Juan Gordillo dan Bruce Wayne

Juan Manuel Sanchez Gordillo adalah walikota dari Marinaleda, Provinsi Andalusia, selatan Spanyol. Namanya tengah diperbincangkan berbagai media karena tindakannya yang heroik. Awal bulan lalu ia memerintahkan rakyatnya tidak membayar tagihan ke bank. Hari ini, Kamis, ia mengerahkan beberapa rakyatnya menjarah dua toko swalayan terbesar di Marinaleda. Hasil jarahan berhasil dibagikan kepada rakyat yang paling miskin. Rakyat Spanyol sekarang banyak yang jadi pengangguran dan mengalami krisis ekonomi.

Membaca berita itu saya jadi teringat film The Dark Knight Rises (TDKR) yang sempat saya tonton tiga kali. Dalam film itu Batman menjadi superhero yang tidak diketahui siapa jati dirinya. Bahkan, di film Batman yang sebelumnya, Batman Begins, ia menampilkan dirinya sebagai orang yang urakan di sebuah acara. Gayanya flamboyan, ditemani dua gadis seksi. Bruce Wayne, sang Batman, selalu menyembunyikan identitasnya.

Dalam TDKR, Batman berkata bahwa semua orang bisa menjadi Batman. Gordillo memilih tampil tak bertopeng, sementara Bruce memilih tampil misterius. Saya lebih menyukai pilihan Bruce untuk selalu tampil misterius — semua nait baik dan semangat juangnya ia sembunyikan. Namun, saya pun belajar memahami mengapa Juan Gordillo tak bisa bertindak sembunyi-sembunyi — ini bukan kisah superhero, Bung!

Pada akhirnya, kepahlawanan seseorang akan diuji dengan publisitas. Pro dan kontra akan muncul. Bruce Wayne meninggalkan jubah kepahlawanannya, mendirikan panti asuhan, dan hidup sederhana. Ia lebih memilih untuk tak dikenang sebagai Batman. Apa yang nantinya terjadi dengan Juan Gordillo? Entahlah. Saya hanya teringat kepada Ralph Waldo Emerson yang suatu ketika pernah menulis, “Semua pahlawan akan membosankan pada akhirnya.”

~ Sidik Nugroho

Advertisements

Dedikasi Guru-guru bagi Anak-anak Cacat

Pada tanggal 5 November 2011 saya berkunjung ke SLB (Sekolah Luar Biasa) Bhakti Luhur. Istilah SLB ternyata sudah diganti dengan SABK (Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus). Hari masih pagi, sekitar pukul delapan. Di hari ini kegiatan pembelajaran tidak sepadat pada hari Senin hingga Jumat, sehingga saya berkesempatan berbincang-bincang dengan beberapa guru dan melihat-lihat kegiatan pembelajaran di SABK ini. Seminggu yang lalu, 29 Oktober 2011, sebenarnya saya sudah berkunjung ke sini, namun hanya sebentar.

Suster Merry, asisten Kepala Sekolah di SABK ini, menemani saya berkeliling ke kelas-kelas, melihat kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Sambil berkeliling dia bercerita kalau pendiri sekolah ini, Romo Yansen, mendirikan sekolah ini karena terilhami perjuangan dan bakti Santo Vincentius, salah satu orang kudus yang dijunjung orang Katolik. Sekolah Bhakti Luhur yang ada di depan Plasa Dieng di Malang ini luas sekali. Di sini ada TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB atau SABK.

***

Guru SABK Bhakti Luhur yang saya ajak bicara pertama kali adalah Ibu Claudia Merry, yang biasa dipanggil Ibu Merry. Ibu Merry berusia 51 tahun. Saat ini dia menjadi guru kelas di kelas tunarungu (bisu-tuli) tingkat TK B. Dia sudah mengajar sejak tahun 1984. “Saya ingin menjadi guru sejak kecil. Bapak saya seorang guru,” katanya kepada saya.

Dia bercerita bahwa mendidik anak-anak bisu-tuli memerlukan kecakapan khusus. Anak-anak tunarungu harus dihadapi lebih sabar dan lebih teliti. Konsentrasi yang diperlukan untuk mendidik seorang anak tunarungu juga tinggi. Belum lagi kalau ada anak yang mogok belajar, dan kadang bertingkah semaunya.

Selama mendidik anak tunarungu, Ibu Merry memiliki banyak pengalaman yang mengesankan. Salah satunya adalah ketika ia mendapat seorang murid bernama Jorei. Waktu pertama kali Jorei masuk sekolah, dia sama sekali tidak mau belajar. Hampir setiap hari dia hanya tidur pagi sampai siang. Susah untuk membangkitkan semangat belajarnya. Namun, Ibu Merry pantang menyerah. Salah satu cara yang ditempuh Ibu Merry adalah dengan menyalakan lampu seterang-terangnya saat belajar. Karena, dalam keadaan gelap, si Jorei akan mudah mengantuk. Cara lain adalah dengan membuat banyak alat peraga yang merangsang anak untuk belajar. Karena anak-anak di sini konsentrasi belajarnya tidak seperti anak normal.

Jorei yang bisu, tuli, dan low vision (berkemampuan melihat rendah) pada akhirnya berhasil digerakkan motivasi belajarnya. Jorei sangat menyayangi Ibu Merry. Suatu ketika Ibu Merry sakit, dan harus dioperasi kista-nya di rumah sakit. Hampir sebulan Jorei tidak bertemu dengan guru kesayangannya itu. Begitu mereka bertemu, Jorei memeluk Ibu Merry.

“Menjadi guru di sini adalah bentuk pengabdian dan pelayanan saya, Mas,” katanya kepada saya. Ibu Merry bercerita kalau murid-murid yang ada di SABK ini tidak sedikit yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. “Bahkan ada yang dulunya di jalanan, kemudian dibawa ke sini, Mas. Dengan latar belakang seperti itu, saya otomatis tidak terlalu memikirkan gaji. Menjadi pengajar sudah menjadi semacam panggilan.”

***

Guru kedua yang saya temui adalah Ibu Yustina Rini, yang sering dipanggil Ibu Yustina. Ia sudah berusia 39 tahun, mengajar di sini sejak 1993. Ibu Yustina menjadi wali kelas D3 (Dasar tingkat 3).

Hal yang membuat Ibu Yustina tergerak menjadi guru SLB sungguh menarik.

Keluarga Ibu Yustina tidak ada seorang pun yang menjadi guru. Suatu hari — saat itu ia masih SMA — ia tertarik dengan kehidupan seorang anak di desanya, desa Gampang Lor, Ambar Ketawang, Yogyakarta. Anak ini tunarungu, dan ia tidak bisa belajar seperti anak-anak lainnya. Orang tua anak itu bekerja sebagai tukang bengkel.

Ibu Yustina mencoba mengajari anak ini semampunya, lalu anak itu masuk ke sebuah SLB. Setelah tamat SMA, Ibu Yustina bertekad mengajari anak-anak tunarungu sebanyak-banyaknya. Orang tua dan keluarganya sempat menyarankan ia mengambil pendidikan yang umum saja, untuk anak-anak normal. Namun, Ibu Yustina bersikeras. “Saya rasa sudah banyak orang yang mendidik anak normal,” katanya, “dan masih sedikit yang mau mendidik anak-anak tunarungu.”

Ia pun masuk ke SPGLB (Sekolah Pendidikan Guru Luar Biasa) di Wates, Yogyakarta. Mejelang lulus, ada tawaran untuk mengajar di Malang. Di sinilah ia sekarang berada, bersama dengan anak-anak didiknya. Ia bercerita kalau anak-anak muridnya digolongkan bukan berdasarkan usia, namun kemampuan yang mereka miliki. Ada anak yang sudah berusia 15 tahun, tapi masih di kelas D3. Hal ini terjadi karena orang tuanya terlambat memasukkan anaknya ke sekolah.

“Sekarang, tetangga saya yang tunarungu itu sudah punya suami, Mas,” katanya kepada saya. “Tiap kali saya pulang ke Yogya, ia selalu menemui dan menyalami saya. Dia sekarang menjadi tukang jahit, dan anaknya sudah dua orang.”

Salah satu pengalaman Ibu Yustina yang amat menggugah adalah ketika ia mendapat seorang murid bernama Diar. Diar memiliki sakit jantung sejak lahir. Berdasarkan pemeriksaan dokter, jantungnya harus dioperasi. Orang tua Diar membawanya ke rumah sakit Harapan Kita, Jakarta. Ibu Yustina terkesan dengan semangat belajar Diar. Di rumah sakit pun, Diar tetap bersemangat belajar. Ibu Yustina sampai pergi ke Jakarta juga untuk menemani dan membimbing Diar belajar.

Operasi Diar berjalan dengan baik, sekarang ia sudah duduk di kelas D6 (Dasar tingkat 6). “Salah satu tantangan yang terbesar mendidik anak-anak di sini adalah membiasakan mereka berbahasa oral (lewat mulut). Oleh karena itu saya membatasi penggunaan bahasa isyarat,” kata Bu Yustina. Ia memperkenalkan huruf-huruf kepada mereka, dan mengajak mereka melihat gerakan bibirnya saat mengucapkan huruf-huruf itu.

***

Setelah berbincang-bincang dengan dua guru di kelas tunarungu tadi, saya diajak Suster Merry bertemu dengan Ibu Lusiana (Ibu Lusi) dan Ibu Ana Tri Astuti (Ibu Ana). Ibu Lusi berusia 43 tahun, sudah menjadi guru sejak tahun 1992. Ibu Ana berusia 38 tahun dan sudah menjadi guru sejak 1995. Mereka berdua adalah guru di kelas tunagrahita.

“Pada intinya, anak-anak tunagrahita adalah anak-anak yang slow learner,” kata Ibu Lusi. “IQ mereka umumnya di bawah 80.”

Anak-anak tunagrahita ada yang menggunakan kursi roda sepanjang waktu. Ada yang berjalan lambat dan tertatih-tatih. Ada juga yang raut wajahnya unik. Beberapa anak di sini juga ada yang tergolong down syndrome. Tak sedikit anak-anak tunagrahita yang susah diatur, sangat nakal. “Mengajari mereka sangat memerlukan ketelatenan. Apa yang diajarkan harus sering diulang-ulang,” kata Ibu Ana.

Ibu Lusi dan Ibu Ana sama-sama menegaskan kalau mengajari anak-anak tunagrahita harus kreatif dan inovatif. Anak-anak normal mungkin betah bila diberi ceramah 15-20 menit, namun tidak demikian dengan anak-anak ini. “Tantangannya terutama dalam menciptakan alat peraga yang menarik sehingga anak-anak ini bisa diajak berpikir,” kata Ibu Ana.

Sama seperti Ibu Lusi, Ibu Ana juga menyatakan dia selalu memikirkan cara agar target pembelajaran tercapai. “Kadang, bila suatu materi susah dipahami, saya selalu memikirkan alat peraga apa yang pas dipakai untuk anak-anak. Kadang, sampai rumah pun masih terus saya pikirkan.”

***

Hari semakin siang. Saya sangat senang dengan apa yang saya temui dan alami hari ini. Suster Merry yang menemani saya akan pergi ke Blitar, ke sebuah desa kecil untuk melakukan tugas-tugas pelayanan edukasi dan gerejawi. Saya menyempatkan diri mengambil foto-foto di SABK Bhakti Luhur. Kira-kira jam sebelas siang, saya meninggalkan sekolah ini.

Selalu ada sisi menarik dari dunia pendidikan, selalu ada suka-duka di dalamnya. Para guru selalu memiliki kisah yang inspiratif saat mendidik dan mengajar para muridnya. Begitu pula para murid dalam menempuh pendidikan — selalu ada murid yang semangat hidup dan kegigihannya menginspirasi banyak orang. Para guru dan murid ini hidup melampaui batas-batas penghalang, berupaya menempuh pendidikan karena keyakinan akan adanya hari depan yang lebih baik. (*)

Nenek, Kue-kue, dan Cucunya

Hingga sekarang, saya selalu bersyukur bisa hadir dalam pertemuan family altar (ibadah keluarga) di rumah bapak Johnny, seorang aktivis di Gereja Bethel Indonesia El Shaddai, Pontianak pada Jumat lalu, 3 Agustus 2012. Ini kali pertama saya ikut ibadah keluarga di Pontianak setelah ampir dua bulan saya ada di sini.

Pada kesempatan itu, seorang bapak yang turut hadir, bernama Pak Ricky, membawa beberapa kue untuk kami santap setelah ibadah. Dia membawa dua jenis kue: bakpau dan pastel.

Bakpau itu ada yang berisi kacang tanah, ada juga yang berisi bengkuang. Pastelnya ada yang berisi bengkuang, ada yang berisi bihun. Pak Ricky membawa makanan itu untuk mensyukuri seorang anaknya yang diterima di SMA 3 Pontianak dan seorang anaknya yang naik kelas 4 SD. Kami semua bersukacita bersama keluarga Pak Ricky yang tengah gembira. Kami yang ada di situ juga sangat menyukai bakpau dan pastel yang dibawanya.

Bakpau dan pastel yang dibawa Pak Ricky rasanya sangat enak. Saya paling suka dengan bakpau dan pastel yang berisi bengkuang. Kedua kue itu bila dimakan dengan sambal cair, rasanya benar-benar maknyus.

Dan, kami semua terheran-heran, bakpau dan pastel yang enak-enak itu, semuanya dijual dengan harga yang murah — per buah Rp500,00 saja.

Cerita pun berlanjut tentang siapa yang membuat bakpau dan pastel itu. Pak Ricky bercerita bahwa bakpau dan pastel itu dibuat oleh seorang nenek yang usianya sudah sangat lanjut, 70 tahun lebih. “Tiap hari dia selalu bangun saat hari masih gelap, menyiapkan semua dagangannya yang dijual door to door,” kata Pak Ricky.

Pak Ricky kemudian bercerita kalau nenek itu menjual dagangannya door to door karena menghindari persaingan dengan sesama pembuat dan penjaja kue. “Kalau kue-kue ini dititipkan di warung, kue-kue lain yang juga dititipkan tentu akan kalah saing. Kue buatan nenek ini harganya murah, rasanya enak. Nah, nenek itu sadar akan kelebihannya, dia pun mencari cara lain, menjualnya door to door,” kata Pak Ricky.

Pak Ricky mengisahkan kalau nenek tua ini, walaupun badannya sudah ringkih, tetap tampak penuh semangat ketika menjajakan kue-kuenya. Ia tampak penuh sukacita dan pengharapan. Ia dikasihani karena usianya yang renta, tapi sekaligus sangat dihormati karena kue-kuenya yang enak.

Tiap hari sang nenek membawa dua keranjang — masing-masing di tangan kanan dan kirinya — menjajakan dagangannya kepada para tetangga dan langganan. Ada beberapa langganannya yang sangat menyukai kue-kue itu. Bila bertemu dengan nenek ini, mereka akan membeli banyak kue.

Perjuangan nenek ini yang hingga sekarang selalu gigih membuat dan memasarkan kue-kue itu, ternyata sangat menggugah.

Beberapa tahun yang lalu, anaknya melahirkan seorang bayi dari hasil percintaannya dengan seorang pria. Namun, pria itu meninggalkan kekasihnya tak lama setelah bayi mereka lahir. Ibu si bayi mendapatkan kekasih lain yang kemudian menjadi suaminya.

Saat bayi itu masih berusia lima bulan, ibu bayi itu memutuskan untuk ke Taiwan, mengikuti suaminya. Si bayi tidak diajak turut serta, ditinggal bersama sang nenek. Sejak ia berusia lima bulan, hingga sekarang sudah kelas 3 SMP, si nenek itulah yang merawatnya. Nenek itu membesarkannya dan menyekolahkannya dengan uang yang didapatkannya dari menjual kue-kue itu.

Saya tidak tahu apakah ibu si bayi sudah mulai memberikan bantuan dana kepada si nenek untuk menyekolahkan anaknya. (Pada kesempatan lain saya akan mencaritahu tentang hal ini.) Yang jelas, ibunya belum pernah pulang sejak ia meninggalkan sang nenek dan anaknya yang masih berusia 5 bulan. Dan, nenek ini bukanlah orang yang kaya — ia dikenal hidup sederhana oleh orang-orang di sekitarnya dan Pak Ricky.

Merenungkan perjuangan kehidupan sang nenek, saya jadi teringat sebuah pernyataan C.S. Lewis, seorang penulis. Ia pernah menyatakan hal ini: “Engkau tidak akan pernah tahu seberapa besar kepercayaanmu mengenai sesuatu hal sampai hal itu menjadi masalah antara hidup dan mati.” Nah, membuat kue-kue yang enak mungkin hanya hal sepele bagi sebagian orang — mungkin sebuah pekerjaan sambilan.

Tapi, ada kalanya kue-kue yang enak lahir dari sebuah pergulatan — antara hidup dan mati. (*)

Pontianak, 6-7 Agustus 2012

Himne Guru: Inspirasi dari Guru yang Ketiban Sial

Hari masih pagi, belum pukul 07.00. Suasana tahun baru masih terasa di beberapa bagian kota Surabaya. Pagi itu, Sabtu, tanggal 14 Januari 2012, terminal bis Bungurasih di Surabaya tidak begitu ramai. Saya santai sejenak di warung kopi sebelum menumpang sebuah bis Sumber Kencono yang hendak menuju ke Madiun.

Kepergian saya ke Madiun adalah untuk menemui Pak Sartono, pencipta lagu Pahlawan tanpa Tanda Jasa yang lebih dikenal sebagai himne guru. Sebelum hari itu, kami pernah bertemu dalam sebuah acara. Ibu Tiwi, pendamping Pak Sartono, yang juga adalah adik iparnya, mengisahkan masa lalu Pak Sartono sebagai guru. Pak Sartono kini sudah sering tidak fokus dalam berbicara — kadang omongannya melantur atau diulang-ulang.

Ibu Tiwi menyatakan, “Tiga puluh tahun lagu himne guru diciptakan, namun baru akhir-akhir ini Pak Sartono mendapat perhatian dari banyak pihak. Pak Sartono semakin sering diundang ke sana kemari, menjadi narasumber untuk berbagai acara pendidikan. Namun, beliau ini tidak bisa berbicara dengan lancar karena faktor usia. Oleh karena itu, saya sering mendampingi beliau.”

***

Perjalanan saya ke Madiun cukup lancar dari Surabaya — hampir 6 jam. Saya sampai di terminal Madiun tengah hari. Di sana saya bertemu dengan tukang ojek yang bernama Suprapto, yang biasa dipanggil Pak Prapto. Saya mengajaknya berbincang-bincang mengenai kota Madiun. Saya kemudian menjelaskan kedatangan saya, mau bertemu dengan Pak Sartono, pencipta himne guru.

“Saya kelihatannya pernah tahu tentang beliau, Mas, tapi agak lupa,” kata Pak Prapto ketika saya bertanya kepadanya mengenal Pak Sartono atau tidak.

Saya pun dibawa ke alamat Pak Sartono, di jalan Halmahera No. 98. Rumah Pak Sartono berada di ujung jalan itu, tak jauh dari pemakaman umum. Rumahnya sederhana, usianya sudah puluhan tahun. Rumah itu warisan dari orangtua Pak Sartono. Saya disambut ramah oleh Pak Sartono, istrinya, dan Ibu Tiwi. Ibu Tiwi telah menyiapkan rujak dan es tape untuk saya.

Image
Saya seperti berada di tengah-tengah orang yang sudah lama saya kenal. Saya tak merasa asing. Saya mengajak Ibu Tiwi dan Ibu Damiati berbincang-bincang. Pak Sartono duduk di sebuah kursi, mendengarkan apa yang kami bicarakan. Pak Sartono selalu tersenyum, sekali-sekali ia mengangguk-angguk. Ibu Damiati sangat senang dengan kunjungan saya. Ia mengisahkan banyak cerita tentang Pak Sartono dan dirinya sendiri. Saya berada di rumah itu hampir tiga jam.

Ibu Damiati dan Ibu Tiwi juga menunjukkan foto-foto keluarga Pak Sartono pada masa lalu. Beberapa penghargaan yang diterima oleh Pak Sartono, naskah asli lagu himne guru, beberapa kenangan dan cinderamata, dan beberapa foto lainnya dipajang di ruang tamu itu. Suasana siang itu di Madiun sangat menyenangkan untuk sebuah pembicaraan.

Sambil menikmati rujak yang disuguhkan, saya berbincang-bincang dengan Ibu Damiati dan Ibu Tiwi. Cuaca sedang panas pada kunjungan pertama ini. Pada siang itu, berbagai peristiwa dan kenangan masa lalu dikisahkan kembali oleh Ibu Damiati kepada saya. Beberapa foto Pak Sartono dan Ibu Damiati juga ditunjukkan kepada saya.

***

Pada waktu remaja dan sekolah Pak Sartono mendirikan grup musik bersama teman-temannya. Lagu-lagu yang sering mereka nyanyikan adalah keroncong. Sartono sering memainkan gitar di dalam grup keroncongnya.

Masa-masa sekolah berlalu, Sartono kemudian bekerja di Lokananta, sebuah perusahaan rekaman musik, pembuat piringan hitam. Dari situ minat dan kecintaannya terhadap musik kian bertumbuh. Grup band yang ia dirikan bersama teman-temannya suatu ketika mendapat tugas dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) karena Sartono dimasukkan dalam korps musik TNI. Tugas tersebut adalah menghibur para tentara yang akan berangkat perang di Irian Barat.

Tugas itu diberikan kepada Sartono dan grup musiknya pada tahun 1963. Saat itu, bangsa Indonesia tengah berjuang membebaskan Irian bagian barat yang diklaim oleh Belanda sebagai miliknya. Presiden Soekarno, dua tahun sebelumnya, tepatnya pada 19 Desember 1961, mencetuskan Operasi Trikora yang bertujuan untuk merebut kembali wilayah tersebut.

Selama tiga bulan Sartono ada di Irian, menghibur para tentara yang akan melaksanakan tugas negara. Ia kembali lagi ke Madiun setelah tugas itu. Saat kembali ke Madiun, harapannya untuk mendapat kesempatan bekerja sebagai TNI atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak kesampaian. Beberapa temannya yang ikut dalam korps musik di TNI diangkat menjadi TNI, namun ia tidak.

“Pak Sartono tidak diangkat karena dia tidak punya koneksi, Mas. Orang yang tidak punya koneksi pada zaman dahulu susah untuk menjadi TNI atau PNS,” kata Damiati, istrinya. Sartono tetap bermain musik bersama teman-temannya untuk mencari nafkah. Ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun.

“Pak Sartono pernah kerja di bioskop, mengurusi bagian reklame bioskop. Ia juga pernah juga bekerja di PT. Mitrako di Magetan. Waktu kerja di Mitrako, kesejahteraan cukup baik. Perusahaan itu milik orang-orang Tionghoa. Di sana Pak Sartono bisa makan enak,” kata Damiati.

Saat bekerja di Mitrako, Sartono juga terus menekuni musik. Ia mahir memainkan kulintang, saksofon, dan gitar. Ia sempat menciptakan beberapa lagu, memberi les musik kepada beberapa orang. Ia kadang juga menjadi juri kalau ada lomba menyanyi, paduan suara, atau musik. Saat-saat inilah ia bertemu dengan Damiati. Sartono bermain musik, Damiati bernyanyi — mereka sering tampil sepanggung. Rasa saling menyukai pun tumbuh di antara keduanya. Sartono dan Damiati menikah pada tahun 1971.

Dengan modal kemampuan bermusiknya itu, Sartono berhasil mendapat pekerjaan mengajar di SMP Purna Karya Bhakti, yang lebih dikenal dengan nama SMP Katolik Santo Bernardus. Ia mengajar tiga kali seminggu. Sartono mengajar musik, juga vokal atau paduan suara. Ia bisa bekerja di sana karena Damiati, istri Sartono yang beragama Katolik, mengenal dengan baik salah satu suster di situ. “Saya dulu waktu sekolah tinggal di asrama. Nah, kebetulan saya kenal dengan salah satu suster. Suster itulah yang meminta Pak Sartono untuk mengajar di sekolah itu. Walaupun Pak Sartono beragama Islam, tidak masalah. Sartono pun mulai resmi mengajar di sekolah itu pada tanggal 1 Januari 1978,” kata Damiati.

Sambil mengajar di SMP Santo Bernardus, Sartono juga mengajar anak-anak TK Perhutani di Nganjuk bermain kulintang. Pada suatu perjalanan ke Nganjuk untuk mengajar, tahun 1980, ia membaca pengumuman lomba menciptakan himne guru di sebuah koran. Ia membaca pengumuman itu di dalam bis: ada sayembara mencipta lagu himne guru yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Nasional!

Ia tertarik mengikuti lomba itu. Hadiahnya amat besar di masa itu, Rp750.000. Dalam perjalanan pulang Pak Sartono menggumamkan nada-nada yang nantinya akan ia tuliskan. Di sepanjang perjalanan, bahkan sampai tiba di rumah, ia sama sekali tak mendapat ide untuk menuliskan kata demi kata dalam lagu itu.

Saat menuliskan lagu itu, tenggat waktu yang ditetapkan panitia lomba tinggal dua minggu. Dengan bantuan istrinya, yang mengisahkan kehidupan seorang guru yang dikenal baik oleh mereka berdua, akhirnya lagu itu pun jadi. Penciptaan lagu itu ternyata diilhami oleh seorang rekan guru yang dikenal oleh Pak Sartono bernama Suroyo, atau kerap dipanggil Pak Royo.

Pak Royo suatu ketika mengalami kesusahan ekonomi akibat sebuah musibah yang menimpa keluarganya, hartanya habis dirampok orang. Setelah ketiban sial ia pun mengamen sambil tetap mengajar. Perjuangannya mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup kemudian dituangkan pak Sartono dalam lirik lagu Pahlawan tanpa Tanda Jasa atau himne guru.

Namun, persoalan lain datang. Ketika hendak mengirimkan lagu itu ke Jakarta, Pak Sartono tidak memiliki cukup uang. Pak Sartono pun pergi ke toko yang menerima lungsuran pakaian bekas, menjual pakaiannya. Uangnya dipakai untuk membeli perangko.

Pahlawan tanpa Tanda Jasa akhirnya terpilih menjadi himne guru setelah melalui serangkaian seleksi yang ketat. Pak Sartono mendapat hadiah dan penghargaan. Lagu itu mulai dinyanyikan di sekolah-sekolah di tanah air — dari Sabang sampai Merauke. Himne guru terdengar di segenap penjuru negeri.

Kehidupan Pak Sartono tak serta-merta berubah drastis. Ia tetap menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta di Madiun. Kisah hidup Pak Sartono sarat dengan pengabdian dan kreativitas. Banyak lagu yang ia ciptakan di sela-sela kesibukannya. Istrinya tetap menjadi guru dan seniwati yang giat berkesenian. Pak Sartono berhenti mengajar di SMP Bernardus pada tanggal 30 Juni 2002. Gaji terakhir yang diterima Sartono di situ Rp60.000 sebulan.

“Pak Sartono itu orang yang penurut, tak suka menuntut. Ia nrimo. Tapi, bukan berarti pasrah begitu saja dan menyerah dengan kehidupan yang serba susah di zaman itu,” kata istrinya. Menjelang sore, rumah yang sederhana itu saya tinggalkan. Sepanjang jalan pulang saya merenung, inspirasi apakah yang akan datang di dalam benak saya saat berada di dalam bis? (*)

Sidik Nugroho, guru SMA St. Petrus Pontianak dan penulis lepas.

Living Life Enthusiastically (Book Review)

Reviewed by: T. Nugroho Angkasa

The title above was inspired by Sansan’s experience (p. 374). At the beginning, her daughter was normal. Then, she was infected by a certain virus. Suddenly, her beloved baby became deaf.

However, Sansan was not giving up. She even brought Gwen (her baby’s name) to Australia. Sansan was forced to be apart from her husband. Therefore, she became a single mother. She continued study to pursue S2 (Master) degree.

Sansan took Special Education subject. A faculty in which studying the education for children with special need. Sansan was very discipline in managing time. How to go to college, work on the task given by the lecturers, complete the household duties, and of course take care Gwen.

Based on her experiences, she wrote an inspiring book, I Can (Not) Hear. Sansan shared her knowledge to public. Especially, how to facilitate the learning process of children with special need. Therefore, future generation can achieve an equal opportunity in education.

From the true story above, Sidik Nugroho wanted to say one message. Sacrifice, effort, gratitude, and submission must be in a balance. Sincy, people tend to be passive in dealing with life’s challenges.

They avoid to work hard because of an old saying, “… everything has already destined by God”. Yet, this is just an excuse to hide her/his laziness.

Point of View

This book also appealed the readers to shift point of view. Once upon a time, a young teenager felt his life was nothing. Perhaps, he had rejected by a girl. In the midst of desperation, he went to meet a spiritual mentor.

The wise man listened to the pupil. After the boy satisfied outpouring his feeling, then it’s time for the master to speak up, “Son, please bring me a spoonful of salt. Then, mix them into a glass of water and drink it!”

This boy obeyed the instruction. “How does it taste?” The master asked. “Piuuuh! It’s very salty!“ the student replied while spouted the water out from his mouth.

After that, the master traveled with the student to the edge of a very vast lake. The water was so clear and fresh. The master asked the pupil again, “Please dissolve a spoonful of salt into the lake and stir it with a bamboo. Then, drink a cup of water from the lake!”

“The water is so fresh. It’s not salty at all,” the student answered with bright shinning eyes.

Through this simple story (p. 232)”, Nugroho told the reader to have a heart as wide as a lake. Because people who have a narrow one, every little thing shall cause stress and depression within him/her.

Porong citizens’ spirit can be a role model. Although since May 2006 they has not accept any compensations yet, they still persisted to survive. Moreover, they even become more creative.

Those victims transformed mud disaster – which was flooded 10,000 homes, dozens plants, as well as schools building from elementary to high school – into a tourism venue. Many tourists from all over Indonesia, even foreign country flocked to see this giant mudflow (p. 281).

It is similar with the community at the slopes of Merapi Mountain, Yogyakarta. They made the house of Mbah Maridjan (RIP) in Kinahrejo village as a place of pilgrimage.

Hopefully, these grass roots’ initiatives reminded the officials to fulfill the promise. By substituting all dead cows and cattle. Building some temporary shelters and setting up permanent residence for those people.

Romantic

The book also told a romantic story. Every morning, Mbah Khatijah presented a cup of hot tea. Her husband’s name is Mbah Setyowikromo. He worked as a charcoal seller. Both of them lived in the hamlet at Suko village. It was 40 km from Gudeg City. The income in average is IDR 2,000 – 5,000/day. This profession has been occupied since the Dutch era.

Interestingly, when selling charcoal in the Gudeg City, Mbah Setyowikromo has never bought any food. Indeed, he only ate once – it was always his wife own cooking  – usually in the evening.

The wife sold some teak leaves (daun jati) in the traditional market. With this kind of modest life, they could save money in a bamboo. Therefore, when there was a neighbor who conducted a celebration, they can give an envelope containing IDR 20,000 – 25,000-. “We do not want to eat food if has not paid yet,” said Mbah Khatijah (p. 161).

Through this true story, the author told the readers to reflect themselves. A person’s dignity is not only determined by his/her wealth and fame. It depended on every drop of sweat to gain the bliss of life.

Nowadays, a lot of government officers and the legislative members gaining money by unconventional (read: corruption) way. Indeed, hard work and honesty are two universal formulas to be successful. There are no shortcuts by robbing people’s budget.

Sidik Nugroho wrote the book in relatively long period, from 2003-2011 (8 years). It was consisted of 366 reflections. Just like a hunger healers menu, one day for one reflection. Therefore, it can be consumed for a full year. The sources were very diverse. For examples, from books, movies, interaction in the class, until an encounter with a madman in a coffee shop.

Writing

There is an inspiring story taken from a biography of Stephen King’s: On Writing. As a child, he has been able to write a story. It was about Mr. Rabbit Trick. This main character became a leader of 4 magical animals. Every day, they work providing assistance to children in the small village.

Stephen, then, gave the manuscript to his mother. The mother was very impressed. She was encouraging him with some payment. She paid 25 cents for every story that was written by little King. Of course, this increases her son motivation to keep on writing.

In a short time, he wrote 4 more stories. Those had same main character. “Four stories, 25 cents for each. That is my 1st reward in this business,” Stephen King admitted in his memoirs (p. 107).

Indeed, King’s mother did not only teach his son about mercenary. According to Sidik, Stephen was very lucky. Since, his mother appreciated his efforts and creativity from very early age.

The author classified the material according to the key events. For example, some educational writings, he put in May. Due the celebration of National Education Day (2 May). While the material about Love, of course in February. Then, the theme of Nationalism at August (17).

Podium’s Lion

Sukarno was arrested by the Dutch at 1929. Because of the speeches of Bung Karno which was considered very dangerous. While this head of PNI (Indonesian National Party) stood in front of the people, he could anesthetized the audiences as well awakened the spirit to achieve independence.

No wonder if this Indonesian 1st President was called the Podium’s Lion. While arresting in the jail, Bung Karno kept on fighting. The mediums were some papers and a single pen. He wrote a pledge for one and a half months.

Pad of the paper where he wrote was a potty. Yes, it was a disposal for urine and feces. Later, the hand written was compiled as a book. The title is Indonesia Menggugat or Indonesia Protesting (p. 235).

Ready to Win, Ready to Lose

As an elementary school teacher at SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, Sidik Nugroho has a lot of experiences while interacting with his students. He also shared an inspiring story.

After the teaching session, the authors often conducted a quiz. From guessing the song’s title – by referring to the tunes which was played with a guitar – until a quiz related to the material that was given previously.

Indeed, it was similar with the adults; children were also not ready to accept the defeat. Even, some of them were crying aloud when his/her group was lost. The solution was by writing, “Ready to Win, Ready to Lose!” on the blackboard.

Therefore, at the end of every quiz, the teacher pointed to the front of the class. All students shouted together – both the losing and winning sides – reading the previous agreement.

One weakness of this book was the lack of table of content. Therefore, the reader is rather difficult to find a particular reflection.

Nevertheless, this 384 pages book can be an oasis in the middle of the routines’ desert. I can not agree more with Nugroho Sidik’s opinion, “One of the reasons to keep our spirit up in this life is by awaking a beautiful memory.” Happy reading!

Book title: 366 Reflections of Life (Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati)
Author: Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita G
Published by Bhuana Ilmu Populer (2012), Jakarta, Indonesia
384 pages
ISBN: 10:979-074-893-4
Price: IDR 54,000

===

Reviewed by T. Nugroho Angkasa, S.Pd. The reviewer is a Teacher English at PKBM (Pusat Kegiatan Belajar-Mengajar or Center for Teaching-Learning Activity) Angon (Nature School) in Yogyakarta, Indonesia. Website: http://www.angon.org/ E-mail: nugroho.angkasa@gmail.com

Pelajaran Singkat Menulis Kreatif

Disusun oleh: Sidik Nugroho*)

Disampaikan dalam diklat penulisan yang diadakan SMPI Hidayatul Mubtaidin, Wajak, Malang, 19-05-12

Dalam tulisan yang saya buat ini, saya akan menyampaikan beberapa hal tentang menulis yang saya rasa paling perlu untuk diperhatikan. Di dalam tulisan ini terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan:

1. Memahami motivasi menulis

2. Menulis untuk media cetak

3. Menulis buku untuk penerbit

4. Menulis buku indie atau self-publish

5. Membaca ulang sebuah karya tulis

6. Lampiran: surat pengantar, proposal penerbitan buku, dan buku-buku yang disarankan

***

1. Memahami Motivasi Menulis

Motivasi tiap pengarang berbeda-beda. Seorang pengarang bernama Toni Morrison yang memenangkan hadiah Nobel lewat beberapa karyanya — yang terkenal salah satunya berjudul Beloved — menyatakan bahwa novelnya memuat tujuan politik. Dalam biografi ringkas yang ditulis oleh Kathryn VanSpanckeren, Toni menyatakan, “Aku tidak tertarik memanjakan diriku dalam sebuah kegiatan berimajinasi yang bersifat pribadi… ya, karya ini pasti politis.”

Pemenang Nobel yang lain, bernama Gao Xingjian, dalam pidatonya ketika menerima hadiah Nobel menyatakan sesuatu yang bertolak belakang: “… sastra itu hanya dapat menjadi suara individu, dan selalu seperti itu.”

Persoalan visi (bisa juga dibaca: motivasi) dalam menulis memuat banyak perbedaan. Ada yang menggunakan sastra sebagai salah satu alat bagi tujuan perubahan sosial. Ada juga yang menulis suatu karya sastra karena suka menulis, sebuah seni menuangkan gagasan untuk mematangkan dan mendewasakan diri, atau sebutlah tindakan seorang penulis yang menjunjung tinggi atau memuliakan estetika bahasa.

Seorang penulis yang berniat agar karya-karyanya laku dijual harus memiliki strategi mengurangi penolakan. Sebab, penulis mana pun tak suka mengalami hal ini, walau pada kenyataannya hampir semua penulis pernah mengalami penolakan. Inilah sebuah hal yang sering meresahkan penulis muda. Salah satu cara mengurangi penolakan adalah membuat proposal sebelum naskah sebuah buku diajukan (nanti akan kita pelajari lebih lanjut di bagian ke-3). Atau, kalau bosan ditolak dan masih ingin tetap menulis, silahkan banting stir merambah bidang penulisan lain yang lebih mendatangkan keuntungan.

Mari berpikir realistis. Tak jarang, banyak orang meninggalkan dunia penulisan gara-gara tak memiliki motivasi yang jelas dan terencana, lalu putus asa. Bila menulis direncanakan seseorang sebagai sarana meraih penghasilan, maka seseorang perlu menilik berbagai kemungkinan dan mengikuti trend yang membuat tulisannya laku dijual. Bila seseorang menulis hanya untuk kesenangan dan aktualisasi diri, tak perlulah mencoba-coba menjual tulisannya.

2. Menulis untuk Media Cetak

Sejarah film mencatat Lumiere bersaudara dari Prancis sebagai dua orang penting. Mereka tercatat sebagai penampil film pertama. Film pertama mereka saya yakin sama sekali tak menarik bagi kita saat ini. Mau tahu? Rekaman kereta api yang sedang berjalan. Nah, arah jalan kereta api itu mendekati kamera.

Namun, tahukah Anda apa yang terjadi pada 32 penonton pertama mereka ketika menyaksikannya? Mereka lari tunggang-langgang dari gedung pertunjukan ketika kereta yang tertampil di film itu “mendekati” mereka! Bagi mereka, film kereta Lumiere saat itu benar-benar heboh.

Lumiere bersaudara kemudian meraup kekayaan. Penonton mereka setelah film kereta api pertama mereka rata-rata tak kurang dari seribu orang. Namun, sebelum mereka sesukses itu, mereka pernah ditolak koran ketika hendak promosi film kereta api pertama mereka. Koran menolak membantu publikasi pemutaran film mereka.

Ternyata, yang pernah ditolak koran bukan hanya para penulis. Sebagai penulis yang karyanya puluhan kali ditolak, saya geli sekaligus merenung ketika menjumpai kenyataan ini. Para penulis, pencipta lagu, pelukis, penemu, siapa saja dengan profesi apa saja, rasanya pernah mengalami apa yang Lumiere alami. Kita ditolak. Orang tak yakin dengan apa yang kita yakini sebagai sesuatu yang luar biasa.

Nah, untuk mengurangi penolakan menulis di media cetak, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

a. Kenali tema yang sedang ramai diperbincangkan

Hal ini berlaku untuk esai atau opini. Media massa mengedepankan aktualitas. Tulisan akan susah dimuat bila temanya tidak sesuai dengan apa yang ramai diperbincangkan. Tulisan kita tak mungkin dimuat bila mengangkat pembahasan tentang mendidik anak dengan gembira padahal sehari-hari orang menyaksikan, membaca, dan mendengar berita tentang sebuah kecelakaan pesawat.

Cara lain yang berkaitan adalah mengingat momen-momen tertentu. Contoh, tanggal 20 Mei adalah hari Kebangkitan Nasional. Coba bolak-balik lagi buku Sejarah, temukan perspektif yang unik, angkat kiprah seorang tokoh yang mungkin “dilupakan” berkaitan dengan momen itu, lalu buatlah sebuah tulisan. Kirimkan tulisan itu satu atau dua minggu sebelum 20 Mei. Tulisan yang demikian akan berpeluang besar untuk dimuat.

b. Perhatikan panjang tulisan

Panjang tulisan penting diperhatikan karena berkaitan dengan ruang yang ada di dalam media cetak. Tulisan jangan kepanjangan atau kependekan. Resensi yang sering saya buat rata-rata panjangnya 2 halaman kuarto, 1 spasi, huruf Times New Roman ukuran 12. Atau, bila diukur dengan jumlah kata, resensi itu sekitar 4000-5000 karakter. Beberapa esai atau artikel lain ada yang panjangnya lebih, sampai sekitar 7500 karakter. Cerpen di koran, sepengamatan saya, panjangnya sekitar 10.000 karakter.

c. Baca ulang naskah yang ditulis

William Faulkner, seorang pemenang Nobel Sastra, pernah menyatakan, “Penulis-penulis muda terlalu dungu mengikuti teori. Ajarlah dirimu sendiri melalui kesalahan-kesalahan yang pernah kaulakukan — orang belajar dari kesalahan. Seniman yang baik tidak boleh berharap pada siapa pun yang mungkin dapat memberi nasihat padanya.”

Tidak sedikit penulis yang begitu selesai menulis, langsung mengirim tulisannya ke redaktur atau penerbit. Semangatnya menggebu-gebu, ide dan inspirasi di kepala tidak pernah kering. Tangannya terus menulis segala sesuatu yang memantik gagasan untuk dituangkan dalam kata-kata. Puisi, cerpen, artikel, semua ditulis! Namun, di balik semua itu, salah tulis bertaburan di mana-mana. Inilah yang sering menjadi alasan penolakan tulisan.

Dalam bidang apa pun, kita perlu meninjau ulang apa yang sudah kita kerjakan. Begitu banyak hal yang bisa dikoreksi dan diperbaiki ulang, dan hasilnya mungkin akan (jauh) lebih baik daripada dikerjakan sekali jadi. Dan, mungkin kita tidak sadar, bahwa kebiasaan ini pada akhirnya juga akan membuat kita belajar lebih banyak — yakni belajar menemukan kekurangan diri sendiri.

d. Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan

Sebuah tulisan yang dikirim ke sebuah koran atau majalah perlu diawali dengan surat pengantar (ada di lampiran, bagian 6). Di dalam surat pengantar itu, gambarkan sekilas isi naskah yang ditulis.

Menulis untuk koran atau majalah kadang juga menjengkelkan. Menjengkelkan, karena ada koran atau majalah yang tidak membayar honor tulisan kepada penulis. Saya pernah mengalami kejadian ini beberapa kali. Oleh karena itu, setiap penulis juga perlu membuat pilihan. Koran atau majalah biasanya mem-blacklist penulis yang berlaku curang. Sudah saatnya penulis juga berani mem-blacklist media cetak yang semena-mena.

Selain itu, sebuah koran memiliki visi tertentu atau kecenderungan tertentu. Ini perlu juga dipahami oleh penulis. Ada sebuah koran yang pro pemerintah sehingga opini yang ditulis di koran itu mayoritas mendukung kebijakan pemerintah. Ada juga sebuah koran yang sampai sekarang tidak mau memuat resensi novel, kumpulan cerpen, atau buku-buku sastrawi lainnya.

Terakhir, sebuah tulisan yang dikirim ke sebuah koran atau majalah semestinya tidak dikirim ke koran atau majalah lain dalam waktu dekat atau malah bersamaan. Sebuah tulisan baru boleh dikirim ke koran atau majalah lain bila “tampaknya” tidak akan dimuat. Mengapa saya tulis “tampaknya”? Karena, di Indonesia masih sangat sedikit koran dan majalah yang memberitahu seorang penulis bila tulisannya akan dimuat. Karena itulah setiap penulis sebaiknya memiliki catatan atau arsip atas setiap karya yang dikirimkannya dan kemudian menetapkan sendiri waktu tunggu pemuatan karyanya. Dalam hal ini, waktu tunggu pemuatan tulisan berbeda-beda. Untuk opini, esai, atau artikel yang sifatnya aktual biasanya hanya dua minggu. Untuk resensi bisa satu sampai dua bulan. Untuk cerpen bisa sampai tiga bulan.

3. Menulis Buku untuk Penerbit

Menulis buku untuk diterbitkan penerbit tidak selalu mudah. Hal itu akan mudah bila seorang penulis memahami apa yang diminati pasar saat ini. Masalah utama yang seringkali muncul dan menjadi ketegangan antara penulis dan editor adalah soal pemasaran buku: seorang penulis sudah menganggap karyanya sangat bagus, tapi bagi seorang editor karya tersebut tidak laku bila dijual.

Sama seperti pengiriman naskah ke koran atau majalah, pengiriman naskah ke penerbit juga perlu disertai surat pengantar. Saat mengajukan naskah ke penerbit, seorang penulis tidak harus sudah siap dengan naskahnya secara keseluruhan. Penulisan naskah buku bisa disiasati dengan menggunakan proposal, dilampiri beberapa contoh bab awal sebuah buku. Pembuatan proposal bertujuan untuk memberikan gambaran kepada editor tentang buku yang tengah digarap. (Bentuk proposal bisa dilihat dalam lampiran di bagian ke-6 yang saya sertakan.)

Namun, jangan sampai sebuah proposal malah membuat seorang penulis menjadi malas merampungkan karyanya, kemudian mengobral proposal ke sana-sini. Tujuan proposal harus dipahami dengan jelas sebagai langkah awal penulisan sebuah buku. Dan, penulisan buku yang proposalnya telah disetujui harus digarap dengan sungguh-sungguh. Ada editor yang sempat bercerita kepada saya kalau beberapa penulis menggarap proposalnya sangat baik, tapi begitu naskah utuhnya sampai di meja redaksi, keadaannya memprihatinkan.

Penulis yang menerbitkan buku di penerbit kebanyakan mendapat royati yang dibayar enam bulan sekali. Besarnya royalti pada umumnya adalah 10 persen harga jual per buku, dikali dengan jumlah buku yang terjual selama enam bulan itu. Namun, memilih penerbit juga tidak boleh sembarangan. Saat ini, penerbitan makin banyak. Tidak sedikit penerbit yang berlaku curang kepada penulis dengan tidak membayarkan royaltinya atau membuat laporan penjualan buku yang merugikan penulis.

Pemasaran buku lewat penerbit memang lebih banyak mendatangkan kemudahan daripada menerbitkan pemasaran buku secara indie. Penerbit, bekerjasama dengan distributor buku, bekerja mengemas dan memasarkan buku setelah naskah seorang penulis dinyatakan layak terbit oleh seorang editor. Seorang penulis bisa bernapas lega mengakhiri tugasnya. Kemudian, mungkin dengan royalti yang diterimanya, ia menggarap proyek menulis selanjutnya.

4. Menerbitkan Buku Indie atau Self Publish

“Saya tidak melawan arus, atau tidak ikut arus, tapi saya sedang menciptakan arus,” kata Kirana Kejora dengan lantang pada acara bedah buku di Kedai Sinau, Malang. Ia mengisahkan hal-hal apa saja yang membuatnya bertekad membangun dunia penulisan dengan memasarkan buku-buku secara indie.

Beberapa tahun lalu, di Surabaya, ia memiliki kenalan grup-grup band indie dan model. Suatu ketika, kalau tidak salah tahun 2004, Kirana menulis sebuah buku yang berisi kumpulan puisi dan novelet. Di antara sekian banyak temannya yang musisi dan model, tidak ada yang melahirkan karya tulis seperti yang ia lakukan. Namun, teman-teman inilah yang berjasa baginya. Mereka banyak yang mendukung buku karya Kirana, memberi ide untuk mengemas buku itu dengan menarik, lalu mengadakan launching buku itu di sebuah acara musik yang menampilkan band-band indie.

Tak dinyana, buku itu disambut dengan cukup baik. Kirana kemudian memberanikan diri untuk memasarkan buku-buku itu ke toko-toko buku. Di toko buku Gramedia, Uranus, dan beberapa toko buku lainnya di Surabaya, Kirana berjuang agar buku-bukunya terdistribusi lebih luas.

Singkat cerita, segala upayanya tidak sia-sia. Sejauh ini Kirana telah menulis tujuh novel (kalau tidak salah) yang semuanya dicetak dan dipasarkan secara indie. Ia membandingkan pengalamannya dengan pengalaman para penulis lain, dan menyimpulkan bahwa pendapatan seorang penulis buku indie lebih besar daripada yang menerima royalti dari penerbit: “Sebuah buku bisa dijual dengan harga empat kali ongkos cetak buku tersebut,” katanya.

Misalnya, sebuah buku dicetak dengan biaya Rp15.000. Buku tersebut bisa dijual dengan harga Rp60.000. Jadi, seorang penulis buku indie bisa mendapat keuntungan sebanyak tiga kali lipat harga bukunya bila ia sama sekali tak menggunakan jasa distributor.

Namun, kendala penerbitan secara indie tidak kecil. Pertama, seorang penulis harus memiliki modal cukup banyak untuk mencetak bukunya sendiri. Harga cetak sebuah buku bisa menjadi murah bilamana buku tersebut dicetak paling sedikit 500 buah. Seseorang bercerita bahwa ia baru saja menerbitkan buku yang dicetaknya sebanyak 100 buah. Harga cetak per buku sampai menembus angka Rp26.000, sementara bila ia mau mencetak sebanyak 500 buah, harganya hanya sekitar Rp15.000. Jadi, mencetak 100 buku itu mengeluarkan dana Rp2.600.000 sementara bila mencetak 500 buah akan memerlukan dana Rp7.500.000.

Nah, dari hal itu lahirlah kendala kedua: bila seorang penulis sudah memiliki dana yang cukup untuk mencetak buku di atas 500 buah, apa yang harus dilakukannya agar buku tersebut laku terjual? Tidak lucu rasanya kalau buku-buku tersebut pada akhirnya harus dibiarkan menumpuk atau dibagi-bagikan gratis.

Nah, saya belajar dari kegigihan Kirana mengatasi kendala-kendala itu, terutama kendala kedua. “Seorang penulis indie harus percaya diri, bahkan kadang harus narsis,” katanya. Bila tidak demikian, memang sulit meyakinkan orang lain bahwa kita menulis sesuatu yang penting. Sebagai seorang ibu yang membesarkan kedua anaknya sendirian, tak ayal Kirana pada akhirnya terus memutar otak untuk membuat karya-karyanya bisa diterima seluas-luasnya. Penulis indie memang harus kuat menjalin jaringan dengan banyak pihak, pintar mengemas bukunya, pandai memanfaatkan berbagai peluang dan momentum untuk menyosialisasikan karya-karyanya.

Jalur indie yang ditempuh Kirana Kejora bukanlah melulu jalur yang ditempuh orang-orang kalah yang butuh pengakuan. Karya-karya indie tidak bisa dianggap sebelah mata. Mungkin sebuah karya indie dulunya memang ditolak oleh seorang editor atau penerbit. Namun, bukankah editor juga manusia? Bukankah editor sebuah koran besar pun suatu ketika luput, menayangkan sebuah cerpen yang diduga keras plagiat dan sebelumnya pernah dimuat di koran kecil lain?

5. Membaca Ulang Sebuah Karya Tulis

Dalam sebuah bagian buku Keep Your Hand Moving, Anwar Holid, penulis buku ini hendak mengajak pembaca untuk terus menulis. Walaupun tulisan itu semrawut dan tak jelas fokusnya, Anwar hendak menegaskan bahwa yang penting: tulislah!

Setelah menulis, Anwar mengajak pembaca untuk menelusuri kembali apa-apa saja yang telah ditulisnya. Anwar juga mengajak pembaca untuk mengembangkan dan mendayagunakan kemampuannya mengolah naskah menjadi sebuah tulisan yang baik dan bisa dinikmati.

Tulisan yang baik dan bisa dinikmati adalah tulisan yang oleh penulisnya sendiri digarap dengan penuh kesungguhan. Sebagai seorang editor yang telah lama berpengalaman menangani berbagai naskah, Anwar sering lelah melihat naskah-naskah yang tidak serius digarap oleh penulisnya. Masih banyak penulis yang bergantung pada editor untuk meneliti naskah. Penulis yang memprihatinkan, yang membaca naskahnya sendiri tak sempat, atau mungkin malah tak berminat.

Padahal, seorang penulis bertanggung-jawab dalam menghasilkan naskah yang siap baca. Seorang penulis harus jadi orang pertama yang menikmati tulisannya. Anwar mengajak sidang pembaca untuk bukan hanya menulis, tapi mengedit dan memoles tulisan agar tampil lebih indah, bahkan berbobot. Bila kesalahan-kesalahan kecil seperti penggunaan tanda baca atau penyusunan kalimat masih banyak dilakukan di sana-sini, maka seorang penulis sebenarnya masih belum memberikan kemampuan terbaiknya.

Saya mengamati, hal yang cukup memprihatinkan di kalangan penulis pemula adalah penguasaan tata bahasa. Banyak penulis yang tidak tahu membedakan kata depan dan awalan, menggunakan tanda baca, membuat kalimat langsung, dan lain sebagainya. Kita akan melihat sedikit tentang hal ini.

a. Penggunaan kata depan dan awalan

Penulisan “di rumah” tak jarang menjadi salah tulis menjadi “dirumah”. Penulisan “diabaikan” juga salah tulis, menjadi “di abaikan”.

Masih banyak contoh kasus lainnya. Pada intinya, awalan selalu digabung. Kata depan digunakan terpisah, seringkali digunakan sebelum kata tempat, contoh: “di sana”, “di situ”, “di mana”, dsb.

Ada juga kata yang perlu lebih teliti sebab bisa ditulis secara dipisah dan digabung, contoh: “disalib” dan “di salib”; atau “dibalik” dan “di balik”. Nah, penggunaan keempat kata itu jangan sampai salah. Contoh penggunaan yang benar:

Saat digoreng, telur dadar itu dibalik supaya bagian sebelahnya matang.

Ada hal-hal yang masih mengganjal di balik semua peristiwa kematian itu.

b. Penggunaan tanda baca (koma)

Salah satu tanda baca yang sering salah tulis adalah koma. Perhatikan dua kalimat berikut:

1. “Penjahat itu sudah dipenjara Ibu Ani,” kata Rina.

2. “Penjahat itu sudah dipenjara, Ibu Ani,” kata Rina.

Di kalimat ke-1, kita dapat mengartikan bahwa Rina sedang menyatakan bahwa Ibu Ani memenjarakan seorang penjahat. Di kalimat ke-2, kita dapat mengartikan bahwa Rina tengah berkata kepada Ibu Ani bahwa seorang penjahat telah dipenjara. Nah, akan lain lagi artinya kalau kalimat itu ditulis demikian oleh orang yang tidak tahu membedakan kata depan dan awalan:

“Penjahat itu sudah di penjara Ibu Ani,” kata Rina.

Di kalimat itu, bisa diartikan Ibu Ani memiliki penjara untuk para penjahat.

c. Membuat kalimat langsung

Kalimat langsung digunakan dalam dialog. Kesalahan yang paling sering saya temui adalah percakapan dua orang atau lebih yang ada di paragraf yang sama. Saat terjadi pergantian orang bicara, berganti pula paragraf di dalam teks.

Penggunaan tanda baca kutip, koma, dan titik juga seringkali salah. Perhatikan contoh kesalahan kecil di bawah ini:

Ibu berkata, “Saya tidak akan ke pasar hari ini”.

Kalimat di atas salah, yang benar:

Ibu berkata, “Saya tidak akan ke pasar hari ini.”

Bisa juga kalimat itu diubah menjadi demikian: “Saya tidak akan ke pasar hari ini,” kata Ibu.

d. Beberapa tambahan seputar editorial

Beberapa penerbit dan kalangan memiliki penggunaan bahasa yang berbeda. Ini kadang cukup membingungkan karena sampai sekarang masih belum ada kesepakatan yang sama di dalam beberapa hal ini. Saya berikan beberapa contoh:

Kata “mencaritahu” dianggap lebih benar daripada “mencari tahu”.
Kata “mempengaruhi”, “memperhatikan”, atau “mempunyai” seringkali ditulis “memengaruhi”, “memerhatikan”, dan “memunyai”.
Kata “terima kasih” oleh banyak kalangan kini ditulis “terimakasih”.
Kata “orang tua” kini dibedakan dengan “orangtua”. Yang pertama menunjukkan usia yang telah lanjut, yang kedua menunjukkan ayah dan ibu.
Dan masih banyak yang lainnya.

Saran saya dalam hal ini adalah banyak membaca karya yang ditulis dengan baik. Saat membaca, hal-hal demikian hendaknya diperhatikan dengan sebaik-baiknya. Sebagai pengguna bahasa (tulis-menulis), paling tidak itulah yang dilakukan demi menghindari salah tulis.

***

Demikian hal-hal tentang menulis saya sampaikan. Pada akhirnya, semua kembali lagi pada motivasi. Bila Anda memiliki motivasi yang besar, niscaya akan mendisiplinkan diri Anda sendiri untuk menulis. Upaya pendisiplinan awalnya memang berat, namun lama-kelamaan akan menjadi sesuatu yang mengasyikkan.

“No life ever grows great until it is focused, dedicated, and disciplined,” kata Harry Emerson. Mulailah menulis sekarang juga, satu halaman sehari juga tidak apa-apa. Mulailah membuat cerita, opini, atau sekadar curhat. Salam kreatif.

***

Sidoarjo-Malang, Mei 2012

*) Sidik Nugroho, beberapa tulisannya (cerpen, puisi, esai, artikel, dan resensi buku) pernah dimuat di Jawa Pos, Suara Pembaruan, Berita Pagi, Malang Post, Kompas, GFresh!, Aneka Yess!, Sahabat Pena, Sinar Harapan, Koran Tempo, Psikologi Plus, Bhinneka, dan Bahana. Ia juga menjadi penulis di Renungan Malam dan Renungan Blessing pada tahun 2003 hingga 2010. Bukunya yang telah terbit adalah sebuah kumpulan cerpen remaja yang ditulisnya bersama Arie Saptaji berjudul Never be Alone (2005), sebuah novel fantasi berjudul Kisah-kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat (2011), dan 366 Reflections of Life (2012).

Memperhatikan yang Kecil agar Menjadi Hebat

Resensi Buku ini dimuat di Rubrik Perada Koran Jakarta, Kamis, 3 Mei 2012.

“Cinta bisa berbicara meskipun mulut tertutup.” (halaman 44).

Apa manfaat sebutir kacang tanah? Sekilas tampak tiada berarti. Namun, ternyata, hanya dari kulitnya, kacang dapat diracik menjadi plastik, cat, minyak, dan aneka produk lain. Sebelumnya, George Washington Carver harus meneliti anasir pembentuk kacang itu di laboratorium. Ia menemukan ratusan elemen alami dalam benih dan kulit kacang. Tokoh ini menjadi pelopor revolusi agraria di Amerika dengan penemuannya tersebut (halaman 139).

Begitulah salah satu kisah reflektif yang termaktub dalam buku ini. Sidik Nugroho menyampaikan satu fakta unik. Sesuatu yang sekilas dipandang sebelah mata bisa menjadi luar biasa. Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo tersebut mengutip wejangan gitaris favoritnya, Eric Johnson, “The smallest thing makes the hugest difference.” Terjemahan bebasnya, “Kesederhanaan menyimpan potensi menakjubkan.”

Buku 366 Reflections of Life memuat pengalaman pribadi penulis. Saat itu, Sidik akan memberi kado ulang tahun ke-57 untuk ayahnya. Ia mencari buku rohani di sebuah toko buku. Setelah menemukan yang dirasa sesuai, Sidik membeli kertas kado. Tapi, dia justru memilih pembungkus yang paling murah, tanpa memperhatikan motifnya.

Sesampai di rumah, dia baru menyadari bahwa kertas kado tersebut bergambar para tokoh Meteor Garden seperti Dao Ming Tse. Untung, dia masih menyimpan beberapa kertas kado lain di kamar yang dulu ia beli untuk wanita idaman yang ingin direbut hatinya. Saat itu, Sidik begitu teliti memilih motif dan warnanya agar pas.

Bagi seseorang yang telah membesarkan dengan keringat dan kerja keras, Sidik merasa lupa mempersembahkan yang terbaik. Ini memang terlihat sepele, hanya masalah kertas kado. Namun, lewat kisah di atas, Sidik Nugroho mengingatkan diri sendiri bahwa momen penting-ulang tahun seorang bapak-sepantasnya disikapi dengan lebih cermat. Sebagai bentuk apresiasi kepadanya (halaman 198).

Sebagai seorang pendidik, Sidik banyak berinteraksi dengan para murid di kelas. Keseharian pembelajaran itu menjadi sumber inspirasinya. Ia bersepakat dengan pendapat seorang teman, “Menjadi guru anak-anak kecil membuat tidak stres karena melihat kepolosan dan kelucuan apa adanya, tidak dibuat-buat.” Tan Malaka pernah mengucapkan bahwa mendidik anak usia dini adalah pekerjaan paling mulia.

Suatu hari, saat mengajar, Sidik berjanji memberi beberapa bungkus cokelat untuk para murid yang menghargai temannya yang bernyanyi di depan. Inisiatif ini dipilih karena mereka kerap gaduh setiap ada teman yang maju. Hasilnya, kelas yang biasanya seperti pasar tumpah mendadak sunyi. Akhirnya, semua siswa makan cokelat bersama-sama (halaman 111).

Dalam pandangannya, ancaman, sanksi, atau hukuman tidak efektif untuk menanamkan perilaku baik pada diri anak. Para guru dan orang tua menghukum karena lelah menghadapi “keliaran” anak. Padahal, bila mereka mau sedikit kreatif, metode pemberian hadiah dan pujian justru lebih ampuh. Ini senada dengan ungkapan, “Nilai suatu pemberian harus dilihat maksudnya, bukan harga atau kemewahannya.”

Buku ini juga mengungkap pentingnya keluasan suatu visi. Analoginya menarik sekali. Jangan saklek menjawab pertanyaan karena harus dapat menjelaskan lebih menarik.

Sidik mengutip pendapat P Korter, “Visi adalah gambaran realitas akan masa depan yang logis dan menarik.” Tingkat kelogisan dan keunikan sebuah visi berbanding lurus dengan keterlibatan banyak orang dalam mewujudkannya (halaman 175). Seseorang yang piawai menjelaskan hal-hal menarik dalam suatu perjalanan, misalnya, dari Yogyakarta-Jakarta, dia berpotensi menjadi pemandu wisata jempolan.

Buku setebal 384 halaman ini memang lebih bernuansa rohani. Pembaca perlu meluangkan waktu sejenak di tengah rutinitas hidup, misalnya, pagi hari, setelah jeda makan siang, ataupun malam hari menjelang tidur. Dalam kata pengantar, Sidik Nugroho mengakui mayoritas renungan ini lahir justru ketika dia tak berencana untuk menulis. Ia sekadar ingin berbagi hasil pengamatan, pendengaran, pembacaan, tontonan, dan perasaan.

Ditulis oleh Nugroho Angkasa, guru bahasa Inggris di PKBM Angon (sekolah alam), tinggal di Yogyakarta

Judul: 366 Reflections of Life, Kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati
Penulis: Sidik Nugroho
Editor: Leo Paramadita G.
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Cetakan: 1/Februari 2012
Tebal: x 384 halaman
ISBN: 979-978-074-893-0

Dari Jendela Karya

Beralaskan hijau, aksara mengetuk sebingkai bening.
“Perkenankan saya untuk masuk.”

Ia masih menunggu, menghitung kecambah tumbuh.

Bingkai diam, tak hendak bergerak.
“Apa kau lupa sandi?”

Aksara bingung,
mengapa pohon tak patahkan reranting sebagai kode.
“Apakah sandi itu berupa kata?”

Seketika kaca menggeser dedaun,
aksara menepis tiap rimbun, gugur.
“Ijinkan saya mengajak tanda baca?”

Tak terduga, derit semakin derak.
Tak ada udara yang berdesir, masuk.

Layaknya pagar, mengitar. Tiada silah.
“Setidaknya, sediakah kau menjaga embun?”

Aksara hanya menanti, percikan.

13.13 — 04.03.2012

(Pak Guru, hari ini kita belajar apa?)

Terinspirasi dari tulisan berjudul Mulailah (hal.212 -26 Juli-366 Reflections of Life karya Sidik Nugroho): “Inspirasi tidak hanya datang dari perenungan, tetapi juga tindakan.”

Secuil Pandangan Pribadi tentang Rokok

“Ketika penderitaan saya yang besar dilegakan, otak saya yang lelah dipulihkan, dan tenang, bisa tidur nyenyak sehabis merokok, saya bersyukur kepada Tuhan, dan memuliakan nama-Nya.”
~ Charles H. Spurgeon

Pendeta merokok? Sebagian kalangan Nasrani mungkin akan mencak-mencak membaca kutipan di atas itu. Apalagi, Spurgeon amat termasyhur di zamannya. Orang menjulukinya “raja pengkhotbah dari Inggris”. Tak hanya Spurgeon. C.S. Lewis, penulis terkenal itu terkenal suka merokok dan menghisap pipa bertembakau. J.R.R. Tolkien, sahabatnya, juga penulis legendaris, setali tiga uang.

Saya dulunya sangat membenci rokok. Apalagi pada saat SMA, saat saya bergabung dengan sebuah gereja yang benar-benar “mengharamkan” rokok. Ayat andalannya, tentu, 1 Korintus 3:16 — tubuh kita adalah bait Allah, dan kita harus menjaganya sebaik mungkin.

Pandangan saya tentang rokok mulai berubah saat saya melaksanakan KKN, 20 April-20 Juni 2004 di desa Gadingkulon bersama 18 teman saya. Kebetulan, 18 teman saya sepakat, menjadikan saya Kordes (Koordinator Desa) dalam pelaksanaan program-program KKN kami. Karena hal ini, mau tak mau saya jadi sering bertemu dengan para aparat desa, membahas program KKN. Saya juga sering berinteraksi dengan warga desa yang mayoritas adalah petani jeruk.

Tiap mampir ke rumah warga, rokok dan kopi dihidangkan. Ada pertemuan membahas program, rokok dan kopi juga dihidangkan. Kumpul-kumpul dan nongkrong dengan para pemuda desa, rokok dan kopi selalu ada. Kebersamaan saya dengan orang-orang desa ini membuat saya pun akhirnya mencoba merokok.

Saya menikmati saat-saat itu. Di desa yang berada pada ketinggian sekitar 700-800 meter di atas permukaan laut itu, saya suka merokok sambil menikmati pemandangan lampu-lampu kota Malang yang terbentang begitu indah pada malam hari. Hampir tiap malam kami membakar jagung, membuat api unggun, ngopi, dan merokok. Pokoknya gembira.

Beberapa tahun setelah KKN, kebiasaan merokok saya masih ada. Sekarang, saya termasuk orang yang kadang merokok, kadang tidak. Saya tidak pernah merasa kecanduan. Saya pernah menghabiskan lima batang rokok sehari, namun pernah juga tidak merokok sama sekali dalam dua bulan.

***

Seorang dokter yang juga penulis buku, Clifford R. Anderson, menyatakan bahwa jika kita hidup hingga berusia 70 tahun, maka makanan yang kita konsumsi beratnya sekitar 1400 kali berat badan kita. Kenyataan ini membuat kita sepantasnya merenung: makanan apa saja yang sudah kumakan hingga kini?

Bila makanan seberat 1400 kali berat badan kita itu ditukar dengan uang, jumlahnya tentu akan sangat besar — apalagi bila makanan itu berasal dari restoran-restoran kelas dunia. Tapi, justru mungkin selama ini kita jarang pernah berpikir bahwa makanan — apalagi yang mahal — juga dapat menjadi masalah.

Kembali pada rokok. Sebagian kalangan (saya rasa bukan hanya orang Nasrani) menganggap mengonsumsi rokok adalah dosa — hampir disejajarkan dengan narkoba dan minuman keras. Tapi, ingatlah bahwa kita hendaknya menjaga tubuh bukan hanya dengan menjauhi rokok, narkoba, dan minuman keras. Lemak yang berlebihan, jeroan, juga konsumsi berlebihan terhadap makanan-makanan instan juga sama berbahayanya. Karena itu, ketika suatu hari mendengar seorang pendeta berkata bahwa seorang perokok tidak lebih berdosa daripada seorang penggila jeroan, saya yakin pendeta itu benar.

Dari perbincangan dan kebersamaan saya dengan beberapa petani di desa waktu saya KKN dulu, saya pun menawarkan fakta ini: para petani laki-laki bisa dikatakan semuanya merokok. Namun, mengapa usia mereka panjang dan tubuh mereka sehat? Inilah yang mungkin perlu digarisbawahi: mereka melakukan aktivitas fisik yang tidak dilakukan para perokok di perkotaan. Mereka bekerja keras, bercocok tanam — melakukan banyak aktivitas pertanian yang notabene juga menyehatkan badan. Sementara, di perkotaan, kebanyakan orang merokok sambil nongkrong, ngopi, bekerja di depan komputer, melihat televisi, dan lain-lain — yang pada intinya bukan merupakan aktivitas fisik yang menyehatkan badan.

Apa yang saya sampaikan soal kebiasaan merokok di desa dan di kota bukanlah hasil penelitian. Seperti judulnya, tulisan ini adalah pandangan pribadi saya. Siapa pun dapat mempertarungkan hasil penelitian yang pro dan kontra soal bahaya rokok.

Mohamad Sobary baru-baru ini menulis “Ideologi di Balik Rokokku”. Tulisan yang cukup provokatif itu hendak menawarkan gagasan penting, bahwa gerakan, wacana, ataupun kebijakan pemerintah yang bersifat anti rokok (terutama rokok kretek) diboncengi berbagai kepentingan. “Gerakan itu alur rasionya demi kesehatan lingkungan. Tapi tak tahukah mereka, bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?” tulisnya. Di akhir tulisannya, ia menyuguhkan hasil penelitian tentang manfaat positif kretek bagi kesehatan.

***

Rokok. Barang kecil itu menantang kedewasaan kita berpikir dan memperlakukan orang lain. Seperti saya di masa lalu, tidak sedikit orang yang membatasi diri mengenal orang lain lebih jauh hanya karena melihat orang lain itu merokok. Merokok menjadi sekat yang membatasi hubungan antar manusia.

Sekarang, bandingkanlah dengan asap kendaraan bermotor kita hirup setiap hari. Kendaraan bermotor yang kita miliki atau tumpangi pun terbiasa “menghembuskan” asapnya setiap hari untuk — secara tidak sadar — dihirup orang lain. Mungkin, kita tidak menyadari bahwa asap itu juga sama berbahayanya dengan asap rokok. Sementara, dari hari ke hari kendaraan kian tumpah-ruah di jalan. Polusi udara dan kemacetan menjadi biang stres.

Jadi, bila Anda sampai sekarang masih membenci orang lain hanya gara-gara dia merokok, dan Anda sekarang selalu bepergian dengan kendaraan bermotor, akan lebih adil bila Anda bersedia jalan kaki, naik becak, atau bersepeda ke mana-mana. (*)

Sidoarjo, 18 April 2012

Merayakan Hidup dengan Gembira

Oleh: M. Iqbal Dawami*)

Judul: 366 Reflections of Life
Penulis: Sidik Nugroho
Penerbit: BIP
Cetakan: I, 2012
Tebal: x + 384 hlm.

BUKU ini adalah hasil serangkaian interaksi penulis (Sidik Nugroho) dengan pelbagai sisi kehidupan yang ada di sekitarnya. Dia tidak saja menyuguhkan peristiwa, tetapi juga mampu merefleksikannya. Ada getaran-getaran syukur dan ikhlas tatkala membacanya. Setiap kali ia menuliskan cuplikan peristiwa selalu saja diakhiri dengan refleksi, yang berarti bahwa kita diajak merenung perihal anugerah hidup dan Maha Rahman dan Rahim-Nya Tuhan. Cuplikan peristiwa yang diangkat bisa dari pengalaman si penulis, buku-buku yang dibacanya, maupun film-film yang ditontonnya. Ia bisa menceritakan seorang tokoh, peristiwa bersejarah, atau pun hal-hal sederhana dalam keseharian.

Misalnya, saat ia dan keluarganya tengah berbahagia, lantaran telah lahir seorang putri dari kakaknya. Ia pun memberi kabar gembira kepada beberapa temannya. Dan salah satu temannya berujar,”…Seluruh dunia turut merayakannya.” ketika memandangi keponakannya, ia teringat kata-kata Mahatma Gandhi: saya datang ke dunia dengan menangis dan semua orang tertawa; biarlah saya pergi dari dunia dengan tertawa dan orang lain menangis.

Sidik mengatakan bahwa semua manusia dewasa pernah menjadi bayi, dan kini mereka berjuang untuk mempertahankan hidup. Daya hidup diuji. Jika daya hidup besar, maka manusia akan tegar ketika badai datang. Contoh lainnya saat ia merefleksikan bahwa hidup ini sangat berharga, yaitu pada saat rumah tetangga kakaknya dilanda kebakaran. Kebakaran itu hampir mengenai rumah kakaknya. Ia dan kakaknya dengan sigap mengeluarkan barang-barang berharga untuk diselamatkan sebagai langkah antisipatif. Dari peristiwa itu ia merenung bahwa ketika dekat dengan bahaya yang mengancam hidup kita akan menyadari bahwa hidup ini sangat berharga.

Dalam tulisan “Keluasan Suatu Visi” ia mengajak kita untuk memiliki visi yang jelas. Hal itu ia dapatkan dari pengalamannya bolak-balik Malang-Sidoarjo. Dan dalam tulisan lainnya “Orang Gila di Warkop” ia bertutur tentang orang gila yang sedang ngopi bersamanya di warung kopi (warkop) dekat alun-alun Sidoarjo. Awalnya, ia tidak sadar kalau yang di sampingnya adalah orang gila, tapi bau pesing dan tingkahnya yang aneh, barulah ia ngeh bahwa ternyata yang berada di sampingnya adalah majnun alias gila. Sesampai di kos ia berpikir bagaimana nasib orang gila tersebut yang sedang kedinginan dan kelaparan saat turun hujan. Apakah kemudian orang gila itu diajak ke kosnya? Anda akan temukan jawabannya dalam buku ini.

Sedang dari contoh film, misalnya dari film The Shawshank Redemption, ia mendapatkan pelajaran berharga dari anugerah Tuhan. Kesalahan masa lalu tidak harus membuat hidup menjadi berantakan di masa kini. Dari film Hannibal Rising mengajarkannya untuk tidak memiliki dua jiwa, lantaran menyimpan dendam masa lalu terhadap seseorang. Buku ini menunjukkan bahwa apa pun gerak kehidupan bisa dijadikan bahan renungan. Renungan itu menggerakkan kita untuk mensyukuri anugerah hidup ini, dan peristiwa-peristiwa yang kita alami terdahulu disadari atau tidak memberikan efeknya pada masa kini.

Buku ini sesungguhnya tidak hanya sekadar refleksi tetapi juga sebentuk kontemplasi yang bisa memberikan pencerahan bagi pembacanya. Kombinasi antara (mantan) pendakwah, guru, dan penulis, menjadikan ia piawai mengolah bahan-bahan peristiwa menjadi nutrisi yang bergizi bagi batin yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga meneduhkan.

Buku ini enak dibaca sembari menyesap secangkir teh dan sepiring gogodoh.

*) M. Iqbal Dawami, esais, tinggal di Pati.