Category Archives: Resensi

Perjuangan Hidup di Samudera Pasifik

Judul film: Life of Pi | Sutradara: Ang Lee | Pemain: Suraj Sharma, Irrfan Khan, Adil Hussain | Asal, Tahun: AS, 2012

Akhirnya, saya mendapat kesempatan untuk menonton film yang sudah saya nanti-nantikan sejak berbulan-bulan lalu. Saya mungkin adalah salah satu dari sekian banyak orang yang terkesan dengan novel “Kisah Pi” karya Yann Martel. (Novel “Kisah Pi” pernah saya ulas dalam sebuah tulisan, di sini:http://tuanmalam.blogspot.com/2010/07/perayaan-yang-megah-atas-hidup.html.)

Novel “Kisah Pi” karya Yann Martel diadaptasi dengan visualisasi dan plot yang sangat menawan. Secara keseluruhan, Ang Lee, sang sutradara, berhasil “menerjemahkan” novel ini menjadi sebuah film yang indah, seru, sekaligus mengharukan.

Film ini secara garis besar mengisahkan perjuangan hidup Piscine Molitor Patel (Pi) di samudera Pasifik setelah kapal barang Tsimtsum yang membawa keluarga Pi dan hewan-hewan yang ada di kebun binatang milik ayahnya terbakar di laut. Setelah beberapa hari terkatung-katung, hanya Pi dan seekor harimau Bengali bernama Richard Parker yang bertahan hidup di atas sekoci.

Ada beberapa adegan yang menarik dalam film ini. Pertama, bagian awal film yang berisi rekaman berbagai tingkah laku aneka hewan di kebun binatang. Hewan-hewan itu tampak lucu dan menggemaskan — adegan ini pun menjadi pengantar yang baik sekali untuk film yang sedikit banyak berkaitan dengan tingkah laku hewan ini.

Kedua, adegan saat Pi diserang badai di samudera Pasifik. Ombak raksasa, petir, juga guntur di langit — begitu menegangkan dan membuat panik. Saat itu Pi berseru kepada Tuhan dengan teriakan-teriakan yang muncul dari perpaduan kegentaran dan kepasrahannya. Inilah adegan yang paling kuat memotret pertarungan batin Pi antara memilih bertahan hidup atau memutuskan mati.

Ketiga, beberapa adegan di tengah samudera pada malam hari. Ubur-ubur di tengah laut, ikan-ikan raksasa yang seliweran di dalam laut, dan saat lautan menjadi jingga dan hening — keindahan-keindahan itu begitu menakjubkan. Keindahan-keindahan itu membuat saya teringat pada narasi-narasi yang ada di novel Jim Lynch, “The Highest Tide”. Selain itu, saya jadi teringat pada dunia yang indah bernama Pandora di film “Avatar”.

Dan, adegan-adegan yang paling tak terlupakan adalah ketika Pi berusaha dengan segala cara mendekati Richard Parker, sang harimau, untuk menjadikannya teman seperjuangan bertahan hidup.

Hal yang kurang memuaskan di film ini adalah ketidakhadiran sosok Mr. Kumar, seorang atheis, guru Biologi Pi saat remaja. Mr. Kumar sebenarnya memiliki peran cukup besar dalam kehidupan Pi, sehingga saat dewasa Pi mengambil kuliah di jurusan Zoologi (tidak dikisahkan di film).

Saya beranggapan, mungkin karena film ini memiliki pesan yang kuat tentang ketuhanan, maka sosok Mr. Kumar dikesampingkan. Sejak kecil, Pi haus akan siraman rohani. Dia pertama menganut agama Hindu, lalu Kristen, dan terakhir Islam. Kepercayaan Pi pada Tuhan, juga ditambah dengan kesukaannya berlatih renang bersama Mamaji, guru renangnya, sangat berperan dalam membuat Pi bertahan selama 227 hari di samudera Pasifik yang luas.

[SPOILER ALERT: Paragraf-paragraf di bawah ini jangan dibaca kalau tidak ingin menerima bocoran akhir cerita.]

Pada akhir cerita, hal yang menarik adalah adanya sodoran dua jenis cerita kepada sidang penonton. Dikisahkan bahwa Pi diwawancarai oleh dua orang Jepang sebagai perwakilan pembuat kapal Tsimtsum. Pi tampak lelah dan kehabisan akal mengisahkan 227 hari perjuangan bertahan hidupnya di tengah laut. Ia pun akhirnya mengarang cerita yang lebih sederhana.

Seperti apakah cerita yang lebih sederhana itu? Itu cerita yang lebih masuk akal, cerita tanpa Richard Parker. Cerita Pi bertahan hidup bersama Richard Parker memang indah, dramatis, dan adikodrati. Cerita yang satunya lebih logis dan sederhana.

Dan, penonton pun pada akhirnya bebas memilih: mau percaya cerita yang mana? Tidak ada catatan bahwa kisah Pi diangkat dari kisah yang nyata. Jadi, bilamana Anda mempercayai salah satu atau keduanya, tidak masalah.

Cuma, mempercayai Tuhan tak jarang juga tidak logis. (*)

Pontianak, 5 Desember 2012

Suraj Sharma and tiger in Life of Pi.

Living Life Enthusiastically (Book Review)

Reviewed by: T. Nugroho Angkasa

The title above was inspired by Sansan’s experience (p. 374). At the beginning, her daughter was normal. Then, she was infected by a certain virus. Suddenly, her beloved baby became deaf.

However, Sansan was not giving up. She even brought Gwen (her baby’s name) to Australia. Sansan was forced to be apart from her husband. Therefore, she became a single mother. She continued study to pursue S2 (Master) degree.

Sansan took Special Education subject. A faculty in which studying the education for children with special need. Sansan was very discipline in managing time. How to go to college, work on the task given by the lecturers, complete the household duties, and of course take care Gwen.

Based on her experiences, she wrote an inspiring book, I Can (Not) Hear. Sansan shared her knowledge to public. Especially, how to facilitate the learning process of children with special need. Therefore, future generation can achieve an equal opportunity in education.

From the true story above, Sidik Nugroho wanted to say one message. Sacrifice, effort, gratitude, and submission must be in a balance. Sincy, people tend to be passive in dealing with life’s challenges.

They avoid to work hard because of an old saying, “… everything has already destined by God”. Yet, this is just an excuse to hide her/his laziness.

Point of View

This book also appealed the readers to shift point of view. Once upon a time, a young teenager felt his life was nothing. Perhaps, he had rejected by a girl. In the midst of desperation, he went to meet a spiritual mentor.

The wise man listened to the pupil. After the boy satisfied outpouring his feeling, then it’s time for the master to speak up, “Son, please bring me a spoonful of salt. Then, mix them into a glass of water and drink it!”

This boy obeyed the instruction. “How does it taste?” The master asked. “Piuuuh! It’s very salty!“ the student replied while spouted the water out from his mouth.

After that, the master traveled with the student to the edge of a very vast lake. The water was so clear and fresh. The master asked the pupil again, “Please dissolve a spoonful of salt into the lake and stir it with a bamboo. Then, drink a cup of water from the lake!”

“The water is so fresh. It’s not salty at all,” the student answered with bright shinning eyes.

Through this simple story (p. 232)”, Nugroho told the reader to have a heart as wide as a lake. Because people who have a narrow one, every little thing shall cause stress and depression within him/her.

Porong citizens’ spirit can be a role model. Although since May 2006 they has not accept any compensations yet, they still persisted to survive. Moreover, they even become more creative.

Those victims transformed mud disaster – which was flooded 10,000 homes, dozens plants, as well as schools building from elementary to high school – into a tourism venue. Many tourists from all over Indonesia, even foreign country flocked to see this giant mudflow (p. 281).

It is similar with the community at the slopes of Merapi Mountain, Yogyakarta. They made the house of Mbah Maridjan (RIP) in Kinahrejo village as a place of pilgrimage.

Hopefully, these grass roots’ initiatives reminded the officials to fulfill the promise. By substituting all dead cows and cattle. Building some temporary shelters and setting up permanent residence for those people.

Romantic

The book also told a romantic story. Every morning, Mbah Khatijah presented a cup of hot tea. Her husband’s name is Mbah Setyowikromo. He worked as a charcoal seller. Both of them lived in the hamlet at Suko village. It was 40 km from Gudeg City. The income in average is IDR 2,000 – 5,000/day. This profession has been occupied since the Dutch era.

Interestingly, when selling charcoal in the Gudeg City, Mbah Setyowikromo has never bought any food. Indeed, he only ate once – it was always his wife own cooking  – usually in the evening.

The wife sold some teak leaves (daun jati) in the traditional market. With this kind of modest life, they could save money in a bamboo. Therefore, when there was a neighbor who conducted a celebration, they can give an envelope containing IDR 20,000 – 25,000-. “We do not want to eat food if has not paid yet,” said Mbah Khatijah (p. 161).

Through this true story, the author told the readers to reflect themselves. A person’s dignity is not only determined by his/her wealth and fame. It depended on every drop of sweat to gain the bliss of life.

Nowadays, a lot of government officers and the legislative members gaining money by unconventional (read: corruption) way. Indeed, hard work and honesty are two universal formulas to be successful. There are no shortcuts by robbing people’s budget.

Sidik Nugroho wrote the book in relatively long period, from 2003-2011 (8 years). It was consisted of 366 reflections. Just like a hunger healers menu, one day for one reflection. Therefore, it can be consumed for a full year. The sources were very diverse. For examples, from books, movies, interaction in the class, until an encounter with a madman in a coffee shop.

Writing

There is an inspiring story taken from a biography of Stephen King’s: On Writing. As a child, he has been able to write a story. It was about Mr. Rabbit Trick. This main character became a leader of 4 magical animals. Every day, they work providing assistance to children in the small village.

Stephen, then, gave the manuscript to his mother. The mother was very impressed. She was encouraging him with some payment. She paid 25 cents for every story that was written by little King. Of course, this increases her son motivation to keep on writing.

In a short time, he wrote 4 more stories. Those had same main character. “Four stories, 25 cents for each. That is my 1st reward in this business,” Stephen King admitted in his memoirs (p. 107).

Indeed, King’s mother did not only teach his son about mercenary. According to Sidik, Stephen was very lucky. Since, his mother appreciated his efforts and creativity from very early age.

The author classified the material according to the key events. For example, some educational writings, he put in May. Due the celebration of National Education Day (2 May). While the material about Love, of course in February. Then, the theme of Nationalism at August (17).

Podium’s Lion

Sukarno was arrested by the Dutch at 1929. Because of the speeches of Bung Karno which was considered very dangerous. While this head of PNI (Indonesian National Party) stood in front of the people, he could anesthetized the audiences as well awakened the spirit to achieve independence.

No wonder if this Indonesian 1st President was called the Podium’s Lion. While arresting in the jail, Bung Karno kept on fighting. The mediums were some papers and a single pen. He wrote a pledge for one and a half months.

Pad of the paper where he wrote was a potty. Yes, it was a disposal for urine and feces. Later, the hand written was compiled as a book. The title is Indonesia Menggugat or Indonesia Protesting (p. 235).

Ready to Win, Ready to Lose

As an elementary school teacher at SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, Sidik Nugroho has a lot of experiences while interacting with his students. He also shared an inspiring story.

After the teaching session, the authors often conducted a quiz. From guessing the song’s title – by referring to the tunes which was played with a guitar – until a quiz related to the material that was given previously.

Indeed, it was similar with the adults; children were also not ready to accept the defeat. Even, some of them were crying aloud when his/her group was lost. The solution was by writing, “Ready to Win, Ready to Lose!” on the blackboard.

Therefore, at the end of every quiz, the teacher pointed to the front of the class. All students shouted together – both the losing and winning sides – reading the previous agreement.

One weakness of this book was the lack of table of content. Therefore, the reader is rather difficult to find a particular reflection.

Nevertheless, this 384 pages book can be an oasis in the middle of the routines’ desert. I can not agree more with Nugroho Sidik’s opinion, “One of the reasons to keep our spirit up in this life is by awaking a beautiful memory.” Happy reading!

Book title: 366 Reflections of Life (Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati)
Author: Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita G
Published by Bhuana Ilmu Populer (2012), Jakarta, Indonesia
384 pages
ISBN: 10:979-074-893-4
Price: IDR 54,000

===

Reviewed by T. Nugroho Angkasa, S.Pd. The reviewer is a Teacher English at PKBM (Pusat Kegiatan Belajar-Mengajar or Center for Teaching-Learning Activity) Angon (Nature School) in Yogyakarta, Indonesia. Website: http://www.angon.org/ E-mail: nugroho.angkasa@gmail.com

Memperhatikan yang Kecil agar Menjadi Hebat

Resensi Buku ini dimuat di Rubrik Perada Koran Jakarta, Kamis, 3 Mei 2012.

“Cinta bisa berbicara meskipun mulut tertutup.” (halaman 44).

Apa manfaat sebutir kacang tanah? Sekilas tampak tiada berarti. Namun, ternyata, hanya dari kulitnya, kacang dapat diracik menjadi plastik, cat, minyak, dan aneka produk lain. Sebelumnya, George Washington Carver harus meneliti anasir pembentuk kacang itu di laboratorium. Ia menemukan ratusan elemen alami dalam benih dan kulit kacang. Tokoh ini menjadi pelopor revolusi agraria di Amerika dengan penemuannya tersebut (halaman 139).

Begitulah salah satu kisah reflektif yang termaktub dalam buku ini. Sidik Nugroho menyampaikan satu fakta unik. Sesuatu yang sekilas dipandang sebelah mata bisa menjadi luar biasa. Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo tersebut mengutip wejangan gitaris favoritnya, Eric Johnson, “The smallest thing makes the hugest difference.” Terjemahan bebasnya, “Kesederhanaan menyimpan potensi menakjubkan.”

Buku 366 Reflections of Life memuat pengalaman pribadi penulis. Saat itu, Sidik akan memberi kado ulang tahun ke-57 untuk ayahnya. Ia mencari buku rohani di sebuah toko buku. Setelah menemukan yang dirasa sesuai, Sidik membeli kertas kado. Tapi, dia justru memilih pembungkus yang paling murah, tanpa memperhatikan motifnya.

Sesampai di rumah, dia baru menyadari bahwa kertas kado tersebut bergambar para tokoh Meteor Garden seperti Dao Ming Tse. Untung, dia masih menyimpan beberapa kertas kado lain di kamar yang dulu ia beli untuk wanita idaman yang ingin direbut hatinya. Saat itu, Sidik begitu teliti memilih motif dan warnanya agar pas.

Bagi seseorang yang telah membesarkan dengan keringat dan kerja keras, Sidik merasa lupa mempersembahkan yang terbaik. Ini memang terlihat sepele, hanya masalah kertas kado. Namun, lewat kisah di atas, Sidik Nugroho mengingatkan diri sendiri bahwa momen penting-ulang tahun seorang bapak-sepantasnya disikapi dengan lebih cermat. Sebagai bentuk apresiasi kepadanya (halaman 198).

Sebagai seorang pendidik, Sidik banyak berinteraksi dengan para murid di kelas. Keseharian pembelajaran itu menjadi sumber inspirasinya. Ia bersepakat dengan pendapat seorang teman, “Menjadi guru anak-anak kecil membuat tidak stres karena melihat kepolosan dan kelucuan apa adanya, tidak dibuat-buat.” Tan Malaka pernah mengucapkan bahwa mendidik anak usia dini adalah pekerjaan paling mulia.

Suatu hari, saat mengajar, Sidik berjanji memberi beberapa bungkus cokelat untuk para murid yang menghargai temannya yang bernyanyi di depan. Inisiatif ini dipilih karena mereka kerap gaduh setiap ada teman yang maju. Hasilnya, kelas yang biasanya seperti pasar tumpah mendadak sunyi. Akhirnya, semua siswa makan cokelat bersama-sama (halaman 111).

Dalam pandangannya, ancaman, sanksi, atau hukuman tidak efektif untuk menanamkan perilaku baik pada diri anak. Para guru dan orang tua menghukum karena lelah menghadapi “keliaran” anak. Padahal, bila mereka mau sedikit kreatif, metode pemberian hadiah dan pujian justru lebih ampuh. Ini senada dengan ungkapan, “Nilai suatu pemberian harus dilihat maksudnya, bukan harga atau kemewahannya.”

Buku ini juga mengungkap pentingnya keluasan suatu visi. Analoginya menarik sekali. Jangan saklek menjawab pertanyaan karena harus dapat menjelaskan lebih menarik.

Sidik mengutip pendapat P Korter, “Visi adalah gambaran realitas akan masa depan yang logis dan menarik.” Tingkat kelogisan dan keunikan sebuah visi berbanding lurus dengan keterlibatan banyak orang dalam mewujudkannya (halaman 175). Seseorang yang piawai menjelaskan hal-hal menarik dalam suatu perjalanan, misalnya, dari Yogyakarta-Jakarta, dia berpotensi menjadi pemandu wisata jempolan.

Buku setebal 384 halaman ini memang lebih bernuansa rohani. Pembaca perlu meluangkan waktu sejenak di tengah rutinitas hidup, misalnya, pagi hari, setelah jeda makan siang, ataupun malam hari menjelang tidur. Dalam kata pengantar, Sidik Nugroho mengakui mayoritas renungan ini lahir justru ketika dia tak berencana untuk menulis. Ia sekadar ingin berbagi hasil pengamatan, pendengaran, pembacaan, tontonan, dan perasaan.

Ditulis oleh Nugroho Angkasa, guru bahasa Inggris di PKBM Angon (sekolah alam), tinggal di Yogyakarta

Judul: 366 Reflections of Life, Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati
Penulis: Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita G.
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Cetakan: 1/Februari 2012
Tebal: x 384 halaman
ISBN: 979-978-074-893-0

Merayakan Hidup dengan Gembira

Oleh: M. Iqbal Dawami*)

Judul: 366 Reflections of Life
Penulis: Sidik Nugroho
Penerbit: BIP
Cetakan: I, 2012
Tebal: x + 384 hlm.

BUKU ini adalah hasil serangkaian interaksi penulis (Sidik Nugroho) dengan pelbagai sisi kehidupan yang ada di sekitarnya. Dia tidak saja menyuguhkan peristiwa, tetapi juga mampu merefleksikannya. Ada getaran-getaran syukur dan ikhlas tatkala membacanya. Setiap kali ia menuliskan cuplikan peristiwa selalu saja diakhiri dengan refleksi, yang berarti bahwa kita diajak merenung perihal anugerah hidup dan Maha Rahman dan Rahim-Nya Tuhan. Cuplikan peristiwa yang diangkat bisa dari pengalaman si penulis, buku-buku yang dibacanya, maupun film-film yang ditontonnya. Ia bisa menceritakan seorang tokoh, peristiwa bersejarah, atau pun hal-hal sederhana dalam keseharian.

Misalnya, saat ia dan keluarganya tengah berbahagia, lantaran telah lahir seorang putri dari kakaknya. Ia pun memberi kabar gembira kepada beberapa temannya. Dan salah satu temannya berujar,”…Seluruh dunia turut merayakannya.” ketika memandangi keponakannya, ia teringat kata-kata Mahatma Gandhi: saya datang ke dunia dengan menangis dan semua orang tertawa; biarlah saya pergi dari dunia dengan tertawa dan orang lain menangis.

Sidik mengatakan bahwa semua manusia dewasa pernah menjadi bayi, dan kini mereka berjuang untuk mempertahankan hidup. Daya hidup diuji. Jika daya hidup besar, maka manusia akan tegar ketika badai datang. Contoh lainnya saat ia merefleksikan bahwa hidup ini sangat berharga, yaitu pada saat rumah tetangga kakaknya dilanda kebakaran. Kebakaran itu hampir mengenai rumah kakaknya. Ia dan kakaknya dengan sigap mengeluarkan barang-barang berharga untuk diselamatkan sebagai langkah antisipatif. Dari peristiwa itu ia merenung bahwa ketika dekat dengan bahaya yang mengancam hidup kita akan menyadari bahwa hidup ini sangat berharga.

Dalam tulisan “Keluasan Suatu Visi” ia mengajak kita untuk memiliki visi yang jelas. Hal itu ia dapatkan dari pengalamannya bolak-balik Malang-Sidoarjo. Dan dalam tulisan lainnya “Orang Gila di Warkop” ia bertutur tentang orang gila yang sedang ngopi bersamanya di warung kopi (warkop) dekat alun-alun Sidoarjo. Awalnya, ia tidak sadar kalau yang di sampingnya adalah orang gila, tapi bau pesing dan tingkahnya yang aneh, barulah ia ngeh bahwa ternyata yang berada di sampingnya adalah majnun alias gila. Sesampai di kos ia berpikir bagaimana nasib orang gila tersebut yang sedang kedinginan dan kelaparan saat turun hujan. Apakah kemudian orang gila itu diajak ke kosnya? Anda akan temukan jawabannya dalam buku ini.

Sedang dari contoh film, misalnya dari film The Shawshank Redemption, ia mendapatkan pelajaran berharga dari anugerah Tuhan. Kesalahan masa lalu tidak harus membuat hidup menjadi berantakan di masa kini. Dari film Hannibal Rising mengajarkannya untuk tidak memiliki dua jiwa, lantaran menyimpan dendam masa lalu terhadap seseorang. Buku ini menunjukkan bahwa apa pun gerak kehidupan bisa dijadikan bahan renungan. Renungan itu menggerakkan kita untuk mensyukuri anugerah hidup ini, dan peristiwa-peristiwa yang kita alami terdahulu disadari atau tidak memberikan efeknya pada masa kini.

Buku ini sesungguhnya tidak hanya sekadar refleksi tetapi juga sebentuk kontemplasi yang bisa memberikan pencerahan bagi pembacanya. Kombinasi antara (mantan) pendakwah, guru, dan penulis, menjadikan ia piawai mengolah bahan-bahan peristiwa menjadi nutrisi yang bergizi bagi batin yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga meneduhkan.

Buku ini enak dibaca sembari menyesap secangkir teh dan sepiring gogodoh.

*) M. Iqbal Dawami, esais, tinggal di Pati.

Umur Panjang: Sehat Badani, Sehat Jiwani, dan Sehat Sosial

Judul Buku: Rahasia Awet Muda dan Panjang Umur
Penulis: Haryo Bagus Handoko
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Tebal Buku: 650 halaman
Cetakan Pertama, Desember 2011

“The only way to keep your health is to eat what you don’t want, drink what you don’t like, and do what you’d rather not.”
~ Mark Twain

Kata-kata yang diucapkan Mark Twain di atas sangat tepat menggambarkan kondisi masyarakat modern. Masyarakat, yang di masa kini kian konsumtif — karena tergerus arus modernisasi di perkotaan — umumnya lebih menyukai makanan fast food, minuman bersoda atau mengandung banyak gula, serta jarang melakukan aktivitas yang membuat dirinya lebih bugar. Manusia-manusia perkotaan, disadari atau tidak, kerap melupakan kesehatan: hal penting yang sangat menunjang kehidupan ini.

Kian lama usia manusia kian pendek. Bila kita mempelajari sejarah nenek moyang kita di beberapa kitab suci, orang-orang pada zaman dahulu ada yang hidup sampai ratusan — bahkan ada yang hidup hampir seribu tahun. Sekarang, seseorang yang dapat mencapai umur 100 tahun saja fantastis. Banyak faktor yang membuat hidup manusia menjadi semakin pendek: pola makan, gaya hidup, semangat hidup, dan beberapa faktor lainnya.

Salah satu komunitas manusia yang memiliki umur panjang adalah orang-orang Hunza. Di abad 20-an, mereka memiliki usia rata-rata 120-140 tahun. Orang-orang Hunza hidup di dekat pegunungan Himalaya. Mereka dapat berumur panjang karena mengonsumsi makanan yang diolah dari bahan-bahan yang masih segar. Mereka menolak makan makanan yang berlemak; lebih menyukai sayur, buah, air putih, dan kacang-kacangan.

Selain pola makan yang demikian, mereka juga giat bekerja dan mudah berempati pada sesama. Air yang mereka minum juga belum terpolusi oleh bermacam-macam zat. Alam di mana mereka hidup membentuk kehidupan mereka untuk rajin bekerja dan beraktivitas. Orang-orang Hunza yang umurnya mendekati 100 tahun masih giat bekerja di ladang, masih kuat bermain sepakbola atau voli. Pada tahun 1949, ketika sebagian dari mereka pindah ke Pakistan, mereka yang pindah itu pun bernasib sama seperti warga kota yang lainnya — berusia pendek — karena mereka mulai mengikuti cara dan pola hidup perkotaan.

Diawali dengan kisah orang-orang Hunza di dekat Himalaya itu, Haryo kemudian mengajak pembaca memperhatikan hal-hal yang perlu dilakukan agar dapat berumur panjang. Sudah barang tentu, Haryo tak mengajak para pembaca untuk melawan kodrat: kembali ke zaman dahulu, ketika manusia bisa hidup 900-an tahun.

Hal yang ditegaskan oleh Haryo dalam buku ini adalah — sesuai judulnya — cara-cara yang perlu ditempuh untuk berumur panjang dan awet muda. Secara garis besar, umur panjang bisa diraih dengan cara memperhatikan kesehatan. Dan, menariknya, lewat buku ini Haryo mengungkapkan bahwa kesehatan tak melulu berkaitan dengan fisik (badani) saja, namun sehat jiwani dan sosial.

Pola makan dan olahraga mendominasi bahasan Haryo dalam soal menjaga kesehatan fisik. Ia menyebutkan apa saja makanan dan kegiatan olahraga yang perlu diperhatikan oleh sidang pembaca bila ingin memiliki umur panjang.

Meditasi, latihan pernapasan, mendengarkan jenis musik tertentu, atau mandi dengan cara berendam, juga dibahas oleh Haryo. Hal-hal itu, selain berhubungan dengan fisik, tentu sangat berkaitan dengan kesehatan jiwa atau pikiran. Beberapa cara meditasi yang tradisional, misalnya, yang sejak dulu dikembangkan oleh beberapa kebudayaan dan negara, dibahas oleh Haryo untuk menambah wacana dan pemahaman pembaca akan pentingnya meditasi.

Haryo memberikan bahasan lain yang penting dalam hal umur panjang, yakni kesehatan sosial. Sikap yang ikhlas, mau mengampuni, toleran, juga positif, sangat penting bagi panjang-pendeknya umur manusia. Hal inilah yang saya anggap menjadi sumbangan khusus buku ini, yang masih belum ditemui dalam buku-buku kesehatan lain yang umumnya membahas kesehatan badani saja.

Sumber yang digunakan Haryo dalam buku ini sangat variatif. Haryo merujuk Qur’an, Bibel, dan beberapa kitab suci agama lain. Daftar pustaka (berupa buku, majalah, dan jurnal) yang digunakannya dalam buku ini pun sangat beragam. Sudah sepantasnya sidang pembaca menyambut baik buku (yang diterbitkan dalam 3 seri) tentang kesehatan ini. Dengan cakupan bahasan yang luas, tak berlebihan jika dikatakan, buku ini adalah rujukan yang penting tentang hidup sehat. Selamat membaca. (*)

Sidik Nugroho
Guru SD Pembangunan Jaya 2 dan penulis buku 366 Reflections of Life

 

Jiwa Muda, Pengembaraan, dan Pengampunan

Bayangkanlah sebuah petualangan, sendirian. Bayangkanlah alam yang luas, daerah bersalju, padang gurun, jalanan yang tak berujung. Bayangkanlah hewan-hewan liar, burung-burung di angkasa, sungai-sungai yang berair jernih. Siapa pun yang (pernah) menyukai alam, petualangan, dan segala keindahannya, akan bergairah menyaksikan tempat-tempat eksotis yang menjadi latar dalam film ini. Musik country yang dimainkan dan dinyanyikan Eddie Vedder nyaris di sepanjang film membuat suasana alam dan pedesaan makin hidup.

Namun, film ini, Into the Wild, tak hanya memotret berbagai keindahan alam. Film yang diangkat dari buku nonfiksi karya Jon Krakauer ini mengisahkan pergulatan batin seorang pemuda, Christopher McCandless (Emile Hirsch), setelah ia lulus kuliah. Chris, pemuda ini, adalah seorang yang keranjingan membaca. Ia hidup “bersama” Leo Tolstoy, Jack London, Henry David Thoreau, dan lainnya. Ia tak suka dengan pesta pora dan kekayaan. Di sebuah adegan yang apik, di sebuah restoran, dengan tegas ia menolak kemauan orang tuanya membelikan sebuah mobil baru.

Setelah kuliah, uang tabungan yang ia miliki hanya diambilnya beberapa dolar. Bagian yang lebih besar, 24.000 dolar, ia sumbangkan untuk anak yatim piatu. Dengan beberapa dolar yang dimilikinya, ia pun mengambil sebuah keputusan radikal: mengembara hingga ke Alaska. Keputusan ini tak diberitahukannya kepada siapa pun, bahkan kepada adik perempuannya, Carine (Jena Malone), yang sangat dekat dengannya.

Film yang menggunakan alur maju-mundur ini diawali dengan catatan Chris yang ia tujukan kepada Wayne Westerberg (Vince Vaughn), seorang pria yang ia temui di South Dakota, salah satu tempat yang ia singgahi cukup lama. Saat bersamanya, Wayne mengajari Chris cara memanen gandum. Catatan itu ditulis Chris ketika baru saja tiba di Fairbanks, Alaska, tujuan akhir pengembaraannya. Kemudian, di Alaska, Chris menemukan sebuah mobil yang terdampar di tengah hutan. Ia menamai mobil itu Magic Bus.

Sean Penn, sebagai penulis skenario dan sutradara, sangat rapi dan lihai menjalin potongan-potongan kisah hidup Chris dalam film ini. Ia membagi pengembaraan Chris dalam empat bagian: My Own Birth, Adolescence, Manhood, dan The Getting of Wisdom. Di masing-masing bagian ada flashback yang menggambarkan kehidupan Chris sebelum ia memutuskan hidup mengembara, meninggalkan keluarganya.

Orangtua Chris kaya. Ayahnya, Walt (William Hurt), berprestasi secara membanggakan dalam pekerjaannya. Mereka berdua mencapai kesuksesan finansial. Namun, mereka tak bahagia, sering cekcok, dan hampir bercerai. Bahkan, suatu ketika Chris mendapati kenyataan bahwa ibunya, Billie (Marcia Gay Harden), adalah istri muda ayahnya. Istri pertama masih belum diceraikan. Tentang hal ini, Carine, adik Chris, menyatakan, “This fact, redefined me and Chris as bastard children.”

Keberadaan Carine di dalam film ini menjadi penting karena narasi-narasinya yang disampaikan lewat voice over. Lewat narasi-narasinya, menjadi jelas sebab-musabab yang membuat Chris memilih alam liar sebagai dunianya. Namun, satu hal yang mengganggu adalah beberapa narasinya terkesan berlebihan, terlalu retoris.

Bagian lain yang terkesan berlebihan adalah sebuah adegan saat Chris menggunakan kayak (perahu kecil) mengarungi arus deras sebuah sungai di dekat perbatasan Mexico. Chris, saat itu, menyebut dirinya tidak banyak berpengalaman dengan arung jeram ketika ditanyai seorang petugas yang mengurus izin arung jeram. Ia tidak diizinkan. Ia pun nekat, melakukannya tanpa izin. Kemudian, inilah yang ditampilkan di film: di sungai yang arusnya begitu deras, penuh batu, pemuda yang tak berpengalaman ini melakukan arung jeram tanpa helm pengaman. Benarkah kejadiannya seperti ini? Saya ragu. Bisa saja, ini dramatisasi yang berlebihan.

Terlepas dari dua hal yang berlebihan di atas, film ini berupaya mengajak penonton menyusuri berbagai kemelut batin yang mendera jiwa seorang anak muda. Chris, dengan pemikiran-pemikirannya, hendak mengajak setiap orang yang ditemuinya dalam pengembaraannya merenungi: uang bukanlah hal yang utama bagi kehidupan, karir bukanlah segalanya, keindahan alam menjadi daya tarik yang lebih hebat dibandingkan hubungan antar manusia yang penuh dinamika. Selama mengembara, Chris menggunakan nama baru: Alexander Supertramp.

Bila di dalam film Out of Africa atau The Color Purple keindahan alam dijadikan sebagai latar yang memaniskan cerita, film ini hendak menampilkan hal yang lain: alam itu sendiri penuh dengan cerita, tak sekadar latar. Ya, alam, kebebasan, dan kebergantungan hidup pada alam menjadi napas utama film ini.

Nah, sampai berapa lama Chris bertahan hidup dengan alam — tanpa keluarga, sahabat, dan orang yang bisa diajak berbagi? Sampai berapa lama ia dapat menyembunyikan dirinya dari pencarian dan kesedihan kedua orangtua dan adiknya? Sampai berapa lama dendam terhadap orangtua dan ketidaksetujuannya pada hal-hal yang tak sejalan dengan idealismenya ia pertahankan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk dalam diri saya ketika menyaksikan film ini.

Hingga suatu ketika Chris bertemu dengan Ron Franz (Hal Holbrook), seorang pria tua perajin kulit. Lebih dari semua orang yang ditemui Chris, saya menyukai Ron. Persahabatan yang terjalin di antara kedua pria yang pantas menjadi kakek dan cucu ini sangat mendalam. Chris bertemu dengan Ron setelah ia melalui perjalanan panjang: melewati South Dakota, sungai Colorado, Grand Canyon, Mexico, dan Salvation Mountain. Dari Ron, Chris belajar mengukir sebuah sabuk kulit, dan ia pun mengukirkan perjalanan panjangnya.


Adegan yang menarik adalah saat Chris “memaksa” Ron untuk mendaki sebuah bukit kecil. Dari atas bukit itu bisa disaksikan laut Salton dan pemandangan yang indah. Ron terengah-engah ketika sampai di sana. Di atas bukit itu, terjalinlah percakapan yang indah tentang pengampunan. Di sana, Ron berkata, “When you forgive, you love. And when you love, God’s light shines on you.”

Chris melanjutkan perjalanannya, ke Alaska, menuju alam liar. Chris, atau Alexander Supertramp ini, terus berjuang menembus tantangan. Kenangan tentang keluarga dan para sahabat, juga kebahagiaan yang didapatkan dari kebersamaan dengan orang lain, mulai melintas di benak Chris sang pengembara. Ia pun ingin menjadikan catatan perjalanannya sebagai buku. Saat Chris menulis catatannya di dalam Magic Bus, kehidupan Chris pun menjadi cermin bagi jiwa muda yang selalu mendambakan kedamaian. (*)

Sidoarjo, 1 April 2012

Optimisme dan Semangat Pantang Menyerah

Judul buku : 366 Reflections of Life – Kisah-Kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati
Penulis : Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia)
Ukuran : 15 x 23 cm
Tebal : 384 halaman
Tahun terbit : Februari 2012

“Kita hidup dengan apa yang kita peroleh, tetapi kita memperoleh kehidupan dengan apa yang kita beri.”
~ Winston Churchill

Buku setebal 384 halaman dengan perwajahan sampul nan indah ini menyuguhkan sejumlah kisah inspiratif yang menyentuh hati. Kisah-kisah nan apik yang disajikan dalam buku ini menuturkan beragam peristiwa menarik dari berbagai belahan dunia, mulai dari kisah kehidupan si penulis sendiri, kehidupan tokoh-tokoh inspiratif ternama dunia, hingga kisah-kisah kehidupan nyata sehari-hari di sekitar kita. Kisah-kisah tersebut tanpa kita sadari, sebenarnya memiliki berbagai nilai pelajaran moral dan hikmah yang bisa kita ambil dan dapat dijadikan sebuah bahan perenungan. Buku ini pun mengajarkan kita agar kita mengenal lebih dekat diri kita sendiri.

Sidik Nugroho melalui kisah-kisah inspiratif yang dikemukakannya dalam buku ini, berusaha menyadarkan kita bahwa sebagian besar dari kita tak jarang merasa sebagai orang yang paling tidak beruntung di dunia ini apabila sedang dalam keadaan susah atau kurang beruntung, sehingga membuat kita mudah berputus asa dan miskin rasa syukur. Sebaliknya saat kita dalam keadaan bahagia dan sedang beruntung, kita pun demikian mudahnya lupa untuk bersyukur. Padahal kalau kita mau merenung sejenak setelah membaca kisah-kisah kehidupan orang lain yang banyak dikisahkan dalam buku ini, sesungguhnya masih lebih banyak orang lain yang jauh kurang beruntung daripada kita, sehingga kita tidak seharusnya miskin rasa syukur baik di saat kita sedang berada di bawah ataupun saat kita sedang berada di atas.

“Dalam situasi yang menyesakkan, harapan adalah suatu kekuatan,” kata G.K. Chesterton. Manusia dengan segala suka-dukanya senantiasa mewarnai berbagai kisah sejarah perjalanan panjang umat manusia. Manusia dalam sejarahnya selalu membuat kesalahan yang sama berulang-ulang. Manusia sering tidak memetik hikmah dari kisah-kisah perjalanan masa lampau. Padahal dari kisah-kisah perjalanan masa lampau, kita dapat belajar dari kesalahan-kesalahan bangsa lain di masa lampau. Tak hanya itu, kita pun seharusnya mau belajar dari kegagalan dan keberhasilan bangsa lain menilik dari kisah perjalanan bangsa mereka.

Keberhasilan suatu bangsa atau seseorang adalah sebuah proses panjang dari manusia itu sendiri. Proses adalah belajar dari banyak kegagalan kita di masa lalu sehingga dari kegagalan, kita akan bisa memperbaiki dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Kesuksesan seseorang bisa bermanfaat dan menginspirasi orang lain dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Sebagai manusia dan bangsa yang berbudaya seharusnya kita senantiasa pantang menyerah dalam menjalani suka duka kehidupan, karena sukses tidaknya kita sebagai manusia adalah tergantung dari seberapa keras daya upaya dan kerja keras kita untuk mau selalu berusaha mencapai segala apa yang kita cita-citakan dalam kehidupan dan dalam kehidupan bersosial kemanusiaan.

Kehidupan memang tak selalu seindah seperti yang diharapkan dan diimpikan oleh setiap orang. Liku-liku kehidupan tak jarang membuat seseorang seringkali bersedih, marah, frustasi dan tak jarang mudah berputus asa. Buku ini mencoba mengetuk hati para pembaca untuk merenung sejenak, betapa kehidupan itu sendiri sebenarnya telah banyak mengajarkan kita berbagai hal agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik, bijaksana, lebih mengasihi sesama, rendah hati, tidak mudah berputus asa dan senantiasa bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat dan karuniaNya yang seringkali tidak kita sadari.

Dalam buku ini Sidik Nugroho Wrekso Wikromo mencoba menggugah kesadaran kita, bahwa kebahagiaan dan kedamaian itu sejatinya terletak di hati dan pikiran kita sendiri, dan bagaimana untuk memperoleh kebahagiaan dan kedamaian itu sendiri adalah suatu hal yang perlu kita temukan dengan mengenal diri kita lebih dekat, dengan senantiasa ingat dan bersyukur kepada Tuhan yang tak putus-putusnya memberikan berbagai kenikmatan, karunia dan hidayah bagi kita semua. Kita pun tak boleh lupa untuk senantiasa membagi kasih kebaikan dan kebahagiaan terhadap sesama.

Sidik Nugroho cukup kreatif dalam menyisipkan beberapa pesan moral dan kebaikan dalam kisah inspiratif yang mampu menggugah para pembaca untuk merenung sejenak akan hakikat dan makna kehidupan ini. Proses pembelajaran tentang makna dan hikmah kehidupan itu sendiri sebenarnya berlangsung sepanjang hayat kita, dan dari setiap kisah kehidupan yang ditulis dalam buku ini, sudah seharusnya kita pandai-pandai memetik hikmah pembelajaran yang bisa kita terapkan dalam kehidupan.

Hidup sejatinya adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh proses pembelajaran. Beragam kisah inspiratif yang Anda temukan dalam buku ini ditulis dengan bahasa yang indah, santun, serta mudah untuk dipahami. Sejumlah kata-kata mutiara serta bait puisi juga tampak menghiasi buku ini, membuatnya sedikit berbeda dengan buku sejenis yang ada di pasaran, yang juga merupakan keunggulan dari buku ini.

Oleh: Haryo Bagus Handoko, penulis dan aktivis di Forum Penulis Kota Malang (FPKM)

Gigih Melakoni Kehidupan

Resensi atas buku 366 Reflections of Life, dimuat di Jawa Pos, Minggu, 11 Maret 2012. Versi yang mirip dimuat juga di Seputar indonesia, Minggu, 25 Maret 2012.

Ditulis T. Nugroho Angkasa*)

Judul: 366 Reflections of Life, Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati
Penulis: Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita G
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Cetakan: 1/Februari 2012
Tebal: x + 384 halaman
ISBN: 979-978-074-893-4
Harga: Rp54.000

Judul di atas terinspirasi oleh kegigihan Sansan (Ketabahan dan Kesabaran Ibu, halaman 374). Semula anaknya terlahir normal, tapi kemudian terserang virus ganas.

Si buah hati tercinta mendadak menjadi tuli. Kendati demikian, Sansan tidak menyerah. Ia justru memboyong Gwen, nama anaknya, ke Australia. Sansan terpaksa berjauhan dengan suami dan menjadi ibu tunggal. Ia bertekad melanjutkan studi ke jenjang S2.

Sansan memilih jurusan Special Education. Sebuah fakultas yang mendalami masalah pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Sansan sangat disiplin dalam membagi waktu. Yakni antara berangkat kuliah, menggarap tugas makalah dari dosen, merampungkan pekerjaan rumah tangga, mengurus serta melatih Gwen.

Berbekal seluruh pengalamannya tersebut, ia menulis sebuah buku berjudul, “I Can (not) Hear.” Sansan berbagi ilmu pada khalayak ramai. Terutama ihwal bagaimana metode memfasilitasi proses belajar anak berkebutuhan khusus. Generasi masa depan dapat memperoleh kesempatan pendidikan yang setara.

Dari kisah nyata di atas, Sidik Nugroho mau mengatakan satu hal. Seyogianya, pengorbanan, usaha, ucapan syukur, dan kepasrahan musti dilakoni secara seimbang. Sebab, selama ini manusia cenderung pasif tatkala ditimpa kemalangan. Pun enggan bekerja keras dengan dalih (sok) moralis, “…semuanya sudah ada yang mengatur.” Padahal ini sekedar pembenaran untuk menutupi rasa malas.

Buku ini juga mengajak sidang pembaca menggeser sudut pandang (paradigm shift). Alkisah, seorang remaja merasa hidupnya sia-sia. Barangkali ia baru ditolak wanita idamannya ataupun (di)putus cinta. Di tengah keputusasaan tersebut, ia mendatangi seorang guru spiritual.

Sang guru menyimak keluh-kesah anak didiknya. Setelah si pemuda puas ber-curhat (curahan hati) ria, kini giliran guru yang berbicara, “Nak, tolong ambilkan sesendok garam, campurkan ke dalam segelas air, dan minumlah…” Si anak manut (menurut) saja. “Bagaimana rasanya?” tanya sang guru. “Piuuuh! Asin sekali!” jawab si murid sembari menyemburkan air tersebut.

Kemudian, sang guru mengajak si murid ke tepi telaga yang luas. Airnya begitu jernih dan segar. Guru itu kembali meminta murid melarutkan sesendok garam ke dalam telaga dan mengaduknya dengan sebilah bambu. “Sekarang rasakan bagaimana rasa air telaga tersebut!” perintah sang guru. “Air ini segar guru. Tak terasa asin sama sekali,” ujar si murid dengan mata berbinar.

Lewat kisah “Hati bak Telaga” (halaman 232) ini, Sidik Nugroho merayu sidang pembaca agar memiliki hati seluas telaga. Kenapa? Karena kalau kita memiliki hati sempit, niscaya setiap persoalan kecil akan membuat stres dan depresi.

Ketegaran warga Porong dapat menjadi teladan nyata. Walau sejak Mei 2006 hingga kini belum mendapat ganti rugi, toh mereka tetap bertahan (survive) dan kreatif. Bahkan bencana – raibnya 10.000 rumah, belasan pabrik, serta puluhan sekolah dari SD-SMA akibat lumpur Lapindo – diubah menjadi objek wisata. Turis dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan mancanegara berduyun-duyun datang menonton “kawah” raksasa tersebut (halaman 281).

Sama halnya dengan masyarakat di lereng Merapi. Mereka menjadikan puing-puing rumah (almarhum) Mbah Maridjan di dusun Kinahrejo sebagai petilasan dan tempat ziarah. Tentu inisiatif rakyat di akar rumput (grassroot) tersebut tak boleh melenakan para pejabat yang pernah berjanji untuk memberi ganti rugi, membayar seluruh ternak warga yang mati, membangun hunian sementara (huntara), dan menyiapkan hunian tetap.

Buku ini juga memuat kisah romantis. Setiap subuh Mbah Khatijah menyuguhkan secangkir teh hangat. Pasangan hidupnya bernama Mbah Setyowikromo. Beliau bekerja sebagai penjual arang.

Mereka berdua tinggal di dusun Suko, berjarak 40 km dari kota Yogyakarta. Pemasukannya berkisar Rp2.000-Rp5.000/hari. Profesi ini telah ditekuni sejak zaman Belanda. Uniknya, tatkala berjualan arang di Kota Gudeg, Mbah Setyowikromo tak pernah mau jajan. Bahkan ia hanya makan sekali – itu pun selalu hasil masakan Mbah Khatijah sendiri – yakni pada petang hari.

Sang istri berjualan daun jati di pasar tradisional. Dengan menjalani kehidupan sederhana semacam ini, mereka bisa menabung di dalam celengan bambu. Sehingga kalau ada tetangga menggelar hajatan, mereka bisa memberi amplop berisi Rp20.000-Rp25.000. “Kami tidak tega menyantap makanan kenduren dengan lauk ayam ingkung goreng utuh jika belum membayarnya,“ jelas Mbah Khatijah (halaman 161).

Lewat kisah nyata tersebut, penulis buku ini mengajak sidang pembaca bercermin diri. Ternyata, martabat seseorang tak hanya ditentukan oleh kekayaan dan ketenaran. Namun lebih pada setiap tetes keringat untuk mencecap kebahagiaan hidup.

Bukankah saat ini banyak pejabat dan anggota dewan yang mencari uang dengan cara tak lazim (baca: korupsi). Padahal, kerja keras, kejujuran, dan pengorbanan merupakan rumusan universal untuk meraih keberhasilan. Tak ada jalan pintas, apalagi dengan menghisap uang rakyat.

Proses Panjang

Sidik Nugroho menulis buku “366 Reflections of Life, Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati” ini dalam waktu relatif panjang. Yakni dari 2003-2011 (8 tahun). Isinya terdiri atas 366 refleksi kehidupan.

Ibarat menu pengobat rasa lapar, satu hari cukup 1 renungan. Sehingga bisa dikonsumsi selama setahun penuh. Sumbernya beragam sekali. Antara lain dari buku bacaan, film bioskop, interaksi di kelas, sampai pada perjumpaan dengan orang gila di warung kopi.

Ada sebuah inspirasi apik dari biografi On Writing karya Stephen King. Ketika kecil, ia sudah bisa mengarang cerita sendiri. Isinya tentang Mr. Rabbit Trick. Tokoh utama ini menjadi pemimpin 4 binatang ajaib. Setiap hari mereka berkeliling guna memberi pertolongan kepada anak-anak kecil.

Stephen lantas menyerahkan manuskrip itu kepada ibunya. Sang ibu merasa terkesan sekali dan memberi pujian penyemangat. Bahkan ia membayar 25 sen untuk setiap cerita yang dibuat King.

Tentu saja, hal ini memompa motivasi Stephen untuk terus menulis. Dalam waktu singkat, ia berhasil membuat 4 cerita dengan tokoh utama yang sama. “Empat cerita. Masing-masing 25 sen. Itulah upahku yang pertama dalam bisnis ini,” demikian tulis Stephen King dalam memoarnya (halaman 107).

Sejatinya sang ibu bukan sekedar mengajarkan anaknya menjadi mata duitan. Menurut Sidik, itu merupakan keberuntungan Stephen kecil. Kenapa? Karena ibunya menghargai kreatifitas dan jerih payahnya sejak usia dini.

Penulis buku ini piawai mengklasifikasikan materi seturut peristiwa penting. Misalnya, beberapa tulisan yang bernuansa pendidikan, ia tempatkan pada bulan Mei. Kenapa? Karena untuk memaknai hari Pendidikan Nasional. Sedangkan materi yang bernuansa cinta, tentu saja di bulan Februari. Tema ihwal nasionalisme ada di bulan Agustus.

Pada tahun 1929, Soekarno ditahan oleh Belanda. Karena pidato-pidato Bung Karno dinilai berbahaya. Tatkala ketua PNI (Partai Nasional Indonesia) itu berdiri di atas mimbar, ia bisa membius para pendengar sekaligus mengobarkan semangat perlawanan untuk meraih kemerdekaan.

Tak heran presiden R1 pertama itu dijuluki Singa Podium. Pun selama mendekam di dalam penjara Bung Karno tetap berjuang. Medianya ialah kertas dan pena. Ia menulis pledoi selama satu setengah bulan. Hebatnya, alas kertas tempatnya menulis ialah pispot. Ya, tempat pembuangan air seni dan tinja. Kelak buah pena dari balik jeruji itu dibukukan dengan judul Indonesia Menggugat (halaman 235).

Sebagai seorang guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, Sidik Nugroho memiliki banyak pengalaman berinteraksi dengan anak-anak. Ia berbagi juga 1 kisah unik. Pasca mengajar, penulis sering mengadakan kuis tanya-jawab. Mulai dari tebak lagu dengan merujuk pada nada-nada yang dimainkannya dengan gitar, tebak gambar yang dilukis seorang siswa di papan tulis, sampai sesi cerdas-cermat seputar materi yang telah disampaikan.

Tapi tak ubahnya orang dewasa, anak-anak juga tak siap menerima kekalahan. Bahkan ada yang sampai menangis jika kelompoknya tak menjadi pemenang. Solusinya ialah dengan menulis, “Siap Menang, Siap Kalah!” di papan tulis. Jadi setiap akhir kuis, sang guru menunjuk ke depan kelas. Serentak semua murid berteriak lantang – baik yang kalah maupun yang menang – membaca kesepakatan awal tersebut.

Satu kelemahan buku ini ialah ketiadaan daftar isi. Sehingga sidang pembaca agak kesulitan mencari judul refleksi tertentu. Kendati demikian, karya tulis ini dapat menjadi oasis di padang gersang rutinitas. Sepakat dengan pendapat Sidik Nugroho, “Salah satu alasan untuk membuat semangat hidup tetap terjaga ialah kenangan akan suatu momen yang indah.” Selamat membaca!

*) T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru Bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam) dan Ekstrakurikuler English Club di SMP Kanisius, Sleman, Yogyakarta

Ulasan Buku Pencarian Kolam Mukjizat

Oleh: Haryo Bagus Handoko*)

Judul buku: Kisah-kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat
Pengarang: Sidik Nugroho
Genre: Novel Fantasi
Harga: Rp. 35.000,00 belum termasuk ongkos kirim
Ukuran: 11 x 18 cm
Tebal: 274 halaman
Tahun terbit: 2011

Keterangan: Buku ini diterbitkan secara indie. Untuk pemesanan bisa mengirim pesan ke Sidik Nugroho Wrekso Wikromo, http://www.facebook.com/sidiknugroho

***

Persahabatan, setia kawan, dan naluri pantang menyerah untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan, tampaknya menjadi ide pokok dari buku novel berjudul “Kisah-Kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat” karya Sidik Nugroho, seorang pendidik yang juga rajin menulis buku maupun esai.  Novel petualangan fantasi “Kisah-Kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat” bercerita tentang kemalangan beruntun yang dialami seorang anak bernama Lestari. Lestari yang tinggal di kota Harmon, baru saja ditinggal mati oleh ibunya, dan ia pun harus menerima kenyataan pahit kehilangan rumah dan harta bendanya akibat rumahnya terbakar.

Lestari yang tinggal bersama ayahnya itu pun jatuh miskin akibat bencana kebakaran yang mereka alami. Ia pun harus menerima kenyataan pahit lainnya saat ia terpaksa dititipkan oleh ayahnya ke sebuah rumah yatim piatu di saat sang ayah harus bekerja ke luar kota. Rumah yatim piatu itu bernama “Rumah Damai”. Rumah Damai dikelola oleh teman ayahnya yang bernama Pak Raiksa. Di “Rumah Damai” ia pun menemukan arti persahabatan dan kesetiakawanan dengan para sahabat barunya saat mereka terlibat dalam sebuah petualangan mencari kolam mukjizat.

Lestari pun belajar untuk meneladani sifat-sifat mulia para sahabatnya, hingga akhirnya tumbuh menjadi seorang anak yang pemberani, pantang menyerah dan berani berkorban demi menyelamatkan dan menyatukan kembali para sahabatnya di Rumah Damai saat mereka semua harus berjuang keras melakukan perlawanan pada musuh mereka yaitu para arwah jahat dan Dewi Buntaly sang penguasa kegelapan yang sempat menebarkan teror dan petaka di negeri mereka, yaitu Harigia.

Novel ini begitu apik ditulis oleh Sidik Nugroho, sang pengarangnya, yang cukup kreatif dalam menyisipkan beberapa pesan moral dan kebaikan dalam kisah novel ini. Novel fantasi ini tidak saja indah untuk dibaca, namun juga membawa para pembaca turut menghayati setiap kisah kejadian yang menegangkan yang dialami oleh Lestari, tokoh utama dalam cerita novel petualangan fantasi ini.

Latar belakang penulisnya, yaitu Sidik Nugroho yang merupakan seorang guru pendidik yang menyukai membaca dan menulis buku, serta bertualang di alam terbuka, juga tergambar dalam beberapa karakter tokoh cerita yang ia tulis dalam novel ini, seperti tokoh Pak Raiksa yang selain sebagai pengelola rumah yatim piatu “Rumah Damai”, ternyata ia adalah juga seorang penulis dan juga seorang petualang. Dalam novel ini memang sempat dikisahkan bagaimana Lestari dan juga teman-temannya yang lain ternyata sangat gemar membaca, yang menunjukkan kepiawaian dari penulisnya untuk menyisipkan pesan yang cukup mendidik bagi para generasi muda negeri ini agar gemar membaca.

Walau kisah dan alur cerita dalam novel ini tergolong cukup kompleks, serta tidak mudah ditebak bagaimana akhir ceritanya oleh pembaca dari kalangan anak-anak, karena membutuhkan sedikit perenungan untuk dapat menikmati setiap kisahnya, namun tampaknya hal ini tidak menghalangi anak-anak untuk menyukai setiap kisah yang diceritakan dalam buku novel fantasi ini.

Terlepas dari segala kekurangan yang ada, buku ini tampil menarik dan cukup nyaman untuk dibaca dan dinikmati, baik oleh anak-anak, para pembaca remaja maupun pembaca dewasa. Novel yang ditulis dengan bahasa yang indah dan mudah untuk dipahami, serta dihiasi oleh sejumlah bait puisi serta ilustrasi yang menarik ini, membuatnya sedikit berbeda dengan novel sejenis yang ada di pasaran, yang juga merupakan keunggulan dari novel ini, sehingga pembaca pun akan merasa senang dan tertantang karena rasa penasaran untuk membaca halaman demi halaman dalam novel ini hingga tuntas. (*)

*) Penulis beberapa buku nonfiksi terbitan Gramedia Pustaka Utama dan Elex Media Komputindo. Buku terbaru yang ditulisnya adalah serial Rahasia Awet Muda dan Panjang Umur (3 seri), diterbitkan Elex Media Komputindo (Desember 2012).