Category Archives: Rohani

Pekerjaan, Pelayanan, dan Pengabdian kepada Allah

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
~ Lukas 1:38 ~

Hingga kini saya masih terkesan dengan khotbah yang disampaikan Pendeta Yehezkiel Wilan, gembala sidang GBI El Shaddai Kota Baru, Pontianak, pada hari Minggu, 12 Agustus 2012 lalu. “Satu hal yang sering meresahkan saya adalah julukan hamba Tuhan. Kita semua hamba Tuhan, bukan hanya orang-orang Kristen tertentu saja,” demikian kurang lebih ia menegaskan tentang jati diri umat Tuhan.

Hanya karena seseorang berstatus hamba Tuhan, tanpa disadari orang-orang menetapkan suatu standar moral yang lebih tinggi kepadanya. Di mata sebagian orang, ia menjadi “lebih tinggi”. Dan, kita pun tidak akan pernah maukah pergi ke gereja yang hamba Tuhan atau gembala sidangnya merampok, membunuh, atau berzinah. Tapi, selama ini mungkin kita terlalu mempersoalkan rekan bisnis yang suka mencuri atau berzinah, misalnya.

Padahal, tiap orang percaya adalah hamba Tuhan. Dan, pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang kudus, yang darinya Tuhan mempercayakan berkat untuk dibagikan kepada keluarga dan sesama. Pekerjaan yang kudus bukan pelayanan gerejawi semata. Inilah yang kadang dilupakan oleh banyak orang Kristen.

Mendengar khotbah itu, saya serta-merta teringat pada sebuah buku. Di dalam bab terakhir buku legendaris A.W. Tozer yang berjudul Mengejar Allah, banyak sekali nilai penting tentang kehidupan yang berkenan kepada Allah. Bab yang berjudul Sakramen Kehidupan ini mungkin telah menjadi sebuah bab acuan bagi banyak pengkhotbah dan pemikir Kristen dewasa ini dalam menjabarkan integrasi yang terjalin antara kehidupan duniawi dengan kehidupan rohani. Di dalam bab ini dengan jelas Tozer memberi penekanan-penekanan penting bahwa segala pekerjaan dan aktivitas yang (tampak) duniawi bukan berarti tidak rohani.

Segala pekerjaan dan aktivitas manusia dapat menjadi sedemikian rohani karena ia melakukannya sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pemberi Hidup. Dan, hakikat hidup manusia adalah bekerja. “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan,” tulis Paulus. Lalu, Paulus menulis lagi: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Dan lagi, di kitab Pengkhotbah tertulis demikian, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”

Lewat pekerjaannya, Tuhan memberkati kehidupan seseorang. Yang perlu diingat, berkat bukan semata-mata soal materi, namun damai sejahtera dan sukacita yang ada di dalam hati manusia. Hal yang sering disalahpahami oleh beberapa kalangan adalah pada saat Tuhan memberkati hidup seseorang, Ia berarti memberikan banyak harta kepada orang itu. Hal ini tidak selalu benar. Memang, banyak ayat firman Tuhan yang memuat janji-janji Tuhan tentang kelimpahan hidup yang bisa dijadikan acuan bahwa berkat Tuhan dapat diartikan sebagai kelimpahan materi. Tapi ingat, Alkitab juga pernah bercerita tentang Yesus yang mengajarkan kepada seorang muda yang kaya untuk menjual seluruh harta miliknya.

Begitulah, karena pengajaran tentang hidup sukses nan berkelimpahan sudah sedemikian sering disampaikan, beberapa kalangan menganggap hidup yang susah atau menderita sebagai kutukan, dan sukses adalah tolok ukur hidup yang dikenan Allah. Padahal tidak demikian. Kesuksesan pun — kalau dipikirkan lagi — tolok ukurnya begitu bervariasi, walau lebih banyak orang yang mengaitkan sukses dengan harta, kemapanan finansial, dan status sosial yang terpandang.

Alkitab menunjukkan banyak sekali kisah tentang orang yang sama sekali tidak sukses di mata manusia namun hidup mereka penuh dengan kemuliaan Allah. Yeremia di Perjanjian Lama hidup penuh penderitaan hingga akhir hayatnya. Di Perjanjian Baru, Paulus, Petrus, dan banyak rasul lainnya hidup dengan keadaan yang amat sederhana, bisa dibilang melarat, bahkan akhirnya menderita sebagai martir.

Dari sinilah mungkin kita memikirkan kembali: apakah tujuan tertinggi dari pekerjaan atau pelayanan kita?

Tozer menulis dengan sangat baik tentang hal ini: “Bukan apa yang dilakukan seorang manusia yang menentukan apakah pekerjaannya kudus atau sekuler, melainkan mengapa ia melakukannya. Motif adalah segala-galanya. Biarlah seorang manusia menguduskan Tuhan Allah dalam hatinya dan setelah itu ia bisa melakukan perbuatan yang tidak biasa.”

Jadi, sebuah pekerjaan yang kudus, pada akhirnya bukan seberapa tampak rohaninya pekerjaan itu, atau seberapa banyak menghasilkan uangnya pekerjaan itu. Pekerjaan yang kudus berbicara tentang hati yang gembira saat bekerja — juga integritas, damai sejahtera, dedikasi, dan totalitas hidup seseorang di dalamnya.

Berapa pun uang yang Anda hasilkan, Anda bisa menikmati hidup. Anda rajin bekerja, tapi tidak lupa bersyukur. Anda hidup penuh visi, target, dan rencana — tapi tidak melupakan firman Tuhan yang menjaga hati dan menguji niat Anda dalam seluruh hal yang Anda rancang dan kerjakan. Apa pun pekerjaan itu, biarlah melaluinya Anda bisa mempersembahkan pengabdian yang terbaik kepada Allah. (*)

Sidik Nugroho

Pontianak, Agustus 2012

 

Advertisements