hanya Spurgeon. C.S. Lewis, penulis terkenal itu terkenal suka merokok dan menghisap pipa bertembakau. J.R.R. Tolkien, sahabatnya, juga penulis legendaris, setali tiga uang.

Saya dulunya sangat membenci rokok. Apalagi pada saat SMA, saat saya bergabung dengan sebuah gereja yang benar-benar “mengharamkan” rokok. Ayat andalannya, tentu, 1 Korintus 3:16 — tubuh kita adalah bait Allah, dan kita harus menjaganya sebaik mungkin.

Pandangan saya tentang rokok mulai berubah saat saya melaksanakan KKN, 20 April-20 Juni 2004 di desa Gadingkulon bersama 18 teman saya. Kebetulan, 18 teman saya sepakat, menjadikan saya Kordes (Koordinator Desa) dalam pelaksanaan program-program KKN kami. Karena hal ini, mau tak mau saya jadi sering bertemu dengan para aparat desa, membahas program KKN. Saya juga sering berinteraksi dengan warga desa yang mayoritas adalah petani jeruk.

Tiap mampir ke rumah warga, rokok dan kopi dihidangkan. Ada pertemuan membahas program, rokok dan kopi juga dihidangkan. Kumpul-kumpul dan nongkrong dengan para pemuda desa, rokok dan kopi selalu ada. Kebersamaan saya dengan orang-orang desa ini membuat saya pun akhirnya mencoba merokok.

Saya menikmati saat-saat itu. Di desa yang berada pada ketinggian sekitar 700-800 meter di atas permukaan laut itu, saya suka merokok sambil menikmati pemandangan lampu-lampu kota Malang yang terbentang begitu indah pada malam hari. Hampir tiap malam kami membakar jagung, membuat api unggun, ngopi, dan merokok. Pokoknya gembira.

Beberapa tahun setelah KKN, kebiasaan merokok saya masih ada. Sekarang, saya termasuk orang yang kadang merokok, kadang tidak. Saya tidak pernah merasa kecanduan. Saya pernah menghabiskan lima batang rokok sehari, namun pernah juga tidak merokok sama sekali dalam dua bulan.

***

Seorang dokter yang juga penulis buku, Clifford R. Anderson, menyatakan bahwa jika kita hidup hingga berusia 70 tahun, maka makanan yang kita konsumsi beratnya sekitar 1400 kali berat badan kita. Kenyataan ini membuat kita sepantasnya merenung: makanan apa saja yang sudah kumakan hingga kini?

Bila makanan seberat 1400 kali berat badan kita itu ditukar dengan uang, jumlahnya tentu akan sangat besar — apalagi bila makanan itu berasal dari restoran-restoran kelas dunia. Tapi, justru mungkin selama ini kita jarang pernah berpikir bahwa makanan — apalagi yang mahal — juga dapat menjadi masalah.

Kembali pada rokok. Sebagian kalangan (saya rasa bukan hanya orang Nasrani) menganggap mengonsumsi rokok adalah dosa — hampir disejajarkan dengan narkoba dan minuman keras. Tapi, ingatlah bahwa kita hendaknya menjaga tubuh bukan hanya dengan menjauhi rokok, narkoba, dan minuman keras. Lemak yang berlebihan, jeroan, juga konsumsi berlebihan terhadap makanan-makanan instan juga sama berbahayanya. Karena itu, ketika suatu hari mendengar seorang pendeta berkata bahwa seorang perokok tidak lebih berdosa daripada seorang penggila jeroan, saya yakin pendeta itu benar.

Dari perbincangan dan kebersamaan saya dengan beberapa petani di desa waktu saya KKN dulu, saya pun menawarkan fakta ini: para petani laki-laki bisa dikatakan semuanya merokok. Namun, mengapa usia mereka panjang dan tubuh mereka sehat? Inilah yang mungkin perlu digarisbawahi: mereka melakukan aktivitas fisik yang tidak dilakukan para perokok di perkotaan. Mereka bekerja keras, bercocok tanam — melakukan banyak aktivitas pertanian yang notabene juga menyehatkan badan. Sementara, di perkotaan, kebanyakan orang merokok sambil nongkrong, ngopi, bekerja di depan komputer, melihat televisi, dan lain-lain — yang pada intinya bukan merupakan aktivitas fisik yang menyehatkan badan.

Apa yang saya sampaikan soal kebiasaan merokok di desa dan di kota bukanlah hasil penelitian. Seperti judulnya, tulisan ini adalah pandangan pribadi saya. Siapa pun dapat mempertarungkan hasil penelitian yang pro dan kontra soal bahaya rokok.

Mohamad Sobary baru-baru ini menulis “Ideologi di Balik Rokokku”. Tulisan yang cukup provokatif itu hendak menawarkan gagasan penting, bahwa gerakan, wacana, ataupun kebijakan pemerintah yang bersifat anti rokok (terutama rokok kretek) diboncengi berbagai kepentingan. “Gerakan itu alur rasionya demi kesehatan lingkungan. Tapi tak tahukah mereka, bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?” tulisnya. Di akhir tulisannya, ia menyuguhkan hasil penelitian tentang manfaat positif kretek bagi kesehatan.

***

Rokok. Barang kecil itu menantang kedewasaan kita berpikir dan memperlakukan orang lain. Seperti saya di masa lalu, tidak sedikit orang yang membatasi diri mengenal orang lain lebih jauh hanya karena melihat orang lain itu merokok. Merokok menjadi sekat yang membatasi hubungan antar manusia.

Sekarang, bandingkanlah dengan asap kendaraan bermotor kita hirup setiap hari. Kendaraan bermotor yang kita miliki atau tumpangi pun terbiasa “menghembuskan” asapnya setiap hari untuk — secara tidak sadar — dihirup orang lain. Mungkin, kita tidak menyadari bahwa asap itu juga sama berbahayanya dengan asap rokok. Sementara, dari hari ke hari kendaraan kian tumpah-ruah di jalan. Polusi udara dan kemacetan menjadi biang stres.

Jadi, bila Anda sampai sekarang masih membenci orang lain hanya gara-gara dia merokok, dan Anda sekarang selalu bepergian dengan kendaraan bermotor, akan lebih adil bila Anda bersedia jalan kaki, naik becak, atau bersepeda ke mana-mana. (*)

Sidoarjo, 18 April 2012

Leo Tolstoy vs Sidik Nugroho

Oleh: Fikrul Akbar Alamsyah*)

Rasa-rasanya, beberapa orang tertentu akan mengerutkan kening jika membaca judul di atas. Penggemar dunia tulis-menulis ataupun penggemar kegiatan membaca akan mempertanyakan apa kaitan antara Tolstoy dan Bung Sidik, apa alasan yang tepat untuk “mengadu” antara kedua orang tersebut. Pertanyaan-pertanyaan lain pun bisa muncul di tiap benak orang yang menyempatkan untuk membaca atau sekadar sekilas melihat judul tulisan ini.

Sebelumnya akan saya coba untuk menunjukkan beberapa alasan yang menunjukkan mengapa saya “mengadu” antara kedua penulis di atas. Berikut saya sampaikan poin demi poin:

Saya memiliki hasil karya dari kedua penulis tersebut, sehingga rasa-rasanya ingin saya bandingkan dari kacamata pembaca awam. Jika Tolstoy memiliki karya berjudul “Kalender Kata-Kata Bijak”, maka Bung Sidik memiliki karya berjudul “366 Reflections of Life”.

Selain karena saya memiliki karya kedua orang tersebut, kebetulan genre dari buku yang saya miliki di antara dua penulis tersebut sama, yaitu berada pada ranah nonfiksi/pengembangan diri/psikologi/inspirasi, atau jika benar-benar dicari kata yang pasti adalah pada ranah refleksi diri.

Alasan ketiga adalah: kedua penulis tersebut, keduanya mendasarkan atas hitungan hari dalam satu tahun untuk memberikan refleksi diri, yang mana pada tiap harinya diberikan sebuah tema.

Keempat, sedikit mengada-ada akan tetapi cukup signifikan juga jika dijadikan alasan: ketebalan dua buku ini hampir sama tapi tidak benar-benar sama — yang pertama 376 dan yang kedua 384. Mungkin persamaan ini juga berdasarkan atas hitungan hari dalam satu tahun sehingga muncullah jumlah pada kisaran yang saling mendekati.

Selain itu sebenarnya ada beberapa alasan lain mengapa saya “mengadu” dua buah buku ini, tetapi tidak begitu penting dirasa sehingga cukup empat hal di atas yang cukup signifikan untuk ditampilkan.

Rasanya dapat saya mulai komparasi dari kedua buku karya dua penulis di atas, dan akan saya sampaikan secara mengalir, bukan poin demi poin.

Pada karya Tolstoy, setiap hari disampaikan sebuah tema akan hal tertentu — begitu juga pada karya Bung Sidik. Akan tetapi, perbedaannya adalah: jika Tolstoy memberikan beberapa kata-kata bijak, maka Bung Sidik hanya memberikan satu buah kata-kata bijak saja. Meski begitu, pada karya Tolstoy tidak terdapat “pengantar” untuk menjelaskan/memperkuat kata-kata bijak yang disampaikan untuk hari itu. Berbeda dengan Bung Sidik, pada tiap tema untuk kata-kata bijak yang akan disampaikan terdapat semacam pengantar atas kata-kata bijak yang ia sampaikan untuk tiap harinya sehingga seakan-akan dijelaskan “Ashbabun Nuzul” atas disampaikannya kata-kata bijak untuk hari itu.

Pada karya Tolstoy kita dapat menerjemahkan secara bebas apa yang sedang kita baca pada hari itu sehingga di satu sisi dapat menghasilkan penafsiran yang begitu luas atas pemaknaan yang telah dibaca. Hal ini bagi saya dapat memberi hal baik dan buruk terhadap refleksi diri. Baik karena akan membebaskan pikiran dalam rangka pemaknaan, buruk karena apa yang ingin disampaikan Tolstoy rawan terbelokkan atas pemaknaan pembaca yang bisa saja luas ataupun sempit.

Saat membaca Pendahuluan dari Tolstoy maka ia menyampaikan bahwa kutipan kata-kata bijak yang ia cantumkan dapat berasal dari berbagai sumber sekaligus berasal dari penafsiran Tolstoy sendiri atas berbagai kutipan yang sumbernya beragam pula. Pada karya bung Sidik, ia tampaknya juga memperoleh sumber dari berbagai kutipan orang-orang penting, akan tetapi yang spesial dari Kata Pengantar yang bung Sidik sampaikan yaitu adanya semacam — kalau boleh dibilang — SOP (Standar Operating Procedure) untuk membaca karyanya, yaitu: kapan dan bagaimana sebaiknya bukunya dibaca.

Pada karya Tolstoy, sejauh saya membaca, rata-rata ia mendasarkan temanya pada kemanusiaan, ketuhanan yang universal, kejujuran, dan kesederhanaan. Ada sebuah kutipan dari Tolstoy yang cukup sederhana tapi bermakna yaitu: “Satu-satunya makna kehidupan adalah mengabdi pada kemanusiaan.” Makna dari kata-kata bijak yang ia sampaikan cukup dalam dan seperti yang saya sampaikan di atas untuk pemaknaan dapat sangat luas.

Sedangkan pada buku Bung Sidik, juga dicantumkan kutipan kata-kata bijak yang bermakna dalam, akan tetapi “pengantar” yang disampaikan cukup sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari bahkan mungkin tidak jauh berbeda dengan pengalaman sehari-hari dari masyarakat umum Indonesia. Sebelum kegiatan banding-membandingkan antara dua buah karya ini semakin jauh, ada baiknya saya cukupkan sampai sekian saja. Ada kekhawatiran: semakin dalam kegiatan banding-membandingkan ini saya lakukan, semakin berpeluang saya terjebak dalam mana yang lebih baik dan mana yang lebih kurang baik. Yang pasti, dua karya ini layak dikonsumsi untuk memperluas refleksi diri terhadap fenomena pengalaman manusia yang niscaya tidak dapat kita jalani semua.

Malang, Minggu 8 April 2012

*) Dosen di Universitas Brawijaya dan aktivis di Forum Penulis Kota Malang