Category Archives: Tokoh

Juan Gordillo dan Bruce Wayne

Juan Manuel Sanchez Gordillo adalah walikota dari Marinaleda, Provinsi Andalusia, selatan Spanyol. Namanya tengah diperbincangkan berbagai media karena tindakannya yang heroik. Awal bulan lalu ia memerintahkan rakyatnya tidak membayar tagihan ke bank. Hari ini, Kamis, ia mengerahkan beberapa rakyatnya menjarah dua toko swalayan terbesar di Marinaleda. Hasil jarahan berhasil dibagikan kepada rakyat yang paling miskin. Rakyat Spanyol sekarang banyak yang jadi pengangguran dan mengalami krisis ekonomi.

Membaca berita itu saya jadi teringat film The Dark Knight Rises (TDKR) yang sempat saya tonton tiga kali. Dalam film itu Batman menjadi superhero yang tidak diketahui siapa jati dirinya. Bahkan, di film Batman yang sebelumnya, Batman Begins, ia menampilkan dirinya sebagai orang yang urakan di sebuah acara. Gayanya flamboyan, ditemani dua gadis seksi. Bruce Wayne, sang Batman, selalu menyembunyikan identitasnya.

Dalam TDKR, Batman berkata bahwa semua orang bisa menjadi Batman. Gordillo memilih tampil tak bertopeng, sementara Bruce memilih tampil misterius. Saya lebih menyukai pilihan Bruce untuk selalu tampil misterius — semua nait baik dan semangat juangnya ia sembunyikan. Namun, saya pun belajar memahami mengapa Juan Gordillo tak bisa bertindak sembunyi-sembunyi — ini bukan kisah superhero, Bung!

Pada akhirnya, kepahlawanan seseorang akan diuji dengan publisitas. Pro dan kontra akan muncul. Bruce Wayne meninggalkan jubah kepahlawanannya, mendirikan panti asuhan, dan hidup sederhana. Ia lebih memilih untuk tak dikenang sebagai Batman. Apa yang nantinya terjadi dengan Juan Gordillo? Entahlah. Saya hanya teringat kepada Ralph Waldo Emerson yang suatu ketika pernah menulis, “Semua pahlawan akan membosankan pada akhirnya.”

~ Sidik Nugroho

Himne Guru: Inspirasi dari Guru yang Ketiban Sial

Hari masih pagi, belum pukul 07.00. Suasana tahun baru masih terasa di beberapa bagian kota Surabaya. Pagi itu, Sabtu, tanggal 14 Januari 2012, terminal bis Bungurasih di Surabaya tidak begitu ramai. Saya santai sejenak di warung kopi sebelum menumpang sebuah bis Sumber Kencono yang hendak menuju ke Madiun.

Kepergian saya ke Madiun adalah untuk menemui Pak Sartono, pencipta lagu Pahlawan tanpa Tanda Jasa yang lebih dikenal sebagai himne guru. Sebelum hari itu, kami pernah bertemu dalam sebuah acara. Ibu Tiwi, pendamping Pak Sartono, yang juga adalah adik iparnya, mengisahkan masa lalu Pak Sartono sebagai guru. Pak Sartono kini sudah sering tidak fokus dalam berbicara — kadang omongannya melantur atau diulang-ulang.

Ibu Tiwi menyatakan, “Tiga puluh tahun lagu himne guru diciptakan, namun baru akhir-akhir ini Pak Sartono mendapat perhatian dari banyak pihak. Pak Sartono semakin sering diundang ke sana kemari, menjadi narasumber untuk berbagai acara pendidikan. Namun, beliau ini tidak bisa berbicara dengan lancar karena faktor usia. Oleh karena itu, saya sering mendampingi beliau.”

***

Perjalanan saya ke Madiun cukup lancar dari Surabaya — hampir 6 jam. Saya sampai di terminal Madiun tengah hari. Di sana saya bertemu dengan tukang ojek yang bernama Suprapto, yang biasa dipanggil Pak Prapto. Saya mengajaknya berbincang-bincang mengenai kota Madiun. Saya kemudian menjelaskan kedatangan saya, mau bertemu dengan Pak Sartono, pencipta himne guru.

“Saya kelihatannya pernah tahu tentang beliau, Mas, tapi agak lupa,” kata Pak Prapto ketika saya bertanya kepadanya mengenal Pak Sartono atau tidak.

Saya pun dibawa ke alamat Pak Sartono, di jalan Halmahera No. 98. Rumah Pak Sartono berada di ujung jalan itu, tak jauh dari pemakaman umum. Rumahnya sederhana, usianya sudah puluhan tahun. Rumah itu warisan dari orangtua Pak Sartono. Saya disambut ramah oleh Pak Sartono, istrinya, dan Ibu Tiwi. Ibu Tiwi telah menyiapkan rujak dan es tape untuk saya.

Image
Saya seperti berada di tengah-tengah orang yang sudah lama saya kenal. Saya tak merasa asing. Saya mengajak Ibu Tiwi dan Ibu Damiati berbincang-bincang. Pak Sartono duduk di sebuah kursi, mendengarkan apa yang kami bicarakan. Pak Sartono selalu tersenyum, sekali-sekali ia mengangguk-angguk. Ibu Damiati sangat senang dengan kunjungan saya. Ia mengisahkan banyak cerita tentang Pak Sartono dan dirinya sendiri. Saya berada di rumah itu hampir tiga jam.

Ibu Damiati dan Ibu Tiwi juga menunjukkan foto-foto keluarga Pak Sartono pada masa lalu. Beberapa penghargaan yang diterima oleh Pak Sartono, naskah asli lagu himne guru, beberapa kenangan dan cinderamata, dan beberapa foto lainnya dipajang di ruang tamu itu. Suasana siang itu di Madiun sangat menyenangkan untuk sebuah pembicaraan.

Sambil menikmati rujak yang disuguhkan, saya berbincang-bincang dengan Ibu Damiati dan Ibu Tiwi. Cuaca sedang panas pada kunjungan pertama ini. Pada siang itu, berbagai peristiwa dan kenangan masa lalu dikisahkan kembali oleh Ibu Damiati kepada saya. Beberapa foto Pak Sartono dan Ibu Damiati juga ditunjukkan kepada saya.

***

Pada waktu remaja dan sekolah Pak Sartono mendirikan grup musik bersama teman-temannya. Lagu-lagu yang sering mereka nyanyikan adalah keroncong. Sartono sering memainkan gitar di dalam grup keroncongnya.

Masa-masa sekolah berlalu, Sartono kemudian bekerja di Lokananta, sebuah perusahaan rekaman musik, pembuat piringan hitam. Dari situ minat dan kecintaannya terhadap musik kian bertumbuh. Grup band yang ia dirikan bersama teman-temannya suatu ketika mendapat tugas dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) karena Sartono dimasukkan dalam korps musik TNI. Tugas tersebut adalah menghibur para tentara yang akan berangkat perang di Irian Barat.

Tugas itu diberikan kepada Sartono dan grup musiknya pada tahun 1963. Saat itu, bangsa Indonesia tengah berjuang membebaskan Irian bagian barat yang diklaim oleh Belanda sebagai miliknya. Presiden Soekarno, dua tahun sebelumnya, tepatnya pada 19 Desember 1961, mencetuskan Operasi Trikora yang bertujuan untuk merebut kembali wilayah tersebut.

Selama tiga bulan Sartono ada di Irian, menghibur para tentara yang akan melaksanakan tugas negara. Ia kembali lagi ke Madiun setelah tugas itu. Saat kembali ke Madiun, harapannya untuk mendapat kesempatan bekerja sebagai TNI atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak kesampaian. Beberapa temannya yang ikut dalam korps musik di TNI diangkat menjadi TNI, namun ia tidak.

“Pak Sartono tidak diangkat karena dia tidak punya koneksi, Mas. Orang yang tidak punya koneksi pada zaman dahulu susah untuk menjadi TNI atau PNS,” kata Damiati, istrinya. Sartono tetap bermain musik bersama teman-temannya untuk mencari nafkah. Ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun.

“Pak Sartono pernah kerja di bioskop, mengurusi bagian reklame bioskop. Ia juga pernah juga bekerja di PT. Mitrako di Magetan. Waktu kerja di Mitrako, kesejahteraan cukup baik. Perusahaan itu milik orang-orang Tionghoa. Di sana Pak Sartono bisa makan enak,” kata Damiati.

Saat bekerja di Mitrako, Sartono juga terus menekuni musik. Ia mahir memainkan kulintang, saksofon, dan gitar. Ia sempat menciptakan beberapa lagu, memberi les musik kepada beberapa orang. Ia kadang juga menjadi juri kalau ada lomba menyanyi, paduan suara, atau musik. Saat-saat inilah ia bertemu dengan Damiati. Sartono bermain musik, Damiati bernyanyi — mereka sering tampil sepanggung. Rasa saling menyukai pun tumbuh di antara keduanya. Sartono dan Damiati menikah pada tahun 1971.

Dengan modal kemampuan bermusiknya itu, Sartono berhasil mendapat pekerjaan mengajar di SMP Purna Karya Bhakti, yang lebih dikenal dengan nama SMP Katolik Santo Bernardus. Ia mengajar tiga kali seminggu. Sartono mengajar musik, juga vokal atau paduan suara. Ia bisa bekerja di sana karena Damiati, istri Sartono yang beragama Katolik, mengenal dengan baik salah satu suster di situ. “Saya dulu waktu sekolah tinggal di asrama. Nah, kebetulan saya kenal dengan salah satu suster. Suster itulah yang meminta Pak Sartono untuk mengajar di sekolah itu. Walaupun Pak Sartono beragama Islam, tidak masalah. Sartono pun mulai resmi mengajar di sekolah itu pada tanggal 1 Januari 1978,” kata Damiati.

Sambil mengajar di SMP Santo Bernardus, Sartono juga mengajar anak-anak TK Perhutani di Nganjuk bermain kulintang. Pada suatu perjalanan ke Nganjuk untuk mengajar, tahun 1980, ia membaca pengumuman lomba menciptakan himne guru di sebuah koran. Ia membaca pengumuman itu di dalam bis: ada sayembara mencipta lagu himne guru yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Nasional!

Ia tertarik mengikuti lomba itu. Hadiahnya amat besar di masa itu, Rp750.000. Dalam perjalanan pulang Pak Sartono menggumamkan nada-nada yang nantinya akan ia tuliskan. Di sepanjang perjalanan, bahkan sampai tiba di rumah, ia sama sekali tak mendapat ide untuk menuliskan kata demi kata dalam lagu itu.

Saat menuliskan lagu itu, tenggat waktu yang ditetapkan panitia lomba tinggal dua minggu. Dengan bantuan istrinya, yang mengisahkan kehidupan seorang guru yang dikenal baik oleh mereka berdua, akhirnya lagu itu pun jadi. Penciptaan lagu itu ternyata diilhami oleh seorang rekan guru yang dikenal oleh Pak Sartono bernama Suroyo, atau kerap dipanggil Pak Royo.

Pak Royo suatu ketika mengalami kesusahan ekonomi akibat sebuah musibah yang menimpa keluarganya, hartanya habis dirampok orang. Setelah ketiban sial ia pun mengamen sambil tetap mengajar. Perjuangannya mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup kemudian dituangkan pak Sartono dalam lirik lagu Pahlawan tanpa Tanda Jasa atau himne guru.

Namun, persoalan lain datang. Ketika hendak mengirimkan lagu itu ke Jakarta, Pak Sartono tidak memiliki cukup uang. Pak Sartono pun pergi ke toko yang menerima lungsuran pakaian bekas, menjual pakaiannya. Uangnya dipakai untuk membeli perangko.

Pahlawan tanpa Tanda Jasa akhirnya terpilih menjadi himne guru setelah melalui serangkaian seleksi yang ketat. Pak Sartono mendapat hadiah dan penghargaan. Lagu itu mulai dinyanyikan di sekolah-sekolah di tanah air — dari Sabang sampai Merauke. Himne guru terdengar di segenap penjuru negeri.

Kehidupan Pak Sartono tak serta-merta berubah drastis. Ia tetap menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta di Madiun. Kisah hidup Pak Sartono sarat dengan pengabdian dan kreativitas. Banyak lagu yang ia ciptakan di sela-sela kesibukannya. Istrinya tetap menjadi guru dan seniwati yang giat berkesenian. Pak Sartono berhenti mengajar di SMP Bernardus pada tanggal 30 Juni 2002. Gaji terakhir yang diterima Sartono di situ Rp60.000 sebulan.

“Pak Sartono itu orang yang penurut, tak suka menuntut. Ia nrimo. Tapi, bukan berarti pasrah begitu saja dan menyerah dengan kehidupan yang serba susah di zaman itu,” kata istrinya. Menjelang sore, rumah yang sederhana itu saya tinggalkan. Sepanjang jalan pulang saya merenung, inspirasi apakah yang akan datang di dalam benak saya saat berada di dalam bis? (*)

Sidik Nugroho, guru SMA St. Petrus Pontianak dan penulis lepas.

Ketika Cinta Harus Kehilangan

Mungkin tidak banyak orang yang mengenal siapa itu Mary Austin. Wanita ini pernah menjalin hubungan asmara dengan seorang penyanyi ternama. Ia adalah Freddie Mercury, vokalis band legendaris Queen. Mary Austin, seorang karyawati di sebuah butik di London, menjalin hubungan asmara dengan Freddie selama tujuh tahun.

Namun, perjalanan cinta mereka kandas di tengah jalan, entah apa sebabnya. “Cinta kami berakhir dengan air mata, tapi ikatan yang mendalam tumbuh dari itu, dan itu sesuatu yang tidak bisa diambil dari kami berdua,” kata Freddie Mercury. Di kemudian hari, ia menciptakan Love of My Life yang tak lekang oleh perubahan zaman — sebuah lagu tentang cinta yang hilang.

Banyak orang yang meributkan soal kehidupan pribadi Freddie Mercury, terutama soal perilakunya yang urakan. Namun, tak sedikit juga yang tidak ambil pusing dengan perilaku sang penyanyi ini — mereka menggemari karya-karyanya dengan sepenuh hati. Dan, terkait dengan Mary Austin, berita baiknya adalah mereka berdua tetap menjadi teman baik. Hingga Freddie meninggal pada 24 November 1991, hubungan baik keduanya tak terpisahkan. Mary bahkan menjadi pewaris beberapa kekayaan yang dimiliki Freddie.

Begitu banyak orang yang lebih memilih melupakan mantan kekasihnya ketika hubungan mereka kandas di tengah jalan. Tak sedikit yang menyimpan trauma dan dendam sekian lama. Ketika cinta harus kehilangan, dan tak bisa dipertahankan, hal itu memang menuntut kedewasaan seseorang untuk tetap kuat dan terus melanjutkan hidupnya.

“Aku mencintaimu tanpa mengetahui bagaimana, mengapa, bahkan dari mana.”
~ Dari film Patch Adams ~

Membaurnya Derita dan Bahagia

Dalam Bukan Pasar Malam, novelnya yang cukup tersohor, diterbitkan pertama kali pada tahun 1951, Pramoedya Ananta Toer mengisahkan seorang anak revolusi yang mengunjungi ayahnya yang sakit keras akibat TBC. Ayahnya, seorang guru, setia berbakti pada negara sebagai pendidik yang menolak jabatan menjadi pengawas sekolah. Ia juga seorang aktivis partai yang dermawan, walau juga punya satu sifat buruk: suka berjudi.

Yang mengesankan adalah suatu malam ketika si anak bisa menjaga ayahnya hingga tidak tidur. Pramoedya menulis “… betapa bahagia rasanya tidak tidur untuk kepentingan seorang ayah — ayahnya sendiri — yang sedang tergeletak sakit. Dan terasalah olehku betapa gampangnya orang yang hidup dalam kesengsaraan itu kadang-kadang — dengan diam-diam — menikmati kebahagiaan.”

Terlepas dari muatan kritiknya terhadap kondisi politik Indonesia di masa itu, juga terhadap para jendral dan pembesar yang sarat dusta dan permainan kotor, novel yang amat disukai oleh Romo Mangun ini berupaya memaknai pertautan kasih bapak-anak yang dirasakan dan terjalin dalam penderitaan.

Pernahkah Anda berada di samping orang yang dekat dengan Anda, dan menunggu ajalnya tiba? Jikalau Anda dapat menghayatinya sungguh-sungguh, di saat-saat itulah kebahagiaan dan penderitaan berbaur; hakikat hidup yang sementara ini tersingkapkan; dan niat dan tekad untuk menjalani hidup agar lebih bermakna dibulatkan. ***

“Berbagi kesenangan melipatduakan kesenangan, berbagi kesedihan membuat kesedihan menjadi setengahnya.”
~ Peribahasa Swedia ~

Masa Kecil, Masa Sekolah, dan Imajinasi Penulisan (2)

Kepala Sekolah, Uskup Agung, dan Kerohanian yang Terguncang

Roald Dahl adalah pencerita yang berani. Setidaknya, buku ini mewakili pernyataan saya itu. Hal ini dibuktikan dengan keberaniannya mengisahkan seorang kepala sekolahnya yang kejam, tapi kemudian menjadi seorang uskup agung. Ketika membaca bagian ini, saya terhenyak dan merenung cukup lama.

Kepala sekolah Roald Dahl yang memimpin di sekolah-asrama di Repton, suatu ketika menjadi uskup di Chester. Tak lama kemudian ia diangkat menjadi uskup di London. Kemudian, ia menjadi uskup yang tertinggi di Inggris, di Canterbury. “Wah, wah, wah! (Dia) ini pria yang biasa memukuli anak-anak asuhannya dengan kejam!” tulis Roald Dahl.

Di bab yang sama, dengan sangat pribadi Roald Dahl menulis:

“Saat itu… aku duduk… mendengarkannya berkhotbah tentang Gembala Tuhan, dan tentang Kasih dan Pengampunan dan sebagainya, lalu benak mudaku menjadi amat bingung. Aku tahu persis semalam pengkhotbah itu tidak menunjukkan Pengampunan maupun Kasih saat mencambuk anak laki-laki yang melanggar peraturan.

“Apakah… hamba-hamba Tuhan ini, bilang A dalam ceramahnya tapi dalam kenyataannya melakukan B?”

Begitu membekas ingatan Roald Dahl akan guru, senior, dan kepala sekolah yang berlaku kejam kepadanya, sehingga pada akhirnya dia menulis dengan amat jujur: “Kupikir ini semua yang membuatku mulai memiliki keraguan tentang agama dan bahkan tentang Tuhan. Jika orang ini, aku kerap berkata kepada diri sendiri, adalah salah seorang pengkhotbah pilihan Tuhan di bumi, maka ada yang benar-benar salah dengan urusan ini.”

Pola Pendidikan dan Pengajaran yang Kaku — Roald Dahl dan Saya

Anak kecil membutuhkan kebebasan — selain bimbingan dan pengarahan. Saya tak banyak mengingat pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan pada waktu bersekolah. Saya, sama seperti Roald Dahl, lebih mudah menyimpan kenangan yang unik — entah itu dimarahi, atau justru menerima pujian.

Saya ingat pernah ditampar oleh seorang guru hanya karena iseng-iseng menyebut dia “pencuri”. Padahal, pada waktu itu cukup banyak siswa selain saya yang juga mengucapkannya sambil tertawa-tawa, ketika sang guru terpesona dengan tas koper baru milik seorang teman. Ia baru saja mengambil dan melihat bagian dalam tas itu. Ya, kami semua hanya bercanda. Namun, saya dengan teman saya, namanya Yohanes, karena ketahuan menyebut dia “pencuri” (sekali lagi saya tegaskan: dengan bercanda), ditampar! Kami tidak diijinkan mengikuti pelajaran guru itu selama beberapa kali pertemuan.

Guru favorit saya waktu SD adalah Pak Ferdinandus. Dia pandai membaca not balok, pandai main banyak alat musik, hapal gerakan beberapa senam, pintar berhitung, dan sangat komunikatif. Dia adalah guru paling murah senyum yang pernah saya kenal. Suatu ketika, imajinasi saya dan teman-teman dilambungkannya sedemikian rupa ketika ia berkata, “Ciptakan sesuatu, buatlah hal yang unik. Suatu saat, di antara kalian mungkin ada yang akan menciptakan sepakbola di udara.”

“Sepakbola di udara”¬† — tiga kata itu tak pernah saya lupakan seumur hidup.

Ada juga seorang suster yang sangat kejam. Suatu ketika, suster itu — saya lupa siapa namanya dan mata pelajaran apa yang diajarkannya — mengumpulkan semua buku tulis kami yang sudah disampul kertas cokelat dan masih belum ditulisi satu huruf pun. Ya, waktu itu semester baru. Dengan tulisan tangannya yang indah dan rapi ia menulisi nama kami satu per satu di sampul depan. Ia berpesan kepada kami agar sampul depan buku itu tidak ditulisi atau dihiasi apa pun.

Saya mengabaikan pesan itu, tergoda menambahkan sedikit hiasan pada kata-kata yang ditulisnya. Betis saya dihantam rotan beberapa kali karenanya. Saya masih ingat, seorang teman baik saya, namanya Joni, melakukan sesuatu yang lebih fatal. Ia menghiasi tulisan suster itu dengan bingkai bergelombang menggunakan penggaris yang bergelombang. Suster itu marah bukan main. Rotan itu tidak menghantam betis Joni, tapi ditusukkan ke daun telinga Joni — tapi tidak di dekat lubang telinga — dan didorong kuat-kuat oleh suster itu sampai kepala Joni miring-miring. “Joniii… Joniii! Telingamu itu di mana?” katanya dengan begitu mengerikan.

Ketika menjadi guru, kadang saya heran dengan guru yang mudah marah hanya karena perbuatan iseng para muridnya yang sebenarnya tak membahayakan. Guru-guru seperti ini selalu ada — kaku, tak kenal kompromi, dan selalu menjaga jarak dengan anak didik. Guru-guru seperti inilah yang kerap dikisahkan Roald Dahl dalam cerita-ceritanya di buku ini.

Saya pernah menjadi anak kecil. Dan, saya rasa hampir semua anak kecil suka iseng — dalam batas-batas tertentu. Memelorotkan celana teman yang sedang pipis, atau menyembunyikan sepeda teman waktu pulang sekolah, adalah dua contoh keisengan saya waktu kecil. Tidak pernah ada perkelahian karenanya. Yah, saya heran, hanya karena keisengan-keisengan kecil serupa itu, ada guru yang marah-marah sampai berkeringat.

Kenangan Masa Kecil dan Imajinasi Penulisan Roald Dahl

Roald Dahl, lewat buku ini, serta-merta mengingatkan saya pada Stephen King. On Writing, buku memoar Stephen yang tersohor, juga berisi banyak kisah yang melatarbelakangi Stephen menulis cerita-ceritanya.

Sejauh ini saya sudah membaca dua karya Roald Dahl yang lain, yaitu Matilda dan Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib. Kali ini saya tengah membaca Danny Si Juara Dunia. Di buku Matilda, sosok kepala sekolah yang kejam begitu jelas digambarkan Roald Dahl. Namun, kekejaman itu diolahnya menjadi sesuatu yang lucu. Misalnya, bayangkan saja hal ini: seorang kepala sekolah memutar-mutarkan badan anak-anak SD seperti kincir angin dan melemparkannya beberapa meter.

Di sinilah saya menilai bahwa Roald Dahl dengan kreatif menjadikan keangkeran dan trauma yang menghantui dirinya sebagai bahan cerita yang lucu. Namun, tak semuanya berangkat dari hal yang angker dan kejam. Saat bersekolah di Repton, Roald Dahl bercerita bahwa kadangkala ia mendapatkan kiriman cokelat dengan berbagai bentuk dan rasa dari pabrik cokelat raksasa Cadbury. Itulah kenangan yang manis.

Berbeda dengan anak lainnya, ia sangat tergila-gila pada cokelat dan membayangkan Mr. Cadbury berbicara kepadanya. Ia juga membayangkan dirinya melakukan berbagai eksperimen untuk membuat cokelat yang lezat bersama Mr. Cadbury. Kenangan akan cokelat lezat dan imajinasi di masa kecil itu terus hidup. Setelah 35 tahun berlalu, Roald Dahl menulis sebuah cerita yang memikat dan disukai banyak orang, Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib. (*)

Sidoarjo, 10-11 Januari 2012

Masa Kecil, Masa Sekolah, dan Imajinasi Penulisan (1)

My candle burns at both ends
It will not last the night
But ah my foes and oh my friends
It gives a lovely light

Puisi di atas adalah motto hidup seorang penulis cerita anak. Ia adalah Roald Dahl. Bila diterjemahkan, kurang lebih menjadi demikian:

Aku bagai lilin yang terbakar di kedua ujungnya
Cahayanya tidak akan bertahan lama
Tapi ah kawan dan oh teman
Betapa indah cahayanya nan menawan

Puisi ini saya temukan di halaman terakhir buku Boy: Kisah Masa Kecil yang ditulis Roald Dahl, sehalaman dengan biodata penulisnya. Buku ini sangat menarik bagi saya. Roald Dahl bercerita tanpa beban di sepanjang buku ini. Ia mengisahkan kenakalan-kenakalan di masa kecilnya, guru dan sekolah-sekolah yang pernah ia singgahi, dan satu hal penting ini: beberapa kejadian pada masa kecilnya yang menjadi ide bagi penulisan buku-buku cerita yang ditulisnya ketika dewasa.

Demi memudahkan pembacaan, saya membuat beberapa subjudul. Di masing-masing subjudul yang saya tulis di bawah ini, saya menceritakan secara sekilas bagian-bagian yang bagi saya amat menarik. Selain itu, ada juga subjudul yang memuat sedikit ulasan dan refleksi saya tentang subjudul tersebut. Ada juga subjudul tertentu yang saya kaitkan dengan pengalaman pribadi saya waktu kecil.

Tikus dalam Stoples

Roald Dahl dan keempat kawannya menemukan tikus mati di balik sebuah papan yang nyaris lepas di belakang kelasnya. Bukannya mengubur, dalam pikiran Roald kecil muncul sebuah niat nakal. Inilah kenakalan pertama yang dikisahkan Roald Dahl. Dengan keempat kawannya ia menyembunyikan tikus mati di dalam sebuah stoples yang berisi permen-permen. Stoples itu ada di sebuah warung milik Mrs. Pratchett yang suka berlaku sinis kepada anak-anak.

Kejadian ini membuat kepala sekolah, Mr. Coombes, berang bukan kepalang. Ia memukuli pantat kelima anak itu dengan kejam. Pantat mereka semua kemudian memar dan mengerikan. Karena kejadian ini, ibu Roald kecil yang saat itu membesarkannya seorang diri memutuskan untuk memindahsekolahkan Roald. Ibunya menganggap bahwa guru atau kepala sekolah yang suka memukuli anak didiknya sampai sedemikian kelewatan berarti sebenarnya tidak bisa mendidik anak-anak didiknya.

Pipa Tembakau dan Kotoran Kambing

Kakak tiri Roald Dahl memiliki tunangan yang suka menghisap pipa. Ia seorang dokter muda yang gagah. Saat berlibur ke Norwegia, tunangannya itu juga turut serta. Pipa yang selalu dihisapnya suatu ketika tertinggal di bebatuan. Tak jauh dari pipa, ada kotoran kambing yang sudah mengering.

Tembakau yang masih ada di dalam pipa dikeluarkan, kotoran kambing itu ia masukkan, lalu ia tutupi lagi dengan tembakau yang tadi dikeluarkan. Dokter itu kembali mengambil pipanya dan menghisapnya. Dokter malang itu menjerit sekuat tenaga begitu merasa ada yang tidak beres dalam pipanya. Inilah kenakalan lain Roald Dahl yang gila-gilaan, mirip beberapa kenakalan yang ditulisnya dalam buku-bukunya yang lain.

Corkers, Guru yang Eksentrik

Hampir semua guru, kepala sekolah, dan senior di sekolah-asrama yang pernah disinggahi Roald Dahl ditampilkan sebagai sosok yang angker. Mereka semua tampaknya menjadi musuh anak-anak kecil yang ceria, imajinatif, dan penuh rasa ingin tahu. Sekolah dan asrama, dalam cerita-cerita di buku ini menjadi tempat yang selalu ditakuti — penuh peraturan, hukuman, dan kedisplinan yang harus diperhatikan setiap saat.

Satu-satunya guru yang dikisahkan dengan berbeda adalah Corkers. Ia adalah seorang guru Matematika yang eksentrik. Ia pernah mengajak murid melihat teka-teki silang untuk mengganti sebuah materi yang membosankan dan membawa ular ke dalam kelas untuk melatih nyali anak-anak. Pelajaran Corkers seringkali penuh dengan gangguan yang diciptakannya sendiri. Entah bercanda, entah mengidap kelainan jiwa, Corkers dikisahkan begitu aneh.

Suatu hari ia membawa kertas tisu yang tipis, dan menanyakan ke anak-anak berapa tebal kertas tisu itu jika dilipat sebanyak 50 kali. Semua anak berlomba-lomba menjawab, dan tidak ada satu pun jawaban yang benar. Jawabannya ternyata adalah jarak antara matahari dengan bumi. Corkers menjelaskan jawaban itu kepada anak-anak di papan tulis, dan mereka semua — anehnya, atau lucunya, atau gilanya — terkagum-kagum kepadanya.

Corkers mengajar mereka tidak lama. Hari terakhir Corkers mengajar masih diingat oleh Roald Dahl. Saat itu Corkers tengah mengajar dan ia mencium bau kentut yang busuk sekali. Seisi kelas heboh, anak-anak jumpalitan membuka pintu dan jendela agar udara segar masuk. Dan setelah kejadian kentut itu, Corkers tak muncul lagi. (Bersambung)

Sidoarjo, 10-1-2012

Enggan Membaca Tulisan Sendiri

Saya pernah didatangi beberapa penulis yang mengaku baru saja menyelesaikan cerpen atau karya tulis lainnya. Mereka minta tolong agar semua hal yang bagi saya adalah suatu kesalahan penulisan, diperbaiki. Saya bertanya apakah mereka sendiri sudah membaca ulang karya mereka, mereka jawab tidak. Saya anggap, inilah kesalahan yang fatal di kalangan penulis pemula.

William Faulkner, seorang pemenang Nobel Sastra, pernah menyatakan, “Penulis-penulis muda terlalu dungu mengikuti teori. Ajarlah dirimu sendiri melalui kesalahan-kesalahan yang pernah kaulakukan — orang belajar dari kesalahan. Seniman yang baik tidak boleh berharap pada siapa pun yang mungkin dapat memberi nasihat padanya.”

Tidak sedikit penulis yang begitu selesai menulis, langsung mengirim tulisannya ke redaktur atau penerbit. Semangatnya menggebu-gebu, ide dan inspirasi di kepala tidak pernah kering. Tangannya terus menulis segala sesuatu yang memantik gagasan untuk dituangkan dalam kata-kata. Puisi, cerpen, artikel, semua ditulis! Namun, di balik semua itu, salah tulis bertaburan di mana-mana. Inilah yang kerap menjadi alasan penolakan tulisan.

Dalam bidang apa pun, kita perlu meninjau ulang apa yang sudah kita kerjakan. Begitu banyak hal yang bisa dikoreksi dan diperbaiki ulang, dan hasilnya mungkin akan (jauh) lebih baik daripada dikerjakan sekali jadi. Dan, mungkin kita tidak sadar, bahwa kebiasaan ini pada akhirnya juga akan membuat kita belajar lebih banyak — yakni belajar menemukan kekurangan diri sendiri.

Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya.
~ Alexander Pope